62. Pergi ke Pesta
Keesokan harinya, Lin Yuexi bangun pagi-pagi sekali. Ini adalah pertama kalinya sejak masuk universitas ia bangun sepagi itu.
“Eh? Xiao Binbin belakangan ini rajin sekali, ya.” Begitu turun dari tempat tidur, Lin Yuexi melihat Wang Bin sedang membungkuk, diam-diam mengaduk bubur telur pitan di atas kompor. Sejak Wang Bin dekat dengan Chen Xinyue, hampir setiap hari ia bangun pagi untuk menyiapkan sarapan bagi Chen Xinyue, dan menunya pun selalu bervariasi.
Wang Bin menggaruk kepala, tertawa malu, “Kak Yuexi, jangan goda aku. Eh, kenapa kamu juga bangun sepagi ini?”
Lin Yuexi cemberut, “Bukan apa-apa, Murong Qingxue minta aku datang ke pesta ulang tahun kakeknya.”
Wang Bin berkata, “Kamu memang hebat, Kak Yuexi. Belum berapa hari sudah mau bertemu keluarga. Entah orang tua Yueyue nanti suka padaku atau tidak.” Sambil berkata demikian, dia mulai cemas memikirkan dirinya sendiri.
Lin Yuexi tahu temannya ini sudah tidak bisa diselamatkan lagi, jadi memilih mengabaikannya. Ia membuka lemari pakaian, memeriksa isinya, dan mendapati tak ada satu pun pakaian formal yang layak, semuanya hanya kaos dan celana jins. Dulu, lemari pakaiannya hampir penuh dengan kemeja dan beberapa celana santai atau jas.
Sudahlah, santai saja, toh aku juga bukan benar-benar pacar Murong Qingxue.
Ia mengambil pakaian seadanya, memakainya, lalu keluar asrama menuju gerbang kampus.
Tadi malam Murong Qingxue menelepon, memberitahu bahwa keluarganya tiba-tiba memintanya dan Xia Yuxi pulang lebih dulu, sehingga Lin Yuexi harus datang sendiri keesokan harinya. Ia tentu saja tidak keberatan, bahkan merasa lebih mudah jika pergi sendiri.
Keluarga Murong Qingxue cukup berada, sehingga pesta ulang tahun kakeknya diadakan di sebuah hotel bintang lima di kota Rong, bahkan seluruh tempat sudah dipesan khusus.
Karena bertepatan dengan jam sibuk, Lin Yuexi butuh hampir dua jam untuk sampai di Hotel Xinyuan.
Begitu turun dari mobil, ia langsung terkejut melihat pemandangan di depannya. Hanya di pintu masuk saja sudah ada puluhan hingga ratusan orang, dan orang-orang terus berdatangan.
Tentu saja, hampir semua tamu datang dengan mobil mewah, berpakaian rapi dan berwibawa, semuanya terlihat seperti kalangan atas. Seorang seperti Lin Yuexi yang datang naik taksi, dan pakaian dari ujung kepala sampai kaki paling mahal hanya tiga ratus ribu rupiah, tidak ada satupun.
Meski begitu, Lin Yuexi tetap percaya diri, berjalan mengikuti arus keramaian menuju pintu utama hotel. Namun, orang-orang di sekitarnya sengaja memberi jarak, sehingga di tengah kerumunan yang sudah cukup padat itu, ia justru terlihat menonjol.
Tatapan aneh, bahkan meremehkan, datang dari segala penjuru. Lin Yuexi tahu, penampilannya yang seperti ini membuat sebagian besar orang yang merasa diri kalangan atas memandang rendah dirinya.
Saat mendekati pintu utama, di sana berdiri dua petugas penyambut tamu, dengan dua meja di samping mereka. Di atas meja, tertumpuk undangan yang diambil dari para tamu.
Barulah Lin Yuexi sadar, setiap tamu membawa undangan, atau setidaknya setiap orang yang masuk harus punya undangan. Sedangkan dirinya, Murong Qingxue sama sekali tak pernah menyebutkan soal undangan.
Kini gilirannya hampir tiba, dan Lin Yuexi mulai panik. Kali ini benar-benar memalukan!
Orang-orang di sekitar sepertinya menyadari kegugupannya. Beberapa yang jeli memperhatikan bahwa Lin Yuexi tidak membawa undangan di tangan, bahkan di badannya pun tidak mungkin ada tempat untuk menyembunyikan undangan.
“Lagi-lagi ada yang mau numpang makan gratis.”
“Aku sering lihat orang seperti ini, tapi bocah ini benar-benar tak tahu diri. Tak lihat ini acara apa, berani-beraninya datang cuma mau makan gratis!”
Suara sindiran terdengar dari segala arah. Lin Yuexi pun mulai kesal, wajahnya memerah menahan malu.
Tepat saat itu, suara Murong Qingxue terdengar dari depan, “Yuexi, akhirnya kamu datang juga! Aku sempat khawatir kamu nggak jadi datang.”
