Bab! Anak yang selalu kau rindukan, kini telah tumbuh dewasa!
Dalam lamunannya, Zhang Mingyu merasa seolah dirinya telah kembali ke tahun 2009.
Tahun itu, Zhang Mingyu baru saja lulus dari sekolah menengah pertama.
Tahun itu pula, ia bersiap meninggalkan desa untuk melanjutkan sekolah di SMA di kota kabupaten.
Saat itu, Zhang Mingyu tengah berada dalam masa-masa pemberontakan.
Hubungan antara ayah dan anak ini pun tidak harmonis.
Di hari keberangkatannya, hanya sang ibu yang mengantarnya, sedangkan sang ayah sama sekali tidak menampakkan diri.
Zhang Mingyu yang memang sudah lama menyimpan ketidakpuasan terhadap ayahnya, makin merasa kecewa melihat hal itu.
Padahal, yang tak ia ketahui, ayahnya berdiri diam-diam di balik sebuah pohon besar, menatapnya dari kejauhan.
Hanya saja, waktu itu ia tak melihatnya.
Sang ibu pun tidak memberi penjelasan.
Karena sekalipun dijelaskan, Zhang Mingyu takkan mau mendengarnya.
Saat mobil yang ia tumpangi mulai melaju, Zhang Mingyu melambaikan tangan sekuat tenaga kepada ibunya lewat kaca belakang.
Dan tepat pada saat itu, ia melihat seseorang berjalan keluar dari balik pohon besar itu.
Orang itu adalah ayahnya!
Hari itu, hujan turun deras.
Ayahnya berdiri di bawah guyuran hujan, menatap mobil dari kejauhan... menatap dirinya.
Di detik itu juga, Zhang Mingyu menangis.
Ternyata ayahnya bukan tidak peduli, hanya saja selama ini ia tak pernah melihat pengorbanan ayahnya.
Pria itu hanya tak pandai mengungkapkan perasaan.
Sejak saat itu, hubungan ayah dan anak itu mulai membaik.
Segalanya perlahan mengarah ke hal yang lebih baik.
Apa itu cinta seorang ayah?
Cinta ayah adalah pengorbanan yang dilakukan dalam diam, tanpa pernah diungkapkan lewat kata-kata.
Cinta ayah bisa membuat seorang pria menempuh ribuan kilometer demi menjenguk anaknya.
Cinta ayah bisa membuat seorang pria menahan mabuk perjalanan hanya demi melihat anaknya tampil.
Cinta ayah bisa membuat seorang pria menerobos hujan deras untuk mengantar kepergian anaknya.
Semuanya terpendam dalam diam.
Banyak orang yang mengabaikan cinta seorang ayah.
Yang ingin dilakukan Zhang Mingyu adalah menyanyikan cinta ayah lewat lagu, membangkitkan kembali kenangan orang-orang tentang ayah mereka.
Meskipun belum menyanyi, mata Zhang Mingyu sudah mulai memerah.
Suasana di tempat itu sangat hening.
Zhang Mingyu mengangguk pelan kepada guru pengiring musik.
Braak!
Lampu-lampu padam.
Dalam gelap, Zhang Mingyu menerima sebuah gitar dari kru panggung.
“Cinta ayah selalu tanpa kata.”
“Tapi cinta ayah sungguh luar biasa.”
“Sebuah lagu berjudul ‘Ayah’, kupersembahkan untuk ayahku, juga untuk semua ayah di dunia.”
Begitu kata-kata Zhang Mingyu selesai, iringan musik pelan mulai terdengar.
Bunyi petikan gitar mengalun...
Zhang Mingyu perlahan memetik senar gitarnya.
Cahaya lampu menyala.
Zhang Mingyu mulai bernyanyi dengan lembut:
“Aku selalu meminta darimu, tapi tak pernah mengucapkan terima kasih.”
“Baru setelah dewasa aku mengerti, betapa sulitnya dirimu.”
“Setiap kali berpisah, selalu berpura-pura tampak ringan.”
“Sambil tersenyum berkata, ‘Pulanglah’.”
“Berbalik badan, air mata pun jatuh di pelupuk.”
Hanya beberapa bait sederhana, namun mengandung makna yang begitu dalam...
Liriknya polos dan sederhana.
Namun setiap katanya menusuk hati.
Suara Zhang Mingyu begitu lembut, merdu, mengalir ke telinga seluruh penonton... menembus hingga ke relung hati.
Banyak orang merasa seolah ada sesuatu yang menghantam keras di dada mereka.
Terutama ayah Zhang yang duduk di belakang panggung, seperti tersambar petir.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini penonton benar-benar hening, satu per satu mata mereka memerah.
Ayah...
Betapa asingnya panggilan itu!
Sudah berapa lama tak memanggil “Ayah”?!
Sebenarnya, peran seperti apa yang dimainkan oleh seorang ayah?
Zhang Mingyu merasa ayah adalah “penjaga”.
Di tempat yang tak terlihat, ia mengulurkan tangan, diam-diam menjaga kita.
“Betapa aku ingin seperti dulu lagi,”
“Memegang telapak tanganmu yang hangat.”
“Tapi kini kau tak lagi di sampingku,”
“Kutitipkan kesehatan lewat angin yang berhembus.”
Seiring alunan lagu, banyak orang hanyut dalam kenangan masing-masing.
Saat kecil dulu, mereka masih bisa bercanda dan bermain dengan ayah, namun setelah dewasa semua terasa kaku dan jauh.
Baru kini mereka sadar, semasa kecil, bukan hanya ibu yang menemani, tetapi juga ada ayah!
Bagian klimaks pun tiba.
