Bab Seratus Tiga Puluh Tiga: Terasa Canggung
"Terima kasih atas kunjungan Pengembara Kelam. Jika lain kali butuh sesuatu untuk diminum, jangan lupa panggil Bing Lian, ya!" Bing Lian menatap Lan Tian sambil tersenyum manis, memamerkan deretan giginya yang putih bersih serta dua taring kecil yang runcing.
Lan Tian memandangi sosok Bing Lian saat ini dan semakin merasa bahwa gadis kecil ini sangat mirip dengan rubah putih yang licik.
Bing Lian dengan puas menaiki Meng Ji. Saat hendak pergi, ia menoleh dan berpesan sambil tersenyum kepada Lan Tian, "Saran ramah dariku, jangan terpaku pada cahaya yang semu. Orang yang menangisi kunang-kunang yang mati akan kehilangan sinar matahari di atas kepalanya. Ingat itu, ya!"
Lan Tian tertegun kebingungan. Apa-apaan nasihat keberuntungan seperti itu? Namun, tepat saat ia hendak bertanya lebih lanjut, Bing Lian dan Meng Ji telah lenyap. Ya! Kucing sebesar itu dan gadis kecil berbaju putih itu menghilang seketika, seolah-olah tidak pernah ada di sana.
"Meong!" Xuan Mo mendesak Lan Tian untuk kembali ke desa. Saat Lan Tian menuruni lereng bukit, ia mendapati langit semakin terang. Tepat ketika ia curiga apakah Bing Lian baru saja mengajaknya menatap bulan semalaman, Xuan Mo memberi tahu Lan Tian:
[Bukan menatap bulan semalaman, Bing Lian membantumu mempercepat waktu selama tiga hari.]
"Maksudmu sudah tiga hari berlalu, dan hari ini adalah hari diadakannya Festival Lampion Sungai di desa ini?" Lan Tian menatap semburat merah di cakrawala dengan heran.
Siapa sebenarnya Bing Lian itu? Bagaimana dia bisa melakukan hal seperti memanipulasi kecepatan waktu? Dan kenapa dirinya sama sekali tidak menyadarinya?
Menyongsong matahari terbenam yang tumpah seperti mawar, Lan Tian tiba di rumah Xue Di, lalu mendapati ruangan itu penuh dengan lampion sungai berwarna putih.
Xue Di duduk di samping meja, mengenakan pakaian serba putih yang lebih bersih dari salju, dengan bunga putih cantik di kepalanya, tampak seperti dewi yang turun ke bumi.
"Nona Lan Tian sudah kembali? Bantu aku, tolong antarkan lampion-lampion sungai ini kepada penduduk desa!" Xue Di memanggil Lan Tian untuk mendekat. Lan Tian pun membantu mengantarkan lampion-lampion itu ke setiap rumah.
Di jalan, Xue Di menjelaskan kepada Lan Tian bahwa lampion-lampion ini dimaksudkan agar penduduk desa bisa menitipkan kerinduan mereka kepada kerabat yang telah tiada.
Menurut legenda, orang yang meninggal akan melewati sebuah sungai bernama Sungai Arwah, sungai yang memisahkan dunia orang hidup dan orang mati.
Lampion yang terbuat dari kertas putih dapat membawa kerinduan orang yang masih hidup, mengalir mengikuti arus sungai hingga ke Sungai Arwah, dan akhirnya sampai ke tangan orang-orang tercinta.
Setelah mendengarnya, Lan Tian bertanya kepada Xuan Mo yang sedang menggigit lampion kertas di sampingnya, "Di babak pertama kita bertemu kerangka, dan di babak ini kita bertemu Sungai Arwah. Apakah babak ini dibangun oleh orang mati?"
Xuan Mo melirik Lan Tian dengan sinis, kata-kata meluncur dari sela-sela mulutnya: [Apa kau bodoh? Bagaimana orang mati bisa membangun sebuah babak?]
Apa saja yang dipikirkan manusia kecil ini di kepalanya setiap hari? Dirinya adalah kucing yang mulia, sudah cukup baik mau membantunya mengirim barang-barang ini, sekarang masih harus menjadi ensiklopedia berjalan untuk menjawab segala khayalan anehnya.
Tugas ini benar-benar tidak bisa dilanjutkan. Setelah babak ini berakhir, ia akan mengajukan permohonan kepada sistem untuk mengganti manusia kecil ini. Sangat merepotkan.
Xuan Mo diam-diam mengambil keputusan untuk mencampakkan Lan Tian.
Setelah lampion selesai dibagikan, tersisa tiga buah. Xue Di menyimpan satu untuk dirinya sendiri, sementara dua sisanya diberikan kepada Lan Tian dan Xuan Mo.
Langit sudah benar-benar gelap. Lan Tian dan Xue Di mengikuti penduduk desa keluar desa, melewati ladang-ladang, dan berjalan menuju tepi sungai.
