Bab 127: Bukti yang Diketahui Tiga Orang
Yang disebut giok dingin, atau disebut juga giok beku atau giok keras, mendapatkan namanya karena teksturnya yang sejuk, jernih, dan dingin seperti es. Luo Xun baru mengetahui nama itu setelah mencari informasi karena sifatnya yang terasa dingin saat disentuh. Namun, si Pak Tua Dukun sama sekali tidak pernah menyentuh giok tersebut, dia hanya melihatnya saat Luo Xun memegangnya. Bagaimana mungkin dia bisa tahu bahwa itu adalah giok dingin?
Pak Tua Dukun telah mendekam di ruang bawah tanah setidaknya selama delapan belas tahun. Urat tangan dan kakinya pun telah diputus. Namun, Lao Liu jelas memperlakukannya jauh lebih baik daripada tahanan lainnya. Bukan hanya sel Pak Tua Dukun yang lebih bersih, meja untuk meletakkan mangkuk itu pun jelas-jelas disediakan oleh Lao Liu untuknya. Apakah Lao Liu melakukan ini karena takut pada identitas Pak Tua Dukun sebagai seorang dukun? Bagaimana mungkin dukun terhebat di Wilayah Barat berakhir dengan nasib dipenjara? Terlebih lagi, dipenjara di ruang bawah tanah milik Han Wuya selama delapan belas tahun?
Semakin dipikirkan, Luo Xun merasa semakin aneh. Tampaknya, ada banyak rahasia yang tersimpan pada diri Pak Tua Dukun.
Waktunya mengantar makanan kembali tiba. Tangan Lao Liu terluka, ia pun menuruti nasihat Pak Tua Dukun untuk beristirahat dan memulihkan diri. Ditambah lagi dengan rasa takutnya pada kekuatan aneh Luo Xun, ia tidak mau lagi membawa ember batu bersama Luo Xun untuk mengantar makanan. Tidak ada pilihan lain, Luo Xun terpaksa menyendok nasi terlebih dahulu, lalu setiap kali ia mengantar dua mangkuk, kembali lagi untuk mengambil dua mangkuk berikutnya.
Karena itu, waktu untuk mengantar makanan pun menjadi jauh lebih lama, dan saat sampai di kamar Pak Tua Dukun, waktu sudah jauh lebih larut dari biasanya.
Luo Xun membuka pintu. Pak Tua Dukun segera mengangkat kepalanya yang terkulai, seolah telah menunggunya sejak lama. Saat melihat Luo Xun masuk, ia bahkan menunjukkan senyum tipis.
Pak Tua Dukun tampak sedikit berbeda dari kemarin. Penampilannya jauh lebih rapi, rambutnya tidak lagi berantakan, sehingga Luo Xun akhirnya bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ia tampak seusia dengan Han Wuya, namun mengingat ia telah mendekam di penjara selama belasan tahun yang membuatnya tampak jauh lebih tua, Luo Xun memperkirakan usianya sebenarnya sudah lebih dari enam puluh tahun.
Kali ini, tanpa perlu diingatkan oleh Pak Tua Dukun, Luo Xun langsung meletakkan makanan di meja di depannya. Pak Tua Dukun terus memperhatikan setiap gerak-geriknya tanpa berkedip sedikit pun.
Luo Xun merasa risih diperhatikan seperti itu. Tatapan mata Pak Tua Dukun terlalu tajam, seolah mampu menembus ke dalam hatinya. Karena takut isi pikirannya terbaca, ia tidak lagi sempat bertanya tentang giok dingin itu dan segera berbalik pergi setelah meletakkan mangkuk.
"Nona kecil, jangan pergi dulu," panggil Pak Tua Dukun. "Jika kau tidak memiliki urusan lain, bisakah kau tinggal sebentar dan mengobrol dengan orang tua ini?"
Sikap Pak Tua Dukun yang begitu sopan justru membuat Luo Xun tertawa. Ia berkata kepada Pak Tua Dukun, "Aku ini tahanan, selain berdiam di sini, memangnya apa lagi yang bisa kulakukan?"
"Itu sangat bagus." Janggut panjang Pak Tua Dukun bergerak-gerak, ia pun ikut tersenyum.
