Bab 51: Menjamu Seluruh Desa, Ren Hao Mabuk
Halaman (1/3)
“Baik, hamba akan mengingatnya,” ujar Su Wan’er lembut.
“Suamiku, Ibu berkata bahwa besok beliau ingin pulang menjenguk Ergou,” kata Su Wan’er.
Namun, setelah menunggu cukup lama, ia tak mendengar jawaban apa pun. Ketika menoleh, ia melihat Ren Hao sudah tertidur lelap di bawah cahaya bulan.
Sesaat kemudian, Su Wan’er menghela napas panjang. Ia menyandarkan kepala di bahu Ren Hao, lalu tertidur pulas.
Keesokan harinya.
Setelah sarapan, Ibu Su membuka percakapan, “Menantu, aku ingin pulang menjenguknya.”
“Pulang?” Ren Hao tertegun. Kemudian ia teringat pada Su Ergou. Setelah berpikir sejenak, ia mengangguk. “Baiklah. Akan kusuruh Xu Hu membawa dua orang untuk menemanimu pulang.”
“Baik, baik.” Wajah Ibu Su pun dihiasi senyum.
Ren Hao mencari Xu Hu dan memintanya membawa dua orang untuk menemani ibu mertuanya pergi ke Lereng Keluarga Su.
“Tenang saja, Kak Ren.” Xu Hu mengangguk menyanggupi. Setelah itu, ia melambaikan tangan memanggil dua pemuda yang sedang berlatih.
Ren Hao memandangi regu keamanan beranggotakan sepuluh orang miliknya. Ketika dahulu membuat busur silang majemuk, ia telah menyisakan satu untuk masing-masing dari mereka.
Meski kemampuan bertarung mereka masih kurang, setelah berlatih selama beberapa waktu, mereka sudah cukup mahir menggunakan busur silang itu.
Untuk menjaga diri di desa ini, kemampuan tersebut sudah lebih dari cukup.
Ren Tiesan, yang dahulu mengincar hartanya, kini bahkan tidak berani menampakkan diri.
Pengaruh dan dukungan yang dimiliki Ren Hao di Desa Caixu sudah cukup membuat Ren Tiesan gentar. Belum lagi ada Xu Qing dan Xu Yating, dua “tokoh besar” yang berdiri di belakangnya. Ren Tiesan tidak sampai mengompol karena ketakutan saja sudah patut disyukuri.
“Beginilah juga cukup baik. Bersembunyi dengan tenang di desa kecil dan menjalani hidup sederhana nan hangat, rasanya juga tidak buruk.” Senyum merekah di wajah Ren Hao.
Setelah pabrik kertas selesai dibangun dan dilengkapi, Ren Hao mulai memilih tenaga kerja dari seluruh desa.
Desa itu memiliki lebih dari dua ratus penduduk. Setelah mengecualikan beberapa orang lanjut usia yang tak mampu bekerja dan anak-anak, Ren Hao memutuskan memilih pekerja dari setiap keluarga berdasarkan perbandingan jumlah anggota keluarga.
Aturannya adalah satu dari setiap tiga orang. Jika sebuah keluarga beranggotakan tiga orang, maka satu orang akan dipilih untuk bekerja di pabrik.
Jika sebuah keluarga hanya memiliki dua anggota, tetap satu orang yang dipilih.
Sementara itu, dari keluarga yang beranggotakan enam orang, dua orang akan dipilih untuk bekerja di pabrik.
Upah pun diubah dari upah harian saat pembangunan rumah menjadi upah bulanan. Bergantung pada beratnya pekerjaan, gaji berkisar antara delapan puluh hingga seratus dua puluh keping tembaga.
Sebelum Tahun Baru tiba, mereka juga akan menerima bonus tambahan. Pada hari-hari raya biasa, akan ada tunjangan, sementara waktu kerja diubah dari bekerja sepanjang tahun tanpa libur menjadi lima hari kerja dan dua hari libur setiap pekan, mulai pukul sembilan pagi hingga lima sore, dengan waktu istirahat pada siang hari.
Delapan jam kerja harus diberlakukan dengan tegas. Tidak boleh menjadi tuan tanah penindas!
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Setelah keputusan Ren Hao disampaikan, para penduduk desa segera menyambutnya. Mereka masing-masing memilih anggota keluarga yang paling sesuai.
Dengan demikian, pabrik kertas Ren Hao memperoleh lebih dari lima puluh pekerja.
Ditambah sepuluh petugas keamanan, Xu Hu, Yang Si, dan yang lainnya, jumlah orang yang kini bergantung pada Ren Hao untuk makan segera bertambah menjadi lebih dari tujuh puluh orang.
Meskipun mereka memiliki tanah, hasil bercocok tanam saja tidak cukup untuk mengenyangkan perut. Sebagian besar hasil panen harus diserahkan sebagai pajak.
Agar para pekerja tidak sampai pingsan karena kelaparan saat bekerja, Ren Hao kembali mengeluarkan uang untuk membangun sebuah dapur umum.
Setelah selesai dibangun, biaya makan siang seluruh pekerja akan ditanggung oleh pabrik. Makanan hanya disediakan sekali sehari. Tentu saja, menunya tidak semewah makanan di rumah Ren Hao yang setiap hari selalu tersedia daging.
Ren Hao menetapkan nasi kasar dan kue kukus dari tepung kasar sebagai makanan pokok. Setiap tujuh hari sekali mereka akan makan daging. Pada hari raya, mereka juga mendapat satu kesempatan untuk makan sepuasnya dan membawa serta keluarga mereka.
