Bab 42: Apakah Kau Ingin Membalas Dendam?
Gelombang demi gelombang, para pejuang Indian tak kunjung gentar, sebab api balas dendam membara di dada mereka. Namun, semangat itu nyaris tak berdampak besar. Mereka tak mampu menembus barisan depan kavaleri Amerika. Lawan mereka tak hanya unggul persenjataan, tapi juga terorganisir rapi, kaya pengalaman tempur, dan sengaja memilih bertahan di dataran tinggi—sementara para Indian harus menyerang dari bawah.
Namun, tak lama kemudian, situasi menarik pun terjadi...
Banyak korban jatuh di pihak Indian. Meski mereka gagah berani, tetap perlu waktu untuk berkumpul dan membentuk formasi; tak mungkin terus-menerus menyerang membabi buta. Justru dalam jeda inilah pasukan Amerika memanfaatkan kesempatan. Anehnya, mereka tak melanjutkan serangan, melainkan mundur!
Benar, setelah melepaskan tembakan bertubi-tubi dan menambah tumpukan mayat di tanah, pasukan Amerika menaiki kuda, membawa pergi beberapa jenazah dan prajurit yang terluka, lalu pergi meninggalkan medan laga.
Aneh sekali, mengapa tak melanjutkan serangan? Dengan cara bertempur seperti ini, hari itu juga suku Indian bisa saja dihapuskan dari muka bumi!
Namun, Li Mengyang segera memahami alasan di balik tindakan itu—semuanya karena satu hal: jumlah pasukan Amerika sangat sedikit!
Hanya ada sekitar dua ratus orang dari pihak Amerika, sementara jumlah ksatria Indian yang masih bisa bertarung tetap lebih banyak. Terlebih, pasukan Amerika sebelumnya telah bertempur habis-habisan, nyaris membantai seluruh suku. Artinya, persediaan peluru mereka pasti tak banyak tersisa.
Mengapa mereka kembali dan melancarkan serangan ganjil ini? Jawabannya tampak sederhana—kemungkinan besar mereka baru saja mengetahui bahwa satu kelompok kecil mereka telah dimusnahkan, sehingga datang untuk membalas dendam. Karena kedatangan mereka pun sangat cepat, bisa dipastikan mereka tak sempat mengisi ulang amunisi.
Lebih jauh lagi, ini juga bisa menjelaskan mengapa pasukan Amerika menggunakan taktik sebelumnya, yakni memancing kekuatan utama Indian keluar, lalu secara keji membantai perempuan, anak-anak, dan orang tua—itu adalah genosida. Namun, semua itu terjadi karena jumlah mereka sedikit!
Li Mengyang memang tak tahu pasti berapa jumlah pasukan Amerika saat itu, tetapi dari pengalaman yang ia alami, ia bisa menarik kesimpulan: kekuatan reguler Amerika sangatlah terbatas. Jika tidak, mengapa di San Francisco bisa muncul Dewan Keamanan yang begitu berkuasa, dan bagaimana semua kejadian di hadapannya bisa dijelaskan?
Lalu, apakah semua peristiwa ini ada hubungannya dengan Li Mengyang? Sebenarnya, benar juga, Li Mengyang mulai terpikir sesuatu...
"Ah! Ah...!"
Si Pemalas menatap langit, namun pandangannya buram. Langit biru cerah yang semestinya ia lihat kini tampak berkerut dan diselimuti semburat merah darah.
Untunglah, darah itu berasal dari tunggangannya. Bisa dibilang, Si Pemalas masih cukup beruntung; kudanya tertembak, tapi ia sendiri masih utuh. Namun, tubuhnya kini tak bisa digerakkan karena terhimpit tubuh kudanya yang mati.
Hinaan, derita, kekalahan telak—keluarganya dibantai, sukunya disembelih. Si Pemalas ingin membalas dendam, tapi kini ia tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, ia hanya bisa terbaring menunggu musuh datang untuk memenggal kepalanya!
Jelas, Si Pemalas tak dapat melihat perubahan di medan perang; ia hanya bisa menatap langit. Namun, tak berselang lama, kepala Li Mengyang tampak menutupi langit dari pandangannya.
"Kau ingin menyelamatkan suku mu? Kau ingin membalas dendam?" tanya Li Mengyang, sambil mengulurkan tangan.
...
"Berdasarkan laporan, seluruh anggota pasukan kecil yang dipimpin Chambers telah gugur. Setelah itu, Breg membawa pasukannya kembali dan memberi pelajaran keras pada para liar itu."
"Jadi, artinya mereka belum sepenuhnya memusnahkan suku Indian itu?"
"Soal itu, rencana semula memang bukan untuk memusnahkan mereka saat ini juga."
"Tapi kita sudah membayar harga yang sangat mahal!"
"Namun, hasilnya tetap sangat memuaskan. Darah Indian hampir membasahi seluruh tanah itu."
"Baiklah, tentang tindakan Breg, kita tak perlu terlalu banyak berkomentar. Cukup sampai di sini."
"Bagus!"
Dua pria paruh baya berseragam Angkatan Darat Amerika, dengan tanda pangkat kolonel di pundak, sedang mendiskusikan pertempuran yang baru saja terjadi. Jelas, mereka akhirnya mencapai kata sepakat. Saat itu, pangkat tertinggi di Amerika Serikat hanya letnan jenderal, dan itu pun tak pernah diberikan kepada orang lain karena merupakan pangkat George Washington. Maka, jabatan kolonel sudah sangat tinggi.
"Mari kita bicarakan sang pahlawan Robert Lee. Apakah 'penyakitnya' sudah membaik?" tanya salah satu kolonel, menekankan kata 'penyakit'.
"Ha! Si pengecut itu! Dulu aku kira orang yang begitu dipuji Jenderal Scott, Robert Lee, pasti seorang pahlawan hebat. Tapi setelah aku melihatnya, ternyata dia hanya pengecut! Orang penakut! Seorang tentara yang merindukan istrinya!"
"Aku tak setuju. Mungkin dia merasa tak ada yang bisa dibanggakan dari membantai orang Indian."
Robert Lee?
Tampaknya kedua orang ini begitu iri pada lelaki bermarga 'Li' itu.
"Tak patut dibanggakan? Hmph! Pasukan kita cuma beberapa ribu orang. Sebar di Texas, wilayah New Mexico, tak usah bicara Kansas atau Nebraska, segelintir orang ini mau dipakai buat apa? Sementara jumlah Indian jauh lebih banyak dan tersebar di mana-mana. Hmph! Seluruh tanah ini adalah milik Amerika, kenapa bisa dikuasai para liar itu!"
Jelas sekali, di mata sang kolonel, membantai Indian adalah hal lumrah dan wajar.