Bab 137: Pukulan yang Mematikan
"Ada sebuah benda di sini, kurasa kau pasti membutuhkannya. Harga pas, 66 koin kristal gelap, dan benda ini jadi milikmu!" Bing Lian menyeringai sambil memunculkan segulung perkamen dari tangannya.
Lan Tian baru saja bersusah payah mengumpulkan lebih dari seribu koin kristal gelap. Jika dia memberikannya kepada Bing Lian sekarang, jumlah koinnya akan kembali di bawah seribu. Sesaat, dia merasa bimbang.
"Jika kau membelinya di toko sistem, belum tentu kau bisa mendapatkannya meski dengan dua ribu koin kristal gelap. Aku hanya memberikan harga serendah ini karena kita adalah teman lama." Bing Lian membiarkan gulungan perkamen itu melayang ke hadapan Lan Tian.
Lan Tian mulai tergiur. Jika seseorang memberitahunya harga barang itu secara langsung, mungkin dia tidak akan tertarik. Namun, begitu mengetahui harga aslinya dan menyadari betapa murahnya harga yang ditawarkan saat ini, dia pun goyah. Kebanyakan orang memang seperti itu; saat melihat diskon, mereka merasa sedang diuntungkan tanpa memedulikan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau tidak.
Pada akhirnya, Lan Tian mengeluarkan uang untuk membeli perlengkapan tersebut, terutama karena Bing Lian menjanjikan bahwa dia bisa menjual kembali barang ini kepadanya jika mereka bertemu lagi di lain waktu.
Perlengkapan ini dinamakan Permadani Awan, sesuai namanya, sebuah permadani terbang yang ditenun dari awan. Karena Lan Tian membeli Permadani Awan, Bing Lian dengan berbaik hati menggabungkan tiga botol es milik Lan Tian menjadi satu botol es besar secara gratis. Entah karena pengaruh ladang bunga tetes salju, botol es besar itu tampak persis seperti sekuntum bunga tetes salju. Meski disebut besar, ukurannya sebenarnya hanya sebesar mangkuk mi instan.
Lan Tian memeluk botol es besar itu, duduk di atas Permadani Awan, lalu mencoba mengendalikannya dengan pikiran agar terbang menuju tepi bunga tetes salju untuk mulai menguras air dari kelopaknya.
Bing Lian memainkan kecapi kristal esnya dengan puas lalu pergi, meninggalkan Lan Tian dan Xuan Mo untuk menguras air dari bunga-bunga tersebut. Entah karena Lan Tian tidak bisa melakukan dua hal sekaligus, saat dia baru saja meletakkan botol es ke dalam bunga untuk menampung air, Permadani Awan kehilangan kendali dan jatuh. Beruntung, Lan Tian sempat mencengkeram pinggiran bunga tetes salju sehingga dia tidak terjatuh.
Xuan Mo yang ikut terjatuh bersama permadani itu tidak menyangka Lan Tian bisa sebodoh itu hingga tidak bisa membagi fokus. Ia pun terpaksa mengambil alih kendali Permadani Awan untuk membawanya naik kembali.
Lan Tian yang sedang menampung air menyadari bahwa begitu botol es dimasukkan ke dalam air, benda itu secara otomatis akan menyerap air berwarna kehijauan yang ada di dalam bunga. Botol es itu bekerja layaknya pompa air kecil, dengan cepat menyedot air hijau di dalam bunga hingga kering.
Setelah menyelesaikan satu bunga, Lan Tian beralih ke bunga lainnya. Awalnya, dia hanya menemui bunga dengan lapisan air yang dangkal, namun lama-kelamaan air di dalam kelopak bunga semakin menumpuk, bahkan ada yang sampai meluap. Begitu air hijau itu menetes dan memercik ke akar bunga, bunga tersebut langsung layu. Bunga tetes salju yang begitu indah dengan cepat kehilangan pesonanya, layu dalam hitungan detik, lalu berubah menjadi abu putih yang lenyap di tengah kabut.
Setelah satu bunga mati, air di dalam bunga-bunga lainnya justru bertambah banyak secara instan. Untungnya, bunga yang sudah dikuras airnya tidak menghasilkan air hijau baru. Air hijau itu seolah-olah adalah virus yang menular dan menyebar, membuat Lan Tian kewalahan. Beruntung, Xuan Mo membantu mengendalikan Permadani Awan sehingga Lan Tian bisa fokus menguras air.
