Bab 141: Permaisuri Raja

Tabib Wanita Beraroma Surga Senja di Hutan 3526kata 2026-03-31 22:27:02

Luo Xun masih berusaha keras mengingat-ingat lukisan aneh itu ketika sudut matanya menangkap pintu yang terbuka sedikit karena tertiup angin.

Namun, begitu ia berkedip, pintu itu tiba-tiba terbuka lebar. Sosok seseorang muncul di ambang pintu. Bayangan hitamnya menghalangi satu-satunya cahaya yang tersisa di dalam ruangan, menyelubungi Luo Xun sepenuhnya dalam kegelapan.

Celaka! Dia sudah kembali! Dan dia memergokinya di sini!

Di bawah tatapan diam lelaki itu, Luo Xun tanpa sadar mundur selangkah. Ia masuk, menutup pintu, lalu menyelotnya. Bunyi klik pelan itu membuat seluruh tubuh Luo Xun gemetar.

“Tuan Pangeran...” katanya sambil terus mundur. “Anda sudah kembali.”

“Apa yang kaulakukan di sini?”

“Aku datang mencari Tuan Pangeran.”

“Mencariku?” Alisnya yang setajam pedang terangkat sedikit, nyaris tak terlihat.

“Ya.” Luo Xun menarik napas dalam-dalam. “Karena beberapa hari ini Tuan Pangeran tidak datang ke Paviliun Yi Luo. Aku merasa cemas. Aku takut... Tuan Pangeran marah.”

“Kenapa aku harus marah?” balasnya.

“Karena hari itu Luo Xun mabuk.”

“Selain itu?”

“Selain itu... setelah minum, Luo Xun bersikap tidak pantas dan membuat Tuan Pangeran marah.”

Lelaki itu sepertinya tersenyum, tetapi Luo Xun tidak berani memastikannya.

“Memang ada yang tidak pantas darimu, tetapi bukan sikapmu.” Sambil berkata demikian, ia perlahan mengangkat tangan dan menyentuh dahi Luo Xun. Telunjuknya kemudian meluncur turun menyusuri pipi gadis itu, menyingkirkan sejumput rambut dari wajahnya. “Melainkan pikiranmu.”

“Pikiranku?”

“Aku tidak keberatan dengan apa yang kaulakukan hari itu. Bahkan, aku menyukainya.”

Sambil berkata demikian, ia membungkuk mendekati wajah Luo Xun hingga wajah mereka nyaris bersentuhan. Tanpa diduga, entah sejak kapan, satu tangannya telah melingkari pinggang Luo Xun. Begitu ia bangkit, gadis itu pun tertarik masuk ke dalam pelukannya.

Daun telinga Luo Xun menyentuh bibirnya—lembut dan hangat. Hembusan napasnya menggerakkan rambut Luo Xun, menghadirkan rasa takut yang aneh sekaligus menggoda.

Luo Xun sudah tak ingin memikirkan apa sebenarnya yang telah ia lakukan hingga membuat lelaki itu menyukainya. Yang ingin diketahuinya sekarang adalah: jika lelaki itu menyukainya, mengapa ia pergi?

Dengan bingung, ia mendongak menatapnya.

Ruangan itu sudah sangat gelap. Namun karena jarak mereka begitu dekat, Luo Xun masih dapat melihat dua titik merah di tengah kegelapan, bagaikan dua bara api yang menyala ganas dan memuntahkan kobaran api yang cukup untuk menghanguskannya hingga tak bersisa.

“Tetapi...” Rupanya perkataannya belum selesai. Ia mendekat ke telinga Luo Xun, seolah hendak membisikkan sebuah rahasia. “Tahukah kau apa yang paling tidak dapat kutoleransi? Yaitu ketika kau bersamaku, tetapi yang kaupikirkan justru orang lain!”

Warna darah segera surut dari bibir Luo Xun.

“Tuan Pangeran. Anda... Anda salah paham.”

“Oh? Jadi, kau tidak memikirkan Huo Pocheng?”

“Tidak.” Luo Xun menggeleng.

Jawaban itu jelas di luar dugaannya. Ia menatap Luo Xun dengan saksama.

“Kalian sudah lama saling mencintai dan bersumpah akan hidup bersama sampai maut memisahkan. Meskipun aku bukan dia, aku tetap dapat merasakannya. Bagaimana mungkin aku memercayaimu?”

