Buku Petunjuk Penyihir Dua Puluh Lima

Nama yang Sama di Lintas Waktu Burung biru dan salju layang-layang 2457kata 2026-03-26 00:39:29

Di rumah Luo Yaoyao.

Su Xiaoke terus-menerus menyeka air matanya.

Ia menceritakan kepada Luo Yaoyao secara terputus-putus tentang bagaimana ia dan Xu Wei bisa saling mengenal.

Sempat terbesit dalam benaknya untuk menjelaskan kepada Luo Yaoyao mengapa ia bereaksi sedemikian rupa saat melihat kedua wanita itu di acara Janji Kasih, namun karena Luo Yaoyao tidak menanyakannya sama sekali, ia pun mengurungkan niatnya.

Kedatangan Li Zhixing dan Luo Tiantian hanyalah masalah sepele, dan ia tidak terlalu mempedulikannya.

Saat ini, luka emosional yang ia derita adalah hal yang paling penting.

Luo Yaoyao menghiburnya di satu sisi, sementara di sisi lain ia merumuskan niat licik di dalam hatinya.

"Xiaoke, pernahkah kamu memikirkan seperti apa kehidupan Xu Wei setelah ia putus darimu?"

"Eh?" Su Xiaoke menatap Luo Yaoyao dengan tatapan bingung. "Kak Yaoyao, kenapa tiba-tiba bertanya seperti ini?"

Saat ini, ia hanya ingin mencari seseorang untuk melampiaskan keluh kesahnya tentang keburukan Xu Wei!

"Xiaoke, kamu sekarang sudah tahu betapa bajingannya Xu Wei, dan luka-luka yang kamu derita sebelumnya benar-benar nyata adanya." Luo Yaoyao menekan kedua bahu Su Xiaoke.

Ia menatap Su Xiaoke dengan serius.

Awalnya ia merasa memiliki seorang adik perempuan yang lemah dan membutuhkan perlindungan adalah perasaan yang cukup menyenangkan.

Namun, setelah mendengarkan tangisan Su Xiaoke yang cukup lama, ia jadi merindukan Luo Tiantian.

Adik perempuan yang usil dan suka membuat masalah tetapi bisa menyelesaikannya sendiri, yang jarang merepotkan dirinya sebagai seorang kakak, apalagi membuat hatinya sakit sekaligus geram, ternyata jauh lebih menggemaskan.

Melihat orang yang disayangi menderita terlalu lama pada akhirnya bisa membuat seseorang merasa ingin menyerah.

"Aku..." Su Xiaoke merasa gentar ditatap seperti itu oleh Luo Yaoyao. Ia menundukkan kepalanya, jari-jarinya terus-menerus memilin ujung bajunya.

Benar juga, semua luka itu telah terjadi.

Ia merasa dirinya telah dibohongi oleh Xu Wei begitu lama, namun ia sama sekali tidak berdaya untuk melakukan apa pun.

Lalu sekarang? Apa yang harus ia perbuat?

"Tapi, Kak Yaoyao, apa lagi yang bisa kulakukan?"

Memikirkan hal ini, air mata kembali menetes deras dari sudut mata Su Xiaoke.

"Xiaoke, kalau aku beri tahu, apakah kamu mau melakukannya?" Luo Yaoyao menatapnya penuh pertimbangan. "Aku sudah mengirim pesan kepada temanku, memintanya untuk menyelidiki di mana Xu Wei tinggal."

"Eh?" Su Xiaoke tampak bingung. "Kak Yaoyao, kamu...?"

"Hih, dia sudah menipuku, bagaimana mungkin aku melepaskannya begitu saja?!" Luo Yaoyao menyibak rambut panjangnya. Bibirnya yang merah tersenyum miring. "Xiaoke, bagaimana kalau kita datangi saja dia untuk membuat perhitungan? Kamu juga tidak ingin melihatnya memiliki kesempatan untuk menipu gadis-gadis lain di masa depan, bukan? Tadi aku dengar kamu bilang kalau kamu pernah memberikan banyak uang kepada Xu Wei."

"... Benar." Su Xiaoke belum menyadari apa pengaruh uang-uang itu nantinya.

Ia hanya mendengarkan perkataan Luo Yaoyao, lalu teringat kembali pada masa lalu, dan hatinya terasa begitu nyeri.

Sebagai seseorang yang lahir dari keluarga kaya, ia tidak peduli dengan sedikit uang itu, tetapi ketika ia teringat bahwa seluruh pengorbanannya telah ditipu mentah-mentah tanpa belas kasihan, hatinya terasa sesak.

Dulu ia mengira, segala hal yang ia lakukan akan berbalas cinta dari pihak lain.

Akan ada seseorang yang selalu menyimpannya di dalam hati dan menghargainya seumur hidup.

Akan ada seseorang yang memperhatikan setiap gerak-geriknya, menemukan kebiasaan dan kesukaan yang bahkan mungkin tidak ia sadari sendiri.

Akan ada seseorang yang muncul di sisinya saat ia butuhkan, memberinya rasa bahwa ia selalu dirindukan setiap saat.

Namun, ia keliru.

Ia rela menderita dan berkorban tanpa penyesalan demi mendapatkan semua itu.

Bahkan setelah Xu Wei pertama kali meminta putus dan bersikap sangat dingin, ia tetap mencarikan berbagai macam alasan untuk membela Xu Wei. Ia mempercayai kebohongan Xu Wei, percaya bahwa segala bentuk kesabarannya saat ini semata-mata demi mendapatkan kebahagiaan yang lebih besar ketika mereka bersatu di masa depan.

Ia percaya bahwa jalinan cinta dan kemesraan di antara dua orang adalah sebuah buku tabungan, di mana masing-masing pihak menyetor sedikit dan menarik sedikit. Tidak ada pihak yang akan dirugikan, bahkan dalam prosesnya, semuanya akan semakin berlimpah.