"Tapi, bagaimana dengan Lao Liu..."
"Kau tidak perlu khawatir soal Lao Liu. Saat ini dia seharusnya sudah tertidur. Meskipun kau tinggal di sini lebih lama lagi, dia tidak akan pernah tahu."
"Tertidur?" Luo Xun tidak percaya. Baru saja saat ia pergi mengambil dua mangkuk nasi terakhir, Lao Liu masih duduk dengan baik di sana!
"Jika tidak percaya, kau bisa memeriksanya sendiri," ucap Pak Tua Dukun sambil menatapnya dengan senyum lebar.
Luo Xun benar-benar memeriksanya. Ia mendorong pintu sel dan menjulurkan kepalanya. Ternyata benar, Lao Liu sedang tersungkur di atas meja, bahkan sudah mendengkur!
"Apakah kau merapalkan ilmu sihir padanya?"
Pak Tua Dukun mengangguk dengan ekspresi yang penuh teka-teki.
Kini Luo Xun semakin bingung. "Tuan Dukun." Luo Xun merasa tidak sopan jika memanggilnya Pak Tua Dukun di depan orangnya langsung, jadi ia mengganti panggilannya menjadi Tuan Dukun. "Karena Anda masih bisa menggunakan ilmu sihir dan Lao Liu tidak bisa mengurung Anda, mengapa Anda tidak melarikan diri saja? Mengapa harus menghabiskan belasan tahun di ruang bawah tanah ini?"
Mendengar itu, Pak Tua Dukun menghela napas. "Keluar pun untuk apa? Aku sudah menjadi orang cacat. Bahkan jika bisa keluar dari ruang bawah tanah, aku tidak akan bisa keluar dari kediaman Guru Negara, dan meskipun bisa keluar dari kediaman Guru Negara, aku tidak akan bisa keluar dari wilayah Da Qin. Terlebih lagi, aku masih harus menunggu seseorang di sini."
"Menunggu orang? Menunggu siapa?"
"Sebenarnya aku sendiri tidak tahu apakah orang ini akan muncul suatu hari nanti, dan tidak tahu seperti apa rupanya sekarang. Namun, aku sangat yakin, jika orang ini kembali dan belum meninggal, cepat atau lambat kita pasti akan bertemu."
"Anda bahkan tidak tahu rupa orang itu, bagaimana bisa Anda mengenalinya saat bertemu?" Luo Xun merasa pemikirannya sangat aneh.
"Rupa bisa berubah, tetapi ada satu benda yang tidak akan pernah berubah."
"Apa itu?" Luo Xun merasa gugup tanpa alasan.
Pak Tua Dukun tampak sama gugupnya dengan dia. Garis-garis di wajahnya menegang, sepasang matanya menatap tajam ke arah Luo Xun. "Itu adalah sesuatu yang kutinggalkan untuknya saat aku harus mengirimnya pergi. Itu adalah benda yang telah menemaniku selama bertahun-tahun. Aku berharap benda itu dapat terus melindungi anak malang tersebut, agar di mana pun dan kapan pun, ia dapat hidup dengan damai." Mendengar perkataan Pak Tua Dukun, Luo Xun secara tidak sadar meraba giok dingin di dadanya. Ini juga benda yang melindunginya. Giok dingin itu kini kembali bersinar, cahayanya tenang dan redup seperti napas manusia yang damai. Kemudian, Luo Xun mendengar suara Pak Tua Dukun yang sedikit gemetar berkata, "Itu adalah—sebuah giok dingin."
Setelah Pak Tua Dukun selesai bicara, Luo Xun terdiam cukup lama. Ia memiliki banyak pertanyaan, namun tidak tahu harus mulai bertanya dari mana.
Mungkinkah orang yang dimaksud Pak Tua Dukun adalah dirinya? Mungkinkah asal-usulnya berkaitan dengan dukun ini? Mungkinkah semua pertanyaannya akan terjawab hari ini?
"Ini—sejak kapan?" Luo Xun akhirnya teringat satu pertanyaan.
"Delapan belas tahun yang lalu, saat anak itu baru saja lahir."
