Bab Tujuh Puluh Lima: Gadis Kaya Kecil
Pakaian ini memang sangat indah, hanya saja tampilannya sederhana. Payung itu, ketika dilipat, tampak seperti payung biasa, namun begitu dibuka, di bawahnya bermekaran banyak bunga, dan semuanya adalah bunga asli. Setelah satu bunga dipetik, segera tumbuh bunga baru menggantikan. Berbeda dengan aroma obat merah yang menempel di tubuhnya, bunga-bunga di bawah payung itu memancarkan wangi segar layaknya bunga yang baru mekar, mirip bunga pir dengan sentuhan manis yang lembut.
Lantian merasa pakaian ini lebih cocok dipakai untuk peragaan busana, sama sekali tak tampak seperti pakaian untuk menjalankan misi. Maka ia pun menyimpan kartu karakter itu dan memutuskan tetap menggunakan kartu karakter Iris. Meski pakaian pada kartu karakter Iris juga bermotif bunga, Lantian sudah sangat terbiasa dengan kemampuan dari kartu itu, benang sari emas seolah menjadi perpanjangan jemarinya.
Setelah memiliki kartu karakter, Lantian mulai mengikuti undian. Mendapat kesempatan undian secara cuma-cuma, tentu saja ia tak ingin menyia-nyiakannya, apalagi tidak perlu mengeluarkan uang. Ia sangat senang melakukannya.
[Apron Merah: Masakan yang dibuat dengan mengenakan apron ini akan terasa lebih lezat, hanya dewa kuliner yang pantas memiliki benda ini. (Catatan: Hanya dapat digunakan oleh karakter yang memiliki kemampuan memasak)]
Awalnya Lantian cukup senang, namun barang ini sekarang tidak bisa ia gunakan. Kartu karakter [Juru Masak] sudah tidak berlaku, dan kartu karakter lain pun tak bisa memakainya. Ia merasa kesempatan undian yang didapatnya terbuang sia-sia.
[Pewarna Bunga Salju: Pewarna ini dapat digunakan pada kartu karakter, membuat bagian pakaian tertentu tampak seperti bunga salju di bawah cahaya pagi. (Jika digunakan pada kartu karakter terbatas, efek akan hilang setelah masa berlaku habis; jika pada kartu karakter permanen, efek cahaya bulan akan abadi.)]
Warna apa bunga salju itu? Putih, tentu saja! Pakaian [Pagi Berbunga] sudah berwarna putih, dan menambahkan pewarna putih pada pakaian putih, bukankah itu gila? Lantian menatap pewarna di tangannya, kesal ingin melemparkannya. Ia memang butuh pewarna untuk mengubah warna pakaian, tapi tidak menginginkan warna putih lagi!
Sial! Kesempatan undian terbuang sia-sia lagi. Lantian mulai curiga, jangan-jangan sistem sedang mempermainkannya? Dengan perasaan enggan menyerah, Lantian terus mencoba undian, tak percaya dirinya tidak akan mendapat barang bagus.
[2 Koin Kristal Gelap.]
Meski hanya dua, koin kristal gelap tetap jauh lebih berguna daripada dua barang sebelumnya. Kini Lantian memiliki total 204 koin kristal gelap. Ia merasa dirinya seperti seorang nyonya kecil yang kaya raya.
[Aksesori Kepala Bunga Merah Muda: Memakainya akan membuatmu tampak semakin manis dan mempesona, seperti bunga pertama yang mekar di musim semi. (Catatan: Hanya dapat digunakan oleh kartu karakter bertipe tumbuhan.)]
Baiklah, setidaknya bunga merah muda tidak terlalu monoton, masih lumayan berguna!
Lantian mengganti kartu karakter dengan [Pagi Berbunga], lalu memakai aksesori tersebut, dan menghabiskan satu koin kristal gelap lagi untuk masuk ke Rumah Cermin menikmati penampilannya. Melihat dirinya di cermin dengan bunga merah muda di kepala, Lantian merasa jauh lebih cantik, setidaknya tidak lagi seperti orang yang hendak berduka.
Dengan puas, ia meninggalkan Rumah Cermin dan melanjutkan undian. Saat itu ia baru sadar kali ini ia tidak membelai Xuanmo sebelum undian, pantas saja keberuntungannya buruk.
Maka sebelum undian selanjutnya, Lantian memegangi pipi Xuanmo, membelainya dengan puas hingga Xuanmo memutar bola matanya ke atas, baru ia lepaskan.
[Aksesori Kepala Bunga Putih: Memakainya akan membuatmu tampak anggun dan sederhana, seperti bunga yang diam-diam mekar di musim semi. (Catatan: Hanya dapat digunakan oleh kartu karakter bertipe tumbuhan.)]