Pada hari-hari biasa, makanan terutama berupa sayuran liar dan sayuran kebun. Paling tidak, sedikit lemak babi akan ditambahkan agar semua orang bisa mencicipi rasa daging setiap hari.
Setelah menghitung secara singkat, Ren Hao merasa rencana itu layak dijalankan. Bagaimanapun, biaya makanan selama setahun hanya perlu ditutup dengan menjual sebagian kertas yang diproduksinya.
Kertas merupakan barang konsumsi yang digunakan dalam jumlah besar. Hal yang lebih penting berikutnya adalah mempersiapkan jalur penjualan.
Segalanya berlangsung dengan sibuk dan teratur.
Di bawah bimbingan langsung Ren Hao, seluruh penduduk desa mulai memahami alur pekerjaan masing-masing. Sesuai perkiraan waktunya, mereka akhirnya berhasil menghasilkan lembaran kertas pertama yang memenuhi standar.
Melihat hasil tersebut, hati Ren Hao dipenuhi kegembiraan.
Ini berarti sejak saat itu ia telah berubah dari seorang produsen menjadi pemilik sumber daya. Bahkan, mulai sekarang ia sudah bisa bersantai dan menikmati hidup.
Karena itu, Ren Hao memutuskan mengadakan jamuan pembukaan pabrik.
Tentu saja, seluruh penduduk desa diundang.
Setelah persiapan selama sehari, meja-meja besar dan kecil ditata di alun-alun berlantai batu dalam kompleks pabrik. Berbagai jenis kursi diletakkan di sekelilingnya.
Di sisi lain, beberapa kuali besar berisi daging yang sedang direbus hingga mengeluarkan aroma sedap. Beberapa lelaki kekar juga menurunkan guci-guci arak dari kereta keledai.
Sebagian orang sibuk memasak, sebagian lainnya menata mangkuk dan sumpit.
Yang lain duduk mengobrol dan bercanda tanpa henti.
Tak lama kemudian, hidangan dan arak tersaji di atas meja. Beberapa orang bahkan sudah setahun penuh tidak mencicipi daging. Kini mereka menatap daging di atas meja dengan rakus, tak kuasa menelan ludah.
Hampir seluruh penduduk desa datang, kecuali keluarga Ren Tiesan. Bagaimanapun, kesempatan makan daging gratis seperti ini biasanya bahkan tak berani mereka impikan.
Pada saat itu, Ren Hao juga datang bersama keluarganya dan duduk di meja utama.
Tatapan semua orang tertuju kepadanya.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Ren Hao benar-benar hebat. Setelah kaya, dia masih mengingat kita semua.”
“Benar juga. Anak dari keluarga Ren Kedua itu ternyata tidak buruk.”
“Menurutku dia hanya terlalu banyak uang dan tidak tahu harus berbuat apa…”
Plak!
“Bicaramu itu jangan sembarangan, bocah! Sekarang seluruh keluarga kita bergantung pada pekerjaannya untuk makan. Kalau kau masih terus mengoceh, akan kupukul sampai mati!” bentak seorang lelaki di sampingnya sambil melotot marah.
Ren Hao perlahan berdiri. Tatapannya menyapu seluruh hadirin, lalu ia berkata, “Saudara-saudara sekampung!”
Tatapan semua orang segera terpusat kepadanya. Suasana di tempat itu mendadak hening hingga suara jarum jatuh pun seolah dapat terdengar.
Semburat cahaya senja menerangi meja-meja dan wajah Ren Hao. Senyum menghiasi wajahnya.
“Mulai sekarang, selama kalian bekerja dengan sungguh-sungguh, kalian pasti bisa makan sampai kenyang!”
“Selain hal-hal yang telah kujanjikan sebelumnya, jika kalian bekerja penuh selama tiga puluh tahun, aku akan menjamin kehidupan kalian di masa tua!”
Mendengar perkataan Ren Hao, semua orang segera bersorak gembira.
“Mari makan!” Ren Hao melambaikan tangan.
Begitu suaranya jatuh, semua orang mengangkat sumpit dan menyerbu hidangan serta arak di atas meja. Bahkan beberapa anak langsung menggunakan tangan untuk mengambil makanan. Suasananya begitu kacau hingga sulit digambarkan.
Namun, di meja Ren Hao hanya ada Su Wan’er, Su Ling’er, Qian’er, Ibu Su, Yang Si, dan Xu Hu. Selain mereka, ada pula Xu Yating, yang setiap hari selalu menempel pada Su Wan’er.
Entah karena Xu Yating sengaja merendahkan dirinya, Su Wan’er sangat menyukainya. Bahkan, diam-diam ia ingin meminta Ren Hao mengambil Xu Yating sebagai istri kedua. Namun, Ren Hao langsung menolak.
Bercanda, ya? Jika benar-benar menikahi perempuan seperti itu, nyawa seluruh keluarganya mungkin tidak akan selamat.
Xu Yating adalah perempuan yang diincar putra perdana menteri. Sementara Ren Hao tidak memiliki jabatan maupun pangkat. Bukankah itu sama saja dengan mencari kematian?
Saat sedang makan, para lelaki desa satu demi satu datang untuk bersulang kepadanya. Mau tak mau, Ren Hao meminum beberapa cawan.
Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Meskipun setiap kali ia hanya minum sedikit, lama-kelamaan ia tetap mabuk.
Jamuan itu berlangsung hingga senja. Para perempuan telah bubar untuk beristirahat.
Ren Hao dipapah Qian’er, gadis kecil itu, pulang ke rumah dalam keadaan setengah sadar. Setelah memasuki kamar, ia memeluk perempuan yang berada di atas ranjang. Semangatnya pun sedikit bangkit.
“Istriku…”