Bab 39
Setelah melahirkan bayi perempuan, Wan Xue dirawat di rumah sakit selama empat hari. Setelah dokter melakukan pemeriksaan dan menyatakan kondisinya beserta sang bayi sehat tanpa kendala, mereka pun diperbolehkan pulang.
Seorang ibu yang baru melahirkan tidak boleh terkena angin. Sun Jianing sudah bersiap dengan membungkus tubuh Wan Xue menggunakan selimut tipis, bahkan membungkus kepalanya dengan kain bantal, sehingga hanya menyisakan celah untuk kedua matanya saat keluar dari rumah sakit. Menurut perkataan Wan Xue, penampilannya sangat buruk, persis seperti pengungsi yang dibungkus dari kepala hingga kaki saat berjalan di depan umum. Untungnya wajahnya tidak terlihat, jika tidak, akan sangat memalukan jika bertemu dengan kenalan.
Zhou Changcheng kembali mengantar kakak iparnya pulang dengan becak roda tiga. Wan Yun juga ikut duduk di atas becak tersebut. Ia memeluk keponakan perempuannya yang dibungkus rapat-rapat dengan penuh rasa ingin tahu, bahkan bisa dibilang reaksinya sangat antusias.
Sejak kehadiran keponakan kecil ini, Wan Yun dengan sukarela mengambil alih banyak tugas untuk merawat Wan Xue. Kasih sayang seorang adik kepada anak kakaknya terlihat sangat nyata di antara mereka berdua, seolah-olah dengan adanya bayi ini, suami mereka masing-masing harus mundur selangkah.
"Wah, tangan dan kakinya kecil sekali!"
"Kak, Kak Cheng, lihat! Dia menguap! Dia masih sekecil ini sudah bisa menguap!"
"Kemarin saat aku mengelap tubuhnya, dia tersenyum padaku meski matanya terpejam. Dia pasti tahu kalau aku bibinya!"
"Kenapa bisa sekecil ini ya? Kepalanya bahkan tidak lebih besar dari telapak tanganku."
Setelah mengatakan semua itu, Wan Yun tiba-tiba merasa cemas. Dengan keponakan yang sekecil ini, apa yang harus dimakan kakaknya agar bayinya bisa tumbuh besar?
Sebenarnya, bayi perempuan itu lahir dengan berat enam kati dua tael (sekitar 3,1 kg). Pada tahun delapan puluhan, berat tersebut sama sekali tidak bisa dibilang kecil. Namun, Wan Yun selalu merasa keponakannya itu bahkan lebih ringan daripada seekor anak babi. Ditambah lagi, ini adalah anak yang dilahirkan kakaknya dengan susah payah, jadi ia tentu ingin melindunginya dengan baik. Bahkan saat Sun Jianing ingin menggendongnya, Wan Yun terus mengawasi dengan saksama karena takut kakak iparnya itu tidak sengaja menyenggol atau melukai bayinya.
Berbeda dengan Wan Yun yang sangat protektif, Wan Xue justru sangat santai. Ia hanya menggendong bayinya saat menyusui, selebihnya ia akan berbaring untuk tidur bersama. Proses melahirkan benar-benar membuatnya terkuras hingga merasa seperti bukan manusia. Naluri keibuannya belum sepenuhnya meledak; ia hanya ingin segera memulihkan tenaga dan pikirannya.
Saat hampir sampai di bawah gedung asrama Biro Logistik, Wan Xue tidak tahan lagi dengan celotehan Wan Yun. Ia mencubit bibir adiknya hingga mengerucut seperti bebek, lalu memperingatkannya, "Berhenti bicara! Masih muda sudah cerewet sekali, bagaimana bisa A-Cheng tahan denganmu?"
"Kak, uhuhu, lepaskan aku!" Wan Yun yang sedang menggendong bayi tidak berani melawan, ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Memangnya kamu belum pernah mengurus Wan Feng? Kenapa heboh sekali?" Wan Xue melepaskan cubitannya setelah merasa puas.