Luo Xun menarik napas dalam-dalam. "Tapi sudah selama itu, bagaimana Anda tahu giok dingin ini tidak berpindah tangan? Giok dingin bukanlah tanda lahir yang tidak bisa diberikan kepada orang lain, atau mungkin saja dicuri orang, bukan?"
"Jika itu giok dingin biasa, tentu saja mungkin. Tapi yang satu ini tidak," ucap Pak Tua Dukun dengan penuh keyakinan. "Karena giok dingin ini bisa mengenali pemiliknya."
"Mengenali pemiliknya?!"
"Giok ini diwariskan turun-temurun di antara para dukun besar Wilayah Barat, dan telah diwariskan selama seribu tahun hingga sampai ke tanganku," ujar Pak Tua Dukun. "Asal-usul giok ini sangat luar biasa. Legenda Wilayah Barat mengatakan bahwa Dewa Pertanian dan Obat-obatan zaman purba keracunan saat mencicipi ratusan jenis tanaman. Saat nyawanya berada di ujung tanduk, seorang dukun Wilayah Barat menyelamatkannya dengan ilmu sihir racun. Sejak saat itu, sang Dewa memiliki pandangan baru terhadap ilmu sihir yang selama ini diremehkan oleh dewa dan manusia. Sebagai bentuk rasa terima kasih atas budi penyelamatan tersebut, sang Dewa memberikan giok dingin yang sarat akan energi dan esensi langit serta bumi ini kepada dukun tersebut. Para dukun menghargai pemberian sang Dewa, dan sejak saat itu, giok ini dijadikan benda keramat yang hanya boleh dipegang oleh dukun besar, yang diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap kali giok ini akan diberikan kepada dukun besar generasi berikutnya, sebuah upacara khusus harus diadakan untuk memberitahu sang Dewa sekaligus membuat giok tersebut mengenali pemilik barunya. Hanya setelah upacara itulah dukun besar generasi berikutnya bisa memegangnya, jika tidak..."
"Jika tidak, apa yang akan terjadi?"
"Saat sang Dewa memberikan giok ini, ia juga menyegel kutukannya di dalamnya," lanjut Pak Tua Dukun. "Kutukan itu didasarkan pada pengetahuan sang Dewa tentang tanaman obat, tujuannya untuk mencegah giok ini disalahgunakan oleh orang jahat. Jadi, jika seseorang berani merampas giok dingin dari tangan dukun besar, kutukan yang tersegel di dalamnya akan menjerumuskan orang tersebut ke dalam lingkungan yang penuh kengerian. Semakin besar ketakutan seseorang, maka itulah yang akan ia lihat dan rasakan. Namun, bukan itu yang paling menakutkan," Pak Tua Dukun tersenyum tipis. "Yang paling menakutkan adalah ilusi tersebut akan menjadi kenyataan. Jika tidak segera dihilangkan, orang tersebut tidak akan bisa lolos dari kematian."
Kejadian kemarin saat Lao Liu terluka karena mencoba merebut giok dingin terlintas di benak Luo Xun. Mungkinkah inilah penyebab cedera Lao Liu? Kutukan sang Dewa?!
Dan lagi—hatinya bergetar—Pak Tua Dukun mengatakan bahwa sang Dewa adalah Dewa Pertanian dan Obat-obatan. Bukankah ini sangat cocok dengan ruang obat-obatan miliknya? Mungkinkah, inilah asal-usul ruang tersebut?!
"Jadi, Anda memberikan giok dingin itu kepada anak tersebut?" Luo Xun berpikir sejenak lalu bertanya kembali, "Selain mengenali pemiliknya, apakah giok dingin memiliki keanehan lain?"
Pak Tua Dukun berpikir sejenak. "Jika bicara soal keanehan lain, itu hanyalah legenda. Konon, ada generasi dukun besar yang pernah menggunakan giok dingin untuk memanggil binatang suci, dan ada generasi dukun besar yang pernah pergi ke sebuah negeri dongeng berkat giok dingin, di mana tempat itu kosong tanpa manusia, namun dipenuhi aroma harum yang memikat."
"Lalu bagaimana dengan Anda? Apa yang Anda lakukan dengan giok dingin itu?" Luo Xun terus mendesak. Negeri dongeng apa, itu jelas-jelas ruang miliknya! Ternyata dia bukan orang pertama yang menggunakan giok dingin untuk memanggil ruang obat-obatan!
