Bab Satu: Kerajaan yang Hilang
Api peperangan tak pernah padam di benua ini. Dalam lintasan sejarah, kejayaan keluarga Laine hanya cukup untuk mengubah penanggalan manusia dari Era Duri menjadi Era Laine.
Era Duri tahun 6120, musim dingin belum sepenuhnya berlalu dan salju masih bertahan melawan tunas muda awal musim semi.
Dari kejauhan, barisan panjang hitam kian mendekat ke kastil yang terisolasi ini. Bahkan, di bawah cahaya dua matahari yang bersilangan, kilatan dingin dari tombak berat yang diacungkan para ksatria berzirah di barisan depan tampak memantul tajam.
Sebuah kapal udara mungil tiba-tiba muncul di tepi kastil, menukik menuju arah landasan naik-turun. Andaikan orang-orang di Era Laine melihat kapal udara ini, mereka pasti akan terkagum-kagum karena kecepatannya jauh melampaui semua yang mereka ketahui tentang kapal udara.
Namun sekejap kemudian, kapal udara itu menabrak lantai kokoh landasan dengan keras. Daya benturan yang luar biasa langsung memecahkannya, serpihan komponen berhamburan ke depan hingga akhirnya terhenti menabrak dinding seberang. Energi sihir yang tersisa pada pecahan mulai terbakar.
Nyala api biru kehijauan berkedip-kedip, seolah menandai bahwa perang telah merambah tempat ini. Para penjaga di landasan pontang-panting membersihkan puing-puing kapal udara itu, hingga akhirnya menemukan jasad pengantar pesan yang mengemudikannya.
Di tubuhnya, mereka menemukan kabar terbaru dari Ibu Kota. Pada secarik kertas yang hangus sebagian oleh api, samar-samar terbaca: Ibu Kota... jatuh... Raja... dihukum gantung...
Barisan panjang itu akhirnya mengepung kastil kecil ini. Menyerbu sebuah kastil yang sendirian dengan jumlah pasukan sedemikian besar tampak berlebihan, namun Jenderal Tu memimpin tanpa cela, mengatur perintah dengan rapi. Barisan mesin pelontar batu didirikan dan didorong ke garis depan.
Kemenangan di Ibu Kota telah mengajarkan Jenderal Tu bahwa para penghujat yang tak dapat menggunakan sihir ini ternyata tidak semudah itu untuk ditaklukkan. Siapa yang tahu, benda-benda aneh apalagi yang akan mereka cipta dengan kristal sihir yang mahal.
Yang membuat Jenderal Tu heran, beberapa regu pengintai yang dikirim tidak menemukan satu pun penghujat yang melarikan diri dari kastil. Itu berarti para penghujat telah memutuskan bertahan hingga akhir. Lebih penting lagi, tanpa tawanan, mustahil mengetahui apa yang terjadi di dalam kastil.
"Sialan!" Jenderal Tu mengutuk keras ke arah kastil. Tanpa tahu apa yang ada di dalamnya, sulit baginya mengatur pasukan menghadapi benda-benda aneh itu.
Memang, ada sesuatu yang ditakuti Jenderal Tu di dalam kastil. Di alun-alun pusat, berbagai mesin sihir beraneka ragam terdiam dalam keheningan. Masing-masing dikendalikan satu atau dua operator, sementara orang-orang lainnya bekerja sibuk di sekitar, menempatkan kristal sihir pada slot energi mesin-mesin itu untuk membangkitkan para binatang buatan ini.
Mesin-mesin itu mampu melakukan apa yang tak bisa dilakukan tuannya: menyerap energi kristal sihir untuk menggerakkan tubuh atau melancarkan serangan dahsyat.
Prinsip kerjanya mirip dengan kapal udara di benak orang-orang Era Laine, tapi jauh lebih maju, dan jauh lebih menakutkan. Karena itu para penyihir, mereka yang tak memiliki teknologi ini, bahkan para dewa, menyebut pemilik mesin-mesin itu sebagai penghujat, dan berupaya melenyapkan mereka.
Mereka percaya diri, karena sekuat apa pun mesin sihir, jika kristal sihirnya habis, ia hanya menjadi tumpukan logam dan kayu semata.
Karena itulah kehancuran para penghujat terakhir di dalam kastil hanya soal waktu.
