Bab Seratus Empat Puluh Satu: Selir Kaisar Pun Bisa Digoda 2 (Unggah Ulang)
Xiao Jinyan terbuai dalam keindahan suasana taman yang sedang mekar itu. Tanpa sadar, ia memeluk erat Yu Xin’er dan berbisik dengan nada lembut nan penuh kasih, "Nyonya Yu..."
Mendengar itu, Yu Xin’er segera meletakkan jemarinya yang lentik di bibir Xiao Jinyan, lalu berujar dengan lembut, "Jenderal Xiao, panggil saja aku Xin’er..."
Xiao Jinyan mengangguk pelan, lalu mengecup pipi Yu Xin’er beberapa kali sembari berkata, "Baik, Xin’er. Dan kau juga tidak perlu lagi memanggilku Jenderal Xiao, bagaimana?"
Yu Xin’er tersenyum bahagia, lalu mengangguk patuh. "Baik, Jinyan." Setelah itu, ia menyandarkan kepalanya di bahu Xiao Jinyan.
Xiao Jinyan membelai kepala Yu Xin’er sambil bertanya, "Xin’er, semalam... Jinyan bersamamu..."
Yu Xin’er tersipu malu dan terkekeh. "Jinyan, kau masih membahasnya? Semalam kita seolah pergi bertamasya ke surga dunia. Aku sangat senang bermain di sana, hanya saja... aku kesal karena saat kau bersamaku, kau justru meneriakkan nama wanita lain."
Xiao Jinyan terkejut bukan main. "Apa? Xin’er, siapa yang kusebut saat kita sedang bertamasya semalam?"
Yu Xin’er mengerucutkan bibirnya, lalu berkata dengan nada pura-pura marah, "Jinyan, kau benar-benar tidak tahu malu! Semalam saat bersamaku, kau terus berteriak, 'Jia’er, aku mencintaimu... Jia’er, aku mencintaimu...'"
"Ternyata di hatimu bukan aku, melainkan Jia’er itu. Kau pasti mabuk semalam dan menganggapku sebagai Jia’er. Huh, kau jahat! Aku kesal sekali, aku tidak mau bicara padamu lagi!"
Xiao Jinyan tertegun. Sial, setelah mendengar penjelasannya, ia baru teringat! Semalam ia bermimpi kembali ke kediaman Adipati Qi dan bertemu Yu Jia, lalu mereka bermesraan... Ternyata itu bukan mimpi, melainkan kejadian nyata bersama Yu Xin’er.
Ah, nasi sudah menjadi bubur, biarlah takdir yang menentukan. Lagipula, Yu Xin’er ini cukup menarik, cantik, dan memang tipenya. Hehehe...
Xiao Jinyan pun memeluk Yu Xin’er kembali, mengecup wajahnya lagi, lalu tersenyum nakal. "Xin’er, kau cemburu?"
Yu Xin’er tampak gusar, lalu menjawab dengan malu-malu, "Huh! Tidak sama sekali!"
***
Xiao Jinyan tertawa kecil dan berkata, "Xin’er, bagaimana kalau kuberi kompensasi?"
Yu Xin’er bertanya dengan rasa ingin tahu, "Hmm? Kompensasi apa?"
Xiao Jinyan tersenyum licik. "Hehehe... mari kita pergi ke taman hiburan lagi. Kali ini, saat kita bertamasya, aku akan terus memanggil namamu, bagaimana?"
Yu Xin’er merasa malu sekaligus geli. Ia memukul bahu Xiao Jinyan seraya berseru, "Huh! Jinyan, kau benar-benar tidak tahu malu! Kau pria paling tidak tahu malu di dunia ini!"
Xiao Jinyan hanya tertawa, lalu mereka pun kembali memadu kasih. (Bagian ini tidak pantas untuk anak-anak, sepuluh ribu kata disensor. Pembaca dipersilakan berimajinasi sendiri.)
Setelah usai, Yu Xin’er berbaring di samping Xiao Jinyan dan berbisik manja, "Jinyan, kau sangat baik, aku sungguh bahagia bersamamu."
Xiao Jinyan tersenyum tipis dan membelai rambutnya. "Xin’er, aku bersikap baik karena kau sangat mempesona."
Yu Xin’er tertawa kecil. "Jinyan, tahu tidak? Aku hanya mempesona karena itu kau. Aku tidak akan mempesona di hadapan orang lain."
Xiao Jinyan merasa penasaran dan bertanya, "Benarkah? Jadi, kau tidak menunjukkan pesonamu di hadapan Kaisar?"
Tak disangka, wajah Yu Xin’er berubah drastis. Ia berteriak penuh amarah, "Huh! Liu Song... keparat itu! Dia adalah pria paling tidak tahu malu di dunia ini! Aku membencinya! Aku membencinya!"
Xiao Jinyan terperangah. *Sial, ada apa dengan Yu Xin’er? Setiap kali mendengar nama Liu Song, ia tampak begitu dendam. Dan ia meneriakinya begitu keras... ini di dalam istana, keberaniannya sungguh luar biasa...*
***
Xiao Jinyan segera memeluk Yu Xin’er erat-erat. "Xin’er, pelankan suaramu, itu bisa mendatangkan bahaya maut!"
Yu Xin’er tak peduli. Dengan amarah yang meluap, ia menjawab, "Huh! Biarkan saja! Aku sudah bosan hidup!"
Xiao Jinyan semakin heran. "Xin’er, apa yang terjadi? Mengapa kau tiba-tiba ingin mengakhiri hidup?"
Yu Xin’er menyandarkan kepalanya di bahu Xiao Jinyan dengan wajah sedih. "Jinyan, kau tahu? Dulu aku mengira diriku wanita yang beruntung, tapi ternyata aku yang paling menderita. Baru setelah bertemu dirimu, aku sadar bahwa Tuhan masih adil padaku."
Xiao Jinyan yang kebingungan hanya bisa menenangkan, "Xin’er, tenanglah. Mulai sekarang, aku akan menjagamu dengan baik."
Yu Xin’er memeluknya dengan haru. "Jinyan, kau sungguh baik!"
Xiao Jinyan mengelus rambutnya. "Xin’er, bersabarlah sejenak. Saat waktunya tiba, aku akan memintamu dari Liu Song, bagaimana?"
Yu Xin’er terkejut sekaligus bahagia. "Jinyan, benarkah? Kau benar-benar bersedia membawaku keluar dari istana?"
Xiao Jinyan menjawab mantap, "Janji seorang pria tak akan ditarik kembali. Hanya saja, Xin’er, jika kau bersamaku, kau hanya bisa menjadi selir. Apakah kau sudah memikirkannya?"
Yu Xin’er menjawab tanpa ragu, "Jinyan, asal bisa bersamamu selamanya, jangan katakan menjadi selir, disuruh menjadi pelayan pun aku mau!"
Xiao Jinyan berpikir dalam hati, *Yu Xin’er benar-benar mencintaiku. Aku harus mencari kesempatan untuk membawanya ke kediamanku dan menyayanginya dengan baik.*
Tepat saat itu, Yu Xin’er bertanya dengan ragu, "Tapi... Jinyan, apakah kau benar-benar tidak keberatan denganku?"