Sesampainya di tepi sungai, Lan Tian akhirnya memahami mengapa sungai ini disebut Sungai Willow Ilusi. Di sepanjang tanggul sungai ditanami pohon willow ilusi, sejenis pohon willow yang memancarkan cahaya di malam hari.
Setiap pohon di sana memancarkan cahaya warna-warni yang bergerak-gerak di malam hari, memberikan kesan pada Lan Tian seperti tiang lampu neon aneh yang sering terlihat di depan tempat pangkas rambut.
"Pohon-pohon willow ilusi ini sangat aneh ya. Menurutmu, kalau daunnya gugur, apakah akan tetap bercahaya? Kalau jatuh ke sungai, bukankah seluruh sungai akan bercahaya di malam hari?"
Lan Tian terus melepaskan rasa penasarannya sepanjang jalan. Xuan Mo yang menggigit lampion kertas tidak menyahut, menyembunyikan seluruh tubuhnya di dalam kegelapan malam.
Untungnya, Xue Di sangat sabar. Ia menjelaskan kepada Lan Tian, "Nona Lan Tian bercanda. Pohon willow ilusi ini tidak bercahaya di siang hari, hanya pada hari Festival Lampion Sungai saja mereka memancarkan cahaya. Daun yang gugur pun tidak bercahaya."
Lan Tian mengangguk sambil merenung. Awalnya ia berpikir, jika daun pohon willow ini terus bercahaya, ia ingin memetik beberapa untuk dijadikan lampu penerangan.
Rombongan itu segera sampai di tepi sungai bersama kerumunan besar. Di seberang sungai juga ada banyak orang yang sedang melarungkan lampion.
Lan Tian terus mengikuti Xue Di hingga ke hulu sungai. Ternyata sungai ini mengalir dari bawah sebatang pohon willow raksasa.
Pohon itu sangat besar, setiap helai daunnya bercahaya, namun cahaya pohon ini tidak warna-warni seperti pohon willow di hilir, melainkan cenderung berwarna jingga.
Di bawah pohon itu berdiri seseorang dengan pakaian serba putih, warnanya senada dengan pakaian Xue Di.
Dalam perjalanan tadi, Lan Tian sudah menyadari bahwa penduduk desa dan orang-orang di seberang sungai mengenakan pakaian berwarna kelabu, hanya Xue Di yang berpakaian putih.
Awalnya Lan Tian mengira itu karena Xue Di adalah tokoh utama NPC di babak ini, tidak disangka ada tokoh utama NPC lainnya.
Pria berbaju putih itu tampak sangat terkejut saat melihat Xue Di dan berseru, "Xue Di! Kau benar-benar datang!"
"Maafkan aku, aku baru melihat bunga yang kau selipkan di dalam buku beberapa hari yang lalu, jadi aku datang terlambat." Xue Di membungkuk memberi hormat.
Keduanya mendekat, mata mereka memancarkan kebahagiaan, namun tangan mereka tampak ragu-ragu. Keduanya sempat mengangkat tangan, namun segera menariknya kembali.
Lan Tian tersenyum simpul melihatnya. Namun, saat melihat mereka berdua berulang kali menoleh ke arahnya, ia menduga mereka pasti malu. Maka, ia pun memegang lampion pemberian Xue Di dan berkata dengan suara lantang kepada Xuan Mo:
"Xuan Mo, ayo kita pergi melarungkan lampion ke hilir. Bagaimana kalau kita pergi agak lama? Mari kita lihat lampion di sungai lebih banyak lagi, nikmati pemandangannya!"
[Iya, iya, tidak perlu bicara sekeras itu. Telinga kucing jauh lebih peka daripada pendengaran kalian manusia!] Xuan Mo berjalan di samping kaki Lan Tian.
"Aku tahu, aku tidak bicara padamu. Apa kau tidak lihat mereka berdua malu karena kita ada di sini? Sampai mau berpelukan saja tidak berani," bisik Lan Tian kepada Xuan Mo.
Lan Tian dan Xuan Mo berjalan menyusuri sungai beberapa saat, lalu berjongkok di tepi sungai untuk melarungkan lampion. Begitu lampion kertas itu menyentuh air, ia otomatis menyala. Di dalam lampion kertas yang menyerupai teratai putih itu, terdapat putik bunga yang menyala dengan api berwarna hijau.
Setelah Xuan Mo melarungkan lampionnya ke sungai, ia terdiam. Lan Tian memegang lampionnya dan bertanya, "Kepada siapa kau kirim lampion itu?"
[Untuk Meng Ji, kucing besar milik Bing Lian.] Xuan Mo menjawab dengan baik hati, tanpa memaki Lan Tian bodoh lagi.
"Kenapa kau kirim untuknya? Bukankah Xue Di bilang ini untuk orang yang sudah mati?" tanya Lan Tian bingung.
[Ya, di dalam hati Xuan Mo, Meng Ji sudah menjadi kucing yang mati!] jawab Xuan Mo dengan nada serius.