Pak Tua Dukun tertawa getir. "Mungkin karena bakatku yang rendah, giok dingin itu bagiku hanyalah sebuah giok dingin. Selain mengenali pemiliknya, tidak ada keanehan apa pun. Tapi itu sudah cukup. Selama aku bisa melihat giok itu sekali lagi seumur hidupku, ia akan mengenali diriku, dan aku pun bisa mengenali anak itu." Pak Tua Dukun menjadi emosional. "Delapan belas tahun, tepat delapan belas tahun. Jika dihitung, dia seharusnya sudah kembali. Sayangnya, aku tidak bisa membiarkannya pergi lebih lama lagi. Namun, aku benar-benar sudah berusaha semampuku. Baru saja, aku mengira tidak akan bisa melihatnya lagi seumur hidupku, tidak disangka—tidak disangka—" Napas Pak Tua Dukun menjadi semakin sesak. "Tidak disangka—dia tiba-tiba muncul di hadapanku!"
Sambil berkata demikian, Pak Tua Dukun menatap lekat-lekat ke arah Luo Xun. "Kau—kau memiliki giok dingin itu, kau—adalah anak itu!"
Meskipun sudah menduga Pak Tua Dukun akan mengatakan hal ini, namun saat dia benar-benar mengatakannya, Luo Xun masih merasa sedikit bingung. "Apakah mungkin salah orang..."
"Tidak mungkin!" ucap Pak Tua Dukun dengan tegas. "Kemarin kau juga melihatnya, giok dingin mengenali diriku sehingga ia terus memancarkan cahaya redup. Lao Liu ingin merebut giok dingin itu, sehingga ia terluka. Sekarang coba kau lihat, apakah giok itu masih bersinar?"
Luo Xun tidak perlu melihat pun sudah tahu bahwa giok dingin itu terus bersinar sejak berada dalam jarak satu depa dari Pak Tua Dukun. Itulah sebabnya ia terus menggenggamnya, agar ia tidak melihat cahaya redup yang berkedip itu. Namun, ia bisa merasakan bahwa giok dingin yang biasanya terasa dingin dan keras itu kini perlahan memancarkan panas.
Apakah giok dingin benar-benar mengenali Pak Tua Dukun?!
Luo Xun secara tidak sadar mundur ke arah pintu, ingin melindungi giok dingin itu sekaligus menjaga jarak dari orang tua yang tampak tidak waras ini.
"Jangan pergi! Jangan pergi!" teriak Pak Tua Dukun dengan cemas. Lengan di dalam bajunya bergerak-gerak seolah ingin menangkap Luo Xun, namun pergelangan tangannya yang kurus lemah tidak bisa digerakkan dan terus terkulai lemas.
Luo Xun menghentikan langkahnya. Penampilan putus asa Pak Tua Dukun membuatnya merasa iba, namun ia tidak ingin terlalu dekat. Ia berdiri di tempat dan berkata, "Baiklah, anggap saja aku memiliki giok dingin, dan anggap saja giok itu mengenalimu. Namun, ada terlalu banyak perubahan dalam delapan belas tahun ini. Aku belum tentu adalah anak itu. Kecuali, Anda memiliki bukti lain?"
Melihat Luo Xun tidak jadi pergi, Pak Tua Dukun perlahan menjadi tenang. "Tentu saja ada bukti lain," mata Pak Tua Dukun berbinar tajam, "dan ini adalah bukti yang hanya diketahui oleh tiga orang di dunia ini."
"Apa itu?" Luo Xun mengernyit.
Alis dan janggut Pak Tua Dukun bergerak bersamaan, jelas ia sangat bersemangat dengan apa yang akan dikatakannya. "Kau kembali ke Da Qin dari masa depan dua ribu tahun kemudian. Bagaimana dengan bukti ini?"
"Anda—bagaimana Anda bisa tahu!" Kini Luo Xun tidak bisa lagi menyangkalnya.
"Tentu saja aku tahu," janggut Pak Tua Dukun hampir tegak ke langit, "karena orang yang mengirimmu pergi adalah aku!"