Bab 97: Bercanda dengan Santai
Ketika melangkah keluar dari kantor, hati Jingan sudah benar-benar hancur. Langit begitu kejam, mengapa harus menyiksaku seperti ini?
Semuanya bermula dari pertemuan tak terduga di perpustakaan waktu itu. Walaupun Chu Zhiwen memarahi Jingan habis-habisan, dua titik terang yang sempat dicatatnya di atas kertas tetap memberinya pencerahan. Tentu saja, Profesor Chu Zhiwen memiliki proyek dan topik penelitian sendiri, waktunya sangat terbatas, mana mungkin membuka topik baru lagi. Kebetulan, skripsi kelulusan Wang Ruolin memang meneliti ke arah itu, jadi Chu Zhiwen pun menyerahkan topik tersebut kepadanya.
Hari ini, karena Chu Zhiwen harus pergi untuk sementara waktu, ia memperkenalkan Jingan pada Wang Ruolin. Di satu sisi, ide awal itu memang datang dari Jingan, sehingga bisa menjadi referensi bagi Wang Ruolin, dan jika kelak menghasilkan temuan besar lalu dipublikasikan di jurnal akademik, nama Jingan tetap akan dicantumkan, sehingga jerih payahnya tak akan sia-sia.
Di sisi lain, Jingan juga dijadikan asisten penelitian Wang Ruolin, dan Wang Ruolin diberi tugas untuk membimbing serta memperketat pembelajaran dan penelitian Jingan di bidangnya. Sederhananya, Jingan kini punya guru privat yang siap memperkuat kemampuannya.
Benar-benar seperti keluar dari mulut harimau, masuk ke sarang serigala. Jingan menunduk lesu, hanya bisa menghela napas panjang, “Aduh! Tempat sial ini aneh sekali, jangan sekali-kali sok pamer di sini. Hanya baca buku usang saja bisa mendatangkan malapetaka? Pasti bakal sial, bahkan sial besar...”
Ketika ia tengah larut dalam perasaan getir, tiba-tiba terdengar suara pelan di sampingnya, “Kamu, ya?”
Jingan menoleh, wajahnya penuh tanda tanya. Ia melihat Chu Yueting memegang kedua tangan, menunduk, tampak malu-malu dan memperlihatkan sisi lembut yang belum pernah ia lihat. Jingan heran, “Eh... kamu kembarannya nona besar, ya?”
Chu Yueting mendengus pelan, lalu memandang Jingan sebal, “Aku... aku mau bicara.”
Jingan makin bingung, hari ini Chu Yueting memang terasa agak aneh. Ia mengikuti Chu Yueting ke sebuah sudut, “Ada apa...?”
“Aku hari ini bukan sengaja mencarimu. Dengar-dengar... Profesor Chu mau pergi, jadi aku ke sini melihat-lihat, tak disangka malah ketemu kamu...” Semakin lama Jingan menatap aneh, wajah Chu Yueting makin merah, suaranya makin pelan.
Setelah menarik napas panjang, seolah-olah mengumpulkan keberanian, Chu Yueting mendadak serius, mengangkat dada dan menatap lurus, “Jingan, aku tahu perasaanmu. Menurutku, kita masih muda, sebaiknya fokus saja belajar. Sebenarnya...”
Jingan tertegun, lalu menggerutu pelan, “Aduh!” Ia tak perlu berpikir panjang, pasti ini ulah Zhou Mei yang tak bisa menahan naluri mak comblangnya, diam-diam menanyakan perasaan Chu Yueting, hingga terjadi kejadian aneh seperti ini.
Otaknya berputar cepat. Jika ia membongkar semuanya, Chu Yueting pasti malu, dan Zhou Mei juga akan dimarahi. Lebih baik salah paham begini saja—kalaupun cintanya ditolak, paling-paling jadi bahan tertawaan karena si buruk rupa naksir si cantik. Maka, Jingan langsung beralih ke mode serius, “Baiklah, aku akan fokus belajar, setelah lulus ingin berkontribusi bagi pembangunan bangsa.”
“Kamu... kamu nggak apa-apa, kan?” Chu Yueting menatap Jingan penuh tanya, lalu berkata cemas, “Aku nggak bermaksud menyakitimu, jangan sampai kamu patah semangat, ya?”
“Eh?” Sepertinya salah memilih mode. Ia segera berganti ke nada santai, “Tenang saja, ditolak cewek itu bagian dari hidup cowok! Cuma aneh, rasanya belum dapat kartu ‘kamu orang baik’, ya!”
“Apa maksudmu? Ilmiah apa? Kartu orang baik apaan?” Chu Yueting sama sekali tak mengerti istilah-istilah yang belum populer itu.
