Bab Empat Puluh Satu: Perubahan Mengejutkan!
Xiaobei meninggalkan gazebo dan melangkah masuk ke dalam kamar. Li Qingshan dan Li Qiufeng tidak tahu kapan mereka telah tertidur di lantai dari ranjang, bahkan mendengkur dengan nyenyak bagaikan babi. Tanpa daya, ia pun memindahkan keduanya kembali ke atas ranjang.
Pada saat ini, pintu kamar didorong terbuka dengan suara derit. Xiaobei mendongak dan melihat seorang gadis berdiri di ambang pintu. Pakaian sederhananya melambai, rambut panjangnya tergerai di bahu, tampak begitu anggun dan menyentuh hati. Sepasang matanya yang jernih menatap lurus ke arahnya. Tak satupun dari mereka bergerak, hanya saling bertatapan dalam kebisuan.
"Qinger, begitu cepat bangun rupanya. Tampaknya kapasitas minummu memang lebih baik dari kedua orang itu," kata Xiaobei, memecah keheningan terlebih dahulu. Ia menoleh sejenak ke arah dua orang yang sedang mendengkur di ranjang, lalu tersenyum.
Gadis itu menggelengkan kepala, membalas dengan senyuman, dan berkata, "Kakek dan yang lainnya mendengkur terlalu berisik. Aku tidak tidur, aku terus duduk di luar rumah. Apakah kau tidak menyadarinya?"
"Hmm..." Xiaobei mengangguk dan perlahan melangkah mendekat. "Kalau begitu, barusan... kau pasti melihat semuanya, ya?"
"Hmm." Xu Qinger juga mengangguk, menatapnya dengan tatapan berbinar. Ia lalu mengulurkan tangan dan membelai pipinya, seolah-olah sedang menghapus sisa air mata yang tertinggal. "Kamu menangis," ucapnya lembut.
Xiaobei tidak menjawab. Ia hanya berjalan ke dekat pintu, menatap fajar yang menyingsing. Sinar matahari menyinari wajah tenangnya. Ia menyipitkan mata sejenak, berdiri diam beberapa saat, lalu tertawa kecil dua kali. "Ha-ha, aku teringat beberapa hal buruk, mungkin emosiku terlalu terbawa suasana tadi. Lain kali tidak akan lagi. Hal-hal dan kenangan itu... telah kusegel."
"Bukankah kau juga melihatnya? Hanya masalah kecil saja, tidak perlu dibicarakan lagi." Ia menoleh menatap Xu Qinger. Meskipun ia tersenyum, gadis itu langsung bisa menebak bahwa senyuman tersebut hanya dibuat-buat.
Melihat Xu Qinger terdiam, Xiaobei kembali membalikkan badan. Sesaat kemudian, ia mengucapkan kalimat yang sama sekali tidak nyambung, "Hari masih pagi, tidakkah kau pergi beristirahat sebentar? Nanti sore kita harus kembali ke desa."
Xu Qinger tetap tidak bersuara, melainkan dengan diam-diam melangkah mendekat dan berdiri berdampingan dengannya di tengah fajar yang mulai benderang itu. Ia berucap, "Bisakah kau menceritakan tentang dirimu kepadaku? Singkirkan kenangan-kenangan yang tidak ingin kauingat itu, ceritakan saja tentang dirimu, hal-hal tentang dirimu, atau... segala sesuatu tentangmu."
Pada saat ini, ia tidak tahu mengapa dirinya mengucapkan kata-kata tersebut. Sebelumnya mungkin rasa penasaran, tetapi sekarang hatinya merasa sangat pedih. Ia melihat pria itu menangis dalam diam, membuat batinnya terguncang dan terasa amat nyeri, serta timbul dorongan untuk ikut meneteskan air mata.
