Bab 8 Membersihkan Diri dari Kesialan
Sejak menerima anugerah dari sang leluhur, Su Yuebai menghabiskan dua hari terakhir dengan mengurung diri. Kegiatannya hanya berkutat antara rumah dan bengkel kayu, bahkan tempat santai favoritnya, Paviliun Ruchun, sempat tidak ia kunjungi.
Ia sedang mendalami "Api Samadhi", berusaha menguasai poin-poin kuncinya secepat mungkin. Esensi Api Samadhi adalah menggunakan esensi, energi, dan roh sebagai bahan bakar, mendorong energi spiritual di langit dan bumi sebagai tungku, lalu menggabungkannya dengan afinitas elemen api milik sang kultivator. Api spiritual yang tersulut ini tidak bisa dipadamkan oleh air hujan atau sungai di dunia fana; hanya air spiritual dan kekuatan spiritual yang luar biasa yang mampu memadamkannya.
Meskipun patung leluhur itu agak pendiam, setiap kali ia memberikan persembahan, umpan balik yang diberikan selalu berupa barang yang sangat luar biasa.
...
"Yuebai!"
Su Yuebai baru saja tiba di bengkel kayu, bahkan belum sempat duduk dengan nyaman di kursi utama ruang teh, ketika suara nyaring Guru Cui terdengar dari luar bengkel. Selama masa kultivasi Su Yuebai, tanpa disadari waktu telah tiba sesuai janji untuk mengambil cermin perak, dan Guru Cui datang tepat waktu.
"Kemari..."
Su Yuebai merapikan meja teh, menyapu pensil arang, set penggaris, dan kertas ke dalam laci meja. Ia kemudian berbalik, membuka laci terkunci di lemari samping, dan mengeluarkan kotak brokat indah yang dibalut sutra merah.
Guru Cui masuk setelah mendengar sahutan, mendorong pintu dan melihat Su Yuebai yang sedang memegang kotak brokat merah menyala. Seketika, gerak-geriknya yang biasanya kasar berubah menjadi anggun layaknya seorang wanita terhormat.
"Ehem..." Guru Cui berdeham pelan, lalu berkata dengan ramah, "Sepertinya aku datang di saat yang tepat. Tolot jelaskan barang ini padaku, Yuebai!"
Su Yuebai menunjukkan ekspresi aneh, memiringkan kepalanya menatap Guru Cui dengan bingung. Cermin perak buatannya dijual seharga dua puluh lima tael perak, dengan diameter standar tujuh belas sentimeter, dan gagang yang disesuaikan dengan tangan pelanggan. Pola yang diukir di balik cermin pun dibuat berdasarkan sketsa sesuai keinginan pelanggan. Seharusnya, orang yang paling mengerti tentang cermin itu adalah pemilik yang memesannya. Usul Guru Cui terasa agak janggal, namun Su Yuebai tidak langsung menolaknya.
Baginya, setiap pesanan kayu bukanlah sekadar barang dagangan, melainkan perwujudan dari imajinasi liar pelanggan yang mungkin tidak bisa mereka wujudkan sendiri karena keterbatasan keterampilan. Entah itu tukang kayu atau pengrajin, di mata Su Yuebai, mereka hanyalah tangan terampil yang disewa pelanggan untuk merealisasikan impian mereka. Menjelaskan proses, filosofi, dan hasil akhir adalah bagian dari etika profesinya. Hanya saja, kebanyakan pelanggan tidak peduli bagaimana proses pembuatannya.
"Diameter cermin ini tujuh belas sentimeter. Ukuran gagangnya disesuaikan dengan lebar telapak tangan Anda, yakni tiga belas sentimeter sesuai dengan perhitungan standar aliran Mo..."
Su Yuebai membuka kotak brokat, mengeluarkan cermin perak yang telah dipoles hingga tanpa cela, lalu mengaitkan tali pelindung berwarna merah pada ujung gagang cermin dan memasangkannya dengan lembut ke pergelangan tangan Guru Cui.
"Tekstur perak cenderung lunak, jadi kami melapisinya dengan lilin lebah khusus. Tujuannya untuk menjaga keawetan dan mencegah goresan. Karena lapisan lilin membuat gagang agak licin, kami menambahkan tali pelindung sejak awal desain."
"Jika Anda memakainya dengan tali ini, meskipun Anda sedang melamun atau tangan Anda selip, cermin ini tidak akan..."
Su Yuebai terus menjelaskan proses pengembangan produk, pemikiran di balik desainnya, serta kesulitan dan kekurangan teknis yang ia temui selama pembuatan. Namun, Guru Cui sama sekali tidak mendengarkan. Ia hanya memeluk cermin itu untuk menutupi separuh wajahnya, tersenyum bodoh sambil membatin, "Tangan Yuebai begitu halus, sama sekali tidak ada kotoran atau kapalan... Mereka tidak berbohong!"
