153. Kaisar Dewa Yamato
Di Kota R, sebuah wabah virus yang belum pernah terjadi sebelumnya telah mengubah kota yang dulunya makmur ini menjadi sangat sunyi dan terbengkalai. Di jalan-jalan, zombi yang berkeliaran mencari makan dapat dilihat di mana-mana. Mengenai makhluk hidup, selain para penyintas yang bersembunyi di sudut-sudut tertentu dan berjuang untuk bertahan hidup, bahkan seekor kecoa pun sudah tidak dapat ditemukan lagi.
Perpustakaan Yuan-yu adalah sebuah perpustakaan berusia seabad yang telah berdiri sejak Kota R masih berupa sebuah kota kecil. Tempat ini telah menyaksikan kebangkitan sekaligus kejatuhan Kota R. Di masa lalu, perpustakaan ini tidak hanya dikunjungi oleh orang-orang yang ingin membaca, tetapi juga oleh para wisatawan yang datang untuk mengagumi sejarah seratus tahunnya. Namun kini, perpustakaan yang dulunya begitu ramai itu menjadi sangat sepi.
*Syuu!*
Zombi terakhir roboh sambil mengeluarkan suara erangan kesakitan. Seluruh zombi di dalam perpustakaan telah dibersihkan. Tidak, masih ada satu lagi, yaitu sang pustakawan asli. Ini adalah seorang gadis yang bermutasi menjadi zombi. Berbeda dari zombi lainnya, mutasi gadis zombi ini tidak terlalu mengubah penampilannya. Selain pupil matanya yang berwarna merah darah, ia tidak berbeda dari orang normal, dan ia juga masih menyisakan sedikit kecerdasan.
Mungkin karena alasan inilah gadis zombi tersebut tidak dibersihkan, melainkan dibiarkan hidup.
"Yang Mulia, kecuali gadis zombi ini, semua zombi telah diberantas!" Seorang ninja berpakaian hitam berlutut di tanah dan berkata dengan penuh hormat.
Di depannya, seorang pria tegap berdiri dengan membelakanginya. Mendengar laporan itu, ia perlahan membalikkan badan. Ia adalah seorang pria paruh baya dengan cambang yang memutih, namun wajahnya tampak sangat kemerahan dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ketuaan.
"Baiklah, mundurlah. Tanpa perintahku, tidak seorang pun boleh masuk!" Suara orang tua itu terdengar sangat nyaring dan penuh energi.
"Patuh pada perintah!"
Segera setelah itu, semua orang mundur dari ruangan tersebut, menyisakan sang pria tua dan gadis zombi yang merupakan mantan pustakawan yang telah bermutasi.
Kecerdasan gadis zombi yang hanya tersisa sedikit itu membuatnya tahu bahwa pria tua di hadapannya sangatlah kuat. Saat ini, ia meringkuk di sudut sambil gemetar ketakutan, sama sekali tidak menunjukkan keganasan seperti zombi lainnya, melainkan tampak begitu menyedihkan.
Pria tua itu perlahan berjalan mendekati gadis zombi tersebut, menatapnya dari atas, mengulurkan lengan kekarnya, dan menggenggam udara kosong. Gadis zombi itu pun terangkat ke udara tanpa ada yang menyangga.
Wajah pucat gadis zombi itu kini dipenuhi dengan ketakutan. Ia meronta, namun itu semua sia-sia.
"Anak kecil, apakah kamu bersedia menerima sebuah tugas dari Yang Mulia ini?!" kata pria tua itu.
Meskipun gadis zombi ini lebih mendekati manusia dibandingkan zombi lainnya, ia tetap belum bisa berbicara. Kendati demikian, sisa kecerdasannya membuatnya tahu bahwa hanya dengan menyetujui manusia yang menakutkan di hadapannya ini, ia bisa tetap bertahan hidup. Oleh karena itu, ia mengangguk dengan liar.
"Bagus, pergilah dan bunuh orang ini!" ucap pria tua itu sambil menunjuk ke titik di antara kedua alis gadis zombi tersebut, lalu mentransfer niatnya ke dalam pikiran sang gadis zombi.
Setelah itu, pria tua tersebut melepaskan tangannya, dan gadis zombi itu jatuh ke lantai.
