Bab Seratus Tiga Puluh Empat: Pertanyaan Mengenai Yulia
Halaman (1/3)
“Ayahku bekerja untuk orang Jepang, itu urusannya sendiri. Aku tidak ingin menjadi seperti dia. Aku berbeda dari ayahku. Sampai sekarang dia masih menganggap dirinya sebagai orang Dinasti Qing, dan kini Dinasti Qing telah bangkit kembali di wilayah timur laut. Namun, aku menganggap diriku sebagai orang Tiongkok,” ujar Tuan Muda Guan.
Ketika membicarakan ayahnya, Tuan Muda Guan sengaja menggunakan ungkapan “bekerja untuk orang Jepang” sebagai pengganti kata “pengkhianat”.
“Lalu, apa rencanamu?” tanya Qian Xiaobao.
“Aku berencana pergi ke luar negeri untuk belajar. Masalahnya, sekarang aku tidak tahu bagaimana caranya keluar dari sini. Uang yang kauberikan sangat berarti bagiku,” jawab Tuan Muda Guan dengan penuh rasa terima kasih.
“Kalau kau hendak pergi, beri tahu aku. Aku masih punya uang!” kata Qian Xiaobao. Kali ini, nada suaranya jauh lebih tulus daripada sebelumnya.
Tuan Muda Guan sangat tersentuh. Ia terlahir dalam keluarga bangsawan Manchu. Sejak kecil ia hidup serba berkecukupan, tetapi semua yang disaksikannya hanyalah tipu daya dan pertukaran kepentingan yang dilakukan secara terang-terangan.
“Aku masih punya seorang teman di Perusahaan Matsūra. Namanya Lin Zhengjiang, orang yang membantumu membeli berbagai barang. Kami berdua memiliki gagasan yang sama—ingin meninggalkan tempat ini. Namun, sampai sekarang kami belum menemukan kesempatan,” ujar Tuan Muda Guan.
Qian Xiaobao teringat kata-kata Fan Shibai yang pernah disampaikan kepadanya, juga paspor yang ada di dalam koper Wang Qingji.
“Di Harbin ada begitu banyak konsulat asing. Kalian bisa mencari jalan melalui tempat-tempat itu. Misalnya, membeli paspor dengan uang, lalu pergi begitu saja,” kata Qian Xiaobao.
“Namun, dengan wajah khas orang Asia Timur dan membawa paspor Barat, apakah itu akan berhasil?” tanya Tuan Muda Guan ragu.
Jika orang berpendidikan seperti Tuan Muda Guan saja tidak yakin akan jawabannya, Qian Xiaobao tentu lebih tidak tahu lagi.
“Aku bisa memahami sebagian besar rakyat jelata yang jujur dan sederhana, yang hanya ingin bekerja keras demi menghidupi keluarga. Tetapi mengapa rasanya begitu banyak orang rela menjadi anjing orang Jepang? Entah sampai kapan semua ini akan berakhir! Kalau ada tempat untuk dituju, aku juga ingin meninggalkan tempat ini,” keluh Qian Xiaobao.
“Romain Rolland pernah berkata bahwa hanya ada satu bentuk kepahlawanan di dunia ini: mengenali kekejaman hidup, tetapi tetap mencintai kehidupan,” ujar Tuan Muda Guan dengan gaya bicara yang terpelajar.
Qian Xiaobao menunduk dan merenungkan kata-kata Tuan Muda Guan. Semakin dipikirkannya, semakin dalam pula makna kalimat itu menurutnya.
Ia mengangkat kepala dan bertanya, “Romain Rolland? Mereka itu kakak-beradik laki-laki atau perempuan?”
Tuan Muda Guan menatap Qian Xiaobao tanpa berkata-kata, tidak tahu harus menjawab apa.
Yang satu tumbuh dengan pakaian indah dan makanan lezat, sedangkan yang lain sejak kecil harus mengemis untuk mendapatkan makanan. Tidak mengherankan jika dalam banyak hal mereka memang sulit menemukan kesamaan pembicaraan.
Qian Xiaobao mendadak menjadi sangat sibuk. Ia berkeliling ke seluruh Harbin untuk membeli banyak bunga. Namun, bunga yang tersedia pada masa itu pada dasarnya hanyalah krisan.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Alasan ia membeli bunga adalah karena Tuan dan Nyonya René serta orang-orang dari konsulat lainnya akan segera kembali.
Setelah itu, Qian Xiaobao membantu Zhang Lixing dan Nina, pelayan konsulat yang pulang lebih dahulu, membersihkan ruangan, menata bunga, dan memperbarui seluruh penampilan konsulat.
Tuan dan Nyonya René sangat puas dengan segala sesuatu di konsulat setelah mereka kembali.
Namun, hal pertama yang dilakukan Tuan René setelah tiba adalah meminta Zhang Lixing memanggil Qian Xiaobao ke kantornya.
“Yulia adalah orang yang kaurekomendasikan ke konsulat. Seberapa banyak sebenarnya yang kauketahui tentang dia?” tanya Tuan René.
“Yulia adalah seorang warga Rusia perantauan yang datang ke Harbin dari Dalian. Seorang teman memintaku mencarikan pekerjaan untuknya di Harbin, jadi aku memperkenalkannya ke sini. Sebenarnya, aku tidak terlalu mengenal Yulia. Selama bekerja di konsulat, dia hampir tidak pernah berbicara denganku,” jawab Qian Xiaobao.