Melihat barang tersebut, Lantian menoleh ke arah Xuanmo dan mengeluh, “Xuanmo, apa akhir-akhir ini kau pergi ke Afrika? Setelah membelai kamu, keberuntunganku malah makin buruk!”
Xuanmo membalikkan badan, memperlihatkan pantatnya pada Lantian, menandakan ia sama sekali tidak ingin meladeni. Jika keberuntungan seseorang memang sedang buruk, membelai kucing sebanyak apapun juga tak ada gunanya. Cara ‘mengambil keberuntungan’ seperti itu hanyalah kepercayaan manusia, kucing cerdas tentu tak percaya hal semacam itu!
Lantian kesal sampai menghentakkan kakinya, setelah puas melampiaskan amarah, ia keluar dari Ruang Hitam Kecil dan melanjutkan perjalanan. Xuanmo mengikuti Lantian sampai ke depan Pintu Batu, yang di permukaannya tetap terukir peta dunia. Namun kali ini wilayah Amerika Selatan benar-benar hitam pekat, bahkan relief menonjolnya telah diratakan.
Dengan mengingat kejadian pada tantangan pertama, Lantian tahu bahwa wilayah yang sudah menghitam tidak bisa dimasuki lagi.
“Kalau Amerika Selatan bukan jawabannya, mari kita lihat Eropa!” ujar Lantian sambil meletakkan tangannya di benua Eropa dan menekannya.
Cahaya putih melintas di pintu batu, lalu ketika cahaya itu menghilang, Lantian mendapati dirinya berada di sebuah padang rumput. Seluas mata memandang, hamparan rumput hijau terbentang, dengan angin berhembus membawa aroma segar rerumputan. Tak jauh dari sana tampak rumah-rumah putih, Lantian merasa harapannya masih ada, karena dalam pengetahuannya, bunga lili biasanya ditanam dalam pot dan diletakkan di jendela.
Lantian berjalan bersama Xuanmo menuju rumah-rumah itu. Di perjalanan, ia melihat para peri hijau kecil itu muncul lagi, namun kini hanya tersisa enam. Lantian melirik pergelangan tangannya, liontin perak di rantai hanya berjumlah enam.
“Jadi di tantangan sebelumnya aku kehilangan dua peri kecil? Apa masih bisa kembali?” Lantian merasa rugi melihat jumlah peri yang berkurang. Kehilangan dua peri dalam satu tahap, siapa yang bisa tahan dengan ini?
Di peta ada tujuh benua, Lantian mulai berpikir jangan-jangan sebelum menuntaskan tantangan, semua perinya sudah habis. Mengingat kejadian undian sebelumnya, Lantian merasa kemungkinan itu sangat mungkin terjadi.
“Apakah tempat ini yang kucari?” Lantian bertanya pada para peri, namun mereka menggeleng, jelas tempat ini bukan asal bunga lili.
“Lalu bagaimana aku bisa keluar?” Lantian sadar ia hanya tahu cara masuk, namun tidak tahu jalan keluar.
Para peri mulai menari, lalu menunjukkan jalan pada Lantian. Dengan bantuan mereka, Lantian tak khawatir tidak bisa keluar.
Lantian merasa ia masih bisa mempercayai para peri kecil ini, mereka seharusnya tidak akan tersesat seperti Xuanmo. Xuanmo, mendengar Lantian menggoda soal tersesat, langsung menyusup ke semak, hanya memperlihatkan ujung ekor hitamnya.
Rumput semanggi bermekaran, bunga-bunga putih menaburi seluruh lereng bukit, pemandangan itu seperti lukisan, dan Lantian seolah menjadi bagian dari lukisan itu. Xuanmo tak menghiraukan kupu-kupu atau lebah yang beterbangan, bahkan tak mengangkat kakinya sedikit pun.
Para peri kecil menuntun Lantian ke puncak bukit, di sana berdiri sebuah batu nisan putih. Tanpa perlu diberi tahu, Lantian tahu di sanalah pintu keluar, ia pun berlari riang sambil mengangkat roknya di atas rerumputan.
Namun, sebelum sempat mendekat, jalannya sudah dihadang oleh sekelompok orang yang mengenakan sweter putih dan topeng kepala domba dari perak. Orang-orang berkepala domba itu sedang membagi-bagi lahan, membuat pagar kayu membentuk lingkaran mengelilingi bukit itu.
Lantian memperhatikan mereka memagari seluruh area, lalu mengusir semua penduduk desa dari dalam pagar.