Pil Seribu Ilusi
Hasil seperti ini hanya membawa satu kemungkinan, yaitu barang berharga itu memang sudah ia dapatkan. Namun, barang itu hanya boleh dipandang dari jauh dan tak boleh disentuh apalagi dipermainkan. Bisa melihatnya saja sudah jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Dengan hasil seperti ini pun, Tuan Kecil Duanmu Yue tetap merasa senang.
Toh, barang berharga sudah berada di tangan, tak perlu khawatir kehabisan cara untuk menaklukkannya. Tuan Kecil tak percaya ia tak bisa menghapus kekuatan spiritual yang menempel pada cermin itu. Paling tidak ia hanya perlu menunggu sampai orang tua dari keluarga Gongyang itu mati. Nanti, hmph...
Senyum merekah di wajah Duanmu Yue.
Duanmu Yue dan Xiaoxue kembali menggeledah tubuh Gongyang Yu dari atas sampai bawah. Setelah memastikan semua barang berguna sudah diambil, Xiaoxue langsung menghanguskan tubuh Gongyang Yu dengan sejumput Api Sejati Tiga Warna.
Menghilangkan jejak dan menghancurkan mayat, siapa yang tak bisa?
Peristiwa Gongyang Yu ini kembali membuang waktu Tuan Kecil tak sedikit. Namun, waktu sebanyak itu tak ada artinya dibandingkan dengan mendapatkan alat ilusi tingkat tertinggi.
Dari Hutan Arwah menuju keluarga Duanmu, perjalanan kali ini hanya memakan waktu lima hari. Lima hari kemudian, Duanmu Yue sudah tiba di kediaman keluarga Duanmu.
Namun, melihat kediaman keluarga Duanmu yang sepi melompong, Tuan Kecil Duanmu Yue mengerutkan kening. Mana orang-orangnya? Sudah lama ia pergi, kenapa tak bertemu satu orang pun?
Sejak kapan keluarga Duanmu jadi begitu kekurangan orang? Bertemu satu saja sudah seperti kemewahan.
“Ayah, Kakak?” Duanmu Yue bergegas menuju paviliun tempat mereka biasa berada. Tapi kosong, tak ada siapa pun.
Kali ini, wajah Duanmu Yue langsung berubah muram. Apakah sesuatu yang besar telah terjadi di dalam keluarga?
“Sialan, siapa kau, kenapa masih berkeliaran di sini? Semua orang sudah pergi ke Hutan Arwah untuk mencari...” Kata ‘cari’ baru saja terucap, ketika Duanmu Yilei mendongak dan melihat gumpalan putih di pundak bocah ini, serta wajah muda yang menoleh ke arahnya, ekspresi di wajah keras itu pun membeku.
“Paman, mereka semua pergi mencari apa? Ayah dan Kakak juga?” Cari apa sampai-sampai hampir seluruh keluarga harus turun tangan. Tak takut kalau ada yang menyerang tiba-tiba? Kalau markas keluarga Duanmu direbut, yang pergi ke Hutan Arwah pun percuma kembali. Pulang pun tak ada artinya lagi.
Tuan Kecil Duanmu Yue cemberut, jelas-jelas ia tak setuju pada cara seperti ini. Terlalu berbahaya.
“Yue’er, kau tidak apa-apa? Syukurlah, syukurlah!” Duanmu Yilei bagaikan angin langsung berada di depan Duanmu Yue. Ia memegang bahu bocah itu dan memeriksa dengan seksama menggunakan kekuatan sihir. Setelah yakin Duanmu Yue tak terluka, dan bahkan tampak segar bugar, ia pun lega.
Baru saja dari Hutan Arwah, kenapa bocah ini seperti baru pulang jalan-jalan sore saja.
Kalau bukan karena lencana hidup bocah ini masih penuh retakan, mereka pasti mengira semua itu hanya mimpi.
