Bab Tujuh Puluh Tujuh: Malam Ketujuh
Sejak Zhang Mingyu melangkahkan kakinya di Jembatan Wangi, seketika itu juga tak terhitung pasang mata menatap ke arahnya.
Selain kepala desa, tak seorang pun boleh naik ke Jembatan Wangi, itulah adat yang selalu dijaga dalam perayaan di jembatan ini.
Hari ini, sebuah pengecualian terjadi!
Tak terhitung kamera ponsel diarahkan ke Zhang Mingyu.
Mungkin sebagian besar orang di tempat itu belum pernah mendengar lagu-lagu Zhang Mingyu, bahkan tak tahu siapa dirinya, namun lain halnya dengan para warganet di ruang siaran langsung. Sebagian besar dari mereka pernah menonton siaran langsung Zhang Mingyu, dan langsung mengenalinya.
[Tampan sekali!]
[Siapa pria muda berbaju Han ini?]
[Zhang Mingyu!]
[Zhang Mingyu? Sepertinya tak begitu mirip?!]
[Lelaki setampan ini, selain Zhang Mingyu, pasti tak ada yang lain!]
[Seperti permata di padang, tiada duanya di dunia!]
[Aduh, aku sampai ngiler!]
[Sudah lama Kak Yu tak siaran langsung, tak disangka hari ini bisa melihatnya di siaran orang lain, ini sungguh kejutan yang menyenangkan, bukan?]
[Benar-benar kejutan! Tapi, kalian sadar tidak, Tuan Kelinci juga sudah lama tak siaran, mungkinkah dia juga ada di lokasi?]
[Eh, benar juga, bisa jadi!]
[Dua orang ini... Pasti ada sesuatu!]
[Siapa tahu sebentar lagi kita bisa dapat kabar bahagia dari mereka berdua!]
[Barangkali sebentar lagi, anak mereka pun sudah lahir!]
[Kalian lebay, Tuan Kelinci bukan tipe yang mudah begituan.]
[Iya, iya, tapi kalau sudah nekat, bukan manusia!]
[Kira-kira Zhang Mingyu mau nyanyi lagu apa ya?]
[Tebakanku, pasti “Mengusir Duka”.]
[Mestinya memang “Mengusir Duka”, soalnya lagu-lagu lain kurang cocok buat suasana ini.]
[Kok tak ada yang menebak lagu baru?]
[Lagu baru? Kamu pikir bikin lagu baru semudah itu, butuh waktu, tahu!]
[Kalian sadar nggak Zhang Mingyu sekarang berdiri di mana?]
[Lihat kok, memangnya kenapa?]
[Jelas ada masalah! Dan masalah besar!]
[Oh? Maksudmu gimana?]
[Zhang Mingyu sekarang berdiri di atas Jembatan Wangi! Biasanya cuma kepala desa yang boleh berdiri di sana. Siapa pun yang ingin naik, harus dapat izin dari kepala desa. Beberapa tahun belakangan, saat Festival Qixi, entah berapa banyak yang ingin naik ke sana sekadar tampil, bahkan ada yang rela bayar mahal, tapi tetap saja gagal.]
[Serius? Cuma soal jembatan, segitunya amat?!]
[Kamu nggak paham, itu aturan!]
[Aku penasaran gimana caranya Zhang Mingyu bisa membujuk kepala desa, yakin banyak yang sama penasarannya denganku!]
[Udah, jangan nebak-nebak, dengarkan saja nyanyiannya!]
[...]
Ruang siaran langsung sangat meriah.
Begitu pula suasana di lokasi.
“Itu siapa, ya?”
“Nggak kenal!”
“Kamu kenal?”
“Aku juga nggak kenal!”
“Rasanya familiar, seperti pernah lihat, tapi lupa di mana.”
“Aku tahu, aku tahu dia siapa!”
“Siapa?”
“Zhang Mingyu! Itu Zhang Mingyu!”
“Zhang Mingyu itu siapa?”
“Seseorang yang sangat berbakat!”
“Soal bakat aku nggak tahu, tapi yang jelas si Zhang Mingyu ini benar-benar tampan!”
“Setuju, bukan tipe lelaki cantik ala idola gadis-gadis, tapi ketampanan yang sejati!”
“Tapi Zhang Mingyu naik ke atas itu mau nyanyi lagu apa?”
“Zhang Mingyu punya banyak lagu... Tapi sepertinya tak ada yang cocok dengan tema hari ini.”
“Jangan-jangan nanti Zhang Mingyu malah gagal total?”
“Kita lihat saja!”
[...]
Mendengar bisik-bisik di sekitar, Kelinci Putih Kecil dan Zhou Qiqi jadi sedikit cemas.
Keduanya tidak tahu Zhang Mingyu akan menyanyikan lagu apa.
“Teramat Banyak” jelas tidak mungkin!
Lagu-lagu yang tersisa, seperti yang dikatakan orang-orang, memang kurang sesuai dengan tema hari ini.
“Jangan cemas, kita harus percaya pada Kak Yu.”
Kelinci Putih Kecil tampak menenangkan Zhou Qiqi, padahal ia pun sedang menenangkan dirinya sendiri.
...
Di atas Jembatan Wangi, Zhang Mingyu menatap ribuan orang di bawahnya, tiba-tiba merasakan sensasi seolah-olah ia sedang memerintah negeri.