Setiap kali Lan Tian ingin mengatakan sesuatu kepada Xuan Mo, kucing itu akan memukul kepalanya dengan cakar dan memerintahkannya untuk fokus pada tugas. Lan Tian tidak tahu apa yang salah dengan Xuan Mo akhir-akhir ini; ia menjadi sangat galak dan enggan mendengarkan curahan hatinya. Pukulan Xuan Mo di kepala terasa sangat sakit karena kucing itu tidak tahu cara mengontrol kekuatannya. Setelah beberapa kali, Lan Tian akhirnya belajar untuk diam dan fokus menguras air tanpa mencoba mengajak bicara lagi, lagipula Xuan Mo memang tidak ingin mendengarkannya.
Air di dalam bunga tetes salju terus pasang dan surut. Meski air hijau di beberapa bunga tumbuh lebih cepat, botol es di tangan Lan Tian menyedot air dengan lebih cepat lagi. Seiring dengan layunya beberapa bunga, Lan Tian berhasil mengembalikan bunga-bunga lainnya ke kondisi kering. Sepanjang proses ini, dia terus menelungkup di pinggiran bunga. Awalnya, Lan Tian ingin bermalas-malasan dengan membiarkan botol es menyerap air sendiri, namun dia sadar bahwa prosesnya terlalu lambat. Jika dia memegangnya sendiri, prosesnya jauh lebih efisien.
Melihat bunga tetes salju layu satu per satu di depannya, Lan Tian tidak berani malas dan terus bekerja tanpa henti. Setelah dikuras, bunga-bunga tersebut akan memunculkan api hijau. Dengan adanya api tersebut, air hijau tidak dapat mengumpul lagi di dalam bunga. Bahkan, bunga-bunga di sekitar yang telah dinyalakan apinya tidak lagi mengalami penambahan air hijau, dan air yang ada pun perlahan berkurang.
Ini adalah pertanda baik, jadi meski punggung bawahnya terasa sangat sakit, Lan Tian tidak berhenti, karena kecepatan air hijau untuk kembali jauh lebih cepat daripada waktu istirahatnya.
Setelah Lan Tian berhasil menguras seluruh air hijau dari ladang bunga, dia merasa punggung bawahnya sakit luar biasa, seolah-olah bagian tubuh di bawah pinggangnya bukan lagi miliknya. Begitu selesai, Lan Tian terkapar di atas Permadani Awan seperti ikan mati, bahkan untuk sekadar mengeluh lelah pun dia tidak sanggup. Xuan Mo menyuruh Lan Tian mengendalikan permadani itu sendiri untuk pergi, namun karena kelelahan yang amat sangat, Lan Tian membiarkan permadani itu mendarat ke tanah. Saat itu, dia hanya ingin beristirahat dengan tenang.
Lan Tian tidak lagi mendengar apa yang dikatakan Xuan Mo, dia pun jatuh tertidur lelap. Dalam mimpinya, Lan Tian kembali ke masa sekolah menengah pertama. Saat itu, hubungan antara Lan Tian dan Liu Ding diketahui oleh semua teman di asramanya. Namun, ada seorang siswi bernama Ouyang Jing yang juga menyukai Liu Ding; dia begitu membenci Lan Tian dan ingin melenyapkannya untuk menggantikan posisinya.
Suatu malam, Lan Tian dan Liu Ding tinggal di ruang kelas hingga larut. Liu Ding berkata dia ingin belajar bersama Lan Tian karena ingin masuk ke sekolah menengah atas yang bagus. Dulu, setiap kali Liu Ding mengatakan ingin masuk ke sekolah bagus, orang-orang di sekitarnya akan mengejeknya sedang bermimpi di siang bolong. Namun, Lan Tian hanya tertegun sejenak, lalu mulai menghitung berapa banyak materi yang harus dipelajari Liu Ding agar bisa masuk ke sekolah yang sama dengannya.
Mereka tinggal di kelas hingga larut karena dasar ilmu Liu Ding sangat lemah, sehingga Lan Tian harus mengajarinya dari dasar. Bahasa Mandarin dimulai dari menghafal puisi kuno, bahasa Inggris dari belajar fonetik, matematika dari menghafal tabel perkalian, dan kimia dari tabel periodik unsur.
"Yang benar saja, kenapa harus belajar sebanyak ini?" Liu Ding meratap sambil menjambak rambutnya yang dicat pirang keputihan.
"Aku juga tidak tahu kalau dasar ilmumu selemah ini, jadi kita harus belajar sedikit demi sedikit. Kalau tidak, kau tidak akan bisa masuk ke sekolah itu," ujar Lan Tian dengan nada serius.
Melihat Liu Ding yang tampak frustrasi, Lan Tian tiba-tiba berkata padanya, "Bagaimana kalau kau potong saja rambutmu? Jika dipotong pendek, kau bisa menghemat waktu untuk merawatnya."