Bab Tiga Puluh Delapan: Berguna
Kucing hitam itu berbaring tidak jauh dari situ, menikmati hangatnya sinar matahari, tubuhnya yang lemas menempel di tanah bagaikan sepotong kue beras ketan. Lantian terus-menerus memberi makan burung merpati di sana, sampai keringetan karena panas, dan dengan susah payah berhasil mengumpulkan cukup bulu untuk merangkai sepuluh kuntum bunga bakung emas.
Kali ini, Lantian tidak bertemu dengan Pedagang Misterius Teratai Es. Sejujurnya, Lantian sedikit merindukannya, sebab setiap kali wanita itu muncul, Lantian tak lagi merasa kepanasan. Selain itu, barang-barang di tempat Teratai Es sangat murah, kebanyakan hanya membutuhkan satu koin kristal gelap, jauh lebih murah dibandingkan tempat lain, seolah-olah diberikan secara cuma-cuma.
Namun, waktu dan tempat kemunculan Teratai Es tak menentu, jadi sebanyak apa pun Lantian merindukannya, wanita itu tidak akan muncul begitu saja.
Setelah merangkai bunga bakung emas, Lantian membawa serangkai bunga itu, berjalan ke berbagai sudut kota untuk memberikannya kepada para NPC.
Lantian pertama-tama memberikan satu kuntum bunga kepada kucing hitam. Kali ini sistem memberi peringatan “nilai keakraban +1”, Lantian sempat tercengang, rupanya dengan hewan peliharaan pun ada nilai keakraban? Tapi kenapa sebelumnya tidak pernah bertambah? Lantian menduga kucing hitam itu tidak menyukainya.
Sebenarnya tidak begitu. Kebanyakan hewan peliharaan dan Penjelajah Kegelapan memang tidak menampilkan nilai keakraban, karena umumnya sudah penuh. Hanya saja, kucing cenderung angkuh dan sulit meningkatkan keakrabannya, sebab mereka memandang rendah Penjelajah Kegelapan yang terikat pada mereka.
Namun, begitu seekor kucing mengakui Penjelajah Kegelapannya, ia akan berjuang sekuat tenaga untuknya, bahkan rela mengorbankan sembilan nyawanya.
Dalam permainan Menara Kelam ini, tersedia banyak hewan peliharaan untuk para Penjelajah Kegelapan, dan mereka adalah satu-satunya teman yang dapat dipercaya di dalam menara itu.
Bunga bakung emas kedua diberikan Lantian kepada nenek pemilik toko. Sebagai balasannya, sang nenek memberikan permen merah kepada Lantian. Bunga bakung emas ketiga diberikan kepada cucu perempuan nenek itu, yang membalas dengan sebuah kuas.
Kali ini Lantian tidak langsung menggunakan hadiah-hadiah itu. Sebelumnya, setiap menerima hadiah, ia langsung memakan jeruk darah dan semangka, bahkan memakan permennya tanpa menyisakan bungkus. Namun, hadiah dari para NPC pasti berguna. Buktinya, sepotong kue soba saja bisa menghilangkan efek negatif, apalagi barang-barang lain.
Baru belakangan Lantian menyadari betapa pentingnya hadiah dari para NPC, sebab nenek di toko sempat memanggilnya, menanyakan apakah ia ingin menjual barang-barangnya di toko.
Namun, Lantian berterima kasih kepada sang nenek dan tidak menjual apapun. Saat ia bersiap untuk menjual, kucing hitam tiba-tiba memanggilnya.
Tindakan kucing hitam itu membuat Lantian berpikir, mungkin saja menjual barang-barangnya kepada orang lain bisa mendapat lebih banyak koin kristal gelap, seperti kepada Pedagang Misterius Teratai Es.
Keluar dari toko, Lantian menyusuri gang kecil, lalu melihat seorang pengemis berpakaian compang-camping yang sedang mengemis di pinggir jalan.
Lantian memberikan bunga bakung emas keempat kepada pengemis itu. Pengemis itu tertegun sejenak, lalu menerima bunga bakung itu dan mengucapkan terima kasih berulang kali kepada Lantian. Meski si pengemis tidak memberi hadiah balasan, Lantian merasa puas melihat kegembiraan di wajahnya.
Di depan sebuah rumah, dua anak kecil sedang bermain sepak bulu. Lantian memberikan bunga bakung emas kepada keduanya. Bunga itu berubah menjadi dua sinar emas, dan bulu ayam pada alat permainan mereka pun berubah menjadi bulu emas yang sangat indah.
