Hadiah untuk Juara Pertandingan
Namun, Han Yu telah melupakan satu hal yang sangat penting. Yaitu, bahkan jika Tuan Muda Duanmu Yue tidak berada di sini, tatapan Bai Rong tidak pernah tertuju kepadanya. Terlepas dari ada atau tidaknya Tuan Muda Duanmu Yue, tatapan Bai Rong tidak akan pernah jatuh pada Han Yu.
Menurut kata-kata Bai Rong sendiri, mengarahkan pandangannya kepada Han Yu sama saja dengan menghina matanya. Jika memungkinkan, ia benar-benar ingin tidak pernah lagi melihat wajah Han Yu yang membengkak itu.
"Sekarang, Tuan Muda sudah tiba. Hadiah untuk peringkat pertama kompetisi sudah bisa diberikan kepada Tuan Muda, kan?" Duanmu Yue sama sekali tidak memasukkan perkataan Tuan Wali Kota ke dalam hatinya.
Ia hanya melirik sekilas ke arah tubuh Tuan Wali Kota yang sangat gemuk itu, lalu mengalihkan pandangannya kepada lelaki tua Duan Tianya.
Bukannya Duanmu Yue lebih menghargai Duan Tianya selaku ketua Asosiasi Alkimia daripada Tuan Wali Kota Han Yu. Hanya saja, di dalam lubuk hati Tuan Muda Duanmu Yue, mereka berdua sama saja. Satu-satunya perbedaan adalah, tatapan pria tua gemuk Han Yu terhadap Tuan Muda terasa terlalu membara.
Tuan Muda telah menyatakan isi hatinya lebih dari sekali bahwa orientasi seksualnya sangat normal.
Oleh karena itu, paman yang gemuk tetap tidak akan mampu menarik perhatian Tuan Muda dibandingkan dengan paman yang memiliki bentuk tubuh ideal.
"Hadiah?" Duanmu Yue mendengar ucapan Duan Tianya dan sedikit mengerutkan keningnya. Jelas sekali, ia tidak menyangka pemuda bernama Duanmu Yue ini akan bersikap begitu tenang. Tanpa ada keberatan sama sekali terhadap ucapan Han Yu?
Ini sangat tidak normal, sungguh tidak normal. Sepasang mata Duan Tianya menatap lurus ke arah Duanmu Yue, sangat ingin membelah tempurung kepala anak muda itu untuk melihat isi apa saja yang tersimpan di dalamnya.
Apakah anak ini pantas disebut sebagai seorang remaja belasan tahun?
Begitu mendengar perkataan Duanmu Yue, Duan Tianya tidak berniat untuk langsung menjawabnya. Ia justru menatap wajah muda Duanmu Yue dan mengamamatinya lekat-lekat.
Namun, reaksi Yi Lao justru sangat bertolak belakang dengan sikap Duanmu Yue. Orang tua itu sudah menantikan saat-saat ini, menunggu Duanmu Yue mengucapkan kalimat tersebut.
Begitu membayangkan hadiah yang menjadi hak juara pertama, hati lelaki tua itu langsung membara. Menurut pandangan Yi Shuihan, benda itu jatuh ke tangan Duanmu Yue adalah akhir cerita yang paling sempurna.
Sebab ia tahu, pemuda di hadapannya ini pasti akan...
"Benar, hadiah! Tianya, cepat keluarkan hadiahnya dan berikan kepada Xiao Yue." Yi Lao berkata sambil tersenyum lebar. Dari permukaannya saja sudah terlihat jelas bahwa suasana hati lelaki tua itu sedang sangat baik.
Sejak kemunculan Duanmu Yue, Duan Tianya dan yang lainnya menyadari satu hal. Frekuensi Yi Lao tersenyum jauh lebih banyak dibandingkan sebelumnya.
Meskipun Yi Lao dulunya bukan orang yang selalu memasang wajah masam, ia tidak pernah tersenyum selebar bunga seruni sepanjang hari seperti sekarang. Bunga seruni tua yang sangat mencolok.
Sebagai ketua Asosiasi Alkimia, Duan Tianya merasa ingin memutar bola matanya mendengar ucapan Yi Lao. Duan Tianya melirik ke arah Yi Lao dengan tatapan sedikit meremehkan. Ia tidak habis pikir, mengapa Yi Lao belakangan ini tampak seperti orang yang berbeda, begitu bersikap antusias seolah baru saja menelan stimulan setiap kali menghadapi urusan bocah di depannya ini. Lihat saja senyuman di wajahnya itu...
"Yan-er, pergilah dan ambil hadiah anak ini." Duan Tianya berpesan ke samping. Mendengar suara Duan Tianya, Duanmu Yue baru menyadari bahwa ternyata masih ada seorang pemuda di tempat ini.
