Bab Empat Belas: Pertunjukan (Bagian Pertama, Mohon Dukungannya!)
Warna wajah Ying Chengfeng sedikit berubah. Barusan ia masih menerawang, membayangkan cara-cara memperoleh pola Rune Spiritual dan menemukan Batu Segel Spiritual dengan berbagai sifat setelah berhasil masuk sekte. Selama ia bisa menemukan satu saja dan mencatat isi spiritual di dalamnya, maka ia bisa menciptakan kekuatan spiritual serupa tanpa batas di masa depan.
Namun, satu kalimat yang tiba-tiba itu membuat semua harapannya buyar menjadi angan-angan. Untuk mendapatkan semua itu, ia harus bergabung dengan Sekte Jalan Perkakas. Meski pamannya, Ying Lide, juga salah satu murid sekte itu, namun Jia Chengfeng tahu, ia takkan pernah bisa menyentuh hal-hal tersebut.
Untuk mewujudkan impiannya, ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Namun, hanya dengan satu kalimat orang itu, semua keinginannya seolah dibunuh di tempat.
Ia menarik napas dalam-dalam, menekan semua gejolak di hatinya, lalu berkata, "Senior, bagaimana Anda bisa yakin kalau potensi saya sudah habis dan tidak bisa berkembang lagi?"
Suara itu menjawab dengan nada meremehkan, "Hmph, kau memang bisa mencapai tingkat ketujuh Zhenqi di usia muda, andai saja itu karena bakat dan kerja kerasmu, tak masalah. Tapi sayang, kau naik tingkat karena menelan pil. Pil memang bisa menambah Zhenqi, tapi pil yang membuatmu naik tingkatan itu, jika diberikan pada murid lain, pasti bisa menghasilkan dua atau bahkan lebih pendekar setingkatmu. Sekte ini memang kaya, tapi tidak akan menyia-nyiakan pil berharga padamu. Lebih baik kau pergi saja."
Wajah Ying Chengfeng menjadi semakin suram, "Senior, tak adakah jalan keluar lain lagi?"
"Hmph, selama aku yang memimpin, aku tidak akan membiarkan penipu sepertimu masuk ke sekte ini. Cepat pergi, atau aku sendiri yang akan mengusirmu!"
Wajah Ying Chengfeng makin kelam. Sejak ia terlahir kembali, belum pernah ada yang memperlakukannya dengan sikap seburuk ini. Di saat itu, hawa membunuh yang ganas membuncah dari hatinya.
Namun, tepat sebelum hawa itu meledak, ia memaksakan diri menahannya.
Ia teringat pesan pamannya, Ying Lide, sebelumnya.
Menurut Ying Lide, saat menjalani ujian potensi, ia harus berusaha tampil seburuk mungkin, agar tereliminasi.
Walau sekarang ia dipenuhi amarah karena sikap orang itu, namun mengingat pesan pamannya, ia hanya mendengus pelan, berbalik, dan segera meninggalkan tempat itu.
Begitu ia pergi, dua pria paruh baya muncul.
Salah satunya mengerutkan dahi, "Zhang, meski anak itu naik tingkat dengan pil, tapi cahaya meditasi tadi menunjukkan ia masih punya potensi untuk dibina. Bukankah terlalu keras mengusirnya begitu saja..."
Orang satunya menggeleng, "Xu, aku tanya padamu. Cahaya meditasi menunjukkan bakat anak itu biasa saja, benar?"
"Benar."
"Lalu, jika pil yang sama diberikan pada yang lain, berapa pendekar setingkat yang bisa dihasilkan?"
Pria yang pertama berbicara ragu sejenak, lalu menggeleng, tak lagi membantah. Dalam hati ia bergumam, jika saja Ying Chengfeng bukan berasal dari garis keturunan itu, pasti kau takkan sekeras ini menolaknya.
XXXX
Ying Chengfeng berjalan keluar dengan langkah lebar. Begitu meninggalkan aula, ia berpapasan dengan beberapa orang, di antaranya Zhou Zhi dan Wang Chao.
Mereka semua terkejut saat bertemu.
Zhou Zhi melirik, "Ying, kau lolos ujian?"
