Bab Empat Puluh Empat: Terkunci
Ketika titik-titik cahaya putih itu menghilang dari tubuh Lantian, ia mendapati dirinya telah kembali ke pondok awal.
Di antara celah-celah lantai batu, tumbuh rumput liar hingga setinggi pinggangnya. Dinding-dindingnya, yang seluruhnya dari bata merah tua, dipenuhi noda kotoran. Di sudut-sudut ruangan, tumpukan debu telah ditumbuhi lumut dan rumput liar.
Lantian tahu, ini berarti tugasnya kembali gagal, sehingga ia dikembalikan ke pondok awal ini. Namun anehnya, kali ini ia tidak menemukan kucing hitam itu.
“Mi... miaw... kucing... hitam kecil... Moek... tsk tsk...” Lantian berkeliling memanggil-manggil di dalam rumah, dan hanya suara gaungnya yang menggema, namun kucing hitam itu tak kunjung muncul.
Lantian merasa heran, lalu memunculkan panel atribut untuk memeriksa:
Nama: Lantian;
Jenis Kelamin: Perempuan;
Peran: Tabib;
Tingkat: 20;
Aset: 0;
Hewan Peliharaan: Kucing Hitam (Terkunci);
Barang: Kue Jelai x3, Bunga Bakung Emas x1, Panji Kesatria Salib x1 (tidak berlaku), Gulungan Puisi "Nyanyian Musim Panas Baru" x1;
Apa maksudnya terkunci? Lantian menatap tulisan “terkunci” di belakang nama kucing hitam itu dengan bingung, mencoba mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya.
Kapan terakhir kali ia melihat kucing hitam itu? Di kebun bunga milik Yuyuwei. Saat itu, kucing hitam berbaring di atas meja bundar batu hitam, bulu hitamnya menyatu dengan warna batu.
Lantian teringat, saat ia dan Yuyuwei pergi, kucing hitam itu memang tidak ikut bersama mereka.
“Terkunci? Berarti kucing hitam itu terkunci di tempat itu?” Lantian merasa kesal dan mulai menyalahkan diri sendiri. Bagaimana mungkin kucing sebesar itu tidak ia sadari tidak ikut?
Sudah sekian lama bermain, Lantian mulai sadar bahwa permainan ini jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Saat kucing hitam masih menemaninya, ia sudah kesulitan melewati setiap rintangan, apalagi sekarang tanpa kucing hitam, bagaimana ia bisa menyelesaikan tugas?
Saat Lantian sedang dilanda kecemasan, selembar kertas putih jatuh dari atas. Ia mengulurkan tangan dan menangkapnya tepat di genggamannya.
Seperti sebelumnya, itu adalah lembaran kemajuan tugas:
[Lantai Pertama:
Tugas Utama: Menyelamatkan Yuyuwei (Kemajuan Tugas 30%)
Tugas Sampingan (1.1): Menanam Umbi Yuyuwei (Berhasil) [Tersimpan]
Tugas Sampingan (1.2): Menemukan Daerah Persebaran Yuyuwei (Berhasil) [Tersimpan]
Tugas Sampingan (1.3): Melukis Bunga Yuyuwei pada Panji Kesatria Salib (Berhasil) [Tersimpan]
Tugas Sampingan (1.4): Membersihkan Pohon Pinus di Depan Pondok Yuyuwei (Berhasil) [Tersimpan]
Tugas Sampingan (1.5): Menyebrangi Rawa Yuyuwei Air (Berhasil) [Tersimpan]
Tugas Sampingan (1.6): Melengkapi Puisi pada Kartu Ucapan (Berhasil) [Tersimpan]
Tugas Sampingan (1.7): Persahabatan Mekarnya Bunga Bakung Emas (Berhasil) [Bisa Disimpan]
Tugas Sampingan (1.8): Membangunkan Yuyuwei yang Tertidur (Berhasil) [Tersimpan]
Tugas Sampingan (1.9): Membangun Jembatan antara Kota Yuyuwei dan Ladang Yuyuwei (Berhasil) [Bisa Disimpan]]
Kelihatannya semua tugas sampingan sudah selesai, hanya tugas utama yang belum.
Lantian menatap asetnya yang sudah nol, merasa kecewa karena tak bisa menemukan dimana tempat untuk mengisi ulang saldo dalam permainan ini. Ia pun bingung harus berbuat apa selanjutnya.
Tanpa kucing hitam yang menemaninya, Lantian masih merasa canggung. Namun tugas harus tetap dilanjutkan, jika tidak, ia akan selamanya terkurung di sini.