Ia sangat ingin mengetahui segala hal yang telah terjadi pada pemuda di hadapannya ini, namun ia tidak tahu bagaimana harus mulai bertanya. Ia tidak ingin mengorek luka di lubuk hatinya, tidak ingin pemuda itu mengenang kembali masa lalu yang enggan diingatnya itu. Namun, ia begitu ingin tahu, ingin memikul sedikit beban bersama pemuda itu.
"Tentu. Setelah kembali ke desa nanti, aku akan menceritakan segalanya kepada kalian," ucap Xiaobei. "Ayo, temani aku berjalan-jalan sebentar, ya?" Ia menoleh ke arah Xu Qinger di sampingnya dengan tatapan yang luar biasa lembut.
"Tidak apa-apa, jika kau lelah, kembalilah beristirahat sebentar, nanti aku akan memanggilmu belakangan." Melihat Xu Qinger yang tetap membisu, Xiaobei perlahan berjalan ke samping dan lambat laun menghilang di dalam hutan persik dan pohon willow itu.
Bunga persik berhamburan, daun willow menari, desau angin bertiup lirih. Dari arah belakang terdengar suara langkah kaki yang ringan. Xu Qinger dengan cepat menyusul dan tiba di sisinya, lalu menyelipkan sehelai ranting willow dari tangannya ke dalam helaian rambut Xiaobei sebagai tusuk konde.
Setelah itu, keduanya berjalan tanpa tujuan di tengah hutan persik dan willow, persis seperti malam itu ketika mereka berjalan di jalan setapak di luar desa, dalam keheningan hingga ke ujung jalan.
Di tepi tebing, rona mega membentang cemerlang, kabut pagi berarak tipis. Pemandangan gunung dan sungai yang elok, serta panorama yang indah terpampang jelas di depan mata.
Kawanan angsa liar terbang membubung tinggi sambil berseru, para makhluk roh berlari kencang sambil menggeram rendah di tengah hutan. Di barisan pegunungan, bangau putih merentangkan sayap, melambung tinggi ke angkasa seolah hendak terbang menuju keabadian di barat. Seluruh penjuru langit dan bumi tampak dipenuhi pertanda baik.
Ketika keduanya kembali, hari sudah menjelang siang. Semua orang telah berkumpul; Chen Jiu, Chen Laoer, Chen Laosan, dan yang lainnya datang secara bergantian, sedang berpamitan dengan sopan kepada Li Hua dan rombongannya.
"Baiklah, Saudara-saudara sekalian, tidak perlu banyak bicara lagi, kita simpan untuk kesempatan berikutnya. Terima kasih atas jamuan hangat kalian semua. Di lain hari, ganti aku yang menjadi tuan rumah dan kalian yang berkunjung," ujar Li Hua sambil tersenym.
"Ha-ha-ha, mendekati akhir tahun ini, sebenarnya aku ingin menahan kalian untuk menikmati jamuan malam Tahun Baru bersama. Biarlah, aku tidak akan memaksa. Kita berjumpa lagi tahun depan," tawa Chen Jiu. Ia melambaikan tangan, membuka sebuah gerbang di dalam kehampaan, lalu mengeluarkan sebuah kapal angkasa dan memperbesarnya dengan cepat.
Kapal angkasa, sesuai dengan namanya, adalah benda wajib yang digunakan oleh para kultivator tingkat rendah untuk menyeberangi kehampaan. Jika tidak, memasuki kehampaan secara langsung bisa merobek tubuh mereka berkeping-keping oleh kekuatan di sana, sangat sulit untuk dilawan.
"Tiga Maret tahun depan, kami akan datang untuk menyaksikan para talenta muda Desa Chen bersinar terang." Usai berkata demikian, Li Hua membawa rombongannya naik ke atas kapal angkasa dan menghilang ke dalam gerbang tersebut.
"Kalau begitu, aku terima ucapan baik Saudara. Kita saksikan bersama-sama nanti." Di dalam jalur kehampaan, suara Chen Jiu menggema di telinga.