6. Teman Sekamar
"Tunggu sebentar!" teriak gadis itu, menghentikan langkah Lin Yuexi.
Mendengar itu, Lin Yuexi pun terpaksa berhenti, berbalik, dan berkata, "Ada apa lagi?"
Gadis itu melangkah keluar dari warnet, menatap Lin Yuexi dengan penuh curiga. "Kamu sudah punya pacar?"
Lin Yuexi menjawab, "Kenapa? Apa aku tidak boleh punya pacar?"
Gadis itu menggeleng. "Bukan itu maksudku. Aku dan Qingxue sudah sekelas sejak SMA, dia sahabatku. Sekarang gara-gara kamu menolongnya, dia terus-terusan membicarakanmu. Kupikir, dengan hatinya yang polos, dia mungkin benar-benar menganggapmu sebagai penyelamat, bahkan bisa saja menaruh perasaan padamu. Tapi sekarang, jika kamu sudah punya pacar, dia mungkin akan mundur. Tentu saja, kalau kamu tipe pria dengan kelainan aneh, aku tidak akan membiarkanmu mendekati Qingxue."
Mendengar itu, Lin Yuexi merasa sedikit kesal. Nada bicara gadis itu jelas-jelas meremehkannya, bahkan sejak tadi ia bisa merasakan aura permusuhan yang tak jelas dari gadis itu.
Gadis itu tampaknya menyadari perubahan ekspresi Lin Yuexi, lalu berkata ringan, "Qingxue itu sahabatku, aku tidak ingin ia punya pacar seorang kutu buku lemah."
Memang benar, seperti yang dikatakan gadis itu, Lin Yuexi tak bisa dibilang tegap. Tingginya hanya 178 cm, dan dari penampilannya ia memang tampak seperti mahasiswa pendiam dan lemah.
Semakin lama Lin Yuexi mendengar, semakin kesal ia jadinya. Ia menahan perasaan tak puas dalam hati, lalu berkata datar, "Kalau tidak ada urusan lain, aku pergi dulu."
Usai berkata demikian, ia pun berbalik dan pergi.
Gadis itu hanya menatap punggung Lin Yuexi yang menjauh tanpa berkata apa-apa, lalu berbalik masuk kembali ke warnet.
Lin Yuexi, dengan perasaan jengkel, kembali ke asramanya. Saat itu, suasana kamar sedang ramai—ada yang membersihkan meja, melipat selimut, bahkan lantai pun mengilap seperti baru. Yang membuatnya heran, salah satu temannya melipat selimut berkali-kali, dibuka, lalu dilipat lagi.
"Kamu lagi ngapain, bikin tahu?" tanya Lin Yuexi spontan, walaupun mereka belum saling kenal.
Temannya itu tampaknya belum sadar, menjawab tanpa menoleh, "Sebentar lagi pelatih akan memeriksa kerapian kamar."
"Memeriksa celana dalam? Serius banget, kamu pakai merek apa?" Lin Yuexi terkejut.
"Bukan celana dalam, tapi kerapian kamar!" Temannya itu tampak kesal, lalu baru sadar dan menoleh. "Oh, kamu toh? Sudah pulang dari rumah sakit?"
Saat itu, dua teman sekamar lainnya juga melihat Lin Yuexi dan langsung berhenti beres-beres.
Lin Yuexi berkata, "Iya, baru pagi ini pulang dari rumah sakit."
Berteman antar laki-laki memang mudah, jadi Lin Yuexi dengan cepat bisa akrab dengan ketiga temannya. Ia juga jadi tahu nama teman-teman sekamarnya yang akan tinggal bersama di bawah atap yang sama.
Yang tadi melipat selimut bernama Wang Bin, tubuhnya bulat seperti bola, tinggi dan berat badannya seimbang, wajahnya polos, benar-benar seperti anak kecil.
Liu Sheng, yang paling tinggi besar di antara mereka, berasal dari sebuah kota kecil di Timur Laut. Ia tipikal pria gagah, suka basket, dan tubuhnya memang cocok untuk itu.
Terakhir, Zhang Qingyang, namanya hanya beda satu huruf dengan tokoh Feng Qingyang dari novel karya Chin Yung. Tapi jelas, tak ada yang bisa dibandingkan. Feng Qingyang adalah seorang guru besar, sedangkan Zhang Qingyang ini malah berwajah seperti orang setengah baya, berkacamata hitam tebal, benar-benar tipe kutu buku. Bahkan saat perkenalan tadi, ia seperti mata-mata di zaman perang, setelah menyebutkan nama langsung diam, hemat bicara.
Tak lama kemudian, dari kamar sebelah terdengar teriakan "Dasar tolol!", dan suara itu terus berpindah dari satu kamar ke kamar lain, tanpa henti.
Saat Wang Bin sedang menekan selimut dengan pantatnya, seorang pria berkulit gelap hingga mirip pengungsi Afrika, mengenakan seragam militer, masuk ke kamar. Di belakangnya, beberapa orang tampak mengikuti sambil memohon.
"Lapor pelatih, kerapian kamar sudah selesai, mohon diperiksa!" Wang Bin segera melompat turun dari ranjang dan berdiri tegak.
Liu Sheng dan Zhang Qingyang juga berdiri tegak, tampak tegang. Melihat mereka, Lin Yuexi jadi bingung harus ikut berdiri tegak atau tidak.