“Begini saja, aku ajari kamu satu trik. Kalau nanti nolak cowok, harus pasang wajah sedih, suara berat: ‘Maaf, kamu orang baik...’ Nah, begitu caranya. Coba latihan, ekspresinya harus sedih banget, seperti sedang berduka, tapi jangan benar-benar nangis, ya?”
“Hahaha...”
“Kamu juga nggak boleh ketawa, dong! Eh, jangan cubit-cubit, harus jadi wanita anggun.”
“Nih, aku cubit biar kamu kapok. Suka ngawur sih.”
Setelah bercanda sejenak, Jingan melambaikan tangan, “Aku pergi dulu, mau mampir ke rumah Daling, sudah beberapa hari nggak ke sana.”
“Kalau gitu aku ikut, kenapa? Nggak boleh? Aku mau main sama Pingping.”
“Boleh! Takut sama kamu.”
“...Jingan, ibuku bilang, kuliah nggak boleh pacaran.”
“Tenang, aku kuat kok, namaku aja Jingan (baja)! Dari dulu pengen tanya, Profesor Chu itu keluarga kamu, ya?”
“Dia itu pamanku. Aku nggak sengaja nutup-nutupi, aku cuma nggak mau dimanja.”
“Bukan mau manjain kamu, aku malah pengen minta tolong beliau buat bimbing aku! Malah harus les tambahan, capek banget.”
“Soal itu aku tahu, toh semua demi kebaikanmu, kan? Katanya biar bisa kenal materi kuliah lebih awal, bisa lebih cepat berkembang. Tapi itu bukan kata-kataku, aku sendiri nggak yakin kamu punya bakat luar biasa, aku setengah mati bantuin kamu belajar, nilaimu juga masih menengah ke bawah.”
“Hehe, ingat masa-masa awal masuk kuliah, ranking paling bawah, serasa sudah lama sekali!”
“Nih, jangan sombong, nilai bagus, nanti gampang cari kerja bagus pas lulus.”
“Siap, nona besar.”
“Jangan sebel, aku mau tanya, setelah lulus kamu pengen kerja di mana?”
“Penjaga perpustakaan.”
“Penjaga perpustakaan? Huh, ngomong asal lagi, nggak mau ngomong sama kamu.”
“Baiklah, baiklah, kalau ada kesempatan, aku mau lanjut S2, lalu S3, terus...?”
“Kenapa?”
“Penjaga perpustakaan. Hahaha! Jangan cubit, jangan cubit, itu ada yang lihat tuh.”
“...Baiklah, kali ini dimaafkan. Dengar-dengar dari Kak Mei, bisnis kaset itu idemu, ya?”
“Dia juga cerita itu? Sebenarnya cuma pakai otak sedikit, kerjaan utamanya semua kakak ipar yang urus.”
“Huh, masih mau bohong sama aku. Sebenarnya... kelebihanmu memang di situ, kan?”
“Nona Tingting, segala sesuatu itu rendah, kecuali ilmu pengetahuan!”
“Katanya juga di buku ada rumah emas. Sudah jadi pejabat eselon dua, gajinya belum sampai dua ratus. Nggak cukup buat beli beberapa kasetmu.”
“Kamu suka, nanti tinggal minta ke kakak ipar.”
“Aku nggak mau, ajari aku, aku juga mau belajar bisnis.”
“Kenapa pengen belajar bisnis?”
“Seru, kata mereka, pebisnis itu keren. Lagian kamu yang bodoh aja bisa, apalagi aku, pasti lebih hebat.”
“Ehem, aku tahu kok, intinya kalimat terakhir tadi, ya?”
“Hahaha, itu jujur kok. Sebenarnya, katanya bisnis itu bisa keliling ke mana-mana, sering makan di luar, nggak peduli keluarga.”
“Hehe, nggak seheboh itu kok. Ada juga yang kerja jam kantor, nggak harus selalu keluar, intinya cuma cari uang, pelanggan juga nggak peduli kamu sering keluar atau main.”
“Jadi, menurutmu gimana?”
“Sederhananya, anggap saja seperti pekerjaan. Kalau dapat untung besar, berarti kerjanya bagus, kalau rugi ya berarti kerja jelek. Kalau mau belajar, pelajari saja sungguh-sungguh dan teratur. Sebagai penjaga perpustakaan masa depan, aku kasih saran, di perpustakaan pasti ada buku ajar bisnis, kan? Hahaha!”
“Nggak mau, aku juga benci penjaga perpustakaan. Lagian caramu itu gampang banget, sekali lihat aku langsung bisa. Hahaha!”
...
Taman Huaqing sudah penuh semangat musim semi. Pucuk-pucuk pohon berwarna hijau muda, kuncup-kuncup bunga bermunculan di taman. Beberapa burung magpie terbang melintas, terdengar kicauan mereka yang jernih. Di jalan setapak, sepasang muda-mudi berjalan berdampingan sambil tertawa bersama...