Beberapa orang memesan cermin perak pada Su Yuebai hanya untuk memuaskan kesombongan diri. Ada yang menikmati layanan kustomisasi kelas atas dan kemewahan kerajinan tangan untuk membedakan diri dari rakyat jelata. Namun, Guru Cui tidak memiliki niat muluk. Ia datang karena perkataan teman-temannya:
"Hehehe... saat mengambil cermin, adik Yuebai memegang tanganku, lalu dengan wajah serius memasangkan tali merah itu di pergelangan tanganku..."
"Saat itu, aku bahkan sudah membayangkan telapak tangan Yuebai mengusap tubuhku... membayangkan napasnya yang memburu saat menatap tubuhku, wajahnya yang memerah karena malu dan penuh gairah."
"Napas seketika sesak rasanya..."
Teman-temannya benar-benar tidak berbohong... Saat Guru Cui sadar kembali dari lamunannya dan menatap ruang teh yang kosong, senyum di wajahnya seketika membeku: "Di mana Yuebai?!"
"Eh... Tuan sudah pergi sejak lama. Anda tadi terus melamun di sini, dipanggil pun tidak menyahut," ujar Wang Da, sang murid, dengan canggung.
Apa yang tidak diketahui oleh Guru Cui dan Wang Da adalah bahwa saat Su Yuebai menampakkan wujud aslinya, suaranya memiliki daya pikat yang sangat kuat, mampu memicu naluri perlindungan sekaligus fantasi yang indah. Ditambah dengan penampilannya yang tidak berbahaya, mangsanya akan tanpa sadar lengah dan mendekat, membiarkannya menelan mereka untuk mengisi perut.
Saat dalam wujud manusia, bakat alaminya memang melemah, namun Guru Cui telah kehilangan kendali atas pikirannya dan jatuh sepenuhnya ke dalam pesona Su Yuebai. Karena tidak mendapat respons, Su Yuebai pun pergi meninggalkan bengkel.
...
Waktu beranjak siang.
Paviliun Ruchun sedang melakukan pembersihan sebelum jam operasional. Ibu Hua, sang pemilik, secara tidak sengaja melihat seseorang masuk melalui pintu utama dan berseru heran:
"Eh? Tumben sekali siang-siang begini mampir ke tempat kakakmu ini?"
Ibu Hua merasa aneh melihat Su Yuebai datang di siang hari. Paviliun Ruchun biasanya melayani para nyonya kota yang ingin mendengarkan musik atau bermain kartu di sore hari, dan baru akan menampilkan gadis-gadis penghibur di malam hari. Su Yuebai adalah pelanggan tetap malam hari, jadi kehadirannya di siang bolong terasa ganjil.
"Besok saya mungkin akan pergi keluar kota untuk mencari barang dagangan. Uang saya sedikit terbatas, jadi saya ingin melihat apakah ada pembayaran yang bisa dicairkan lebih awal..." Su Yuebai menyapa Ibu Hua.
Besok atau lusa, para pendekar dari Kota Ping'an akan pergi ke Tebing Kayu Hijau untuk menjarah sisa-sisa peninggalan kultivator lama. Namun, Su Yuebai tahu dari Raja Kera bahwa bukan hanya pihak Kota Ping'an yang mengincar tempat itu. Oleh karena itu, ia berencana berangkat saat malam tiba untuk mencari informasi. Jika ada kesempatan, ia akan mengambil jarahan; jika tidak, ia akan mencuri harta dari para kultivator yang sibuk bertikai.
Karena hasil jarahan yang disetorkan Raja Kera sebelumnya, Su Yuebai kini tidak terlalu terdesak soal teknik kultivasi, namun ia masih membutuhkan metode kultivasi elemen api dan tas penyimpanan. Bagi Su Yuebai, para kultivator yang berkumpul di Tebing Kayu Hijau adalah kesempatan emas untuk kaya mendadak.
Perjalanan ini mungkin memakan waktu beberapa hari. Sudah menjadi kebiasaan Su Yuebai untuk pergi ke tempat pijat kaki sebelum menempuh perjalanan jauh atau saat baru pulang. Bagi seorang tukang kayu sepertinya, memijat kaki dianggap sebagai ritual untuk membersihkan nasib buruk.
"Tuan Su... apakah Anda benar-benar sedang kekurangan uang?"
Sebelum Ibu Hua sempat menjawab, para gadis berbakat yang sedang berlatih di lantai bawah menatap Su Yuebai dengan gembira, "Cepat masuk, ayo ikut kami ke kamar pribadi dan jelaskan masalah uang itu."
"Hah?"
Su Yuebai tampak bingung menatap para gadis yang terlihat begitu gembira. "Apakah kekurangan uang itu hal yang membahagiakan? Jika aku tidak punya perak, aku tidak bisa menikmati jasa di Paviliun Ruchun, bukankah kalian seharusnya takut kehilangan pelanggan?"