Wan Yun mengerucutkan bibirnya sambil menepuk-nepuk pelan bedong di tangannya. "Saat Wan Feng lahir, aku baru tiga tahun, mana ingat bagaimana dia waktu kecil?" Setelah berkata demikian, ia dengan iseng berbisik kepada keponakannya yang sedang tidur dengan jari-jari mungil yang melengkung, "Ting-ting kecil yang manis, ibumu itu wanita galak. Jangan hiraukan dia, Bibi Kecil dan Paman Ipar yang akan menyayangimu, ya."
Wan Xue benar-benar dibuat kesal oleh sikap kekanak-kanakan Wan Yun, ia pun kembali menjewer telinganya. "Omong kosong apa yang kamu katakan pada putriku?!"
"Aduh, aduh, Kak, lepaskan! Sakit!" Wan Yun melepaskan jeweran kakaknya dengan sekali sentak, lalu mendengus kesal.
Zhou Changcheng menoleh ke belakang dan melihat wajah cemberut Wan Yun yang menggemaskan, ia pun tertawa kecil. Mereka benar-benar sepasang kakak adik yang lucu, hanya kakak iparnya yang bisa menjinakkan Wan Yun.
Wan Xue melahirkan secara normal, lukanya belum sepenuhnya pulih sehingga sulit untuk menaiki tangga. Setelah mengembalikan becak, Zhou Changcheng menggendongnya naik ke atas lantai demi lantai. Sun Jianing menunggu di bawah, lalu mengikuti mereka dengan langkah pincang sambil memegangi Wan Xue hingga sampai ke atas.
Wan Yun, yang menggendong bayi dengan dua tas besar berisi perlengkapan rumah sakit di punggungnya, berjalan dengan suara gemerincing barang-barang di dalamnya.
Mendengar keributan di luar, Kak Liao segera berlari kecil dari dapur dengan masih mengenakan celemek. Dengan antusias ia menyapa, "Sun, Xue, kalian sudah pulang?"
"Mari, mari, A-Yun, biar kubantu bawakan tasnya." Kak Liao langsung mengambil kotak makan dan pakaian dari tangan Wan Yun.
Wan Yun segera menyerahkan barang bawaan kepada Kak Liao agar ia bisa fokus menggendong bayi.
Setelah masuk ke dalam rumah, Kak Liao meletakkan barang-barang dengan wajah yang penuh keramahan. "A-Xue, tunggu sebentar, aku sedang memasakkan kaki babi dengan arak kuning untukmu. Tadi malam aku sengaja meminta Kak Yu di pasar untuk menyisihkannya. Sudah dimasak sejak pagi, sebentar lagi matang. Makanlah agar air susumu banyak dan si kecil kenyang!"
Kak Liao kini memasak setiap hari untuk Wan Xue dan Sun Jianing. Saat Wan Xue di rumah sakit, ia bahkan mengantarkan makanan ke sana. Ia juga rajin mencuci baju dan popok bayi. Sejauh ini, pasangan Sun Jianing merasa biaya lima belas yuan yang mereka keluarkan untuk mempekerjakan Kak Liao sangatlah sepadan.
Wan Xue berterima kasih kepada Kak Liao dan duduk di tempat tidur tanpa berani bergerak banyak. Meskipun tidak berjalan kaki, pergerakan saat naik tangga tadi membuatnya merasa tidak nyaman. Ia bersandar di sofa tempat tidur, meringis sambil mengerutkan kening. Setelah beberapa saat, ia merasa lebih baik. Ia melihat Wan Yun meletakkan bayinya yang masih tidur dengan hati-hati, lalu tidak tahan untuk membungkuk dan mencolek pipi mungil sang bayi dengan lembut. "Demi dirimu yang kecil ini, Ibu benar-benar lelah!"
Wan Yun melotot ke arah kakaknya dan menepis tangan Wan Xue dengan keras. "Dia sedang tidur, jangan ganggu dia!"
Wan Xue mendengus kesal, tidak menghiraukan Wan Yun, dan menyuruhnya mengambilkan air minum untuk Zhou Changcheng.