Ketiga orang di dalam kantor itu juga pernah melihat sendiri bahwa ketika berada di Konsulat Prancis, Yulia sama sekali tidak menghiraukan Qian Xiaobao.
“Apa yang terjadi dengan Yulia? Bukankah dia pergi ke Prancis bersama Tuan Robert?” tanya Qian Xiaobao.
Setelah mendengar terjemahan Zhang Lixing, Nyonya René menjawab, “Yulia melarikan diri. Ketika berada di Shanghai, dia mengikat Robert di atas ranjang. Empat hari kemudian, barulah seorang pelayan hotel menemukan Robert.”
Peristiwa itu menimbulkan kegemparan di Shanghai. Banyak surat kabar kecil membesar-besarkan kejadian tersebut dan menggambarkannya sebagai skandal asmara yang aneh.
Sebelum pergi, Yulia menuangkan cukup banyak air ke handuk yang digunakan untuk menyumpal mulut Robert. Dari situ terlihat bahwa ia sebenarnya tidak ingin Robert mati.
Robert, yang tubuhnya sudah lemah, segera dibawa ke rumah sakit di kawasan konsesi asing. Konsulat Jenderal Prancis di Shanghai juga langsung diberi tahu.
Konsulat Prancis segera mengirim orang ke rumah sakit untuk menjenguk Robert sekaligus menyelidiki seluruh peristiwa itu.
Robert yang tubuhnya lemah dan hatinya hancur tidak mampu memberikan banyak keterangan. Ia hanya mengatakan bahwa setelah mereka berdua tiba di Shanghai, ia dan Yulia terlibat pertengkaran. Robert ingin tinggal dan menikmati kota itu selama beberapa hari lagi, sedangkan Yulia ingin segera pergi. Pada akhirnya, Yulia mengikat Robert di atas ranjang kamar hotel, lalu meninggalkannya seorang diri.
Ketika para penyelidik mendatangi perusahaan pelayaran, mereka menemukan bahwa Yulia telah naik kapal menuju Hong Kong.
Konsulat Prancis di Shanghai segera mengirim telegram kepada pihak berwenang Inggris di Hong Kong untuk meminta bantuan penyelidikan. Namun, telegram pertama dari Hong Kong menyatakan bahwa mereka hanya menemukan catatan masuk Yulia, tanpa catatan keberangkatannya. Dengan demikian, tidak ada yang tahu ke mana Yulia pergi.
Dua hari kemudian, telegram kedua tiba dari Hong Kong. Kabar dari Singapura menyebutkan bahwa Yulia ditemukan di sebuah kapal pos yang berlayar dari Makau menuju Lisboa. Namun, ia telah dibunuh oleh seorang penjaja buah asal Singapura.
Rangkaian peristiwa itu sungguh begitu ganjil hingga sulit dipercaya!
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Qian Xiaobao mendengarkan terjemahan Zhang Lixing. Semakin lama, hatinya semakin berdebar. Ternyata organisasi di balik Schultz begitu kuat!
Seandainya sejak awal tahu akan berakhir seperti ini, alangkah lebih baik jika Yulia mengikuti pemuda dari perusahaan minyak Mobil itu pulang ke Amerika untuk mengelola pertanian!
Tuan dan Nyonya René tidak memperoleh informasi berguna apa pun tentang Yulia dari Qian Xiaobao.
Kesimpulan Nyonya René adalah bahwa Yulia hanyalah seorang gadis yang angkuh dan ingin segera meninggalkan Manchukuo. Ia tidak mencintai Robert, melainkan hanya menjadikan Robert sebagai batu loncatan untuk pergi ke Prancis.
“Sungguh perempuan yang malang sekaligus menyedihkan!” keluh Nyonya René, yang tidak mengetahui kebenaran sebenarnya.
Namun, ucapan itu memang sangat tepat jika ditujukan kepada Yulia.
Setelah meninggalkan konsulat, Qian Xiaobao segera menuju klinik Schultz.
Schultz mendengarkan dalam diam ketika Qian Xiaobao menceritakan seluruh rangkaian peristiwa Yulia beserta akhir kisahnya. Ia tidak memberikan komentar sedikit pun.
Pada akhirnya, kejadian ini disebabkan oleh kesalahan organisasi dalam memilih dan mengirim agen intelijen.
Schultz mengalihkan pembicaraan dan bertanya, “Kau pasti sudah membunuh cukup banyak orang Jepang, bukan?”
“Tidak banyak! Paling-paling hanya beberapa puluh orang,” jawab Qian Xiaobao dengan bangga.
“Keliru! Jumlahnya beberapa ribu!” Schultz membantah.
Qian Xiaobao langsung tertegun. Bahkan jika dihitung dengan cara telur menetas menjadi ayam dan ayam bertelur lagi, tetap diperlukan beberapa generasi—bahkan mungkin ratusan tahun—untuk mencapai jumlah sebanyak itu.
“Informasi yang kauserahkan kepadaku setidaknya bernilai nyawa beberapa ribu prajurit Jepang,” jelas Schultz.
“Bekerjalah bersamaku, Otto kecil,” ujar Schultz.
Halaman (3/3)