Siapa
"Yue-di, kau..." Jun Yueli menatap Dumu Yue, kepedihan memenuhi dasar matanya. Dia bahkan tidak tahu di mana letak kesalahannya, mengapa Yue-di tiba-tiba berubah menjadi seperti ini...
Jika dia tahu bahwa semua ini terjadi karena dia telah memberikan posisi pertama kepada Dumu Yue, karena hasil dari pertarungan terakhir inilah penyebabnya, entah apakah dia akan diliputi penyesalan yang mendalam.
Namun, dia, Jun Yueli, sudah kehilangan kesempatan untuk memilih. Sebab, pada detik ini, dia tidak akan pernah tahu mengapa Dumu Yue memperlakukannya seperti itu.
Melihat tidak ada hal terjadi di antara Dumu Yue dan Chu Tianjie, bahkan keduanya tampak bercakap-cakap sambil tersenyum.
Padahal, Dumu Yue dan Chu Tianjie hanya mengobrol ala kadarnya saja. Tetapi, pada saat ini, Jun Yueli justru melihatnya sebagai kebersamaan yang penuh gelak tawa. Sungguh terlihat betapa besar pukulan mental yang telah dideritanya.
Mendengar perkataan Jun Yueli, Dumu Yue hanya meliriknya sekilas. Menyadari pria itu tidak berniat melanjutkan kata-katanya, dia pun mengalihkan pandangannya.
Dia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Intinya, di lubuk hatinya, dia terus-menerus merasa tidak bisa menerima dan terus memikirkan masalah itu. Pandangannya terhadap Jun Yueli pun menjadi semakin dingin dan kaku.
"Paman Kedua, ayo kita pergi." Mereka sudah berjalan sejauh tiga meter, tetapi Dumu Yi Xue masih berdiri mematung di tempatnya. Menyaksikan pemandangan itu, Dumu Yue mengerutkan keningnya dalam-dalam.
Secara samar-samar, dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
Justru karena ucapan Dumu Yue itulah kesadaran Dumu Yi Xue kembali ke ragaasalnya. Menatap Dumu Yue, dia hanya melontarkan satu kalimat. Dan hanya karena satu kalimat itu pula, Dumu Yue semakin yakin dengan dugaannya sendiri.
Selama dirinya berpartisipasi dalam kompetisi alkemis, Dumu Yi Xue pasti telah pergi untuk melakukan urusan yang sangat penting. Mengenai apa urusan penting itu, Dumu Yue tidak bisa menebaknya.
Namun secara samar-samar, dia merasa hal itu bukanlah sesuatu yang baik. Pasalnya, pertanyaan yang dilontarkan oleh Dumu Yi Xue persis sama dengan apa yang baru saja ditanyakan oleh Jun Yueli.
"Yue'er, apakah selanjutnya kau berencana untuk bergabung dengan Balai Alkemia di Kota Yun ini?" Tanya Dumu Yi Xue. Begitu pertanyaan itu terucap, Dumu Yue menyadari bahwa pamannya itu bahkan sampai bernapas sedikit terengah-engah karenanya.
Bisa dibayangkan, masalah ini tampaknya sangat penting bagi pria itu.
"Tentu saja. Alasan Tuan Muda ini mengikuti kompetisi kali ini, selain demi posisi pertama, tujuan lainnya adalah untuk bergabung dengan Balai Alkemia ini." Dumu Yue mengungkapkan tujuannya tanpa sungkan-sungkan.
Dia yakin, jika dia mengatakan hal semacam itu sebelum kompetisi dimulai, selain kakak sulungnya, paman keduanya ini pasti tidak akan percaya bahwa dia memiliki kemampuan tersebut. Itulah sebabnya dia tidak pernah mengutarakan tujuan kedatangannya.
Mengenai hal lain, terserah bagaimana orang lain ingin berpikir. Dumu Yue tidak peduli, dan memang tidak perlu peduli.
Satu-satunya orang yang bisa menarik perhatian Tuan Muda ini hanyalah segelintir orang. Selain mereka yang terukir di lubuk hatinya, peduli amat apa kata orang lain tentang dirinya.
Itulah Dumu Yue, Dumu Yue yang tanpa ampun.
Bahkan jika saat ini Duan Tianya sedang diburu orang dan hampir mati di hadapannya, Tuan Muda ini mungkin tidak akan mengerutkan keningnya sedikit pun. Mati satu Duan Tianya, Balai Alkemia pasti akan memunculkan ketua yang baru.
Oleh karena itu, dia sama sekali tidak perlu khawatir Balai Alkemia akan mengalami masalah.
Orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan Tuan Muda ini, hidup atau mati mereka bukan urusannya.