"Sekarang pergilah untuk melahap mayat-mayat ini. Setelah selesai, jalankan tugasmu!" Perintah pria tua itu sambil menunjuk ke arah tumpukan mayat zombi di dalam ruangan yang menggunung.
Titik Evakuasi Timur.
Setelah menghabisi Prajurit Hitam, Lin Yuexi kembali ke sisi Lan Hai dan yang lainnya. Tanpa menunggu mereka berbicara, ia langsung berkata, "Tidak lama lagi, ninja-ninja dari Jepang akan datang mencari masalah denganku. Aku akan pergi menghadapi mereka lebih dulu, kalian pergilah untuk memberikan dukungan ke titik evakuasi yang lain."
"Masih ada ninja Jepang?" tanya Lan Hai terkejut.
"Ya. Semula aku berencana pergi untuk mendukung titik evakuasi lain, namun sepertinya sekarang tidak bisa kulakukan. Jadi, titik evakuasi lainnya kuserahkan kepada kalian."
"Ninja-ninja Jepang itu terlalu arogan. Kami akan tinggal untuk membantumu," ujar Duer yang paling membenci orang Jepang. Oleh karena itu, dibandingkan pergi membasmi zombi, ia lebih ingin menghadapi para ninja Jepang.
Lin Yuexi tersenyum dan menggelengkan kepala. "Tidak perlu, titik evakuasi lain lebih membutuhkan kalian."
Melihat Lan Hai seolah ingin mengatakan sesuatu lagi, ia melanjutkan, "Kalian tenang saja, dengan kekuatanku, menghadapi beberapa ninja Jepang bukan masalah besar. Titik-titik evakuasi lain jauh lebih membutuhkan kalian."
"Baiklah, kalau begitu, berhati-hatilah," kata Lan Hai.
"Oh ya, jika sempat, tolong sampaikan sebuah pesan kepada Xiaohui dan yang lainnya agar mereka tidak perlu mengkhawatirkanu," ujar Lin Yuexi teringat bahwa Xiaohui dan yang lainnya masih menunggunya.
"Tenang saja, serahkan itu padaku."
Setelah memberikan instruksi, Lin Yuexi berjalan menuju bagian utara Kota R. Tujuannya adalah, setelah menghabisi para ninja Jepang, ia akan langsung mencari Raja Zombi Xufu.
Kecepatannya sangat luar biasa. Hanya dalam beberapa menit, ia sudah kembali memasuki Kota R.
Sebuah kunai berwarna hijau tua muncul tanpa suara, melesat cepat ke arah punggung Lin Yuexi.
Lin Yuexi seketika meningkatkan kewaspadaannya. Dengan membalikkan pedangnya, ia menebas kunai tersebut secara akurat. Namun, kunai itu tiba-tiba meledak, mencipratkan cairan hijau tua ke segala arah.
[Perisai Suci Emas]
Sebuah kubah cahaya keemasan menghalangi cairan hijau tua tersebut agar tidak mengenai tubuhnya.
Namun, itu belum berakhir. Di sebelah kiri Lin Yuexi, sebuah katana yang memancarkan kilau dingin kembali muncul. Perisai Suci Emas langsung hancur, namun serangan itu juga memberi Lin Yuexi sedikit waktu untuk menangkis katana tersebut dengan pedang pemotong jalannya.
Yang membuat Lin Yuexi terkejut adalah katana musuh sama sekali tidak terpotong oleh senjatanya.
"Ternyata punya sedikit kemampuan, pantas saja bahkan Keempat Iblis tidak bisa berbuat apa-apa padamu!" Sebuah suara menggoda terdengar. Saat itu juga, di atas sebuah tiang lampu di depan Lin Yuexi, sesosok ninja wanita berpakaian hijau muncul.
Di sampingnya berdiri seorang ninja pria berpakaian ninja abu-abu perak. Berbeda dari sang ninja wanita, ia hanya menatap tajam ke arah Lin Yuexi, tatapannya seolah sedang melihat seseorang yang sudah mati.
"Tokihime, Fuma Kotaro..."
Lin Yuexi memegang pedangnya dengan posisi terbalik, menatap lurus ke arah kedua ninja tersebut.