Betapa indahnya perasaan itu!
Pantas saja di zaman dulu semua orang ingin menjadi raja, rupanya beginilah rasanya!
Hati Zhang Mingyu dipenuhi perasaan menggebu.
...
Di bawah jembatan, seorang gadis remaja berusia sekitar lima belas atau enam belas tahun terus menatap Zhang Mingyu.
“Adik kecil, bisakah kau membantuku?”
Zhang Mingyu tersenyum padanya.
“Bi...bisa.”
Wajah si gadis tampak malu-malu.
Belum pernah ia melihat pria setampan Zhang Mingyu, ia pun terpukau!
“Tolong sambungkan USB ini, di dalamnya ada lagu pengiring, terima kasih sebelumnya!”
Zhang Mingyu melemparkan USB itu padanya.
“Ti...tidak repot!”
Gadis itu pergi dengan wajah merah menahan malu.
...
“Saya sangat senang hari ini bisa datang ke Desa Gudoujing, ini pertama kalinya saya datang dan pertama kali pula menghadiri festival di Jembatan Wangi. Banyak hal yang saya belum mengerti, tapi orang-orang di sini sangat ramah, membuat saya merasakan kehangatan, saya sungguh menyukai tempat ini!”
“Pertama-tama, saya ingin berterima kasih pada kepala desa, beliaulah yang memberi saya kesempatan berdiri di atas Jembatan Wangi untuk bernyanyi. Tentu saya tidak akan mengecewakan kepercayaan beliau. Selanjutnya saya akan membawakan sebuah lagu ciptaan saya sendiri untuk kalian.”
“Hari ini adalah Qixi, jadi saya menulis sebuah lagu berjudul ‘Qixi’ khusus untuk kalian. Semoga kalian menyukainya!”
Tepuk tangan meriah pun bergema.
Di hadapan ribuan pasang mata, alunan musik pengiring perlahan mengalun.
Zhang Mingyu menggenggam kipas di tangan kanan, mikrofon di tangan kiri, dan mulai menyanyi penuh perasaan:
“Di tepian sungai, hujan senja turun perlahan, mentari telah tenggelam
Di dermaga, bayang lilin menari, akulah yang menanti
Nyanyianmu masih menggema di telinga, angin lembut menemani
Baru kusadari, debu telah menutupi meja kecapi
Dulu, tali ikatan tipis kita lepaskan, takdir pun menyatu
Waktu berlalu seperti benang di jarum yang kau selipkan
Bintang keberuntungan tak sempat disapa, jejak kaki di gerbang biara
Hanya segelintir insan setia yang datang bertamu”
Boom!
Jiwa semua orang seolah meledak.
Lirik ini...
Melodinya...
Suaranya...
Penampilannya...
Sungguh luar biasa!
Seorang gadis cantik yang membawa buket bunga tak kuasa menahan diri, melangkah mendekati Zhang Mingyu.
Pacarnya segera menariknya kembali.
“Orang luar tidak boleh naik ke Jembatan Wangi.”
Gadis itu pun berhenti seketika.
“Yang ingin memberikan bunga diperbolehkan naik, tapi setiap kali hanya satu orang.”
Di saat itu, kepala desa yang sedari tadi diam, kembali angkat bicara.
Si gadis menunduk hormat pada kepala desa, lalu naik ke atas jembatan.
Pacarnya tidak menghalangi.
Mengapa?
Karena memang tak mungkin menghalangi!
Mata gadis itu kini hanya tertuju pada Zhang Mingyu.
Pada saat itu, banyak orang bertanya-tanya dalam hati, mengapa hari ini kepala desa begitu mudah memberi izin?
Namun, kepala desa jelas tidak akan menjelaskan pada mereka.
Semua mata tertuju pada Zhang Mingyu.
Tak terhitung gadis memandangnya dengan penuh kekaguman.
Cahaya lampu menyorot tubuh Zhang Mingyu, membuatnya terlihat semakin suci, seolah-olah ia adalah dewa langit, bukan manusia biasa.
Si gadis begitu gugup hingga tubuhnya bergetar.
Ia menyerahkan buket bunga ke tangan Zhang Mingyu, dan tak tahan lagi, langsung memeluknya.
Kedua tangan Zhang Mingyu sedang memegang barang, ia pun tak bisa menolak, hanya membiarkan gadis itu memeluk.
Gadis itu memeluk Zhang Mingyu dengan sangat erat.
Di bawah panggung, sang pacar hanya bisa memasang wajah merana.
Iri...
Cemburu...
Mengapa dirinya begitu jelek?
Andai saja ia setampan Zhang Mingyu!
“Nona, aku sulit bernapas!”
Segera bagian reff akan dimulai, Zhang Mingyu pun mengingatkan gadis itu agar melepaskan pelukannya.
“Ma...maaf... kau... kau benar-benar tampan!”
Barulah gadis itu sadar dirinya terlalu terbawa suasana, wajahnya memerah, menatap Zhang Mingyu dalam-dalam, lalu lari turun dari panggung.
Dan ternyata ada yang mengikuti.
Di bawah, puluhan gadis lain yang sudah tak tahan dengan gejolak hati mereka, beramai-ramai berlari menuju Jembatan Wangi.