Bab 44 Apakah Bebekmu Tidak Kelelahan Sampai Mati
"Ibu, menurut Ibu, apakah telur asin ini akan laku jika dijual di pekan?" Su Li merasa bimbang.
"Kau ingin menjual telur asin?" Tian Guilan merenung sejenak. "Sepertinya akan mendatangkan sedikit keuntungan."
Ia tidak terlalu yakin.
Ia melirik orang-orang lainnya. "Bagaimana menurut kalian?"
Nyonya Cui menunjukkan keraguan. "Menurutku, lebih baik dibuat untuk dimakan sendiri saja. Bukannya setiap keluarga tidak mampu membeli telur, tapi mungkin mereka tidak akan membelinya."
"Menurutku pasti ada yang beli." Xu Yiran sepenuhnya memihak Su Li.
Nyonya Wang tidak mengerti bisnis, jadi ia memberikan jawaban yang mengambang, "Lumayan?"
Chai mencibir. "Kumpulkan dulu telur bebek sebanyak itu baru bicara."
Benda bernama telur bebek ini, jika dibilang mahal tidak ada yang mau beli, tetapi jika dibilang murah, tidak banyak orang yang memelihara bebek. Sebagian besar orang di desa memelihara ayam.
Su Li diam-diam mengamati reaksi mereka, terutama Tian Guilan.
Ia tidak menemukan adanya ketidaksukaan yang berlebihan terhadap wanita yang pergi berniaga.
Ia merasa lega di dalam hati.
Su Li membawa sebutir telur asin untuk menemui Qin Jianshen, lalu mengupas cangkangnya untuk ia cicipi.
Qin Jianshen memegang telur bebek yang putih dan lembut itu, tercium aroma asin yang harum.
Begitu ia menggigit bagian putih telurnya, alisnya yang tebal dan gelap langsung berkerut membentuk garis.
Su Li tersenyum. "Gigit lagi sekali, gigitan berikutnya akan terasa enak."
Maksudnya adalah gigitan berikutnya akan mengenai kuning telur sehingga terasa lezat.
Tanpa diduga, pada gigitan kedua sang suami, yang tergigit masih saja putih telur.
Su Li: "..."
Ia mengangkat teko teh bambu hijau dan menuangkan secangkir air untuk Qin Jianshen.
Qin Jianshen meminum dua teguk untuk meredakan rasa asin di mulutnya, dan pada gigitan ketiga, ia akhirnya merasakan kuning telur.
Minyak berwarna jingga kemerahan terperas keluar, mengalir melalui jemarinya ke punggung tangannya.
Ia menyekanya begitu saja dengan sehelai kain lap, lalu menikmati aroma minyak yang pekat di dalam mulutnya sambil bergumam, "Lumayan."
Su Li meremas pakaiannya, teringat akan lapak bakul yang dijungkirbalikkan serta makian dan cacian di pekan hari itu, hatinya merasa gelisah.
"Suamiku, aku ingin membuat beberapa telur asin untuk dijual, menurutmu apakah itu layak?"
Setelah mengucapkannya, napasnya bahkan menjadi sedikit lebih pelan, menunggu dalam diam jawaban dari pihak seberang.
Qin Jianshen memutar cangkir teh di antara jemarinya, meletakkannya dengan lembut di atas meja, lalu menatap mata buah badam sang gadis belia yang tampak basah dan memancarkan kegelisahan.
Ia menimbang sejenak lalu mengangguk. "Bisa dicoba."
Su Li mengatupkan bibirnya dan tersenyum.
Qin Jianshen mengulurkan lengannya yang panjang, mengait pegangan teko teh, lalu menuangkan secangkir lagi.
"Kira aku akan menolak?"
"Tidak." Perasaan Su Li sedang baik, dan kata-katanya pun menjadi sangat manis. "Suamiku adalah seorang pria terpelajar, tentu tidak bisa disamakan dengan orang kebanyakan."
Qin Jianshen tertawa tanpa suara.
"Pendapat apa pun yang kau miliki, silakan dicoba. Hidup ini sangat singkat, batasan-batasan yang dipaksakan dunia kepada kaum wanita seharusnya hanya menjadi batu asahan di jalan perjuangan, dan tidak boleh menjadi batu sandungan yang menghalangi langkah maju."
Su Li mendengarkan wejangan bijak ini bagaikan sedang mendengarkan ceramah seorang guru.