Lin Yuexi mengangkat kepala, melihat Murong Qingxue dan Xia Yuxi berjalan keluar dari dalam, berpegangan tangan.
Hari ini mereka berdua tampil sangat cantik. Murong Qingxue meninggalkan gaya sederhananya, mengenakan gaun panjang berwarna merah muda lembut, dengan sepatu hak tinggi putih yang anggun. Gaun itu berpotongan ramping, memperlihatkan lekuk tubuh Murong Qingxue dengan sempurna. Sementara Xia Yuxi, yang kecantikannya tak kalah, mengenakan kemeja putih dengan motif bunga di kerahnya, sedikit terbuka memperlihatkan kulit dada yang halus, dan rok ketat yang membalut pinggulnya yang padat. Kakinya yang jenjang dan putih dibiarkan terbuka tanpa stoking, dan di bagian bawah sebuah sepatu hak tinggi putih.
Kehadiran mereka berdua langsung menarik perhatian semua orang di sana. Beberapa orang yang mengenal mereka, terkejut melihat mereka keluar khusus untuk menyambut Lin Yuexi, dan spontan mulai menebak-nebak siapa sebenarnya Lin Yuexi.
Murong Qingxue tak peduli dengan tatapan orang lain, langsung berjalan ke arah Lin Yuexi, menggandeng lengannya dengan alami, lalu berkata, “Yuexi, ayo kita masuk. Kakek sudah lama menunggu kamu.” Suaranya cukup keras, seolah sengaja ingin didengar orang lain. Jelas ia sudah mendengar bisik-bisik tadi, dan kini ia ingin mengembalikan harga diri Lin Yuexi sekaligus menenangkannya.
Karena sikap Murong Qingxue yang seperti itu, rasa kesal Lin Yuexi pun langsung lenyap.
Setelah masuk ke lobi hotel, Murong Qingxue langsung membawa Lin Yuexi ke lantai atas. Di sana, sebuah aula besar telah dibersihkan khusus untuk pesta ulang tahun hari ini. Menurut penjelasan Murong Qingxue, karena tamu yang datang sangat banyak, pesta ulang tahun ini dibagi menjadi tiga lantai. Berdasarkan aturan tidak tertulis, hanya sebagian orang yang bisa naik ke lantai tiga dan mengikuti pesta utama.
Mendengar itu, Lin Yuexi baru sadar, tamu-tamu yang tadi berkerumun di luar hampir tak ada yang bisa naik ke atas, semuanya hanya di lantai satu.
Sampai di lantai tiga, Xia Yuxi yang sejak tadi diam-diam entah dari mana mengeluarkan sebuah kotak hadiah, dengan wajah datar menyerahkannya pada Lin Yuexi.
Lin Yuexi bingung, “Eh… ini maksudnya apa? Ternyata kalau datang ke pesta ulang tahun harus bawa hadiah juga?”
“Bukan buat kamu! Ini khusus dari Qingxue untukmu. Masa datang ke pesta ulang tahun tangan kosong? Memang kakek Qingxue tidak akan mempermasalahkan, tapi orang lain belum tentu.” Xia Yuxi berkata tak senang.
“Eh…” Lin Yuexi memandang Murong Qingxue.
Melihat Lin Yuexi memandangnya, Murong Qingxue mengira tindakannya melukai harga diri Lin Yuexi. Ia tahu keluarga Lin Yuexi biasa saja, jadi buru-buru menjelaskan, “Yuexi, jangan salah paham, aku cuma… cuma…” Ia sendiri jadi gugup dan tak tahu harus berkata apa.
Melihat itu, Lin Yuexi sadar Murong Qingxue salah mengerti, dan merasa terharu. Harus diakui, Murong Qingxue memang baik dalam segala hal. Namun, justru karena perhatian Murong Qingxue, ia malah jadi makin tak enak hati.
“Tak apa, harga diriku tidak serapuh itu. Lagi pula, memang aku yang teledor, tak terpikir soal ini.” kata Lin Yuexi.
Mendengar Lin Yuexi menerima niat baiknya, Murong Qingxue baru merasa lega dan tersenyum, “Kalau begitu, ayo kita masuk.”
Masuk ke aula, di pintu masuk sudah ada tempat untuk menaruh hadiah, dan seorang petugas yang berjaga di sana.
Adat dan kebiasaannya sangat kuno dan membosankan. Anehnya, justru hal-hal kuno seperti itu yang paling banyak diikuti orang. Di kota Rong, ada satu kebiasaan kurang baik, yaitu absensi hadiah. Setiap undangan harus menandatangani kehadiran di meja tamu. Setelah itu, hadiah yang dibawa harus dicatat, bahkan petugas akan mengumumkan hadiah yang diterima—siapa membawa apa.
Melihat meja absensi itu, Lin Yuexi makin merasa Murong Qingxue sangat perhatian. Jelas ia sudah tahu akan ada kebiasaan seperti itu, sehingga sudah menyiapkan hadiah untuknya. Kotak hadiah kecil itu pasti berisi barang berharga.