Bab 157 Kegilaan Saat Ini
Bab 157: Kegilaan Saat Ini
Atas paksaan Wang Nan, Xu Tingting menghabiskan secangkir penuh anggur merah itu dalam sekali teguk.
Hampir membuat dirinya tersedak hingga mati.
Setelah menghabiskan anggur merah tersebut, seketika ia merasakan tenggorokannya seperti terluka, terasa sangat pedas dan sakit.
Wang Nan melihat Xu Tingting telah menghabiskan cangkir pertama.
"Minum lagi satu cangkir!"
Wang Nan kemudian secara paksa menuangkan anggur ke dalam cangkir untuk diminum oleh Xu Tingting. Xu Tingting yang tidak memiliki ketahanan terhadap alkohol tentu tidak mungkin tidak mabuk setelah meminum dua cangkir penuh anggur merah tersebut.
Wajah Xu Tingting menjadi semakin merah, bagaikan sebuah kesemek matang yang lembut.
Senyuman licik terukir di wajah Wang Nan, senyuman yang membuat Xu Tingting merasa begitu mengerikan. Malam ini Xu Tingting mengenakan pakaian tidur yang longgar, namun tampak begitu indah melekat di tubuhnya, pinggulnya yang berisi terpampang dengan sempurna, membentuk lekuk tubuh yang elok!
Xu Tingting menatap tatapan aneh Wang Nan, hatinya menegang, lalu ia terjatuh lemas karena ia telah terlalu banyak minum, tubuhnya sama sekali tidak dapat ia kendalikan. Sepotong botol yang tadinya belum dibuka kini seluruh isinya telah berada di dalam perut Xu Tingting.
Xu Tingting berniat untuk berjuang bangkit, namun hal itu telah menjadi sebuah mustahil.
Wang Nan melihat Xu Tingting yang terjatuh lemas, sekelebat rasa puas melintas di dalam hatinya. Entah sudah berapa lama ia menantikan saat ini, dan malam ini akhirnya tiba juga.
Wang Nan menegakkan tubuhnya, duduk di sofa dengan perasaan hampa, ujung jarinya menyusuri wajah rupawan Xu Tingting. Xu Tingting secara tidak sadar membuka matanya, tetapi ia sudah sepenuhnya tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri, bahkan untuk sekadar membuka kedua matanya pun ia hampir tidak memiliki tenaga. Awalnya Xu Tingting sempat melakukan perlawanan kecil, namun semakin lama, efek sisa dari anggur tersebut semakin kuat, membuatnya tidak berdaya.
Itu adalah wajah yang sangat rupawan dan menawan, begitu indah hingga membuat orang ingin menggigitnya dengan gemas. Melihat dada Xu Tingting yang naik turun secara perlahan, Wang Nan tersenyum. Senyumannya terasa begitu aneh, mungkin tidak ada seorang pun yang bisa mengerti, tidak ada yang bisa memahami.
Ia dengan perlahan menggerakkan tangannya menuruni leher Xu Tingting, melewati pakaian, namun terasa seolah-olah hanya terhalang oleh sehelai lapisan tipis. Ketika tangan Wang Nan menyentuh tubuh Xu Tingting, ia dapat merasakan naik turunnya dada Xu Tingting menjadi semakin kencang. Ia kembali membuka matanya, namun tidak memiliki sedikit pun tenaga untuk melawan, bahkan tidak memiliki tenaga untuk berbicara.
Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun saat melihat tangan Wang Nan merayap di tubuhnya, air mata seketika mengalir dari sudut matanya.
Hati itu telah hancur, dan hancur begitu berkeping-keping.
Wang Nan perlahan membuka pakaian Xu Tingting, gerakannya sangat lambat, takut terlewatkan oleh setiap bagian, setiap pemandangan di dalamnya.
Xu Tingting hanya mengenakan pakaian tidur tanpa mengenakan celana dalam. Kedua tangan Wang Nan merayap di atasnya.
Industri hiburan di negeri kepulauan begitu maju, dengan ekspor besar-besaran ke daratan utama dan dalam negeri. Wang Nan perlahan mengulurkan kedua tangannya ke sebuah wilayah yang belum terjamah.
Wang Nan seketika menghentikan gerakan tangannya. Terpampang ekspresi kemarahan di wajahnya.
Sebuah tamparan keras mendarat dengan telak di pipi mulus Xu Tingting. Seketika muncul bekas telapak tangan yang jelas di pipi kemerahan Xu Tingting. Seumur hidupnya, belum pernah ada seorang pun yang pernah memukulnya. Di dalam keluarganya ia adalah buah hati kesayangan, di sekolah ia adalah pusat perhatian semua orang. Namun hari ini, ia hanyalah seorang wanita kecil, seorang wanita yang tidak berdaya.
"Perempuan jalang!"
"Selama aku tidak ada di sini, kau berani-aninya berselingkuh dengan pria lain di luar."
Wang Nan membaringkan Xu Tingting secara melintang di sofa, dengan terburu-buru melepaskan celananya sendiri. Tanpa sadar ia telah merasa bergairah begitu lama, ia hendak menaklukkan wanita itu.