“Perkataan Tuan Pangeran memang benar. Namun, orang yang mencegah Guru Besar Kerajaan membunuh Luo Xun bukan dia, melainkan Tuan Pangeran. Orang yang menyelamatkan Luo Xun dari penjara bawah tanah juga bukan dia, melainkan Tuan Pangeran. Perasaan Tuan Pangeran... juga perhatian dan kasih sayang yang Luo Xun terima di Paviliun Yi Luo, meskipun belum pernah Luo Xun ungkapkan, semuanya tersimpan di dalam hati.”

“Kau benar-benar mengingat semuanya?”

“Tentu saja.”

Luo Xun bergerak sedikit dalam pelukannya. Ia mengangkat sebelah tangan dan meletakkannya dengan lembut di dada lelaki itu. Detak jantungnya segera merambat dari ujung jemari Luo Xun, bergetar hingga membuat jemarinya mati rasa. Ia harus berusaha menenangkan diri sebelum melanjutkan.

“Namun, Luo Xun terlalu lama berada di penjara bawah tanah. Aku jadi tidak mampu memercayai siapa pun. Bahkan setelah keluar, setiap malam aku masih dihantui mimpi buruk. Karena itu... meskipun aku tahu perasaan Tuan Pangeran, aku tetap tidak mampu membalasnya.”

Detak jantung di bawah jemarinya semakin keras.

“Luo Xun menganggap perhatian Tuan Pangeran sebagai sesuatu yang sewajarnya diterima, tetapi tidak pernah berhasil membuat Tuan Pangeran memahami perasaanku. Baru setelah Tuan Pangeran tak pernah lagi datang ke Paviliun Yi Luo, aku tiba-tiba menyadari betapa pentingnya Tuan Pangeran bagi Luo Xun! Karena itu... karena itu, hari ini Luo Xun datang kemari. Aku hanya ingin mengatakan semua ini kepada Tuan Pangeran, dan juga ingin bertemu dengan Tuan Pangeran sekali lagi!”

“Semua yang kaukatakan itu benar?”

Ia menatap Luo Xun lekat-lekat. Ia tak pernah menyangka kata-kata seseorang dapat memiliki kekuatan sebesar itu—kekuatan yang mampu membuatnya begitu bahagia.

“Tidak ada satu kata pun yang bohong.”

Luo Xun memaksa dirinya untuk terus mendongak. Ia menatap ekspresi lelaki itu yang silih berganti antara terang dan gelap, berusaha menebak apa yang sedang dipikirkannya dan apakah ia benar-benar memercayainya.

“Baguslah.” Akhirnya, seulas senyum muncul di wajahnya. Namun kata-kata berikutnya membuat hati Luo Xun berdebar keras. “Kau tahu, hal yang paling tidak dapat kutoleransi adalah pengkhianatan dan kebohongan. Jadi, sebaiknya jangan pernah berbohong kepadaku. Kalau tidak...”

Ia tidak melanjutkan perkataannya, meninggalkan kata-kata gelap itu tersembunyi di balik senyumnya.

Kemudian, ia memeluk tubuh ramping Luo Xun semakin erat, seolah ingin meleburkannya ke dalam tubuhnya sendiri. Ia membenamkan wajah di lekuk leher Luo Xun dan menikmati keharuman alami yang melekat pada tubuh gadis itu.

Tubuh Luo Xun bergetar. Hembusan napas hangat lelaki itu mengusap lehernya, sementara jauh di dalam tubuhnya, sesuatu berkontraksi tanpa kendali.

Sebelum sempat memahami penyebab perasaan aneh itu, tangannya telah melingkari leher lelaki tersebut dan menariknya semakin dekat.

Sejak awal ia sudah menahan diri. Ia sebenarnya ingin menikmati keintiman itu lebih lama, tetapi tindakan Luo Xun sama saja dengan menyiramkan minyak ke atas api. Ia menggeram tertahan, menyingkirkan semua keraguan, lalu mengangkat tubuh Luo Xun dan melemparkannya ke atas dipan. Sesaat kemudian, ia menindihnya.

Yang satu adalah hasrat yang telah terpendam selama berhari-hari dan kini meledak dalam sekejap; yang lain adalah keputusasaan seseorang yang tak tahu di mana masa depannya berada. Yang satu laksana badai dan kilat, yang lain seperti jurang tanpa dasar. Yang satu merenggut, yang lain menyerahkan diri.

Pakaian mereka terlepas, dua tubuh berkelindan, lalu segera menemukan irama yang sama.