Melihat meja yang mengilap, barang-barang tertata rapi, dan lantai tanpa debu, Wang Bin dan dua temannya yakin mereka sudah lolos.
Namun, tak disangka, pelatih itu mengenakan sarung tangan putih, mengulurkan satu jari, lalu mengusap sudut meja komputer dan lemari pakaian…
"Dasar tolol!" pelatih itu memaki, sudah kebiasaannya. "Kerapiannya tidak lolos, ulangi lagi!"
Setelah itu, Liu Sheng dan Zhang Qingyang juga mendapat makian yang sama—tak lolos.
Kemudian pelatih itu menghampiri tempat tidur Lin Yuexi. Meja komputernya berantakan, baju-bajunya berceceran di atas ranjang…
"Dasar tolol!" Pelatih itu langsung marah, jelas-jelas merasa tidak dihormati. Ia berbalik ke arah Lin Yuexi, hendak memarahi, tapi lalu tampak ragu karena merasa sama sekali tidak mengenal Lin Yuexi.
"Kamu memang penghuni kamar ini?" tanya pelatih.
Lin Yuexi mengangguk, "Iya."
"Kenapa aku belum pernah lihat kamu?"
"Soalnya tiga hari ini aku dirawat di rumah sakit. Baru hari ini kembali, jadi tidak ikut latihan militer."
Pelatih itu baru ingat. Saat menerima kelas ini, memang ada instruksi dari atasan bahwa ada satu mahasiswa yang tidak perlu ikut latihan militer. Awalnya ia kira mahasiswa itu pasti lemah fisik, tidak kuat menjalani latihan. Tapi melihat Lin Yuexi, memang tidak terlihat kuat, tapi juga tidak lemah.
Namun ia tidak banyak bertanya. Tugasnya hanya melatih siswa, urusan lain bukan tanggung jawabnya.
Ia pun berbalik kepada Wang Bin dan dua lainnya, "Kalian bertiga hari ini tidak lolos, segera bereskan ulang. Kalau masih belum lolos lain kali, kalian semua lari keliling lapangan sepuluh putaran!" Setelah berkata demikian, ia pergi dengan langkah lebar, meninggalkan ketiganya dengan wajah muram.
Pelatih telah pergi, tiga orang itu menghela napas panjang, lalu segera mengelilingi Lin Yuexi.
Wang Bin berkata iri, "Yuexi, enak banget sih kamu, nggak perlu ikut latihan militer. Lain orang, lain nasib."
"Hehe…" Lin Yuexi hanya tertawa kering.
"Oh iya, Yuexi, benarkah waktu itu kamu hampir menyeberang ke dunia lain, atau diculik alien?" tanya Wang Bin.
Liu Sheng dan Zhang Qingyang juga menatap Lin Yuexi penasaran. Kejadian itu sudah jadi perbincangan di kampus, mereka pun sudah mendengar.
Lin Yuexi mengangkat bahu, "Mana aku tahu, waktu itu langsung pingsan."
Mereka tampak kecewa.
Tiba-tiba Wang Bin mendekat dan berbisik, "Yuexi, tahu nggak, cewek yang kamu selamatkan itu adalah mahasiswi tercantik angkatan baru di jurusan kita, namanya Murong Qingxue. Katanya, cowok yang naksir dia sudah sebanyak satu pleton, tapi dia nggak pernah menanggapi."
Lin Yuexi tertegun, teringat kejadian di warnet tadi, juga nada bicara meremehkan dan sikap bermusuhan gadis itu, membuatnya kesal lagi.
Ia menggeleng, "Aku nggak tahu, dan aku juga nggak tertarik."
Wang Bin melanjutkan, "Tapi tunggu dulu, setelah dengar berita selanjutnya, kamu pasti tertarik. Murong Qingxue entah dapat info dari mana, sampai cari tahu siapa saja teman sekamarmu, lalu dia minta kami bertiga untuk kasih tahu dia kalau kamu sudah balik. Nih, dia bahkan kasih nomor HP-nya." Sambil bicara, ia mengeluarkan ponsel dari saku, menekan beberapa tombol, lalu menyodorkan ke Lin Yuexi. "Tuh, nomor HP-nya dikasih ke kita."
Melihat itu, Lin Yuexi terdiam. Ia baru ingat, gadis di warnet tadi memang bilang Qingxue sering menyebut namanya tiga hari ini, tapi ia tak menyangka gadis itu begitu serius hingga mencari tahu siapa teman sekamarnya.
Melihat Lin Yuexi tertegun, Wang Bin tertawa kecil, "Gimana, mulai nggak tenang, kan? Nih, aku kasih nomornya, kamu telepon saja sendiri. Kalau kamu berhasil, jangan lupa traktir aku ya!"
Lin Yuexi tersadar, melihat ponsel Wang Bin, lalu menolaknya.
Melihat wajah bingung Wang Bin, ia berkata, "Nggak usah, aku ini generasi penerus pahlawan tanpa tanda jasa, berbuat baik tak perlu diketahui orang. Nomor HP-nya kamu simpan saja."
Lalu ia menambahkan, "Aku capek, mau tidur sebentar." Itu memang benar, meski di dunia nyata hanya lima menit, tetapi di dunia misi ia sudah lama, dan sekarang benar-benar lelah.
Ia pun merebahkan diri ke ranjang, dan tak lama kemudian, rasa kantuk datang, lalu ia pun terlelap…