“Kakak, ini untukmu! Terima kasih atas bunganya!” Kedua gadis kecil itu melepas hiasan rambut mereka dan memberikannya kepada Lantian.
Itu adalah dua kuntum bunga iris. Setelah menerimanya, jumlah bunga iris di inventaris Lantian bertambah dari delapan menjadi sepuluh.
Andai satu orang bisa menerima lebih dari satu bunga bakung emas, Lantian ingin sekali memberikan semua sisa bunganya kepada mereka. Faktanya, Lantian memang mencoba, namun kedua gadis kecil itu menolak menerima lagi.
Setelah keluar dari gang, Lantian mengikuti kucing hitam ke tepi sungai, di mana ia bertemu tiga ekor angsa putih besar. Sisa tiga bunga bakung emas pun diberikan kepada mereka.
Meskipun tidak mendapat hadiah balasan dari angsa-angsa itu, Lantian tetap merasa bahagia, karena kini ia telah mengumpulkan sepuluh bunga iris yang dibutuhkan untuk tugas.
Kembali ke air mancur, Lantian memberikan bunga bakung emas terakhir kepada dirinya sendiri.
Seperti sebelumnya, dari dalam air muncul satu kuntum bunga iris bercahaya, menuntun Lantian menuju pondok kecil.
Lantian membuka pintu dan masuk. Kucing hitam langsung melompat ke atas ranjang, menggulung tubuh dan tertidur pulas. Melihat sikap tergesa-gesa kucing itu, Lantian hanya menggelengkan kepala.
Seperti sebelumnya, Lantian menemukan daftar tugas di samping ranjang; masih berupa pengumpulan bunga iris.
Lantian kemudian tidur sambil membawa daftar tugas itu. Kali ini ia hanya tidur siang sebentar. Tidurnya sangat nyenyak, tanpa mimpi aneh ataupun gangguan siapa pun.
Saat Lantian terlelap, tiga angsa putih besar yang tadinya di tepi sungai muncul di alun-alun, berjaga di depan pintu yang setengah terbuka, melindungi Lantian.
Berkat penjagaan angsa-angsa itu, burung-burung merpati tidak berani masuk ke dalam rumah dan mengganggu tidur siang Lantian.
Setelah tidur siang yang singkat, Lantian merasa tubuhnya lebih segar. Bunga iris di dalam inventaris telah menghilang, dan kemajuan tugas di daftar tugas mencapai seratus persen.
Lantian terpaku memandangi daftar tugas itu. Tugas kali ini benar-benar terlalu mudah. Sebelumnya ia harus bersusah payah mengumpulkan beberapa bunga iris saja.
Demi mengumpulkan bunga-bunga itu, Lantian harus menghadapi kembali kenangan-kenangan yang sebenarnya tak ingin ia hadapi.
Sebenarnya, alasan tugas kali ini jadi begitu mudah adalah karena ia melakukannya di siang hari.
Di dalam Menara Kelam, malam hari selalu lebih berbahaya daripada siang hari, dan sebelumnya Lantian menggunakan kartu karakter manusia serigala.
Karakter manusia serigala itu, meski bar darahnya lebih panjang dari karakter biasa dan kekuatan serta pertahanannya tinggi, juga memiliki kemampuan penyembuhan. Namun, pada malam hari kecerdasannya menurun dan jadi sangat haus darah, mudah sekali mencari keributan.
Setelah dua tahap, Lantian hanya memperoleh dua koin kristal gelap, namun kini ia telah mengumpulkan sepuluh koin dan langsung pergi ke toko untuk membeli botol ramuan yang sudah lama diidamkannya.
Kini Lantian memiliki dua botol ramuan: satu berisi penuh ramuan hijau, dan satu lagi sedang otomatis terisi ramuan merah.
Melihat isi ramuan merah yang perlahan bertambah, hati Lantian dipenuhi kebahagiaan. Ia mengikuti penunjuk cahaya bunga iris di daftar tugas menuju tahap berikutnya.
Kali ini, penunjuk itu berupa satu kuntum bunga iris utuh, tidak lagi hanya kelopaknya seperti sebelumnya. Penunjuk itu menuntun Lantian keluar dari alun-alun kecil, melewati jalan-jalan besar dan kecil, hingga ke luar desa, dan berhenti di tepi sungai.
Begitu Lantian mendekat, penunjuk cahaya bunga iris itu melayang ke seberang sungai, berputar-putar seolah-olah mendesak Lantian agar segera menyusulnya.