Bab 72: Keterampilan yang Tak Terbayangkan
Tak lama kemudian, 85 personel tempur telah berkumpul. Sedangkan 15 staf logistik yang hanya untuk melengkapi jumlah, sesuai instruksi Chen Dalong sebelumnya, tetap tinggal di dalam kendaraan, karena mereka nanti akan menjadi sopir.
“Semua, apa yang perlu dikatakan sudah kusampaikan sebelumnya. Asalkan kalian berhasil, aku tak akan pelit memberi hadiah,” seru Chen Dalong lantang. “Sekarang, kalian punya tiga menit untuk memeriksa perlengkapan dan pastikan semuanya lengkap, lalu kita berangkat.”
“Siap!” seru mereka serempak.
Saat ini, yang bergerak bukan hanya Perusahaan Keamanan Naga Ganas saja, perusahaan keamanan lain pun langsung mulai beraksi. Namun, yang paling sigap tetaplah Pasukan Penjaga Kota, yang mengikuti rute operasi yang telah ditetapkan, langsung masuk ke hutan lebat di kedua sisi jalan.
Setiap prajurit tampak sangat terlatih, bergerak dengan cepat sekaligus tanpa suara. Setelah memasuki hutan, mereka segera menyebar. Meski tampak acak, namun sebenarnya setiap orang bisa saling melindungi.
Di waktu yang sama, satu demi satu drone baling-baling terbang ke udara, jelas sekali mereka menerapkan pola tempur terpadu. Pemandangan ini membuat Chen Dalong merasa iri, ia bertanya-tanya kapan anak buahnya bisa sekeren dan seterlatih itu.
Namun pada saat itulah, sekawanan besar kelelawar mutan terbang dari kaki gunung dan melintas di atas kepala mereka. Drone yang terbang di udara pun satu per satu jatuh ke tanah.
Barisan pasukan yang awalnya bergerak dengan teratur pun terpaksa berhenti melihat kejadian itu. Pemandangan yang begitu familiar ini membuat ekspresi Chen Dalong jadi penuh warna.
Ia berdeham pelan, berkata, “Baik! Waktunya habis, ikut aku masuk.”
Di tangannya tergenggam sebilah parang besar, lalu ia melangkah paling depan tanpa ragu.
“Bos, sepertinya di pihak militer ada masalah, apa kita tidak menunggu dulu?” tanya Liu Wenhua, salah satu penembak jitu, tak tahan untuk bicara.
Menurutnya, bos mereka ini agak nekat. Tak lihatkah pasukan juga berhenti?
“Sepertinya di sekitar sini adalah wilayah kawanan kelelawar itu. Mereka akan menyerang semua benda terbang, itu hal biasa. Kita juga sudah pernah mengalaminya,” jawab Chen Dalong acuh tak acuh.
Ia memang tidak peduli, bahkan bisa menebak pasti ini ulah si Duta Kelelawar.
Tujuannya tentu saja untuk menutupi jejak para duta lain agar tak mudah dilacak.
Ucapan Chen Dalong langsung mendapat persetujuan dari Li Huosheng dan yang lainnya.
“Memang benar, kelelawar mutan ini sangat agresif. Kemarin saat kami menerbangkan drone di Lembah Senja, langsung diserang dan dijatuhkan kawanan kelelawar itu,” jelas Li Huosheng agar yang lain tenang.
Bagaimanapun, kebanyakan karyawan di sini baru pertama kali menghadapi makhluk mutan.
Liu Wenhua sempat terdiam. Pengalamannya bertempur mengatakan bahwa ini tampaknya tak sesederhana itu.
Ia menggertakkan gigi, ingin kembali mengingatkan, namun tiba-tiba matanya terbelalak dan ia berteriak, “Awas!”
Saat itu, Chen Dalong sudah berada di pinggir jalan. Di atas pohon lima meter darinya, sesosok bayangan hitam meloncat turun dengan kecepatan luar biasa, menyerang wajah Chen Dalong.
Dengan kecepatan seperti itu, bahkan orang yang melihat pun belum tentu bisa bereaksi, apalagi Chen Dalong sedang menoleh ke arah lain.
Namun, sesaat kemudian, cahaya parang berkilat dan bayangan hitam itu terbelah dua, bahkan Chen Dalong tak perlu menoleh ke belakang.
