Bab 11: Emas Pertama yang Didapat dengan Cara Ajaib!
Sepuluh hari untuk melunasi tiga ratus dolar!
Kenapa sekarang ada batas waktu? Dan kenapa begitu singkat?
Tak ada jalan lain, Huang San memang terlalu pelit. Li Mengyang bekerja padanya, dan selama setengah tahun ini, upah yang terkumpul juga lumayan, itulah modal Li Mengyang untuk membayar utang. Namun, uang itu tidak dibayarkan bulanan seperti gaji biasanya, melainkan ditahan layaknya upah buruh tani yang hanya cair saat tahun baru. Maka, Huang San enggan membayar, berniat memotong utang dari upah yang seharusnya jadi hak Li Mengyang.
Belum pernah Li Mengyang bertemu orang sekikir itu, maka ia pun mengajukan syarat: jika Huang San mau membayar upahnya, dalam sepuluh hari ia akan melunasi tiga ratus dolar!
Sepuluh dolar, itulah upah Li Mengyang—tentu saja, setelah dipotong sana sini. Karena itu, Huang Rong sempat menangis tersedu, merasa bersalah pada Li Mengyang di satu sisi, dan kesal pada ayahnya sendiri di sisi lain.
Sepuluh dolar berubah jadi tiga ratus? Sihir macam apa ini?
Namun, janji sudah terucap, sebagai lelaki, Li Mengyang harus menepatinya!
Dia bukan tipe yang sekadar mengumbar kata-kata. Nyatanya, ia benar-benar menemukan cara untuk mengubah sepuluh dolar menjadi tiga ratus dolar.
Lima hari kemudian di San Francisco, matahari tetap bersinar cerah, namun saat senja tiba, jalanan mulai lengang. Sebuah kereta besar tipe Conestoga berhenti sendirian di pinggir jalan, seolah menunggu seseorang.
Steven Tua adalah penduduk awal San Francisco. Usianya sudah lanjut, sehingga tak mungkin ikut berburu emas. Namun ia memiliki kereta besar yang biasa ia gunakan untuk mengangkut barang demi menyambung hidup.
Tapi hari ini terasa aneh. Sore itu, ada seorang pekerja Tionghoa mendatanginya. Tanpa banyak bicara, hanya menyerahkan secarik kertas bertuliskan, "Kepala Polisi San Francisco, James Curtis, memerlukan sebuah kereta. Bayarannya lumayan, dua dolar. Diminta menunggu hingga malam, dan langsung diberikan uang muka lima puluh sen."
Polisi—Steven Tua tentu tahu. Kebanyakan dari mereka memang bajingan, tapi beberapa hari belakangan mereka tampak berwibawa. Segala urusan di kota kini diurus polisi, bukan lagi oleh dewan keamanan, tampaknya ada kaitannya dengan sidang umum yang sedang berlangsung.
Steven Tua sendiri tidak pergi ke sidang itu. Ia harus mengantar barang. Konon, Johnson yang diadili itu orang baik. Tapi siapa yang tahu? Toh, yang penting ada uang.
Jadi, Steven Tua pun menunggu.
"Tuan, apakah Anda James Curtis...?"
Akhirnya datang seorang polisi. Ia berpakaian koboi, bajunya tampak kebesaran sehingga tubuhnya terlihat kecil, dengan topi koboi menutupi wajah hingga hanya tampak janggut lebat di dagunya. Meski begitu, Steven Tua tahu benar lencana di dada pria itu.
"Tak perlu banyak bicara, ikuti saja perintah saya."
Steven Tua merasa aksen polisi itu aneh, belum pernah didengarnya. Janggutnya pun terasa ganjil, entah kenapa. Tapi, di usianya yang senja, penglihatannya sudah tak setajam dulu.
"Baik, Tuan." Toh, dia polisi—Steven Tua tak punya pilihan. Apalagi, pistol di pinggang pria itu cukup membuatnya menurut.
'Janggut hitam, mata hitam—barangkali dia keturunan Spanyol atau Romawi kuno...' demikian gumam Steven Tua.
"Kita ke toko Levi Strauss dulu," kata ‘polisi’ itu singkat.
"Siap, Tuan!" Steven Tua segera menggerakkan kereta besarnya.
"Wah, benar-benar ada yang datang."
"Benarkah ada uang yang bisa didapat?"
"Kalau bajingan itu tidak mau bayar, kita keroyok saja, kawan-kawan!"
"Setuju!"
Di depan toko Strauss, sudah berdiri beberapa perempuan. Malam-malam begini, pemandangan seperti itu di San Francisco jelas mencolok. Namun, jika didekati, tampak bahwa para perempuan itu berbadan kekar, sehingga pesonanya pun agak berbeda.
Apa boleh buat, mereka semua buruh perempuan di toko Strauss. Tak perlu terlalu banyak berharap.
"Woohoo!" Lihatlah, para lelaki San Francisco memang tak banyak menuntut. Mereka hanya bersiul atau melongo.
"Naiklah, Nona-nona!" sang polisi berteriak pada para buruh perempuan itu. Tanpa banyak bicara, mereka segera menaiki kereta, mengangkat rok mereka tinggi-tinggi.
"Benarkah kami akan dapat satu dolar?" tanya salah satu dari mereka.
"Ya! Kalau tidak, kami tidak akan ikut!"
"Kalau lewat waktu, kami juga tidak bersedia!"
Orang bilang, tiga perempuan saja sudah bisa membuat keramaian. Kali ini, jumlahnya lebih dari cukup.
"Tenang saja! Setelah tugas selesai, kalian semua akan menerima upahnya. Tak sampai beberapa jam, tiap orang akan dapat satu dolar!"
Mendengar polisi yang berbicara, para buruh perempuan itu mulai mengecilkan suara. Mereka semua datang karena selebaran yang menjanjikan satu dolar semalam.
"Mana orang Tionghoa yang bagi-bagi selebaran itu?"
"Iya, kalian benar-benar satu kelompok ya?"
"Tenang saja, orang Tionghoa itu utusan saya!"
Mendengar itu, para perempuan tak lagi banyak bertanya. Mereka memang tertarik oleh selebaran yang menawarkan satu dolar semalam.
"Kamu tidak sedang menyuruh kami menjual diri kan?"
"Betul! Kami semua perempuan terhormat!"
‘Polisi’ itu agak pusing. Kalau benar perempuan terhormat, mana mungkin datang ke sini setelah membaca selebaran itu?
"Yang tidak mau cari uang, silakan turun sekarang!" kata polisi itu, lalu menutup tirai kereta, dan berkata pada Steven Tua, "Satu menit lagi, kita berangkat keluar kota!"
Hiaa!
Satu menit berlalu, tak seorang pun turun. Steven Tua menggerakkan kereta, dan perjalanan pun dimulai.
Tambang emas memang ada di Sacramento, yang dulunya hanyalah benteng kecil. Meski mencari emas penting, hidup tetap harus dijalani. Maka, antara San Francisco dan Sacramento, bermunculanlah banyak perkemahan para pencari emas.