Duan Yan, satu-satunya putra Duan Tianya. Meskipun di dalam hatinya Duanmu Yue memanggil Duan Tianya dengan sebutan orang tua, usia Duan Tianya sebenarnya baru menginjak empat puluhan. Sebutan yang paling tepat bagi Duanmu Yue adalah memanggilnya paman.
Terlebih lagi yang paling penting, karena Duan Tianya menjabat sebagai ketua Asosiasi Alkimia dan dirinya sendiri adalah seorang alkemis, penampilan paman ini masih terlihat sangat awet muda. Meskipun tidak setampan dan segagah Duanmu Xiaotian, parasnya tetap tergolong di atas rata-rata.
Namun, orang dengan profil seperti itu justru dipanggil sebagai lelaki tua di dalam hati Tuan Muda Duanmu Yue. Sungguh sebuah kenyataan yang...
Usai Duan Tianya memberikan instruksi, pemuda yang dipanggil 'Yan-er' itu tidak butuh waktu lama untuk kembali ke dalam ruangan. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak giok. Melihatnya, Duanmu Yue membatin di dalam hati bahwa benda yang tersimpan di dalam kotak itu pastilah bahan ramuan tingkat empat yang menjadi hadiah tersebut.
Anehnya, setelah dipikir-pikir oleh Tuan Muda Duanmu Yue, ia ternyata tidak tahu menahu mengenai wujud bahan ramuan tingkat empat yang akan diberikan kepadanya sebagai hadiah itu...
Pikiran tersebut membuat rona wajah Duanmu Yue menyiratkan ketidakberdayaan. Sebenarnya, pada hari-hari ketika ia sedang memulihkan diri dari cedera, Tuan Muda sempat mengusulkan agar ketujuh orang tua itu mengirimkan saja hadiah tersebut ke tempatnya.
Satu-satunya kerumitan hanyalah meminta mereka mengutus seseorang untuk mengantarkannya ke rumah singgah tempat Tuan Muda tinggal. Tentu saja, jika mereka enggan direpotkan, Chu Tianjie bahkan sudah menawarkan diri secara sukarela.
Kendati demikian, di luar dugaan Duanmu Yue, usulan tersebut justru mendapat penolakan serempak dari ketujuh orang itu. Baik Yi Lao maupun Bai Rong, tak seorang pun dari mereka yang menyetujuinya.
Tentu saja, masing-masing memiliki alasan tersendiri. Ambil contoh Bai Rong, ia khawatir jika Duanmu Yue menerima hadiah juara pertama kompetisi alkemis secara langsung, kegirangan yang teramat sangat justru akan menunda proses penyembuhan cederanya.
Yi Lao pun memiliki kekhawatirannya sendiri.
Selain mereka berdua, ada pula Tuan Wali Kota dan sang ketua asosiasi yang mencemaskan kemungkinan terburuk: bagaimana jika bocah bernama Duanmu Yue itu lari begitu saja setelah menikmati keuntungan tersebut?
Ke mana lagi mereka harus mencari sosok jenius aneh yang setara? Duanmu Yue adalah permata di mata mereka, jadi mereka sama sekali tidak boleh memberi celah apa pun kepada anak itu!
Bahkan kehilangan sedetik saja tidak boleh...
Oleh karena itu, pendirian akhir mereka adalah ketujuh orang tua tersebut sepakat untuk menunggu hingga Tuan Muda benar-benar pulih sebelum menyerahkan hadiah yang menjadi haknya.
Begitulah, di tengah hari-hari tanpa ketergesaan bagi Tuan Muda Duanmu Yue, ketujuh orang tua itu akhirnya berhasil menantikan kedatangan Tuan Muda Duanmu Yue.
Di tangan Duan Yan, selain kotak giok yang paling mencolok dan berukuran paling besar, terdapat pula sebuah kotak kayu berukuran hanya sekitar lima sentimeter. Kotak kayu itu tampak sangat kasar, sekilas saja sudah bisa ditebak bahwa isi di dalamnya bukanlah barang berharga.
Di sisi kotak kayu tersebut, terselip pula sebuah botol giok berkualitas tinggi. Botol giok itu memancarkan warna hijau giok yang tampak tembus pandang dan jernih. Jika saja ada seberkas cahaya matahari yang menembus masuk ke dalam ruangan saat itu, orang pasti akan melihat cahaya matahari yang membentur botol giok tersebut memantulkan pendar pelangi warna-warni.
"Saudara Duanmu, inilah hadiah yang didapatkan Duanmu Yue atas kemenangannya dalam kompetisi." Ucap Duan Yan seraya menyerahkan ketiga kotak di tangannya kepada Duanmu Yue. Sepasang matanya memancarkan secercah rasa iri yang samar.
Tatapan iri Duan Yan sama sekali tidak ditutup-tutupi, justru terlihat begitu wajar. Saat ia mengangkat pandangannya menatap Duanmu Yue, matanya memancarkan ketulusan doa.