Ia berada di atas, menundukkan kepala memandangi wajah Luo Xun yang memerah di bawahnya. Tatapan gadis itu berkabut, bibirnya tergigit agar tidak mengeluarkan suara. Seulas senyum tersungging di sudut bibirnya. Ia sengaja mempercepat gerakannya, menyaksikan Luo Xun terombang-ambing antara penderitaan dan kenikmatan.

Bagaimanapun juga, gadis itu adalah wanitanya. Pikiran itu membuatnya dipenuhi kebanggaan dan kegembiraan.

Namun, tanpa diduga, Luo Xun tiba-tiba membalikkan tubuhnya hingga ia terbaring di atas dipan, lalu menaikinya. Ia mendongak memandang Luo Xun. Rambut hitam gadis itu menjuntai ke depan dan bergoyang mengikuti irama. Perlawanan yang tampak di sudut mata dan alisnya justru membuat semburat merah muda di kedua pipinya tampak semakin menggoda.

Ia tak pernah membayangkan Luo Xun akan seperti ini.

Setelah keterkejutan awal berlalu, ia justru mulai menikmati sisi dirinya itu.

Menawan tetapi tidak rapuh, ramping tetapi tidak lemah. Adakah perempuan yang lebih pantas mendampingi dirinya, yang menaklukkan segala penjuru, selain perempuan seperti ini?

Ia semakin yakin bahwa Luo Xun memang dilahirkan untuknya.

Tanpa sadar, ia memeluknya semakin erat. Sambil memejamkan mata, telapak tangannya menjelajahi tubuh Luo Xun. Ia ingin mengingat setiap lekuk tubuhnya agar pada kehidupan berikutnya ia tidak kehilangan dirinya lagi.

Malam turun bagaikan tinta pekat, membasahi seluruh Kota Yongjing.

Lampu-lampu dinyalakan di setiap halaman Kediaman Pangeran Pelindung Negara. Hanya halaman tempat Huo Pocheng tinggal yang tidak menyalakan satu pun lampu, bahkan hingga fajar keesokan harinya.

Di Paviliun Yi Luo, Lü Yi hampir menjadi gila karena cemas.

Luo Xun tidak pulang semalaman. Ketika Qing Luan dan Hong Qiang datang untuk melayaninya beristirahat dan tidak menemukan siapa pun, mereka langsung menangkap Lü Yi dan menginterogasinya. Sebenarnya, Lü Yi samar-samar dapat menebak ke mana Luo Xun pergi, tetapi karena tidak yakin dan tidak ingin sembarangan berbicara, ia hanya mengatakan bahwa dirinya tidak tahu.

Namun, Qing Luan dan Hong Qiang sama sekali tidak memercayainya. Bahkan, mereka sempat menduga bahwa Luo Xun mungkin telah melarikan diri.

Qing Luan mengusulkan agar mereka melapor kepada Tuan Pangeran, tetapi Hong Qiang menolaknya. Bagaimana jika Luo Xun benar-benar kabur? Jika Tuan Pangeran menjatuhkan hukuman, mereka bertiga pasti akan mendapat malapetaka.

Tak satu pun dari mereka berhasil meyakinkan yang lain. Mereka ribut sepanjang malam dan pada akhirnya tidak menghasilkan keputusan apa pun. Mereka memutuskan untuk menunggu hingga keesokan harinya.

Pada pagi berikutnya, Luo Xun masih belum kembali. Ketiganya tidak berani pergi ke mana pun dan hanya berjaga di aula. Baru menjelang tengah hari mereka akhirnya melihat sosok seseorang muncul di gerbang halaman.

Ketiganya serempak berdiri dan berlari keluar.

“Nona Luo!”

Luo Xun tidak menyangka ketiganya berada di sana. Ia langsung berdiri canggung di ambang pintu.

Di belakang Luo Xun, seorang lelaki berjubah hitam muncul. Begitu melihatnya, ketiganya segera membungkuk memberi hormat.

“Tuan Pangeran!”

“Hmm, bangkitlah.”

Ia mengibaskan tangan, dan barulah ketiganya berani berdiri. Mereka saling pandang. Meskipun tidak mengucapkan sepatah kata pun, mereka telah memahami semuanya. Ketiganya ingin mengucapkan selamat kepada Luo Xun, tetapi Huo Pocheng masih berada di sana, sehingga tak seorang pun berani mendekat.