Ying Chengfeng mendengus, "Orang di dalam bilang potensi saya sudah habis, tidak boleh masuk sekte." Ia sama sekali tidak menutupi, bahkan jelas-jelas menunjukkan ketidakpuasannya.
Mereka semua saling pandang. Selain Zhou Zhi dan Wang Chao, yang lain tampak sangat terkejut.
Mereka tahu betul betapa hebatnya Ying Chengfeng, terutama setelah duel dengan Liang Chen. Mereka sadar, andai berada di posisi yang sama, belum tentu mereka bisa menang.
Sebagai orang pertama yang masuk ujian ketiga, mereka semua yakin Ying Chengfeng pasti diterima di Sekte Jalan Perkakas. Tak disangka, ia kembali secepat itu dengan kabar buruk.
Keyakinan mereka pun mulai goyah.
Bahkan bakat sekelas Ying Chengfeng saja ditolak, apalagi mereka...
Ying Chengfeng hanya membungkuk singkat kepada mereka, lalu melanjutkan langkahnya.
Zhou Zhi memandangi punggungnya, tersenyum dingin, "Dasar, hanya mengandalkan pil untuk naik tingkat. Kalau benar para tetua menerimanya, itu akan jadi aib buat kami semua."
Wang Chao mengangguk setuju, sementara yang lain diam saja.
Namun, dalam hati mereka berpikir, kalau saja punya banyak pil, pasti mereka juga akan menelan tanpa ragu.
Ucapan Zhou Zhi pun hanya dianggap karena iri hati.
Ying Chengfeng melangkah masuk ke aula kedua.
Di dalam, suara teriakan dan pukulan bersahut-sahutan. Di atas sepuluh arena bundar, para pendekar bertarung sengit. Semua yang bertanding sudah di atas tingkat ketujuh Zhenqi, dan masing-masing menguasai teknik bertarung khusus.
Mereka semua mengerahkan kemampuan terbaiknya, bertarung sengit di atas arena. Ying Chengfeng segera paham, saat ia mengikuti ujian ketiga, Zhou Zhi dan yang lain sudah memenangkan duel mereka dan berhak masuk ke aula ketiga.
"Haaah..."
Tiba-tiba seorang petarung bebas di salah satu arena didesak mundur hingga jatuh. Pemenangnya tampak sangat gembira, kedua tinjunya mengepal erat, matanya memancarkan kegembiraan luar biasa.
Dari kursi tinggi, Tetua Cheng mengangguk puas. Walau belum menemukan pewaris bakat spiritual, pendekar-pendekar bebas dari seluruh penjuru negeri yang datang bulan ini cukup tangguh. Jika beberapa dari mereka direkrut, mungkin sepuluh tahun lagi sekte ini akan punya beberapa tetua baru.
Pandangan Tetua Cheng berkeliling. Tiba-tiba alisnya terangkat, tampak sedikit heran.
Pemuda yang pertama mengalahkan Liang Chen dan berhak masuk ujian ketiga itu keluar dengan wajah tak puas. Melihat ekspresinya, jelas ia sangat kecewa.
"Tunggu," seru Tetua Cheng dengan suara berat, "kenapa kau keluar?"
Ying Chengfeng berhenti, menjawab dengan nada kesal, "Tetua Cheng, saya ditolak di pintu gerbang, terpaksa pulang."
Kening Tetua Cheng berkerut. Dalam hati ia berkata, benar saja, pemuda ini masih polos, suka atau duka semua tampak di wajahnya. Dan dari sikapnya, tampaknya ia benar-benar sangat jengkel.
"Jadi kau tidak lolos ujian ketiga?" tanya Tetua Cheng.
Chengfeng menumpahkan semua kekesalannya, meski sebagian besar hanya sandiwara, "Tetua Cheng, maaf, saya mengecewakan Anda."
Tetua Cheng sempat tertegun, wajahnya pun berubah suram.
Sebelum Ying Chengfeng masuk, ia sempat berkata bahwa pemuda itu pasti akan lolos. Kini, ucapannya baru saja berlalu, tapi Ying Chengfeng sudah diusir keluar. Bukankah ini sama saja mempermalukannya di depan umum?
Ia mendengus kesal, "Katakan, kenapa kau ditolak?"