“Syukurlah kau sudah kembali. Perjalanan ke Hutan Arwah kali ini benar-benar membuat kakekmu ketakutan. Tiap hari menatap lencana hidupmu, takut kalau-kalau hancur detik berikutnya.” Duanmu Yilei menepuk punggung Duanmu Yue, nada suaranya penuh kelegaan dan sedikit kekhawatiran.
“Lencana hidup?” Duanmu Yue berbisik pelan. Ia tahu apa itu lencana hidup. Jadi si kakek itu tiap hari menatap lencana hidupnya?
Duanmu Yue tahu betul, jika lencana itu hancur, artinya...
“Orang tua itu...” Membayangkan wajah kakeknya yang selalu tampak garang dan serius, tersungging senyum hangat di wajah muda itu.
“Hmph! ‘Orang tua’ katanya?”
Sebuah suara kencang memecah keheningan, Duanmu Batian tiba-tiba sudah berdiri di belakang Duanmu Yue. Mendengar sebutan itu, wajah sang kepala keluarga jelas tak senang. “Tidak tahu sopan santun. Sungguh bocah nakal yang pantas dihajar.”
Selesai bicara, wajah tua itu masih cemberut. Sepasang matanya yang tajam menatap tajam cucu kecilnya yang sering membuatnya marah. Cucunya yang tidak tahu balas budi!
Duanmu Yue ditatap seperti itu sampai merinding. “Kakek...” panggilnya manis, dengan tulus dan hangat.
Namun, Duanmu Batian tak tergerak sedikit pun. Ia tetap menatap bocah itu dengan kedua matanya yang tajam, seolah ingin membuat bocah itu ciut nyali. Bocah nakal ini, benar-benar keterlaluan, terlalu berani, terlalu tak tahu aturan!
Andai Duanmu Yue mendengar isi hati kakeknya, pasti ia akan mengeluh sejadi-jadinya. Kakek, mana ada aku tak tahu aturan, mana ada aku tak sopan, mana ada aku keterlaluan...
Tuan Kecil hanya pergi ke Hutan Arwah sekali, memetik beberapa ramuan saja. Lagipula, ia hanya berkeliaran di pinggiran, tak ada bahaya sama sekali. Lagi pula, ia pergi sendiri, dan ditemani monster peliharaan pula.
Tenang saja, tenang...
Tapi, mana mungkin ia menyadari di mata orang lain, ia hanya seorang penyihir muda pemula yang bisa diinjak mati hanya dengan sekali hentak kaki. Apalagi, ia baru berusia tiga belas tahun, makin terlihat lemah.
Karena kembalinya Duanmu Yue, semua anggota keluarga Duanmu yang dikirim ke Hutan Arwah pun dipanggil pulang. Meski masing-masing memendam kekesalan, tapi apa boleh buat? Selama masih ada si kakek penentu segalanya, siapa yang berani protes?
Semua hanya bisa marah dalam hati.
Tapi, begitulah kenyataannya. Siapa suruh cucu yang satu ini begitu penting di mata si kakek?
Selama Duanmu Yue menghilang, suasana keluarga Duanmu seperti diselimuti aura amarah yang pekat. Hal kecil saja bisa membuat kakek yang galak itu memarahi habis-habisan. Tatapan matanya saja bisa membuat orang ketakutan setengah mati.
Lebih baik disuruh pergi mencari orang daripada harus menghadapi tatapan ‘menghancurkan’ itu.
Tatapan ‘menghancurkan’ macam itu hanya bisa ditahan oleh Tuan Kecil Duanmu Yue, sebab ia memang punya mental baja dan dari dalam hati memang tak takut pada kakeknya.
Lagi pula, ia juga tak percaya kakeknya akan membunuhnya tanpa alasan.
Mungkin, Duanmu Batian benar-benar marah. Sejak Duanmu Yue pulang, ia tak lagi menggubris cucunya itu dan langsung menutup diri dalam latihan. Duanmu Yue pun sempat heran, bahkan menduga kakeknya mungkin sampai sakit gara-gara kejadian itu.