***
Sejak hari Wan Xue melahirkan, saat Zhou Changcheng tanpa lelah mengantarnya ke rumah sakit hingga menjaganya semalaman bersama Wan Yun dan Sun Jianing, pasangan Sun Jianing memiliki kesan baru terhadapnya. Sebelumnya mereka hanya menganggap adik ipar ini orang yang jujur dan baik hati, tidak menuntutnya berprestasi tinggi, asalkan ia memperlakukan Wan Yun dengan baik. Sekarang, mereka merasa lebih tersentuh dan akrab.
Awalnya, mereka berniat untuk tidak terlalu merepotkan Wan Yun dan Zhou Changcheng. Namun, beberapa hari ini, Wan Yun menemani dan merawat Wan Xue dengan sangat teliti—mulai dari memandikan, mencuci rambut, mengganti popok, hingga membersihkan kotoran sang bayi. Hanya adik kandung yang bisa melakukan pengabdian seperti itu. Sementara itu, Zhou Changcheng, melihat kondisi kaki Sun Jianing yang kurang leluasa, mengambil tanggung jawab untuk bolak-balik antara rumah dan rumah sakit setiap hari. Pekerjaan berat yang perlu diangkat atau dibawa semua diserahkan padanya sepulang kerja, dan adik ipar ini tidak pernah mengeluh sedikit pun.
Memiliki kerabat seperti ini sudah sepatutnya disyukuri.
Sun Jianing menghabiskan cukup banyak uang untuk kebutuhan gizi Wan Xue, dan Kak Liao memasak dengan sangat baik. Siang itu, ada empat menu masakan yang disajikan. Karena rumah Kak Liao di lantai bawah, ia tidak makan bersama mereka. Setelah mengantarkan makanan, ia pun pamit pulang.
Setelah Kak Liao pergi, Wan Xue mengunyah kaki babi arak kuning sambil berkata dengan nada sedikit menyesal, "Masakan Kak Liao tidak seenak masakan A-Yun."
Wan Yun, yang juga disuapi kaki babi di mangkuknya, makan hingga sudut mulutnya berminyak. Memang masakannya kurang meresap, "Ah, itu masalah kecil. Nanti aku yang masak untukmu."
"Sun Jianing, berikan kupon daging kepada A-Yun," ujar Wan Xue, merasa ide itu bagus.
Sun Jianing dan Zhou Changcheng tidak memakan menu khusus nifas Wan Xue; mereka sadar diri dan memilih makan sayur serta sambal.
"Itu akan merepotkan A-Yun," ujar Sun Jianing. Padahal dalam hatinya ia sangat ingin Wan Yun membantu, namun mulutnya berpura-pura sungkan, membuat Wan Xue hampir tertawa.
"Biarkan A-Yun datang ke rumah kita setiap pagi untuk menemaniku menjaga anak, kita berdua bisa mengobrol untuk mengusir bosan. Urusan lain biarkan Kak Liao yang mengerjakan, A-Yun cukup bertanggung jawab memasak hidangan utama. Kalian berdua pergilah bekerja seperti biasa, makan siang dan malam pulang ke sini, bukankah itu beres?" Wan Xue mengatur jadwal semua orang dengan teratur. Ia tersenyum sambil mengambilkan potongan daging besar untuk Zhou Changcheng. "A-Cheng, maaf merepotkan kalian harus bolak-balik ke sini belakangan ini. Makanlah di sini siang hari, malamnya baru pulang untuk beristirahat. Bisa?"
Wan Yun tentu saja tidak keberatan dan langsung menyetujuinya; ia memang merasa harus lebih membantu kakaknya.
Melihat Wan Yun setuju, Zhou Changcheng pun tidak keberatan. Siang hari tidak masalah, yang penting malam hari jangan biarkan istrinya harus bangun untuk mengurus bayi.
-
Cuaca saat ini sangat panas, Kabupaten Ping-shui terasa seperti panci kukus yang tertutup rapat. Air sungai yang sempat naik akibat hujan beberapa waktu lalu perlahan mulai surut. Di malam hari, banyak pria dan anak-anak menggelar tikar di pinggir jalan yang luas untuk tidur, dengan membakar tanaman *ai-cao* di sampingnya untuk mengusir nyamuk.