Seperti biasa, Lantian melangkah ke pintu. Kali ini, jalanan dipenuhi rumput liar. Beberapa daun rumput melukai kakinya, karena karakter tabib yang ia mainkan mengenakan rok pendek.
Kaki Lantian panjang dan lurus, ibarat dua batang teratai segar. Ia jarang memakai rok pendek, dan bahkan tak punya satu pun rok di atas lutut. Kulit di pahanya putih dan halus. Daun-daun rumput itu, meski hanya sedikit tersentuh, sudah bisa menggores kulitnya seperti mengiris kertas.
Di depan pintu, Lantian seperti biasa memilih [Lanjutkan Permainan]. Dalam balutan cahaya putih, ia meninggalkan pondok awal.
Cahaya putih di sekeliling menghilang. Lantian membuka mata dan mendapati dirinya berada di dekat papan kayu, tak jauh dari jembatan es yang sebelumnya ia bangun.
Lantian merasa senang melihat jembatan itu masih ada. Sebelumnya ia sempat berpikir, jika jembatan itu hilang, ia harus menjual beberapa barang di toko demi menukar koin kristal gelap.
Tampaknya ia tak perlu kembali untuk menukar koin, sehingga waktu dan koin bisa dihemat. Ini membuatnya sedikit bahagia.
Kini sudah pagi. Sinar keemasan mentari jatuh di atas jembatan es, membiaskan cahaya bak kristal. Cahaya itu memantul di permukaan sungai, menciptakan sisik ikan berwarna-warni di tepiannya.
Lantian meniti jembatan es dengan hati-hati. Jembatan itu tetap kokoh seperti sebelumnya, hanya saja permukaan tiang-tiang es berbentuk makhluk kecil di bawahnya kini tampak lebih licin. Dulu, bulu-bulu mereka pun masih tampak jelas.
Lantian juga memperhatikan perubahan pada makhluk-makhluk kecil itu. Ini menandakan bahwa jembatan es itu tidak akan bertahan selamanya di atas sungai, dan lama kelamaan akan meleleh.
Makhluk-makhluk kecil yang kini tampak lebih kurus itu memang tak lagi menggemaskan, melainkan tampak lebih tegar seperti sedang diam-diam meminta agar lekas diselesaikan, karena mereka sudah hampir tak kuat lagi menopang beban.
Di seberang sungai, kali ini tak ada penanda bunga Yuyuwei yang berputar sebagai penunjuk arah, namun jalanan tampak lebih lebar dari sebelumnya, dan hanya ada satu jalan. Tanpa penunjuk, Lantian tetap tahu harus ke mana.
Di tepi jalan, sesekali ada setangkai bunga Yuyuwei sebagai penanda, diam-diam memberi tahu Lantian bahwa ia tidak salah jalan.
Lantian terus menyusuri jalan itu. Setelah melewati tiga bunga Yuyuwei, ia merasa telah berjalan sekitar tiga kilometer, dan akhirnya melihat Yuyuwei kecil.
Di sana tak ada sangkar. Yuyuwei kecil duduk di tanah membelakangi Lantian, tubuhnya seperti setangkai bunga Yuyuwei.
Lantian mendekat dan bertanya, “Yuyuwei, kenapa kamu sendirian di sini?”
Yuyuwei kecil menoleh dengan kaget, memandang Lantian. Setelah beberapa saat, ia bertanya, “Aku sedang menunggu kakak. Kakak, kenapa kamu datang dari arah sana?”
Wajah Yuyuwei kecil tampak bingung. Lantian sendiri juga tak tahu kenapa ia tidak bisa datang dari arah lain, dan tak tahu harus menjawab apa.
Saat Lantian terdiam, Yuyuwei kecil berkata, “Oh! Aku tahu. Karena di hati kakak sudah tak ada lagi sangkar, jadi tidak bisa dikurung.”
Sambil berkata begitu, Yuyuwei berdiri dan berbalik menghadap Lantian. Namun Lantian melihat ia menggenggam jeruji yang tak tampak.
Lantian penasaran, lalu berjalan ke belakang Yuyuwei kecil, berjongkok dan memicingkan mata.
Dalam sinar keemasan pagi, Lantian melihat sebuah sangkar raksasa yang samar-samar ada dan tiada, benar-benar mengurung Yuyuwei kecil.
Jeruji-jeruji sangkar itu berasal dari bunga Yuyuwei yang bergoyang tertiup angin. Lantian menduga, mungkin jika bunga itu dipetik, sangkar itu akan lenyap.