Memandang Kembang Api dari Samping Bagian Ketigabelas
Kini giliran Su Sheng naik ke atas panggung.
Ayah dan ibu Ning tidak merasakan sesuatu yang istimewa. Mereka tidak mengetahui arus bawah yang terjadi antara Su Sheng dan Li Zhiyan, hanya tahu setelah orang ini selesai bernyanyi, barulah giliran Li Zhiyan tampil.
Jenis musik rock bercita rasa heavy metal seperti ini memang tidak terlalu cocok dengan selera mereka berdua.
Pembawa acara menyelesaikan transisinya, lampu panggung redup lalu menyala kembali.
Kali ini, suasananya sangat berbeda dari gaya keren sebelumnya.
Alunan musik pengiring yang samar dan sunyi mengisi ruangan, seketika meredam kegelisahan yang tersisa dari penampilan sebelumnya.
Video pun tampil seiring musik.
Ayah dan ibu Ning merasa, kisah yang diputar itu bukan sekadar cerita fiksi berlatar zaman kuno.
Itu adalah kisah nyata yang dialami Li Zhiyan dengan Ning Jun'an.
Dulu mereka sekelas, bersama setiap hari selama tiga tahun.
Lalu berpisah, menempuh jalan masing-masing, pertemuan berikutnya pun tiada kepastian.
Beberapa kali terdengar kabar, katanya seharusnya bisa bertemu, namun pada akhirnya tetap saja saling melewatkan.
Kemudian, gadis yang menanti itu kehilangan cahaya di matanya, sedangkan pemuda yang tetap berkelana, menyimpan duka yang tak diketahui siapa pun.
Di akhir video, gambar beralih ke masa kini.
Orang-orang yang tidak mengenal Ning Jun'an, tentu tidak bisa mengenali siapa sosok yang berpisah dengan gadis itu dari foto yang sengaja diburamkan.
Namun ayah dan ibu Ning adalah orang yang paling mengenal Ning Jun'an di dunia ini.
Mana mungkin mereka tidak mengenali, itu adalah anak mereka yang telah tiada!
Kedua anak muda itu, saat melambaikan tangan untuk berpisah, masih tampak tanpa beban, tak ada yang menyangka perpisahan itu hampir menjadi selamanya.
Pesawat lepas landas, lalu jatuh.
Li Zhiyan yang telah dewasa menengadah ke langit, hanya menyisakan jejak air mata samar di pipinya.
Terdengar isak tangis tertahan.
Ayah Ning sadar kembali, mengambil beberapa lembar tisu dan menyerahkannya pada ibu Ning.
Matanya sendiri pun memerah.
Sementara itu, di dunia maya, sudah terjadi lomba kritik untuk Li Zhiyan, diimbangi dengan pesta pujian untuk Su Sheng.
Para penggemar Su Sheng tetap saja garang.
Bagi sebagian besar dari mereka, menonton Raja Lagu Orisinal hanyalah untuk melihat Su Sheng.
Sembari menunggu giliran Li Zhiyan tampil, mereka pun mencari-cari kesalahan pada Li Zhiyan.
Terutama di sela waktu menanti penampilan Su Sheng berikutnya, itu adalah saat mereka paling bebas membuat berbagai komentar di internet.
“Su Sheng Paling Tampan Sedunia: Aaaa! Kakak Su Sheng kok bisa seganteng ini! Huhu, penguasaan panggung Kakak Su Sheng juga luar biasa!”
“Hari Ini Sudah Memuji Su Sheng Belum: Gak perlu banyak omong, bawa pulang saja Kakak Su Sheng milik kami!”
“Paling Cinta Su Sheng: Kalian sudah dengar yang nyanyi setelahnya? Hehe, beneran deh, gak ngerti dia nyanyi apaan, kok bisa dibandingkan sama Su Sheng? Pasti ada permainan di balik layar, ya?”
“Su Sheng Love: Jelas banget, dia itu cuma bisa cerita doang! Kakak kami gak pandai bercerita seperti dia, makanya kalah deh. Kali ini juga, gak banyak dari kami yang bisa dapat tiket, pasti ulah tim produksi!”
Komentar para penggemar membanjiri dunia maya.
Orang lain yang mengikuti Raja Lagu Orisinal kebanyakan belum berpindah perhatian ke panggung.
Bahkan lagu dari penyanyi berikutnya saja mereka belum selesai dengarkan! Mana sempat memikirkan urusan lain!
Tapi para penggemar Su Sheng memang datang khusus untuk Su Sheng, tak peduli urusan lain.
Di rumah Li Zhiyan, Bibi Zhang memegang komputer dengan penuh amarah, mengetik di sebuah grup.
Dia juga harus mengatur tim sendiri untuk bersiap menghadapi serangan.
Li Zhiyan sendiri menatap layar televisi besar, mendengarkan lagu yang diputar melalui sistem audio yang telah di-upgrade.
Hmm... selain suara Su Sheng yang kurang bagus, penampilan peserta lain masih banyak yang bisa ia pelajari.
