Bab 79 Anjing Kuning Besar yang Menguasai Ilmu Pedang
"Semuanya sudah siap, inilah target kita kali ini," bisik Chen Dalong dengan nada agak bersemangat.
Sebab, kali ini mereka mengincar seekor antelop mutan yang jauh lebih besar dibanding laba-laba mutan sebelumnya. Jika hanya melihat dari ukurannya saja, mereka seharusnya bisa mendapatkan lebih banyak prestasi militer.
Apalagi, selain antelop tingkat dua itu, masih ada empat antelop tingkat satu lainnya yang juga bertubuh besar. Meskipun tidak sampai satu ton, beratnya tetap di atas lima ratus kilogram.
Namun, berbeda dengan Chen Dalong yang antusias, ekspresi orang-orang lainnya tampak jauh lebih waspada.
"Bos, bukankah ini terlalu berbahaya buat kita? Kalau hewan itu berlari, aku rasa kecepatannya bakal lebih tinggi dari babi hutan mutan. Jika dia menerobos ke dalam formasi kita..." sisa perkataan Li Huosheng tak dilanjutkan, tapi semua orang mengerti maksudnya.
Antelop biasa saja sudah sangat lincah, apalagi yang satu ini. Dengan tubuh sebesar itu, sekali menabrak, pasti fatal akibatnya.
Semua yang ada di situ menyadari hal itu. Baik yang pernah mengalami serangan babi hutan mutan maupun kerbau mutan, kini tak ayal menunjukkan raut cemas di wajah mereka.
Chen Dalong tidak langsung menjawab, melainkan menganalisis, "Dulu waktu aku membunuh babi hutan mutan, aku menghabiskan sekitar seratus peluru, dan di antaranya hanya sepertiga yang peluru penembus baja."
"Kalau lihat ukuran antelop mutan ini, pertahanannya jelas tidak sekuat itu. Kupikir, cukup pakai lima puluh peluru penembus baja saja, sudah bisa menumbangkannya."
"Begini saja, kita semua keluarkan beberapa peluru penembus baja, serahkan pada Liu Wenhua dan Xie Guanzhong. Nanti biarkan mereka menembak dengan semua peluru itu, ditambah dengan tembakan kita yang lain, seharusnya bisa kita atasi."
Saat mengucapkan itu, pandangannya otomatis beralih pada Liu Wenhua dan Xie Guanzhong, kedua penembak jitu di tim.
Setelah saling bertatapan, Liu Wenhua berkata, "Kita belum tahu kecepatan larinya, jadi tidak bisa beri jaminan pasti berhasil."
"Tapi kalau kecepatannya tidak lebih dari dua kali laba-laba mutan, peluang kita menembaknya mati di atas tujuh puluh persen."
"Baik, kalau begitu, ayo semua bersiap!" seru Chen Dalong tanpa ragu.
Semua orang langsung mengambil posisi dan menyiapkan senjata di tempat yang mereka pilih.
Chen Dalong mendekat ke Liu Wenhua dan Xie Guanzhong. Melihat keduanya terus menyesuaikan senjata mereka, ia tahu mereka pun merasa tegang. Ia pun menepuk bahu mereka sambil berbisik, "Tenang saja, jangan terlalu memberi tekanan ke diri sendiri. Kalau kalian gagal pun, masih ada aku. Seharusnya kalian juga sudah menebak siapa aku."
Setelah menenangkan mereka, ia membawa parang besar dan berjalan ke barisan paling depan.
Saat ini, aura kepemimpinan terpancar darinya, seolah satu orang bisa menghadang seribu lawan.
Melihat punggungnya yang semakin kokoh, semua anggota tim merasa lebih teguh dan percaya diri.
Namun, andai seseorang bisa melihat wajah Chen Dalong dari depan, akan terlihat jelas ia pun sangat tegang.
"Tuan Beo, apa benar tidak apa-apa?" tanya Chen Dalong lirih.
"Tenang saja, aku tidak akan membiarkanmu celaka. Kalau kau tidak tampil kuat sekarang, bagaimana bisa beralasan mengejar nanti?" suara tenang sang beo mutan terdengar di benaknya.
Chen Dalong tidak lagi banyak berpikir, menarik napas panjang lalu perlahan mengangkat satu tangannya.
Melihat isyarat itu, semua orang langsung mengarahkan senapan.
Sekejap kemudian, lengannya terayun ke bawah.
Dentuman tembakan terdengar bertubi-tubi, memenuhi hutan dengan suara menggelegar.
Serangan mendadak itu benar-benar tak terduga, kelima antelop mutan di padang rumput pun langsung terkena tembakan.
