Aku yang Awalnya Biasa-biasa Saja Bab Delapan Belas
"Bukankah kamu bilang mereka berdua hanya tahu membicarakan soal teknis?"
"Sebelumnya memang begitu," jawab Lin Yuan dengan nada sungkan, "tapi setelah mendengar topik obrolan mereka malam ini..."
Lin Yuan hanya sempat mendengar bagian awal, lalu ketahuan oleh Li Zhiyan.
Lin Yuan sangat curiga bahwa kedua orang itu adalah kutu buku sejati, yang nantinya akan berubah menjadi gila kerja.
Mungkin justru karena itu, mereka sangat cocok satu sama lain?
Ibu Lin juga dipenuhi tanda tanya.
Namun soal perasaan dan kecocokan memang sulit dijelaskan dengan logika.
Keesokan paginya, Lin Yuan mengantar Li Zhiyan sampai ke gerbang sekolah, lalu membantu membawakan barang-barangnya bersama Lin Ze, setelah itu langsung pergi dengan mobil, hanya meninggalkan satu tatap mata pada Lin Ze.
Lin Ze menemani Li Zhiyan berjalan di jalanan kampus.
Saat itu bertepatan dengan hari kembalinya para mahasiswa, jalanan pun ramai.
Li Zhiyan dan Lin Ze, di tengah keramaian, sama-sama gampang menarik perhatian. Saat mereka berjalan beriringan, bahkan orang-orang yang sedang terburu-buru pun sempat melirik mereka.
Banyak yang menoleh ke belakang.
Lin Ze mengantar Li Zhiyan sampai ke depan asrama.
Tatapan ibu asrama langsung menyapu mereka.
Tatapan itu tajam, cepat berlalu, seolah tidak pernah muncul.
"Kalau begitu... aku pulang dulu," kata Lin Ze sambil menyerahkan koper pada Li Zhiyan.
Ia berbalik, melangkah pergi.
Baru beberapa langkah, ia menoleh ke belakang dan melihat gadis itu berdiri di depan tangga, tersenyum lembut ke arahnya.
Senyuman tipis itu bergetar lembut di hatinya, menimbulkan riak yang tak kunjung reda.
Lin Ze menarik napas panjang, akhirnya mampu melangkah lagi.
Begitu masuk kamar, Li Zhiyan langsung dipeluk dari belakang oleh seseorang yang tertawa-tawa.
"Zhiyan, cepat cerita, siapa cowok yang tadi sama kamu? Ganteng banget, lho!"
Seorang gadis lain yang duduk di kursi mengangkat tangan tinggi-tinggi, "Kayaknya aku pernah lihat! Bukannya dia si jenius dari sebelah, namanya Lin Ze?"
"Hah? Anak sebelah?" Satu lagi melongok dari tempat tidur, "Zhiyan, kamu berkhianat, ya. Katanya kemarin kita pulang bareng, kamu nggak datang, eh sekarang malah cari pacar anak sebelah?"
Li Zhiyan hanya bisa tersenyum kecut, susah payah menenangkan tiga temannya itu.
Soal janjian kemarin yang batal...
Itu memang salahnya, tak bisa membantah, akhirnya harus mentraktir mereka makanan lezat.
Di kampus, gosip memang cepat menyebar.
Seperti isu Li Zhiyan dan Lin Ze yang diduga berpacaran.
Namun, dibanding gosip itu, berita yang lebih cepat mengguncang dua universitas adalah investasi terbaru dari Grup Lin.
Karena melibatkan dua jenius yang sedang jadi bahan rumor, Lin Ze dan Li Zhiyan, kabar investasi di bidang teknologi mutakhir itu dengan cepat menyebar di kedua kampus.
Kecerdasan buatan?
Isu itu sudah beredar bertahun-tahun.
Semua tahu, kemampuan AI saat ini masih terbatas.
Tapi Grup Lin mengklaim bahwa AI yang akan mereka luncurkan bisa sejajar dengan manusia sungguhan?
Lebih mengejutkan lagi, desain AI itu tidak melibatkan pakar industri ternama.
Semuanya dikerjakan oleh dua mahasiswa yang masih kuliah?
Meski kampus mereka kelas dunia, hanya dua mahasiswa S1 saja sudah bisa meraih pencapaian seperti itu?
Banyak yang tidak percaya.
Sampai-sampai aura jenius yang melekat pada mereka berdua pun ikut tercemar.
Menyebut nama mereka, masih ada yang memuji, tapi tak sedikit yang menuduh mereka hanya mengejar nama, terlalu muda dan mengabaikan akademik.
Yang lebih lunak pun menganggap mereka terlalu sombong, cepat atau lambat akan kena batunya.
Ada yang menunggu kegagalan mereka.