Hanya saja, setelah dipikir-pikir, andai saja bagian lagu yang dinyanyikan Su Sheng itu dihapus dan hanya musik pengiringnya saja, pasti akan lebih enak didengar...
Ia ingin fokus menonton acara, tapi telepon di sampingnya terus-menerus berdering.
Begitu diangkat, terdengar suara Su Yanfen yang nyaris berteriak karena terlalu bersemangat.
“Zhiyan! Orang yang muncul di akhir video itu Ning Jun'an kan? Pasti dia, kan?! Nanti waktu memperkenalkan inspirasi lagu, apa kamu juga cerita soal kamu dan Ning Jun'an?”
“Iya, aku cerita,” jawab Li Zhiyan santai.
Mendengar teriakan di seberang, ia mengusap pelipis dengan lelah, lalu menaikkan volume suara, “Tapi aku nggak banyak cerita kok. Yanfen, tenang dulu, ya.”
Tak ada suara.
Li Zhiyan hanya mendengar suara langkah mondar-mandir.
Sekitar setengah menit kemudian.
“Aku nggak bisa tenang!” Su Yanfen terengah-engah, “Kamu beneran ngomong terang-terangan kayak gitu?”
Bukannya di dunia hiburan itu umumnya orang jarang mau terang-terangan soal cinta? Kalau pun pacaran, harus diam-diam, kan?
Eh... kasus Li Zhiyan sepertinya memang agak istimewa, karena satu pihaknya sudah tiada.
Tapi tetap saja terasa aneh, kan?
Su Yanfen yang tak terlalu paham dunia hiburan jadi makin bingung.
“Aku cuma ingin bilang,” suara Li Zhiyan rendah dan mengandung duka yang tak terucapkan, “Dulu aku nggak berani bilang aku suka dia. Sampai sekarang baru bisa ngomong, aku sendiri merasa sudah terlambat. Dulu aku terlalu sering ragu, selalu merasa apa yang akan kami kejar di masa depan berbeda, kalau aku jujur, mungkin kami bahkan tak bisa jadi teman.”
Langkah kaki berhenti.
Napas pun hampir tak terdengar.
Su Yanfen terdiam mendengarkan Li Zhiyan.
“Aku takut. Bahkan setelah itu, meski aku jarang menghubungi dia, aku tetap tak berani bilang aku suka dia.”
“Apalagi setelah A Dong bilang, dia masih menyimpan sebuah buku harian yang sebenarnya ditulis untukku. Yanfen, kamu tahu betapa menyesalnya aku?”
Tetesan air mata jatuh membasahi pakaian.
Suara mengetik pun berhenti.
Bibi Zhang menoleh, menatap Li Zhiyan dengan penuh kekhawatiran.
Setelah mendengar kabar kematian Ning Jun'an, hal paling nekat yang dilakukan Li Zhiyan adalah diam-diam pergi melihat kembang api di malam tahun baru.
Soal pergantian lagu setelah itu, karena kualitas lagu “Perpisahan” yang begitu menonjol, ditambah segala kesibukan menjelang tahun baru, Bibi Zhang tidak terlalu memikirkannya.
Setelahnya, Li Zhiyan memang selalu bisa mengendalikan emosinya dengan baik.
Bibi Zhang pun perlahan mengalihkan perhatian pada Su Sheng, sampai lupa memperhatikan betapa sedihnya Li Zhiyan.
“Aku sering berpikir, kalau saja dulu aku lebih berani, mungkin hubungan kami tidak akan berakhir tanpa kejelasan seperti ini.”
Mungkin pada akhirnya Ning Jun'an tetap akan pergi dari dunia ini secara mendadak.
Tapi setidaknya mereka pernah saling memiliki.
“Aku hanya ingin menyanyikan satu lagu untuknya, hanya ingin lebih banyak orang tahu, aku menyukai dia.”
“Aku bahkan tidak berani bilang cinta.”
Li Zhiyan mengusap hidungnya.
“Aku akui, aku juga punya niat lain. Sebelumnya waktu ke rumah paman dan bibi, aku hanya bilang soal acara hari ini, tapi tidak menanyakan soal buku harian itu.”
“Aku berencana besok kembali untuk meminta buku harian itu. Dengan begitu, mereka pasti tahu seperti apa perasaanku pada A Jun, kan? Mereka pasti mau memberikan buku harian itu padaku, kan?”
Jika kekhawatiran mereka hanya karena takut aku tak bisa melepaskan Ning Jun'an setelah mendapat buku harian itu, maka sekarang aku sudah membuktikan, entah aku dapat atau tidak, aku takkan pernah bisa melupakan Ning Jun'an.
Pasti.
Terdengar samar suara terisak dari Su Yanfen.
Namun Li Zhiyan tidak menyadarinya.
Lin Dong meringis, tak berani mengeluarkan suara.
Su Yanfen menggenggam ponsel dengan satu tangan, tangan lain mencubit pinggang Lin Dong.
Semua gara-gara Lin Dong!
Kini ia benar-benar mengerti kenapa ayah dan ibu Ning tidak mau Li Zhiyan tahu soal buku harian itu!