Ia merasakan ada suatu kelapangan dada dan keleluasaan pandangan pada diri suaminya, sesuatu yang belum pernah ia saksikan dalam wawasan dunianya yang sempit. Meskipun ia tidak tahu bagaimana menggambarkannya, ia tidak mampu menghindari daya tarik serta rasa terhanyut tersebut.
Bagaikan lautan luas yang menampung ratusan sungai, demikianlah keluasan jiwanya.
-
Keluarga Qin mulai mengumpulkan telur bebek di Desa Xinghua.
Kabar tersebut menyebar ke seluruh desa bagaikan terpaan angin.
Banyak tetangga berlari untuk mencari tahu, dan setelah mengetahui bahwa menantu keempat keluarga Qin yang sedang mengumpulkan telur dengan harga sepuluh wen per kati—hampir separuh lebih mahal daripada telur ayam—mereka yang memelihara bebek di rumah langsung berbalik pulang dan membawakan telur bebek mereka.
Selama dua hari berturut-turut, orang-orang datang silih berganti tanpa henti, bahkan mereka yang tidak memelihara bebek di rumah pun turut datang demi meramaikan suasana.
Su Li membeli empat buah kendi untuk mengasin telur bebek, yang masing-masing dapat menampung sekitar lima puluh butir telur.
Ia harus mencuci sekaligus menerima telur-telur tersebut, membuatnya sibuk berputar bagaikan gasing.
Chai selesai menyapu halaman lalu bersiap memasak. Begitu melihat tempayan air ternyata sudah kosong lagi, ia membawa gayung untuk menimba air dari tempayan di halaman, namun setelah menengok ke dalam, airnya pun sudah habis.
Ia tadinya hendak melontarkan beberapa kalimat sindiran kepada Su Li, tetapi pintu halaman terdorong terbuka, dan Qin Qiuze pulang sambil memikul dua ember air.
Chai ingin mengatakan agar air itu diantar ke dapur karena ia membutuhkannya.
Qin Qiuze bahkan tidak meliriknya sama sekali, melainkan berjalan lurus menuju hadapan Su Li, lalu menuangkan air tersebut ke dalam tempayan terdekat milik Su Li.
Su Li sedang menyikat kendi sambil berkata, "Terima kasih atas tenaganya, atau sebaiknya aku meminta orang lain saja yang memikul air."
Ia sebenarnya berniat mengeluarkan beberapa wen untuk meminjam gerobak sapi guna mengangkut air sekali jalan, tetapi begitu Qin Qiuze mendengarnya, pemuda itu bersikeras ingin melakukannya sendiri.
Ada tiga tempayan air di rumah, dan dua ember air bukanlah beban yang ringan, ia khawatir pemuda itu kelelahan.
"Tidak perlu, hanya memikul beberapa ember air saja. Terima kasih karena Bibi Keempat telah mengajari Qiuyan cara merajut simpul sebelumnya." Qin Qiuze mengangkat pisau pikul dan ember kosongnya, lalu pergi keluar lagi.
Chai terpaksa mengambil gayung dan mencedok air beberapa ciduk sendiri.
Su Li baru saja menegakkan punggungnya setelah selesai menyikat kendi ketika telapak tangannya terasa nyeri.
Ia memindahkan kendi ke dekat dinding, lalu melihat ke arah baskom harta karun.
Di dalam baskom harta karun itu... Su Li berencana pergi ke pekan untuk membeli garam dan rempah-rempah, jadi ia meminta tolong kepada Xu Yiran untuk menjaga pengumpulan telur bebek sebentar.
Justru di saat-saat itulah, seorang wanita tua datang dan menjual telur bebek simpanan keluarganya kepada Xu Yiran.
Setelah telur asin itu matang dan dijual, membuat perut orang-orang sakit hingga harus dikirim ke balai pengobatan, serta harus membayar ganti rugi dalam jumlah yang sangat besar.
Su Li mengepalkan telapak tangannya.
Telur bebek bahkan belum mulai dijual tetapi sudah harus membayar ganti rugi; hal semacam ini sama sekali tidak boleh terjadi!
Ia membatalkan niatnya ke pekan dan berjaga menunggu di rumah.
Begitu tengah hari lewat, wanita tua itu pun datang, diikuti oleh beberapa tetangga di belakangnya.
Untuk memudahkan pengumpulan telur, keluarga Qin meletakkan sebuah meja persegi di halaman.
Nenek Feng meletakkan keranjang telur bebek ke atas meja, menyelipkan tangannya ke dalam lengan baju, lalu melirik Su Li dengan sebelah mata. "Tiga kati telur bebek."