Bahkan para investor lain yang biasanya percaya pada naluri investasi Grup Lin, kini memilih menunggu dan melihat.
Apalagi karena ada Lin Ze di dalamnya.
Di dunia maya, berita terkait bermunculan tiada henti, dimulai dari ledakan berita di seluruh internet, lalu setiap dua-tiga hari muncul satu-dua artikel baru.
Li Zhiyan beberapa kali menelpon Ye Ping, meyakinkan agar tenang, barulah Ye Ping jarang menyebut soal itu.
Tapi kadang, dari nada bicara Ye Ping di telepon, Li Zhiyan masih bisa merasakan kekhawatirannya.
Teman sekamar Li Zhiyan juga tidak sepenuhnya percaya, tapi karena tinggal bersama dan saling mengenal, mereka justru lebih khawatir Li Zhiyan tidak kuat menghadapi tekanan publik.
Sebuah badai yang tak kasat mata tengah berkumpul.
Namun dua orang di pusat badai itu justru sangat tenang.
Li Zhiyan tetap melanjutkan tugas pemrograman sesuai rencana, dan di waktu luang mengajak Lin Ze jalan-jalan, sesekali menonton film atau drama baru.
Ketika isu di luar semakin berkembang, akhirnya bahkan Li Zhilang, yang biasanya tak peduli urusan remeh dan kini sibuk memikirkan ujian anaknya, pun membaca berita itu.
Saat pertama kali melihat berita yang muncul di ponselnya, Li Zhilang hampir tak percaya.
Ia membaca berulang-ulang, baru yakin bahwa gadis yang disebut dalam berita itu memang putrinya, bukan orang lain yang kebetulan punya nama sama.
Identitas Lin Ze membuat Li Zhilang makin terkejut.
Dengan pengalaman Li Hua Ye yang pernah berbuat onar, dan ancaman tunjangan dari Li Zhiyan dulu, Li Zhilang sempat berpikir lebih baik menganggap tidak punya anak seperti dia.
Namun setelah membaca berita itu, ia tak tahan lagi.
Ulahlah Li Hua Ye makin menjadi-jadi.
Pernah masuk tahanan pun tak membuatnya jera, malah membuatnya merasa lebih percaya diri di hadapan teman sebaya.
Seolah-olah itu sudah menjadi semacam medali, bukti bahwa ia bukan orang yang gampang diremehkan.
Tapi makin banyak ulahnya, makin besar pula masalah yang harus ditanggung.
Li Zhilang pun makin sulit menutupi semua masalahnya.
Gaji Li Zhilang harus mencukupi kebutuhan keluarga, menutupi kekalahan istrinya di meja judi, dan membayar ganti rugi untuk anaknya.
Ia benar-benar sudah kehabisan uang.
Li Zhilang lalu mengambil keputusan nekat.
Sekarang Li Zhiyan sudah cukup terkenal, bukan?
Ia pun memanfaatkan hal itu untuk mengancam Ye Ping, memaksa Ye Ping memberinya uang!
Li Zhilang bukan orang bodoh.
Ia sadar berita di internet tentang Li Zhiyan banyak yang negatif.
Banyak orang mengejek Li Zhiyan terlalu percaya diri, ingin meraih sesuatu yang mustahil.
Tanpa banyak pikir, Li Zhilang langsung menelepon Ye Ping.
Suara di seberang terdengar sangat tidak sabar.
Li Zhilang menyeringai jahat, "Ye Ping, kau pasti tahu apa yang dilakukan putrimu, bukan—maksudku, putri kita, belakangan ini? Berita-berita di internet itu, kau pasti juga sudah lihat. Gimana kalau aku sebarkan kabar, bilang aku ayahnya, aku bersedia diwawancara, mau membocorkan lebih banyak kisah tentang dia, menurutmu wartawan akan bereaksi bagaimana?"
Ye Ping langsung gemetar.
Wajahnya mendadak pucat.
Meski lewat telepon, Li Zhilang bisa mendengar kecemasan di suaranya.
"Apa sebenarnya maumu?!"
"Mudah saja, kasih aku uang. Kalau tak mau aku bicara buruk tentang dia, kasih aku uang! Tidak banyak, cukup seratus ribu... tidak, satu juta!"
"Li Zhilang, kamu sudah gila!"
Ye Ping hampir menjerit.
"Gila?" Li Zhilang malah semakin puas, "Aku tidak gila. Toh sekarang dia sudah jadi orang terkenal di internet, aku sebagai ayahnya cuma mau bilang yang sebenarnya, cerita ke semua orang, siapa dia sebenarnya."
"Kamu juga jangan harap bisa membeberkan urusan keluargaku, menurutmu aku takut?"
"Aku sudah seperti ini, apa lagi yang perlu kutakutkan?"