Zhang Mingyu menarik napas dalam-dalam.
Air mata jatuh perlahan saat matanya terpejam, namun ia seolah tak menyadarinya.
Suaranya semakin tinggi.
Emosi memuncak.
Dengan penuh penghayatan ia bernyanyi:
“Waktu, berhentilah sejenak,”
“Jangan biarkan kau menua lagi,”
“Aku rela menukar segalanya demi masa mudamu yang abadi,”
“Ayah yang selalu ingin kuat,”
“Apa yang bisa kulakukan untukmu?”
“Perhatian yang mungkin tak berarti,”
“Terimalah.”
Penonton pun tak kuasa menahan tangis!
Keempat mentor pun mengusap air mata mereka.
Sedangkan ayah Zhang...
Sudah lama ia menangis tersedu-sedu!
Inikah putraku?
Benarkah ini anakku?
Ia sudah dewasa!
Sementara aku, sudah menua!
Nak, perhatianmu sudah ayah terima!
Ayah tidak membutuhkan kau menukar masa depanmu untukku, ayah hanya ingin melihatmu tumbuh sehat dan bahagia.
Dengan kemampuan menyanyi dan bermain musik tingkat SSS, didukung pesona dan kedekatan pribadinya, perpaduan suara dan alunan musik yang sempurna membuat semua orang larut, sulit untuk keluar dari suasana itu.
“Terima kasih untuk semua yang kau lakukan,”
“Kedua tanganmu menopang keluarga kita,”
“Selalu memberikan yang terbaik untukku tanpa ragu,”
“Apakah aku kebanggaanmu?”
“Masihkah kau mengkhawatirkanku?”
“Anakmu yang selalu kau rindukan,”
“Sudah dewasa.”
Sampai di sini, Zhang Mingyu berteriak lantang, “Ayah! Anakmu yang selalu kau rindukan, kini sudah dewasa!”
Air mata mengalir di wajahnya.
Zhang Mingyu seakan tak menyadari.
Emosi yang mendalam sulit untuk diredam.
Saat itu, Zhang Mingyu hanya ingin menangis sepuasnya.
Semua orang di tempat itu pun hanyut dalam suasana, dan menangis dalam kadar yang berbeda-beda.
Di barisan depan penonton, ada seorang gadis muda berusia sekitar dua puluhan yang menangis tersedu-sedu.
Gadis itu sangat cantik, namun di lengannya tampak tato, jelas ia juga pernah mengalami masa-masa pemberontakan.
Barangkali dulu ia juga sering bertengkar dengan ayahnya.
Namun kini semua telah berubah.
Setelah tumbuh dewasa dan benar-benar merasakan kerasnya hidup, ia baru sadar siapa yang benar-benar paling sayang kepadanya!
Isak tangis gadis itu cukup keras, namun tak ada yang menenangkannya. Selain karena tidak saling kenal, yang lebih utama karena semua orang juga tengah menangis, tak ada yang sempat memperdulikannya.
Bukan hanya gadis itu, para lelaki pun tak peduli lagi dengan gengsi, mereka pun menutupi wajah sambil menangis tersedu-sedu.
“Pria sejati tak mudah meneteskan air mata?”
Itu hanya karena mereka belum benar-benar merasa terluka!
...
Di belakang panggung.
“Paman, Bibi, aku izin keluar sebentar.”
“Paman, Bibi, aku juga mau keluar sebentar.”
Kelinci Putih dan Zhou Qiqi keluar satu per satu menuju sudut yang tenang.
Keduanya segera menelepon.
Dan semua panggilan itu, mereka tujukan kepada ayah mereka!
...
“Ayah, aku kangen!”
“Hmm, kamu nggak demam, kan? Kemarin juga nggak banyak minum, kenapa siang-siang begini sudah mabuk seperti ini?!”
“...”
Kelinci Putih langsung tertawa.
Emosi yang sudah terbangun pun buyar seketika.
Sudahlah!
“Tidak apa-apa, Ayah. Istirahat saja, aku tutup dulu ya!”
Kelinci Putih buru-buru memutuskan telepon.
Tak bisa lanjut bicara, kalau tidak perasaannya bakal sulit dikendalikan lagi nanti.
...
“Qiqi... ini Qiqi, kan?”
“Ayah, ini aku!”
“Qiqi, akhirnya kamu mau menelepon ayah juga. Kamu nggak tahu, Ayah...”
“Ayah, aku kangen!”
Di seberang sana sunyi sejenak.
Lama hening, suara ayah Zhou kembali terdengar, “Anak bodoh, kalau kangen ayah, pulanglah!”
“Ayah...”
Zhou Qiqi tak kuasa menahan tangis, ia menangis keras.
Ayah Zhou yang mendengar tangisan putrinya langsung panik dan cemas, buru-buru bertanya, “Nak, kamu kenapa? Ada yang menyakitimu? Siapa yang berani, bilang saja sama Ayah, Ayah akan membelamu!”
“Ayah, nggak ada yang menyakitiku.”
“Atau kamu kehabisan uang? Tidak apa-apa, butuh berapa, nanti Ayah kirim!”
“Bukan soal uang, Ayah.”
“Lalu kenapa... Nak, kalau pekerjaanmu tidak menyenangkan, pulanglah, Ayah masih sanggup menghidupimu!”
“Uuuhhh...”
“Anak baik, sebenarnya ada apa? Ceritalah, Ayah jadi cemas!”
“Ayah, tahun ini aku akan pulang saat Tahun Baru untuk menemuimu!”
“...Benarkah?!”
“Benar, Ayah!”
“Bagus sekali! Bagus sekali!”