Setelah memastikan makhluk itu mati, Chen Dalong menunduk sekilas. “Wah, rupanya burung pelatuk mutan. Paruhnya panjang dan tajam juga.”
“Jangan berlama-lama, bawa bangkai ini dan cepat lanjutkan perjalanan, waktu kita mepet!” serunya ke belakang, lalu masuk ke hutan tanpa menoleh.
Pemandangan ini membuat Liu Wenhua hampir tak percaya pada matanya. Kecepatan reaksi seperti itu, bahkan bisa menyaingi para anggota pasukan khusus.
Bahkan anggota pasukan khusus pun harus fokus sepenuhnya untuk melakukan hal seperti tadi, tak mungkin bisa setenang Chen Dalong.
“Xie, aku... aku tidak salah lihat, kan?” tanyanya pada rekan sesama penembak jitu, Xie Guanzhong.
Mereka dulunya memang kawan satu tim. Kemarin, Xie Guanzhong yang pertama melihat lowongan kerja, lalu mengajak Liu Wenhua bergabung.
Sebelum Xie Guanzhong menjawab, Li Huosheng sudah lebih dulu berkata, “Ayo, cepat ikuti! Kemarin bos kita bahkan membunuh babi hutan mutan peringkat 30 daftar makhluk berbahaya, ini mah kecil.”
Setelah berkata begitu, ia bersama Zhang Chengang dan yang lainnya segera mengejar.
Faktanya, mereka yang kemarin selamat dari Lembah Senja sudah tak heran lagi dengan pemandangan seperti ini.
Setelah membunuh babi hutan mutan, Chen Dalong membawa mereka melintasi hutan dan menunjukkan kemampuannya yang luar biasa peka terhadap lingkungan sekitar.
Apalagi mereka juga sudah tahu bahwa Chen Dalong adalah seorang “manusia berkemampuan khusus”, jadi hal seperti ini bukan hal yang mengejutkan lagi.
Mendengar penjelasan Li Huosheng, lalu melihat bangkai burung pelatuk mutan di tanah, Liu Wenhua dan para anggota baru langsung mendapat kesan baru tentang bos mereka.
Bagi Chen Dalong, ini hanyalah insiden kecil yang tak berarti. Saat ini, ia memakai earphone bluetooth, sedang menelepon Tuan Beo.
“Arah jam dua, maju sekitar lima puluh meter, ada satu bunglon mutan bersembunyi di antara tumpukan batu. Melihat ukurannya, mestinya nilainya setara empat poin prestasi militer.”
“Baik,” jawab Chen Dalong pelan, lalu mengubah arah menuju tumpukan batu seperti yang dikatakan Tuan Beo.
Sepanjang perjalanan, ia terus memperhatikan sekeliling, siap membunuh serangga mutan yang nekat menyerang.
Naluri bahaya ini ia miliki sejak menjadi manusia evolusi.
Sayangnya, dalam waktu singkat, ia belum bisa mempelajari cara yang diajarkan Tuan Beo, yaitu melepaskan aura diri untuk mengintimidasi. Kalau bisa, tentu akan jauh lebih mudah.
Sambil ia maju, satu per satu serangga mutan bermunculan menyerang.
Ada jangkrik mutan, kumbang emas mutan, capung mutan, belalang sembah mutan, rayap putih mutan, bahkan banyak serangga mutan lain yang Chen Dalong sendiri tak tahu namanya.
Namun, nasib mereka semua sama: ada yang dibelah dua oleh Chen Dalong, ada yang ditendang mati.
Dengan dirinya membuka jalan di depan, iring-iringan bergerak sangat cepat. Orang di belakang tak perlu khawatir apa-apa, cukup mengikuti dan memunguti bangkai.
Para karyawan perusahaan keamanan begitu bersemangat melihat bos mereka begitu ganas, sementara Liu Wenhua dan para mantan tentara semakin terdiam dan bingung.
Mereka bisa melihat bahwa Chen Dalong jelas tak pernah mendapat pelatihan profesional. Kemampuannya mengatasi makhluk mutan ini sepenuhnya mengandalkan kekuatan fisik yang tak masuk akal.
Ketika berbagai pikiran melintas di benak semua orang, Chen Dalong yang berjalan di depan tiba-tiba berhenti.
(Bersambung)