"Oh? Tak disangka kau tahu identitas kami. Jika begitu, menyerahlah secara baik-baik. Melihat kulitmu yang mulus dan lembut ini, Kakak sungguh tidak tega menorehkan beberapa luka di tubuhmu."
"Hehe... Kenapa kalian selalu suka mengucapkan omong kosong yang tidak berguna seperti ini? Dua pasang ninja sebelum kalian juga mengatakan hal yang sama, hanya saja sekarang semuanya sudah pergi melapor ke neraka!" sindir Lin Yuexi.
Namun, Tokihime sama sekali tidak merasa tersinggung. Ia justru mengeluarkan serangkaian tawa menggoda. Tubuhnya yang bergetar pelan, dipadukan dengan bentuk tubuhnya yang memukau, memancarkan pesona menggoda yang tak terlukiskan.
*Dia benar-benar mantan bintang film dewasa ya,* Lin Yuexi tidak dapat menahan diri untuk tidak memuji dalam hati. Ia tahu bahwa Tokihime dulunya adalah seorang bintang film dewasa.
"Adik kecil, Kakak ini bukan orang tidak berguna seperti Keempat Iblis itu ya," goda Tokihime sambil tersenyum manja.
"Adik kecil? Aku bukan adik kecil, modal Kakak ini sangat kuat!" Lin Yuexi membalas dengan nada bercanda.
Tokihime tertegun sejenak, lalu mengerti maksudnya. Alih-alih merona, ia justru berkata, "Begitukah? Kalau begitu, ikutlah dengan Kakak kembali, biarkan Kakak menyaksikan betapa kuatnya modal yang kau miliki."
"Kalau itu, tidak usah. Aku sama sekali tidak tertarik pada wanita bekas yang sudah ditiduri ribuan orang."
"Kau..." Tokihime membelalakkan mata karena marah.
"Berhenti bicara omong kosong, aku masih ada urusan penting yang harus diselesaikan, tidak punya waktu untuk bermain dengan tikus-tikus Jepang." Lin Yuexi sudah kehilangan minat untuk terus membuang-buang kata dengan Tokihime.
"Kotaro, jangan ikut campur. Kalau aku tidak membuat bocah ini berlutut memohon ampun, rasa sesak di dadaku ini tidak akan hilang." Tokihime masih belum menganggap serius Lin Yuexi.
"Hehe... Kalian berdua maju bersama saja!" cemooh Lin Yuexi. Setelah itu, tubuhnya berubah menjadi kilatan cahaya pelangi dan seketika muncul di belakang Fuma Kotaro. Dibandingkan Tokihime, ia justru lebih mewaspadai Fuma Kotaro yang sejak tadi diam membisu, sebab dalam kisah aslinya kekuatan pria itu tidak dideskripsikan secara rinci.
Fuma Kotaro benar-benar memiliki kekuatan yang luar biasa. Saat pedang Lin Yuexi hendak menebasnya, ia mampu bereaksi secara instan dan menangkis serangan itu dengan cara yang sama seperti yang dilakukan Lin Yuexi tadi. Sebaliknya, Tokihime jauh lebih payah karena ia sama sekali belum bereaksi.
Meskipun serangannya berhasil ditangkis, Lin Yuexi tidak berhenti begitu saja. Ia langsung mengeluarkan jurus [Tarian Sayap Patah].
Tebasan pertama kembali ditangkis, sementara tebasan kedua berhasil ditepis oleh Tokihime yang baru sempat bereaksi dengan kunainya. Namun pada tebasan ketiga, keduanya tidak mampu lagi menahan beban serangan dan langsung terpental mundur.
Kendati demikian, keduanya hanya menderita luka-luka dan tidak mengalami bahaya yang mengancam nyawa. Hanya saja, situasi ini membuat mereka berdua diliputi keterkejutan yang luar biasa. Mereka benar-benar tidak menyangka kekuatan Lin Yuexi begitu hebat, hingga mampu menerobos tepat ke belakang mereka dalam sekejap dengan daya serang yang begitu dahsyat. Jika bukan karena mereka berdua menangkisnya bersama-sama, jika hanya dilawan seorang diri, diperkirakan saat ini mereka sudah tewas di tangan Lin Yuexi.