Empat antelop tingkat satu, setelah ronde pertama tembakan, masing-masing terkena empat atau lima peluru. Mereka roboh dalam genangan darah, bahkan jika belum mati, sudah tidak bisa bergerak lagi.
Namun, antelop tingkat dua itu berbeda. Padahal sebagian besar penembak mengincarnya, tapi dalam satu ronde tembakan, ia hanya terkena tiga peluru.
Sebenarnya, pada detik semua orang melepaskan tembakan, hewan itu tampak menyadari bahaya dan segera bergerak.
Meski tubuhnya besar, kecepatan antelop mutan itu benar-benar luar biasa, setidaknya empat atau lima kali lebih cepat dari laba-laba mutan sebelumnya.
Ia seperti mobil balap yang melesat, hanya dengan satu gerakan menyamping langsung mengunci sasaran pada Chen Dalong dan tim, lalu menyerbu ke arah mereka.
Dentuman tembakan kembali terdengar, namun antelop tingkat dua itu terlalu cepat. Gerakannya pun tak menentu, zig-zag, membuat hampir semua peluru luput.
Walaupun jumlah luka tembak di tubuhnya bertambah, jarak antara kedua kubu kini tinggal tiga puluh atau empat puluh meter.
Melihat situasi ini, mustahil menghentikan hewan itu sebelum menembus barisan mereka.
Keringat dingin menetes di dahi Chen Dalong, bahkan tangan yang memegang parang pun tanpa sadar bergetar.
Tepat saat itu, bulu kuduk Chen Dalong berdiri, merasakan aura mengerikan menguar dari belakang, bukan dari antelop mutan.
Begitu aura itu muncul, antelop mutan seperti melihat sesuatu yang paling menakutkan. Tubuhnya yang semula melaju kencang tiba-tiba berhenti, lalu berbalik dan lari sekencang-kencangnya.
"Kejar, cepat!" suara beo mutan mendesak di benak Chen Dalong, bahkan sebelum ia sempat bernapas lega.
Tanpa berpikir panjang, ia mengacungkan parang di satu tangan, senjata di tangan lain, lalu berlari secepat mungkin hingga lenyap dari pandangan rekan-rekannya.
Di belakang barisan, seekor ular raja kobra raksasa sepanjang lebih dari lima puluh meter perlahan menjauh, meninggalkan suasana sunyi senyap di sekelilingnya.
Di sisi lain, antelop mutan yang sudah melarikan diri sejauh dua ratus meter lebih, mendadak tertabrak seekor kerbau air mutan raksasa yang melompat keluar dari semak-semak.
Tanpa sempat menghindar, tubuhnya mental sejauh belasan meter.
Antelop mutan itu berguling, lalu bangkit dan kabur ke arah lain. Namun karena tertahan sejenak, Chen Dalong berhasil meninggalkan rekan-rekannya jauh di belakang.
Setelah yakin tidak ada yang melihat, beo mutan yang dirasuki Ye Feng segera terbang mendekati Chen Dalong.
"Buang parangnya ke sini!" perintahnya.
Tanpa ragu, Chen Dalong melemparkan parang ke arah beo. Namun beo mutan itu, setelah menangkap parang besar itu, justru melemparkannya ke semak di samping.
Sebelum parang itu menyentuh tanah, sosok kekuningan melompat keluar dari balik semak dan langsung menggigit gagang parang itu.
Chen Dalong belum sempat melihat dengan jelas, sosok itu sudah berubah menjadi kilatan cahaya kuning dan menghilang dari pandangannya.
Ia sempat tertegun, namun tetap mengejar tanpa ragu.
Setelah berlari dua ratus meter lagi, Chen Dalong menyaksikan pemandangan yang membuatnya terpana.
Seekor anjing kuning besar membawa parang di mulutnya, berlari mengitari antelop mutan dengan kecepatan luar biasa. Setiap kali mendekat, parang itu menorehkan luka panjang di tubuh antelop tersebut.
Saat Chen Dalong tiba, tubuh antelop mutan itu sudah penuh luka sayatan.
Anjing kuning besar itu seolah melirik Chen Dalong, lalu sekali lagi melompat melewati depan antelop mutan.
Pada saat itu, parang yang dibawanya membelah leher antelop mutan.
Dengan suara berdebam, akhirnya antelop mutan itu roboh dan mati.
—
Bab selanjutnya mungkin baru akan keluar malam ini.
Tidak ada stok naskah, jadi kalau sedang sibuk ya begini, ah~
(Tamat bab ini)