Musim panas yang berat membuat orang sulit makan dan tidur. Sun Jianing adalah orang yang paling terlihat kurus. Wan Xue merasa kasihan padanya, sehingga saat malam harus menyusui, ia tidak tega membangunkannya. Namun, setiap kali Wan Xue bergerak, Sun Jianing selalu terbangun dengan sigap untuk menyalakan lampu, mengambil air, mengganti popok, dan menemani ibu serta bayinya.
Sementara itu, di Pabrik Motor Listrik, Direktur Wu telah mencari kenalan di tingkat provinsi dan berhasil mendapatkan pesanan besar dari instansi atasan untuk membuat komponen piston kompresor kulkas. Pesanan tersebut mencakup kebutuhan rumah tangga maupun industri, untuk pasar domestik maupun ekspor. Terdengar sangat ambisius.
Namun, bagi Pabrik Motor Listrik Kabupaten Ping-shui, ambisi atasan tidaklah penting. Mendapatkan pesanan adalah hal yang luar biasa bagi Direktur Wu dan para karyawan. Ditambah dengan beberapa pesanan kecil dari wilayah Jiang-zhe, mereka memiliki banyak pekerjaan dalam waktu dekat. Mesin-mesin tua di pabrik mulai beroperasi kembali. Zhou Changcheng pergi ke pabrik setiap hari dari pagi hingga sore, bekerja dengan bertelanjang dada dan bermandikan keringat. Sepulang kerja, ia langsung mandi cepat di kamar mandi pabrik sebelum berganti pakaian agar tidak bau.
Karena sudah berjanji pada Wan Xue untuk membantunya melewati masa nifas satu bulan, Wan Yun datang setiap siang dari pabrik furnitur. Bisnis jualan daging bumbu yang sempat direncanakan pun ditunda. Mencari uang memang penting, tapi kakaknya jauh lebih berharga.
Mengenai janji dengan Ming-hui dari rumah potong hewan untuk mengambil jeroan setiap hari Sabtu, setelah berdiskusi dengan Zhou Changcheng, mereka memutuskan untuk tetap mengambilnya. Mereka akan memasaknya di rumah Wan Xue sebagai tambahan lauk untuk semuanya.
Kini empat orang dewasa itu bertahan di musim panas yang terik. Jika tidak makan sesuatu yang menggugah selera, rasanya sangat menyiksa.
Wan Xue terpaksa memotong pendek rambutnya agar terasa lebih segar. Rambut mereka berdua yang tebal dan hitam itu dipotong, dan kepangannya bahkan laku terjual tiga yuan. Wan Yun menambahkan dua yuan lagi untuk membeli seekor ayam kampung di pinggiran timur. Mereka merebus ayam itu sepanjang pagi hingga minyaknya hilang, lalu membuat mi kuah ayam dengan sayuran hijau untuk semua orang.
Hari itu, setelah Sun Jianing dan Zhou Changcheng berangkat kerja dan bayi kecil mereka sudah tidur, hanya tersisa Wan Xue dan Wan Yun yang duduk mengobrol.
"Kak, sudah sekian hari, apakah Kakak dan Kak Ipar sudah memikirkan nama untuk si kecil?" Wan Yun mengipasi bayi dengan kipas bambu. "Bukankah pihak kelurahan sudah datang untuk meminta data kependudukan?"
Wan Xue yang sedang menjahit pakaian bayi di sampingnya menatap putrinya yang tertidur dengan kelembutan yang jarang terlihat. "Tadi malam sudah diputuskan, besok saat Kak Ipar luang, dia akan mengurus administrasi kependudukan. Namanya Sun Tian, dari kata *tian-jing* (tenang). Nama panggilannya Tian-tian. Bagus tidak?"
Wan Yun mengucapkannya dua kali, "Tian-tian, Tian-tian." Ia tersenyum, "Bagus sekali!"
"Tian-tian, ini Bibi Kecilmu, jangan lupa padaku ya!"
Wan Xue menegurnya, "Dia hanya tahu minum susu, mana dia mengerti apa-apa!"
Wan Yun tidak setuju; bayi kecil juga bisa mengerti perkataan orang dewasa. Mereka pun sempat berdebat sebentar.
***
Membahas hal itu, Wan Yun bertanya lagi, "Lalu, bagaimana tanggapan kakek-nenek Tian-tian?"
