Bab 55 Ransel Mereka
Kapal kargo melaju meninggalkan pelabuhan, kecepatan layarnya terus meningkat dari satu *knot* ke *knot* berikutnya. Garis-garis pola susunan sihir samar-samar muncul di sekeliling lambung kapal, mendorong kapal kargo yang besar itu melaju dengan kecepatan tinggi tanpa campur tangan manusia dan di tengah ketiadaan angin.
Su Yuebai berdiri di atas geladak, menatap dengan penuh antusias pada hal-hal baru yang terjadi di hadapannya.
Perahu-perahu pengawal melaju kencang seperti *speedboat* di depan kapal kargo sejauh beberapa mil, menghalau kelompok-kelompok monster air di jalur sungai, atau menghancurkan rintangan di sepanjang jalan menggunakan artefak kuno di tangan mereka, guna memastikan kapal kargo di belakang mereka dapat melaju dengan cepat dan stabil.
Shi Wenfang, yang mengemudikan perahu pengawal, berakselerasi dan mendahului kapal kargo dari sisi samping. Haluan perahunya terangkat tinggi saat ia melesat kencang menuju bagian paling depan kapal kargo.
Seolah menyadari tatapan Su Yuebai, ia pun tak lupa melambaikan tangan ke arah Su Yuebai saat mengemudikan perahunya.
"Chen Hua! Ada di mana? Jawab!"
Tepat saat Su Yuebai sedang mengamati hal-hal baru, para kru kapal mendatangi anjungan pengamatan di lantai dua dan mulai memanggil nama orang-orang di atas kapal dengan suara lantang, dimulai dengan mengabsen seluruh penumpang yang naik ke kapal kargo.
"Su Yuebai?"
"Hadir!"
Su Yuebai mengangkat tangan untuk menyapa awak kapal. Setelah melihat Su Yuebai, awak kapal tersebut mengangguk, memberi tanda centang pada daftar penumpang yang naik, lalu kembali memanggil nama penumpang berikutnya.
Bukan hanya para penumpang yang diaabsen, bahkan para awak kapal kargo pun harus diabsen.
Setelah melalui satu putaran absensi, jumlah penumpang yang menaiki kapal kargo menuju Daoxian tercatat sebanyak enam ratus tiga puluh empat orang.
Sementara itu, jumlah awak kapal relatif kurang pasti. Jumlah orang di geladak saja tidak lebih dari tiga puluhan, dan itu belum termasuk regu pengawal yang bertugas di jalur sungai, perajin reparasi, dokter keliling, pengemudi kapal kargo, serta para staf pendukung seperti juru masak.
"Baiklah, ingat ya, enam ratus tiga puluh empat orang. Selanjutnya, silakan berbaris secara berurutan ke sini untuk mengambil sarapan."
Setelah selesai mengabsen jumlah orang, awak kapal memberi tahu seluruh penumpang bahwa waktu sarapan telah tiba.
Biaya tiket kapal sebesar lima kati batu spiritual sudah mencakup biaya makan dan tempat tinggal, serta biaya perlindungan keselamatan jiwa para penumpang.
Hanya saja, sudut mata Su Yuebai tanpa sadar sedikit berkedut ketika melihat apa yang disebut sebagai sarapan tersebut.
Awak kapal membawa sebuah kantong penyimpanan dan mengeluarkan satu per satu joran pancing darinya, lalu menyerahkannya kepada para penumpang dengan ekspresi serius. Sebagian besar penumpang tampak sudah biasa dan tidak merasa heran; mereka membentuk kelompok yang terdiri dari lima hingga enam orang dan berjalan menuju spot memancing yang telah mereka incar.
Sementara itu, sebagian orang lainnya—yang sama seperti Su Yuebai, baru pertama kalinya menaiki kapal kargo menuju Daoxian—juga tampak kebingungan menatap joran pancing di tangan mereka, hingga tanpa sadar berseru, "Ha!?"
"Bukankah sudah dibilang semua sudah termasuk makan dan tempat tinggal? Kenapa sekarang kita masih harus mengandalkan usaha sendiri?"
"Kalian ini, pokoknya ada makanan atau tidak!" Awak kapal menatap orang yang berbicara itu dengan ekspresi terkejut, seolah tidak bisa memahami ucapannya, lalu menjelaskan dengan sangat serius.
"........Kurang lebih bisa dibilang ada, kan?"
"Nah, bukankah itu berarti kita sudah ditanggung makan dan tempat tinggal." Awak kapal memutar bola matanya dan berjalan masuk ke dalam kabin, bersiap untuk pergi sarapan di kantin lantai dua, dan nanti akan pergi bertukar giliran dengan anggota regu pengawal.
"Oh ya, Adik Su, joran pancingnya sudah habis. Nanti kamu ikut kami saja ke kantin," kata awak kapal lainnya yang sedang membereskan seikat demi seikat joran pancing sambil tersenyum kepada Su Yuebai. "Mau makan apa pun jangan sungkan, Kak Wenfang sudah berpesan kepada pihak dapur."
"Dia bahkan berpesan agar lebih banyak menyiapkan kerang untukmu, katanya untuk memulihkan tenagamu......" Kalimat terakhir itu diucapkan oleh awak kapal dengan mendekatkan diri ke sisi Su Yuebai, diiringi ekspresi penuh iri di wajahnya dan nada bicara yang misterius seolah sedang membagikan rahasia.
Bagi Shi Wenfang, Su Yuebai di masa depan pasti akan jatuh ke tangan para anggota Keluarga Kamar Tidur dan bernasib mengenaskan.
Ia merasa sangat iba dan menyayangkan pemuda yang begitu tampan ini. Meskipun Shi Wenfang belum pernah makan daging babi, ia setidaknya pernah melihat babi berlari. Setiap kali selesai berlayar jauh dan pulang ke rumah di desa, pada malam hari ia selalu bisa melihat ibunya menjewer telinga ayahnya sambil mengomel.