"Yang Mulia Ivette, Anda harus masuk ke sana!" Kepala pengawal, mengabaikan perlawanan gadis di pelukannya, menyeretnya ke tengah ruang rahasia kastil dan memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengaktifkan perangkat sihir di ruangan itu.
"Tapi..." Bekas putri itu hendak membantah, namun kepala pengawal mendorongnya perlahan masuk ke dalam silinder perangkat sihir. Ivette tak berdaya saat pintu batu silinder itu ditutup. Sebentar kemudian ia bangkit dengan enggan, memukul-mukul tembok batu keras dengan sia-sia.
Perangkat sihir mulai bergemuruh, lalu arus elemen sihir pekat membanjiri silinder tempat Ivette berada. Sebuah lingkaran sihir kuno diaktifkan, deretan rune sihir samar-samar bermunculan di dinding silinder. Sementara itu, suara ketukan dari dalam silinder makin lemah, hingga akhirnya lenyap dalam keheningan yang menenangkan.
Kepala pengawal paham, waktu di dalam silinder itu telah dihentikan. Yang Mulia Ivette telah terlelap, entah untuk beberapa hari, atau mungkin jauh lebih lama. Ia tak berani membuang waktu, memerintahkan anak buahnya mengembalikan perangkat sihir ke posisi semula. Silinder dan tiang-tiang mekanis di sekitarnya perlahan-lahan tenggelam ke lantai, menyatu dengan permukaan, membuat ruang rahasia itu tampak kosong.
Setelah itu, kepala pengawal bersama anak buahnya mulai memindahkan berbagai barang ke dalam ruang itu: koin emas, permata, kristal sihir, rancangan mesin sihir, apa saja, asalkan ruangan itu terisi penuh.
Jenderal Tu tidak mengetahui perubahan di dalam kastil. Saat itu ia tengah mengamati pertempuran dengan tenang. Para penghujat dalam kastil malah menyerang lebih dulu. Gerombolan mesin sihir berbentuk binatang menerobos keluar, terus-menerus menghantam barisan pengepung.
Perisai berat infanteri robek seperti kertas di terjang mesin-mesin buas itu, menghancurkan daging dan tulang prajurit di baliknya. Namun sekejap kemudian, prajurit lain segera mengisi celah, menumpuk perisai dan jasad rekan mereka jadi dinding pertahanan baru. Langkah mesin-mesin buas itu melambat, tapi tetap maju.
Tetapi Jenderal Tu tahu, hanya butuh beberapa langkah lagi sebelum mesin-mesin itu berhenti. Sampai saat ini, belum ada satu pun yang mampu membobol lingkaran pengepungannya.
Para penghujat juga tahu itu. Tapi yang mereka butuhkan hanya waktu beberapa langkah saja.
Ketika tunas muda menembus salju di awal musim semi, kabar bahwa Adipati Tu Laine sendiri telah membunuh penghujat terakhir menyebar ke seluruh pelosok negeri manusia. Para bangsawan bersuka cita, karena musuh yang membuat mereka ketakutan akhirnya musnah. Mereka tak perlu lagi khawatir kekayaan dan kedudukan mereka terancam oleh mesin-mesin sihir yang canggih.
Namun, apakah benar yang dibunuh Adipati Tu Laine adalah penghujat terakhir, tidak ada seorang pun dari Era Duri yang bisa memastikannya.
Yang lebih mengejutkan lagi, Adipati Tu Laine tidak sepenuhnya mematuhi salah satu klausul perjanjian aliansi: memusnahkan peradaban para penghujat. Ia hanya menghancurkan sebagian besar peradaban mereka atas nama penghormatan kepada para dewa, tapi dengan terang-terangan menyisakan beberapa rancangan mesin sihir.
Salah satunya adalah kapal udara, kebanggaan orang-orang Era Laine.
Para pengrajin Adipati Tu Laine menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membuat kapal udara dalam jumlah besar menurut rancangan itu. Menara-menara mesin pun bermunculan di tanah wilayahnya. Para bangsawan resah menuduh Adipati Tu Laine berkhianat, tapi tak mampu menghentikan ambisinya.
Ia adalah musuh yang lebih kuat daripada para penghujat, musuh yang mampu melenyapkan mereka.
Dalam kecemasan para bangsawan, kapal-kapal udara satu per satu terbang, membawa pasukan Adipati Tu Laine ke seluruh negeri manusia.
Sejarah pun memasuki babak baru.
Abu Dewa 1_Bab Satu: Kekaisaran yang Hilang, selesai diperbarui!