Ying Chengfeng menjawab dengan tak puas, "Mereka bilang Zhenqi saya naik karena pil, karena itu saya tidak diterima."
"Keterlaluan!" Tetua Cheng menahan marah, "Sungguh keterlaluan. Kita para pendekar, siapa yang tak pernah menelan pil? Mana mungkin hanya karena itu..."
Ucapan Tetua Cheng terhenti, seolah baru teringat sesuatu.
Pemuda ini sebelumnya bertarung dengan Liang Chen, dan meski mereka tak mengatakan gamblang, dari pengalamannya, Tetua Cheng tahu pasti ada perselisihan di antara mereka.
Dan yang menguji di babak ketiga adalah tetua dari garis Zhang di Kota Tianwu. Jangan-jangan...
Tetua Cheng melambaikan tangan, "Tunggu di sini, aku akan tanyakan langsung."
Ying Chengfeng membungkuk dalam-dalam, "Terima kasih, Tetua Cheng, atas keadilan Anda. Tapi tadi senior itu bilang, selama dia memimpin ujian, tak akan membiarkan penipu seperti saya masuk sekte." Ia terdiam sejenak, lalu berkata penuh kesal, "Saya memang tak berbakat, setelah diperlakukan begini, mana mungkin saya punya muka untuk tetap di sini?"
Selesai bicara, ia kembali membungkuk dalam, lalu berbalik pergi.
Wajah Tetua Cheng menampakkan amarah. Ia sendiri pernah melihat Ying Chengfeng bertarung. Meski Zhenqi pemuda itu biasa saja, namun naluri dan bakat bertarungnya sangat luar biasa.
Meski pertarungan dengan Liang Chen singkat, tapi dengan ketajaman mata, Tetua Cheng sudah melihat keunggulan anak itu.
Ying Chengfeng mampu mengendalikan seluruh situasi dengan sangat baik, matanya juga sangat tajam. Teknik tubuh aneh Liang Chen sama sekali tidak mampu membingungkannya. Meskipun tingkat Zhenqi-nya kalah satu tingkat, ia tetap bisa menang dengan berbagai cara.
Orang seperti ini, kalau dibina dengan benar, kelak pasti jadi pendekar hebat yang melampaui rekan seangkatannya.
Ia ingin Ying Chengfeng masuk sekte lalu menemuinya di balai hukum, memang demi membina pemuda itu.
Tak disangka, akhirnya justru begini. Lebih parah lagi, sifat Ying Chengfeng sangat keras, setelah dihina, ia lebih baik tidak masuk sekte daripada harus menahan malu.
Ia mendengus marah, lalu memerintah, "Cari tahu siapa anak itu. Setelah semua ujian selesai, aku sendiri yang akan mengambilnya jadi murid. Hmph, aku ingin tahu, siapa yang berani menghalangiku!"
Orang-orang di belakangnya mengiyakan dengan penuh hormat. Dalam hati, mereka semua iri pada keberuntungan anak itu.
Belum resmi masuk sekte, sudah dapat pelindung sehebat itu.
Ying Chengfeng sendiri tak tahu apa yang terjadi di belakangnya. Dengan penuh amarah ia keluar dari aula, lalu kembali ke pelataran di lereng gunung.
Sesampainya di sana, ia tertegun sejenak.
Lapangan yang tadinya kosong kini kembali ramai, entah sejak kapan. Orang-orang yang sebelumnya diusir Tetua Feng Kuang berkumpul kembali.
Zhang Chunxiao menghampiri dengan senyum ramah, "Adik, cepat sekali kau keluar. Apa kau berhasil?"
Ying Chengfeng menggeleng dengan wajah muram, "Tidak. Aku diusir. Hmph, ayo kita turun gunung. Seumur hidup aku takkan naik gunung lagi."
"Apa? Kau diusir?" Mendadak, dua suara berbeda hampir bersamaan terdengar.
Selain Zhang Chunxiao, ternyata Feng Kuang sudah berada di belakangnya tanpa ia sadari.
Bab pertama hari ini hadir, persaingan tiket bulanan masih ketat, posisinya pun terombang-ambing.
Peringkat enam belas, jika naik satu lagi masuk lima belas besar. Lima belas lebih terdengar keren dari enam belas, saudara-saudara, bantu Bai He agar tetap di puncak...!