Luo Xun masih merasa canggung ketika lelaki itu meraih tangannya dan menyeretnya pergi, langsung menuju kamar di belakang Paviliun Yi Luo. Di belakang mereka, tiga pelayan muda itu hanya bisa tersenyum konyol.

Begitu memasuki kamar, sepasang tangan langsung memeluk Luo Xun erat dari belakang.

“Tuan Pangeran,” panggilnya lirih.

Ia berbalik dan membenamkan wajah di dada lelaki itu, lalu melingkarkan kedua lengannya di pinggangnya.

Posisi itu membuat lelaki tersebut sangat senang. Ia dapat merasakan ketergantungan Luo Xun kepadanya. Namun, posisi itu juga membuat Luo Xun dapat menghela napas lega, karena ia tidak perlu berhadapan dengan mata lelaki itu yang seakan mampu menembus segala sesuatu.

“Beristirahatlah dengan baik. Malam nanti aku akan datang menemuimu,” bisiknya di telinga Luo Xun.

Suaranya dipenuhi kelembutan dan kasih sayang yang belum pernah terdengar sebelumnya, bahkan membuat dirinya sendiri merasa terkejut.

“Hmm.”

Luo Xun mengangguk patuh, tetapi tetap tidak melepaskan pelukannya. Tiba-tiba ia kembali merasa linglung, seperti malam sebelumnya. Ia tak mampu membedakan apakah lelaki di hadapannya adalah Iblis Darah atau Huo Pocheng.

Setelah mengecup bibirnya, lelaki itu tetap pergi.

Begitu ia pergi, Luo Xun segera menyelot pintu agar ketiga pelayan itu tidak masuk dan mengganggunya.

Malam itu, ia terlalu lelah. Bukan hanya tubuhnya, melainkan hatinya juga. Sepanjang malam ia terus terombang-ambing antara penderitaan dan kenikmatan yang luar biasa, seolah terperangkap dalam siklus tanpa akhir. Atau mungkin, ia sedang tercabik-cabik oleh kebingungan—apakah lelaki itu sebenarnya Iblis Darah atau Huo Pocheng.

Ia merasa dirinya hampir gila.

Pakaiannya masih menyimpan aroma malam sebelumnya, aroma yang membuat pikirannya kacau. Ia segera melepaskannya dan melemparkannya ke lantai. Saat itulah ia melihat tubuhnya sendiri dipenuhi bekas-bekas yang ditinggalkan lelaki itu—tanda-tanda merah dalam berbagai ukuran, di tempat-tempat yang pernah disentuh dan dicium olehnya.

Memikirkan ciuman-ciuman itu saja sudah cukup membuat wajah dan jantungnya memanas. Terlebih lagi, malam sebelumnya ia sendiri juga bertindak seperti orang gila.

Ia tidak berani memikirkannya lebih jauh. Luo Xun menarik selimut hingga menutupi kepalanya dan tidak mau keluar lagi.

Malam harinya, lelaki itu datang sesuai janji.

Segalanya seakan kembali ke jalur semula. Qing Luan dan Hong Qiang, sambil tersenyum ceria, menata rambut Luo Xun dalam sanggul yang paling rumit dan megah. Mereka juga membujuknya mengenakan pakaian indah semewah busana pernikahan keluarga kerajaan.

Setelah itu, Luo Xun menunggu kedatangannya di halaman dengan pakaian lengkap. Ketika lelaki itu muncul di ambang pintu, ia telah mengatur lengkung bibirnya dan menampilkan senyum yang paling memikat.

Ia sengaja memerintahkan orang-orang menyiapkan hidangan yang lezat dan indah. Selama makan, ia menyajikan makanan untuk lelaki itu dan menuangkan arak, sementara dirinya sendiri tidak menyentuh setetes pun.

Untuk pertama kalinya, mereka membicarakan berbagai hal di meja makan. Lelaki itu bercerita tentang urusan pemerintahan, dan Luo Xun mendengarkan dengan tenang. Malam itu, jumlah kata yang mereka ucapkan bahkan lebih banyak daripada seluruh percakapan mereka selama ini jika digabungkan.

Malam itu, lelaki tersebut bermalam di Paviliun Yi Luo.

Keesokan harinya pun demikian.

Pada hari ketiga, ia mengeluarkan perintah kepada seluruh kediaman: Luo Xun dari Paviliun Yi Luo diangkat menjadi istri resmi Pangeran Pelindung Negara.