Namun, Xu Wei adalah tipe orang yang hanya ingin menarik uangnya saja.

Ia menantikan balasan atas pengorbanannya, dan telanjur jatuh cinta pada dirinya sendiri yang mencurahkan segenap jiwa raga ke dalam hubungan tersebut.

Namun orang itu, sama sekali tidak memberikan tanggapan.

Tidak, Xu Wei memberikan tanggapan.

Hanya saja, tanggapan itu bagaikan belati yang menancap di dadanya, sebuah meteor besar yang menghancurkan dunianya berkeping-keping.

"Dia menggunakan uangmu untuk menipu perempuan lain." Luo Yaoyao menahan amarahnya, berusaha menceritakan fakta tersebut dengan setenang mungkin.

Teman-temannya di dalam game yang dulu melarangnya berhubungan dengan Xu Wei mengatakan bahwa Xu Wei mengenakan peralatan langka yang hanya bisa didapatkan dengan top-up dalam jumlah besar, dan telah menipu banyak gadis polos. Bahkan, Xu Wei sempat memasukkan sejumlah gadis polos yang tidak tahu apa-apa ke dalam sebuah grup, dan membiarkan para gadis itu bersaing secara gila-gilaan di dalamnya. Sementara ia sendiri bertindak bagaikan seorang kaisar yang sedang memilih selir.

Tipu daya Xu Wei untuk sementara belum sampai dikecam oleh seluruh pemain di peladen tersebut, apalagi satu game penuh. Namun, beberapa orang yang menyamar sebagai mata-mata di dalam grupnya mulai samar-samar menyadari bahwa Xu Wei tidaklah sekaya citra yang ia tampilkan.

Luo Yaoyao memiliki segudang bukti di tangannya, ia hanya tinggal menunggu masalah Su Xiaoke ini beres untuk menghancurkan Xu Wei di dalam game secara total.

Tentu saja, masalah di dunia nyata juga harus diselesaikan bersamaan.

Pelajaran melalui kekerasan tidak akan pernah memberikan efek jera yang mendalam dibandingkan kehilangan hal yang paling mereka sayangi.

Kemarahan Su Xiaoke hanya sebatas ingin memukul Xu Wei.

Sedangkan kemarahannya, adalah membuat Xu Wei kehilangan lebih banyak lagi!

"Sudah terlanjur diberi juga." Su Xiaoke berkata dengan suara lemah. "Kak Yaoyao, menurutmu apa lagi yang bisa kulakukan? Aku sudah tahu sejak berpacaran dengannya dulu bahwa kondisi keluarganya tidak baik. Uang sebanyak yang kuberikan kepadanya itu mustahil bisa ia kembalikan. Lagipula, bagaimana mungkin ia mau mengembalikannya?"

Ia bahkan tidak bisa mengingat berapa banyak uang yang telah ia berikan kepada Xu Wei.

"Anak bodoh." Luo Yaoyao mengelus kepala Su Xiaoke. "Dia memang tidak mampu mengembalikannya, tetapi kita bisa membuatnya kehilangan segala hal yang ia inginkan melalui cara lain."

"Kak Yaoyao?" Su Xiaoke semakin kebingungan.

Luo Yaoyao tertawa kecil, mendekat ke telinga Su Xiaoke, dan membisikkan rencananya pelan-pelan.

Di mata Su Xiaoke, ketakutan terpancar pada mulanya.

Lambat laun, keterkejutan dan kepanikan menggantikan ketakutan tersebut.

Pada akhirnya, ia tertawa di tengah air matanya.

"Kak Yaoyao, kamu benar-benar jahat!"

Luo Yaoyao sambil tersenyum mencubit pipi Su Xiaoke. "Nah, kamu jauh lebih cantik kalau sedang tersimpum manis seperti ini. Mendengar kata-katamu ini, aku jadi bisa bernapas lega. Xiaoke, tadinya Kakak takut kamu belum bisa melepaskannya."

Ekspresi Su Xiaoke sedikit berubah, namun ia tetap memaksakan diri untuk tersenyum. "Dia sudah tega memperlakukanku seperti itu, apa lagi yang harus kusesali?"

"Baiklah, asalkan kamu sudah ikhlas." Luo Yaoyao melihat ke arah langit. "Apakah kamu mau menginap di rumahku malam ini? Atau akuantar kamu pulang ke rumahmu?"

"Aku..."

Rumah?

Su Xiaoke merasa kebingungan.

Tempat itu, apakah benar-benar layak disebut rumah?

Ia lupa sudah berapa lama ayahnya tidak pulang ke rumah.

Dalam perayaan Tahun Baru selama dua atau tiga tahun terakhir ini, ayahnya seolah selalu memiliki berbagai macam alasan sehingga tidak bisa pulang.

Apakah tempat yang hanya ditinggali olehnya dan Sifan bisa dianggap sebagai rumah yang seutuhnya?

Dan Sifan, apakah benar-benar bisa dianggap sebagai anggota keluarganya?

Ia selalu merasa bahwa Sifan telah merampas banyak hal yang seharusnya menjadi hak miliknya.

Namun ia juga tidak bisa memungkiri bahwa selama bertahun-tahun ini, hal terbanyak yang ia miliki justru adalah kehadiran Sifan yang menemaninya.

Setelah keluar dari bayang-bayang obsesinya terhadap Xu Wei, barulah ia menyadari bahwa sikapnya selama ini terhadap Sifan rupanya agak keterlaluan.

Ia sering kali menuntut kehangatan dan kasih sayang dari Sifan, namun selalu pelit untuk memberikan timbal balik.

"Kak Yaoyao, aku mau pulang!"