Satu orang saja sudah begitu sulit diatasi, sedangkan Su Yuebai harus menghadapi ribuan orang di Keluarga Kamar Tidur.
Selama di sana, jangan berharap bisa makan dengan layak; bubur yang diracik dari ramuan pemikat akan menjadi makanan utama Su Yuebai.
Siapa pun yang memiliki empati, setelah mengetahui apa yang akan dihadapi Su Yuebai di masa depan, pasti ingin menaruh kasihan padanya.
Begitu pula dengan Shi Wenfang. Ia tidak hanya meningkatkan fasilitas tempat tidur massal Su Yuebai menjadi kamar pribadi, tetapi juga secara khusus meminta pihak dapur untuk membuatkan berbagai hidangan penambah stamina bagi Su Yuebai setiap hari demi memulihkan fisiknya.
Meskipun apa yang dilakukan Shi Wenfang menurut pandangannya sendiri adalah hal yang wajar.
Namun, di mata para awak kapal lainnya, sama sekali bukan itu masalahnya.
Seorang putri kapten kapal yang belum menikah dan seorang pemuda tampan nan langka di dunia, jika keduanya disandingkan, secara alami sangat mudah memicu berbagai khayalan. Terlebih lagi sekarang sang putri saudagar kaya secara khusus berpesan kepada dapur untuk menyajikan hidangan penambah stamina bagi pemuda tampan tersebut, bahkan mengatur kamar tidurnya di sebuah kamar pribadi yang tenang.
Kisah-kisah di malam hari adalah sesuatu yang sama sekali tidak berani dibayangkan oleh para awak kapal, karena mereka takut jika memikirkannya terlalu dalam, mereka akan dibuang oleh kapten ke sungai untuk dijadikan umpan ikan.
………………
"Sudah kenyang, terima kasih......."
Su Yuebai selesai makan di kantin, lalu tersenyum dan berpamitan kepada para awak kapal, mengatakan bahwa ia hendak kembali ke kamarnya untuk berkultivasi.
"Belum kenyang......... sama sekali belum kenyang, makan dua suap justru malah memancing rasa laporku."
Su Yuebai berjalan keluar dari kantin dengan senyum hangat tetap terpatri di wajahnya, lalu mengangkat tangannya mengelus perutnya. Penampilannya tampak seolah-olah ia sudah sangat kenyang, tetapi sebenarnya ia merasa sangat kelaparan hingga asam lambungnya naik, sehingga ia harus mengusap perutnya dengan tangan.
Su Yuebai memasuki kabin kapal dan mempercepat langkahnya, bersiap kembali ke kamar untuk melahap ribuan kati daging guna meredakan rasa lapernya.
Namun, ketika melewati lorong yang sempit dan remang-remang, Su Yuebai tanpa sadar melirik sekilas ke arah tangga pemuatan kargo.
Entah mengapa, meskipun semalam telah berlalu, di dalam benak Su Yuebai masih tersisa rasa penasaran dan ganjalan terhadap tiga orang yang ditemuinya petang kemarin.
Seiring berlalunya waktu semalam, Su Yuebai semakin merasa familiar dengan bau lemak dan aroma amis darah yang terpancar dari bungkusan mereka.
Namun, karena tingkat kemiripannya terlalu rendah, Su Yuebai tetap tidak bisa mengingat dengan pasti apa persamaannya dengan sesuatu yang ada di dalam ingatannya.
Ia hanya tahu bahwa ia pernah mencium aroma yang serupa.
"Ugh, ugh, ugh......."
Serangkaian rintihan tertahan terdengar dari kamar di sebelah lorong, merambat hingga ke telinga Su Yuebai.
Napas berat seorang pria berpadu dengan ucapan-ucapan cabul turut terdengar sampai ke luar lorong: "Hehehe...... untuk apa kamu menutup mata, lihatlah betapa cantiknya dirimu di dalam cermin! Kulit yang lembut dan kemerahan, pipi yang merona malu, ck ck ck......."
"Kak Wenfang, aku...... aku sungguh masih menginginkannya."
Su Yuebai yang sedang berjalan melewati lorong tidak berhenti karena suara desahan dari kamar sebelah, namun begitu mendengar pria di dalam sana memanggil nama gadis itu, langkah Su Yuebai langsung terhenti di tempat. Hawa dingin yang membuat bulu kuduk merinding melesat menembus tulang belakang hingga langsung ke ubun-ubunnya.
Membuat sekujur tubuh Su Yuebai merinding seketika.
"?"
Su Yuebai menatap kamar itu dengan ekspresi ngeri dan tanpa sadar menelan ludahnya.
Pagi ini Shi Wenfang sempat mencari Su Yuebai, membantunya memindahkan kamar tidur, dan setelah itu mereka berdua terus mengobrol santai hingga waktu keberangkatan kapal kargo.
Su Yuebai memastikan bahwa ia melihat sendiri dengan mata kepalanya sendiri Shi Wenfang mengemudikan perahu pengawal menuju jalur sungai untuk melakukan tugas pengawalan dan penjelajahan.
Bahkan saat kapalnya berangkat, wanita itu sempat menoleh ke belakang dan melambaikan tangan kepadanya.
Sementara para awak kapal yang bersiap untuk bergiliran bertugas baru saja selesai sarapan, dan waktu untuk pergantian shift jaga masih menyisakan waktu lebih dari satu jam lagi.
Shi Wenfang....... Jelas-jelas sedang melakukan pengawalan di bagian paling depan jalur pelayaran kargo.
"Sialan?"
"Sebenarnya apa yang sedang disetubuhi oleh orang itu?!"