Di Kabupaten Ping-shui ada tradisi lama di mana kakek-nenek memberikan kunci keselamatan (*ping-an suo*) untuk cucu yang baru lahir. Keluarga mampu biasanya memberikan kunci perak, yang kurang mampu memberikan tembaga atau besi. Jelas, selama beberapa hari ini Wan Yun tidak melihat kunci keselamatan tersebut di rumah kakaknya.
Wan Xue kini merasa hidupnya sudah lengkap dengan kehadiran sang putri. Saat berbicara tentang kedua orang tua di Gang Sun, wajahnya menunjukkan sedikit sinisme. "A-Yun, coba pikir, kita hidup di pedesaan sejak kecil. Orang desa sering memandang rendah perempuan, jadi kita tidak disayangi ayah maupun ibu, kita sudah terbiasa. Tapi kenapa Sun Jianing yang seorang putra, yang punya pekerjaan, dan selama ini berbakti, orang tuanya tetap bersikap dingin? Kak Iparmu kakinya cacat, aku sebagai istrinya saja tidak merasa itu masalah. Dia bahkan sering menjemputku di depan sekolah, rekan kerjaku saja iri karena dia sangat menyayangi istrinya. Padahal anak laki-laki mereka sudah sebaik itu, orang tuanya justru merasa malu. Aku benar-benar tidak habis pikir."
Wan Yun terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Namun, hal itu tidak menghalanginya untuk berdiri di pihak kakaknya dan ikut merasa marah.
Wan Xue tidak berharap mendengar opini mendalam dari Wan Yun. Ia melanjutkan menjahit pakaian kecil itu, menyambung bagian sampingnya agar bisa dipakai sedikit lebih lama saat anaknya tumbuh besar. "Malam kedua setelah aku melahirkan, kalian pulang. Mertuaku dan adik iparku datang setelah makan malam membawa sekantong gula merah dan angpao sepuluh yuan. Aku tidak menerimanya, semuanya disimpan Kak Iparmu. Mereka bahkan tidak bertanya bagaimana proses kelahiranku, hanya bertanya apakah bayinya laki-laki atau perempuan. Setelah itu mereka tidak pernah datang lagi, katanya sibuk bekerja."
"Ayah mertuaku mendengar Tian-tian perempuan, dia langsung pergi setelah melihatnya sekali." Wan Xue mendengus dingin. "Ibu mertuaku malah punya ide bagus, dia menyuruh kita menitipkan anak ini ke kerabat di desa agar aku segera hamil lagi dan melahirkan anak laki-laki."
Mengingat hal itu, Wan Xue merasa sesak. Ia dan Sun Jianing sama-sama bekerja di instansi yang sudah mencatat rencana keluarga mereka, jadi mereka pasti tidak bisa punya anak kedua. Jika melanggar, selain denda, salah satu dari mereka akan dipecat dari pekerjaan. Mengenai masalah ini, mereka sudah berulang kali berdiskusi bahwa apa pun jenis kelamin anaknya, mereka akan mematuhi kebijakan negara.
Untungnya, Sun Jianing kali ini tidak tinggal diam. Di ruang rawat rumah sakit, ia bertengkar dengan orang tuanya, melemparkan kantong gula merah dan angpao itu ke arah ibunya, lalu menyuruh mereka pergi agar tidak mengucapkan kata-kata tidak pantas di depan istri dan putrinya.
Wan Xue merasa sedih saat teringat punggung Sun Jianing yang bergetar saat itu. Matanya basah, ia mengambil sapu tangan Wan Yun untuk menyeka sudut matanya. Setelah digunakan, ia melihat sapu tangan itu masih bersih; adiknya ini masih memiliki kebiasaan lama yang perfeksionis, selalu membawa sapu tangan.
Setelah orang tua Sun dan Sun Jiahuan pergi, Wan Xue dan Sun Jianing terdiam.
Tak disangka, Sun Jiahuan kembali. Melihat wajah kakaknya yang sangat marah, ia tidak berani bicara pada kakaknya, melainkan berkata pada Wan Xue yang sedang menyusui, "Kak ipar, terimalah angpao dan gula merah ini." Melihat Wan Xue tidak ingin menerimanya, ia dengan ragu mengeluarkan pakaian bayi dari tasnya. "Ini aku buatkan untuk keponakanku. Kak ipar tahu jahitan tanganku tidak bagus, tapi ini niatku, jangan ditolak ya."