Pada saat ini ia bagaikan seekor serigala liar, yang setiap saat ingin merobek-robek Xu Tingting yang terbaring di atas sofa. Pada saat ini ia bahkan lebih mirip seekor binatang buas, meninggalkan goresan-goresan luka yang tak terjangkau pada tubuh yang suci dan murni itu.
Wang Nan mengambil napas tersengal-sengal.
Suara kain yang merobek memancing rintihan kecil dari Xu Tingting.
Noda darah merah segar dan pemandangan yang mengerikan pun muncul. Wang Nan bagaikan seekor anjing liar yang kehilangan akal, tak henti-hentinya menggoyangkan tubuhnya. Ia ingin melampiaskan seluruh kemarahannya ke tubuh Xu Tingting, malam ini ia hendak menaklukkan wanita di bawah tubuhnya ini secara total.
Hujaman demi hujaman terjadi tak terhitung banyaknya, ia bagaikan anjing liar yang telah hilang kewarasan. Tanpa henti, tanpa kenal lelah.
Satu ronde berlalu disusul ronde berikutnya, ia saat ini bagaikan seekor anjing petarung yang berjaya, menghujam dengan beringas di ambang batas kematian. Wanita di bawah tubuhnya adalah satu-satunya target utama. Di dalam ruangan itu, selain lampu yang dingin, perabotan yang tampak sepi, serta botol anggur merah yang telah kosong, tidak ada lagi yang tersisa. Di atas sofa, Wang Nan terus-menerus terengah-engah...
Pada saat ini, orang yang juga hancur hatinya adalah Wang Dingguo.
Sejak saat Xu Tingting pertama kali menginjakkan kaki dan tinggal di hotel tersebut, Wang Dingguo telah memasang kamera pengawas di dalam kamarnya. Tidak peduli sudut mana pun, semuanya tercakup, segala hal yang dilakukan oleh Xu Tingting di dalam kamar akan terlihat dengan jelas tanpa ada yang terlewat. Wang Dingguo melihat wanita itu perlahan mendekati ambang batas kehancurannya, dan hatinya hancur berkeping-keping.
Timbul rasa kebingungan yang teramat sangat di lubuk hatinya yang paling dalam: "Anakku, apa yang membuatmu menjadi seperti ini? Apakah karena kau terlalu banyak menanggung penderitaan?"
Dua jam berlalu secara beruntun, namun Wang Nan masih belum berhenti dan terus berlanjut tanpa kenal lelah.
Wang Dingguo tahu bahwa jika ini terus berlanjut, Wang Nan pasti akan mati mendadak, dan mungkin bahkan Xu Tingting juga...
Di dalam ruang kerja Wang Dingguo, Paman Zhang berdiri dengan sikap penuh hormat di hadapannya.
"Paman Zhang, cepat bawa beberapa orang untuk masuk secara paksa ke kamar Xu Tingting. Wang Nan ada di dalam, segera hentikan apa yang sedang ia perbuat."
Paman Zhang terkejut, mungkinkah Wang Nan dan Xu Tingting sedang melakukan hal itu? Tanpa sempat berpikir panjang, Paman Zhang memimpin belasan orang menerobos masuk ke kamar Xu Tingting. Pintu terkunci dari dalam, dan Paman Zhang pun mendobrak pintu hingga terbuka.
Seketika mereka masuk, di atas sofa, semua orang melihat pemandangan tersebut secara langsung. Yang membuat semua orang merasa heran adalah Wang Nan sama sekali tidak mempedulikan orang-orang yang menerobos masuk, bagaikan seekor anjing gila yang tidak tahu apa-apa, ia terus mencabik-cabik dan mengguli tubuh Xu Tingting!
Paman Zhang juga tahu bahwa jika Tuan Muda Wang dibiarkan terus melanjutkan tindakan seperti ini, pasti akan terjadi malapetaka besar. Oleh karena itu, ia segera menghentikan Wang Nan sesuai dengan perintah Wang Dingguo. Kendati demikian, tubuh Xu Tingting yang terbaring di atas sofa sudah penuh dengan luka lebam di mana-mana.
Paman Zhang menyeret Wang Nan keluar kamar secara paksa. Ia kemudian mengambil sehelai selimut dan dengan lembut menutupkannya ke tubuh Xu Tingting.
Paman Zhang menatap Xu Tingting yang terbaring di atas sofa dengan ekspresi muram. Setelah terdiam cukup lama, ia pun mundur keluar dari kamar tersebut. Wanita yang terbaring di atas sofa itu membuatnya merasakan iba yang mendalam.
Wang Dingguo menyaksikan Xu Tingting yang masih meneteskan air mata melalui rekaman pengawas, seketika hatinya tersentuh oleh suatu perasaan yang mendalam. Ia pun memberi instruksi kepada Paman Zhang yang berada di ruang kerja:
"Segala bentuk pengeluaran Nona Tingting di wilayah Hangzhou, semuanya ditanggung oleh saya. Ingat, sampaikan perintah ini: selain ruang kerja saya, ia bebas keluar masuk ke semua tempat lainnya."
Paman Zhang berdiri di dalam ruang kerja Wang Dingguo, seketika keringat dingin bercucuran membasahi tubuhnya.