Dari gerak-geriknya saja sudah bisa ditebak bahwa orang seperti ini tidak pernah memaksakan sesuatu dalam hidupnya. Duanmu Yue hanya menatap Duan Yan sekilas tanpa langsung menerima uluran benda-benda tersebut dari tangannya.
"Saudara Duanmu, jika kau tidak menginginkan hadiah ini, maka Saudara Duan yang akan mengambilnya." Sadar bahwa Duanmu Yue sedari tadi sedang mengamamatinya, Duan Yan berkata sambil berseloroh. Dari awal hingga akhir, senyuman di wajah pemuda itu tetap tenang, menghadirkan kesan yang menyejukkan hati siapa saja yang memandangnya.
Sudut bibirnya terangkat tipis, Duanmu Yue secara refleks mengusap bulu halus Xiao Xue di dekapannya. "Jika Saudara Duan menginginkannya, ingatlah untuk ikut berpartisipasi dalam kompetisi berikutnya."
Duanmu Yue menerima ketiga kotak yang diserahkan oleh Duan Yan. Begitu berada di genggamannya, selain kotak terbesar yang diabaikannya, Xiao Xue justru menjadi yang paling sigap melompat keluar. Cakar-cakar kecilnya langsung menyambar kotak kayu terlebih dahulu. Entah mengapa, Tuan Mink selalu merasa bahwa benda di dalam kotak tersebut tidak biasa. Setelah Tuan Mink memilih kotak kayu, Si Kadal Kecil pun hanya memiliki pilihan untuk menyambar botol giok berwarna hijau giok tersebut.
Berbagi beban untuk tuannya adalah kewajiban yang seharusnya ditunaikan oleh para makhluk buas piaraan. Sebab di dalam benak mereka berdua terbesit satu pikiran yang sama.
Yaitu, sejak detik tuan mereka memegang kotak giok tersebut, lubuk hati Tuan Muda dipenuhi oleh gejolak kegirangan...
Bahan ramuan tingkat empat, itu adalah bahan ramuan tingkat empat...
Begitu pikiran tersebut melintas di benak Duanmu Yue, kedua matanya hampir berubah menjadi bentuk bintang. Menandakan bahwa suasana hati Tuan Muda saat ini sedang sangat bagus.
Kotak giok dibuka, di dalamnya bersemayam sebuah buah dengan tiga warna. Permukaan buah tersebut terbagi merata oleh warna biru, hijau, dan kuning, masing-masing menguasai sepertiga bagian.
Tidak hanya itu, keajaiban paling menakjubkan dari buah ini terletak pada keberadaan lambang tersendiri di atas setiap warna tersebut. Pada bagian berwarna biru, terdapat corak menyerupai bunga teratai, sementara di bagian berwarna hijau terdapat tanaman yang menyerupai tumbuhan merambat. Adapun bagian berwarna kuning adalah yang paling menakjubkan, karena coraknya sangat mirip dengan sepasang mata.
Melihat sepasang mata itu, Duanmu Yue sedikit mengerutkan keningnya. Sebab, bagaimana pun Tuan Muda memandangnya, sepasang mata tersebut terasa begitu mirip dengan... benda yang berada di dalam Dantian Tuan Muda.
Hanya saja, satu-satunya perbedaan terletak pada gradasi warnanya.
"Buah Pembakar Bunga Dewa Langit Tiga Warna, bahan ramuan tingkat empat. Saudara Duanmu sungguh sangat beruntung, buah semacam ini bahkan tidak mampu kudapatkan meski aku mencarinya." Duanmu Yue menatap buah tiga warna di dalam kotak giok tersebut seraya menghela napas kagum.
Harus diketahui bahwa ia sudah lama mengincar Buah Pembakar Bunga Dewa Langit Tiga Warna ini. Sayang sekali, sebelum ia memiliki kemampuan untuk mendapatkannya, buah itu kadung menjadi milik orang lain.
Duan Yan menatap Duanmu Yue yang berada di hadapannya, merasakan gejolak rasa yang sulit diungkapkan di dalam hatinya.
Usia Duan Yan saat ini tujuh belas tahun. Mungkin ini adalah kesialannya, atau mungkin karena ia terlalu pandai memilih waktu. Tepat sehari sebelum Asosiasi Alkimia mengumumkan bahwa kompetisi akan digelar tiga hari kemudian, pemuda itu justru kabur dari rumah dengan penuh semangat.
Justru pelarian dari rumah itulah yang membuat Duan Yan kehilangan kesempatan untuk ikut serta dalam kompetisi alkemis kali ini. Jika tidak, ia pasti mampu...
Tentu saja, dengan asumsi Tuan Muda Duanmu Yue dan Jun Yueli tidak ikut ambil bagian.
********
Hihi, hari ini minimal ada dua bab ya...