Namun, Dumu Yi Xue tentu saja berbeda. Meskipun di masa lalu mereka pernah memiliki perselisihan, sebagai sesama anggota Klan Dumu, Dumu Yue tetap tidak akan tinggal diam melihat keluarganya mati. Siapa suruh kakak sulung dan ayahnya adalah anggota Klan Dumu.
Bahkan, marganya sendiri adalah 'Dumu'. Demi kehormatan klan, dia tetap tidak sanggup untuk sekadar menjadi penonton.
Lagi pula, lelaki tua dari Klan Dumu itu, kakeknya, begitu baik kepadanya. Begitu baik hingga membuat Tuan Muda ini tidak bisa berkata-kata.
Mendapatkan jawaban tersebut dari Dumu Yue, Dumu Yi Xue langsung diliputi kegirangan. Terutama saat teringat bahwa Dumu Yue berhasil merebut posisi pertama dalam kompetisi alkemis kali ini. Posisi pertama! Ini adalah posisi puncak yang diraih dari lebih dari tiga ratus peserta.
Begitu Dumu Yue masuk ke dalam Balai Alkemia, dia pasti akan mendapatkan perhatian khusus dari para petinggi. Kalau begitu... Dumu Yi Xue berpikir sampai di situ, seluruh tubuhnya bergetar karena terlalu bersemangat.
Justru karena kegirangannya yang begitu kentara inilah yang membuat Dumu Yue menyadari ada kejanggalan. Dumu Yue langsung mencengkeram pergelangan tangan paman keduanya, dan sebersit tenaga spiritual seketika merasuk ke dalam tubuh Dumu Yi Xue. Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh, raut wajah Tuan Muda ini langsung menggelap.
Sebab dia mendapati kenyataan bahwa paman keduanya ternyata menderita luka ringan! Pantas saja saat melihat Dumu Yi Xue hari ini, dia merasa warna kulit pria itu kurang bagus. Dia tadinya mengira itu karena kelelahan beberapa hari terakhir.
Namun, dia sama sekali tidak menyangka bahwa hal itu disebabkan oleh seseorang yang telah melukainya!
Meskipun itu hanya luka ringan, tetapi pihak yang terluka adalah Dumu Yi Xue, paman dari Tuan Muda ini! Terhadap Dumu Yi Xue, Dumu Yue tetap memiliki ikatan emosional tersendiri. Terutama setelah keluar dari Alam Xuwu, sikapnya terhadap pria itu semakin melunak dan telah menganggapnya sebagai keluarga sendiri.
Sekalipun bukan keluarga sedarah, dia tetaplah keluarga. Perbedaan antara anggota keluarga dan orang asing, dia yakin siapa pun pasti bisa membedakannya dengan jelas, apalagi Dumu Yue sendiri.
"Siapa? Sebenarnya untuk apa mereka melukai Paman Kedua?" Ucapannya terlontar dengan tatapan mata yang penuh hawa dingin.
Jika itu orang lain, dia tidak peduli. Sekalipun mati, mati di hadapannya pun, dia tidak akan bergeming. Tetapi Dumu Yi Xue berbeda; pria itu sudah masuk ke dalam daftar orang-orang yang dipedulikan oleh Tuan Muda ini.
Mendengar perkataan Dumu Yue, pandangan mata Dumu Yi Xue menyiratkan kepahitan. Pasalnya, kedatangannya ke Kota Yun bukanlah untuk urusan lain, melainkan urusannya sendiri.
Masalah ini juga bisa dianggap sebagai urusan internal klan. Sebab, dia datang ke Kota Yun di klan Chu untuk mencari istrinya.
Mengingat Chu Yu, ekspresi Dumu Yi Xue melembut. Seolah-olah rona kebahagiaan terpancar dari sana. Chu Yu, ibu kandung Dumu Mo.
Melihat ekspresi kehilangan di wajah sang paman, Dumu Yue merenung dalam-dalam. Dari sana, dia tidak hanya menangkap rasa kehilangan, tetapi juga pergulatan batin dan secercah kebahagiaan. "Paman Kedua, sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Dumu Yue mengerutkan keningnya, menatap Dumu Yi Xue dengan nada suara yang sedikit dingin. Tatapannya bahkan begitu tajam, memancarkan aura tekanan yang kuat.
"Yue'er, Paman Kedua dia..." Dumu Yichen hendak mengatakan sesuatu. Namun, Dumu Yue menoleh ke arah sang kakak sulung dengan suara yang semakin dingin. "Kakak, Paman Kedua menderita luka ringan! Tidak peduli apa pun yang telah Paman lakukan, begitu mereka berani bertindak, artinya mereka sedang menantang Klan Dumu kita."