Su Li mengulurkan tangan untuk mengambilnya.
Nenek Feng mengangkat keranjang itu sedikit menjauh. "Apa yang kaulakukan?"
"Tentu saja memeriksa apakah ada telur yang busuk, telur yang busuk tidak akan diterima," kata Su Li.
"Mana ada yang busuk, ini semua adalah telur baru yang baru saja ditetaskan oleh bebekku," gerutu Nenek Feng, lalu dengan enggan memilih sebutir telur dari dalam keranjang untuk ditunjukkan kepada Su Li. "Nah, lihatlah."
Cangkang telur yang berwarna hijau pucat itu masih ternoda kotoran bebek, warnanya menyerupai kulit pohon.
Su Li: "..."
Meskipun ia tidak pernah mengatakannya secara khusus, dalam dua hari ini telur bebek yang dibawakan oleh semua orang selalu dalam keadaan bersih. Ini adalah pertama kalinya ia melihat telur yang begitu kotor.
Telur yang satu ini memang telur yang bagus.
Pandangan Su Li jatuh pada telur-telur yang berada di lapisan bawah keranjang.
"Yang di bawah juga harus diperiksa."
Nenek Feng langsung merasa tidak senang.
"Kita semua adalah sesama tetangga di desa, sudah bertahun-tahun lamanya, apakah mungkin aku menipu keluarga kalian dengan memberikan telur busuk? Kalau kau tidak mau menerima milurku, katakan saja terus terang!"
Su Li benar-benar berhenti memeriksa. "Kalau begitu, silakan pergi."
Teriakan Nenek Feng mendadak terhenti di tenggorokan.
Ia merasa sedikit cemas.
"Apa maksudmu? Atas dasar apa kau tidak mau menerima telurku?! Panggil mertuamu ke mari, aku ingin bicara dengannya!"
"Urusan penerimaan telur, ibu mertuaku tidak ikut campur."
Su Li menarik keranjang telur milik keluarga lain, memeriksanya dengan teliti, dan setelah memastikan tidak ada telur yang busuk, ia dengan sigap menyerahkan kepingan uang tembaga sebagai pembayarannya.
"Kalian keluarga Qin menerima telur, bagaimana mungkin mertuamu tidak ikut campur?!" Suara Nenek Feng meninggi dengan tajam. "Pengumpulan telur menghabiskan uang begitu banyak, bagaimana mungkin hal sebesar itu bisa diputuskan oleh seorang menantu sepertimu?!"
Suaranya yang melengking tinggi itu membangunkan Chai yang sedang tidur di kamar sebelah barat.
Chai dengan kasar membuka pintu, membawa serta sisa kantuknya sambil menunjuk ke arah Nenek Feng dan memarahinya.
"Mau jual atau tidak terserah, kalau tidak mau jual sana pergi! Memeriksa telur saja rewel sekali, jangan-jangan di bagian bawah itu isinya telur busuk semua!!"
Su Li mau tak mau menoleh untuk memandang Chai dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Chai menatap sosok Su Li yang berlengan dan berkaki kecil, berpenampilan lembut, penakut, serta rapuh seolah-olah bisa ditindas orang lain kapan saja jika tidak berhati-hati, membuatnya merasa sangat jengkel.
"Di mana kegigihanmu saat membela si anak keempat dan mendebatku tadi? Kenapa sekarang perangai mu justru lebih lemah daripada kucing yang kau pelihara?"
Wanita itu melangkah mendekat, melirik sekilas ke arah keranjang Nenek Feng.
"Tebakanku benar rupanya? Di bawah sana isinya telur busuk semua!" ucapnya dengan nada penuh keyakinan.
"Bagaimana bisa keluarga kalian menindas orang separah ini? Telur-telur ini baru saja ditetaskan oleh bebek di rumahku dan langsung kubawa ke mari, kalian malah menuduhku membawa telur busuk?!"
Nenek Feng mencengkeram kerangannya erat-erat sambil menangis tersedu-sedu dan meratap.
Nyonya Wang yang juga terbangun oleh keributan tersebut keluar untuk melihat situasi, dan begitu mendengar ucapan itu, ia seketika merasa terkejut.
"Bukankah keluarga Feng hanya memelihara seekor bebek? Sekali bertelur langsung menghasilkan tiga kati telur? Apakah bebek di rumahmu itu tidak perlu beristirahat barang sejenak?"