Setelah mengatakannya, ia meletakkan barang itu di samping kaki Wan Xue, lalu menyapa kakaknya yang masih tidak menatapnya, "Kak, Kak Ipar, aku pulang dulu, lain kali aku akan datang melihat keponakanku lagi."
Pakaian yang sedang diperbaiki Wan Xue sekarang adalah pakaian yang diberikan Sun Jiahuan malam itu. Jahitannya lumayan rapi dan kainnya lembut, hanya saja terlalu besar. Gadis muda itu tidak punya bayangan tentang ukuran bayi; pakaian itu bahkan bisa dipakai anak berumur satu tahun.
"Kenapa adik iparmu tiba-tiba jadi sangat pengertian?" tanya Wan Yun. Dulu ia sering mendengar cerita tentang sifat Sun Jiahuan yang angkuh dan egois dari Wan Xue.
"Aku juga berpikir begitu. Tapi Kak Iparmu bilang, Sun Jiahuan dulu dibesarkan olehnya, bahkan hari pertama masuk sekolah pun ia yang mengantar. Gadis itu sudah besar, mungkin sudah mulai berpikir dewasa," jawab Wan Xue sambil memotong benang jahitnya. Ia mengangkat pakaian itu dan mencocokkannya pada Tian-tian; ukurannya sudah hampir pas.
"Jangan salah, beberapa malam ini setelah kalian kembali ke pabrik furnitur, adik iparku selalu datang untuk menggendong Tian-tian dan mencuci popoknya."
Melihat adiknya datang, Sun Jianing menyambutnya dengan ramah. Namun, sesekali jika Sun Jiahuan datang bersama orang tuanya, wajah Sun Jianing menjadi tidak enak dilihat. Setelah duduk, mereka tidak akan bicara banyak sebelum akhirnya bertengkar lagi—semuanya karena masalah Tian-tian yang bukan laki-laki—dan Sun Jianing akan murka lalu mengusir mereka kembali.
"Kak Ipar benar-benar tidak mudah," simpul Wan Yun di akhir cerita.
Wan Xue setuju. Ia tidak peduli pada ayah dan ibu mertuanya karena mereka bukan orang tua kandungnya, sehingga ia tidak memiliki ekspektasi. Namun, Sun Jianing berbeda; ia pernah mendapatkan kasih sayang orang tua, lalu kehilangannya. Kontras itu memberikan dampak yang besar baginya, dan sulit untuk tidak merasa kasihan padanya.
"Eh, Kak, apakah Kak Ipar pernah mengatakan sesuatu seperti 'sayang Tian-tian bukan laki-laki'?" Sebenarnya Wan Yun ingin bertanya apakah Sun Jianing pernah terpikir untuk harus memiliki anak laki-laki. Jika ia bersikeras mengirim bayinya ke rumah kerabat, betapa sulitnya posisi kakaknya.
Wan Yun berpikir, jika kakak iparnya berani melakukan hal itu, ia akan membawa bayi itu pulang dan membesarkannya sebagai anaknya sendiri.
Wan Xue melotot tajam, tidak suka mendengar asumsi itu. "Dia berani! Jika dia berani membenci putriku dan mengirimnya pergi, aku akan menceraikannya! Lagi pula, aku punya pekerjaan tetap, aku pasti bisa menghidupi diriku dan anakku sendiri!"
Wan Yun merasa canggung, merasa dirinya bodoh karena asal bicara.
Wan Xue mengelus pipi halus Tian-tian, lalu kembali memasang ekspresi penyayang. "Lihat, Tian-tian sangat mirip Sun Jianing. Saat melihat anaknya, hatinya bahkan lebih lembut dariku, dia tidak akan tega mengirimnya pergi."
"Lagipula, kita sendiri adalah seorang putri, bagaimana mungkin kita bisa membenci putri yang kita lahirkan sendiri?" suara Wan Xue lembut, namun penuh dengan ketegasan yang luar biasa.