Kalau tidak, kenapa tiba-tiba mengurung diri?
Tak salah juga ia berpikir begitu. Sejak ia datang ke keluarga Duanmu, si kakek tak pernah mengurung diri. Sehari-hari selalu bermuka masam, seolah tak pernah puas pada cucunya. Bahkan, kalau sedang tak ada kerjaan, ia selalu memaksa cucunya berlatih ilmu sihir dan bela diri, bahkan turun tangan sendiri membangunkannya tiap pagi.
Tapi, bagus juga kakek mengurung diri. Tuan Kecil Duanmu Yue akhirnya punya waktu untuk meracik pil obat. Dua butir pil terakhir miliknya sudah ia telan sekaligus.
Mengatupkan bibir, Duanmu Yue sedikit mengernyit. Meskipun di dalam hati sedikit menyesal, tapi tak apa-apa. Setidaknya, pil itu menyelamatkan nyawanya. Kalau nyawa saja tak ada, buat apa pil?
Lagi pula, pil bisa dibuat lagi. Nyawa hilang, tak ada tabib sehebat apa pun yang bisa mengembalikannya.
Belakangan, Duanmu Yichen dan Duanmu Xiaotian juga tampak sibuk, sehingga tak ada yang mengganggu Duanmu Yue. Alhasil, Tuan Kecil pun bekerja keras siang malam, dan semua ‘Anggrek Bulan Hijau’ di tangannya sudah diolah menjadi pil.
Pil Pemulih, tiga puluh butir penuh.
Di dalam kamar, Duanmu Yue tergeletak di ranjang tanpa peduli penampilan. Tiga hari tiga malam ia menahan lelah, kini ia memeluk erat tiga botol kecil porselen di dada, dan bibirnya melengkung senyum puas.
Akhirnya ia bisa tidur nyenyak. Setelah istirahat semalam, Tuan Kecil pun memutuskan akan mencoba meracik ‘Pil Seribu Ilusi’. Hm, membayangkan pil itu saja sudah membuatnya bersemangat.
Itu pil wajib bagi siapa pun yang ingin berbuat licik.
Ia yakin, begitu ‘Pil Seribu Ilusi’ beredar di pasar, pasti langsung meledak. Tapi, di mana harus menjualnya?
Pasar gelap? Atau rumah lelang?
Duanmu Yue mengernyit. Bukan karena berpikiran gelap, tapi karena efek ‘Pil Seribu Ilusi’ itu... Kalau dilelang secara terang-terangan, bukankah bisa membuat keluarga besar lain merasa terganggu?
Bagaimanapun, kalau pil itu jatuh ke tangan orang jahat, ah... membayangkan saja wajah Duanmu Yue sudah memerah. Sepertinya, orang yang ingin pil itu memang tak ada yang bermaksud baik.
Maklum, pil itu memang alat utama untuk berbuat jahat. Kalau bukan untuk balas dendam, mengapa ingin berubah wajah menjadi orang lain? Tidak puas dengan wajah sendiri?
Di Benua Sayap Langit ini, rupa bukanlah segalanya. Yang penting adalah kekuatan dan kemampuan. Selama kau cukup kuat, walau wajahmu buruk, orang tetap akan memujamu.
Di sini, segalanya ditentukan oleh kekuatan.
Jadi, mereka yang membeli pil itu pasti ingin balas dendam atau menjerumuskan orang lain.
Semakin dipikir, Duanmu Yue merasa pil itu benar-benar ‘tak berguna’. Orang yang menciptakan resep pil ini pasti orang tak bermoral. Dulu ia pasti ingin balas dendam, tapi kekuatannya tidak cukup. Maka terciptalah pil ini agar ia leluasa beraksi.
Cukup berubah menjadi orang yang paling berarti bagi target, lalu lakukan sesuka hati. Tak perlu takut akan membunuh terlalu kejam.
Wah, benar-benar licik.