Bab 9: Membicarakan Hidup dan Mati Manusia
Kereta kuda melaju terus ke depan, menapaki jalan yang kulalui saat datang. Dulu, ketika aku duduk di tandu kecil milik Kakek Kuning, aku melihat di sepanjang jalan itu tak terhitung banyaknya tengkorak dan tulang belulang, hawa kematian yang begitu pekat. Namun kini, ketika kulihat lagi, ternyata hanyalah sebuah kubangan pemakaman massal. Meski masih ada tulang-belulang di dalamnya, sudah tidak lagi menyeramkan seperti dulu.
Penarik kuda dari kertas itu sepertinya tahu apa yang kupikirkan. Ia berkata, "Jika kau tak paham, cobalah menoleh ke belakang dan lihatlah rumah Keluarga Kuning." Mendengar ucapannya, aku pun menoleh. Tapi di belakang, tak lagi ada jejak rumah itu. Yang tampak hanyalah deretan peti mati yang memendarkan cahaya kehijauan.
Aku teringat jamuan makan yang baru saja kualami di rumah Keluarga Kuning, membuat hatiku dingin. Jangan-jangan, seperti di cerita-cerita televisi, makanan yang kusantap sebenarnya berubah dari kodok dan katak.
Penarik kuda dari kertas itu tertawa kecil, "Tak perlu khawatir soal makanan dan minuman, semuanya adalah persembahan orang-orang untuk Dewa Kuning. Lainnya hanyalah tipuan ilusi, dibuat musang kuning itu untuk memperdayamu. Kakek Kuning sangat berusaha keras, tujuannya hanya ingin mendengar kau mengucapkan satu kata ‘hidup’. Begitu kau mengucapkannya, ia bisa menambah usia enam puluh tahun."
"Kalau aku bilang ‘hidup’, dia bisa bertambah umur enam puluh tahun? Ucapanku sedemikian mujarab? Kalau begitu, jika aku bilang dia ‘mati’, dia akan mati juga?" tanyaku terkejut.
Saat itu aku menatap penarik kuda dari kertas itu dengan penuh harap. Tujuan kedatanganku memang untuk menguji apa yang dilakukan Kakek Kuning agar bisa menebak rahasia yang kusembunyikan. Tapi tak kusangka akan sedemikian ajaibnya.
Menanggapi pertanyaanku, pria kertas itu menoleh ke arah peti mati, tersenyum tipis, "Pewaris penjahit mayat tulen dari Empat Gerbang Kecil, Li Yutang, rupanya polos juga ya? Delapan belas tahun ini, ia sama sekali tak pernah menyelidiki rahasia yang kau bawa?"
"Apa maksudnya?" tanyaku dengan kening berkerut.
Dari nada bicaranya, seolah-olah ia merasa kakekku seharusnya sudah lama tahu asal-usul rahasia tubuhku, dan justru aneh kalau tidak tahu. Aku menambahkan, "Memang benar kakekku pewaris Empat Gerbang Kecil, tapi tetap saja ia hanya penjahit mayat dari desa, meski sudah banyak menebak, mungkin karena kurang pengalaman, tak kunjung bisa memecahkan makna pesan yang ditinggalkan ibuku dulu... tentang Raja Kematian memberi anak dan hadiah keabadian..."
Penarik kuda dari kertas itu hendak bicara, namun ‘nyonya’ di dalam peti mati berdehem pelan. Ia pun langsung menutup mulutnya, menangkupkan tangan ke arahku, "Tuan Muda Dongqing, bukan karena kakekmu kurang pengalaman hingga tak bisa menebak, tapi karena ia terlalu berhati-hati untuk menyelidiki. Dan itu memang benar. Semakin sedikit orang yang tahu rahasiamu, semakin aman dirimu. Soal sebab-akibat, delapan belas tahun sudah berlalu, percayalah, kau akan segera tahu jawabannya. Ada hal-hal yang tak pantas aku ucapkan."
Sambil berkata demikian, kami sudah keluar dari kubangan pemakaman massal itu. Kereta kuda seperti melompati dunia, tiba-tiba saja sudah berada di hamparan ladang gandum.
Sebelum sempat bicara, penarik kuda dari kertas itu menepuk kepalaku pelan, "Tuan Muda, hanya sampai di sini aku mengantarmu. Jangan salahkan nyonya tak mengakuimu, ia pun punya alasan tersendiri. Jika memang berjodoh, meski terpisah ribuan gunung dan sungai pun pasti akan bertemu. Ingatlah, jangan temui keluarga Wang dari Meihua, jangan bicara soal hidup dan mati seseorang. Itulah sebab-akibat terbesar dalam hidupmu."
Mendadak pandanganku gelap, aku pun pingsan.
Ketika sadar kembali, aku sudah berada di rumah. Dari cerita kakekku, aku baru tahu bahwa setelah aku pingsan di ladang gandum, hingga siang keesokan harinya baru ditemukan oleh seorang kakek penggembala domba. Awalnya, orang itu mengira aku sudah mati.
Karena khawatir, kakek malam-malam langsung ke desa Song di kaki Gunung Yuling untuk mencariku. Ia menemukan aku, lalu menjelaskan kepada warga bahwa aku mengidap kelainan tidur sambil berjalan dan tersasar ke sana. Penduduk desa mengenal kakek sebagai penjahit mayat, jadi tak banyak yang curiga, lalu kakek membawaku pulang.
Aku pun menceritakan semua kejadian semalam pada kakek. Ia pun geleng-geleng kepala, "Ternyata dugaanku benar. Semua orang mengincar rahasia sebab-akibat dalam dirimu. Musang kuning itu ingin mendahului yang lain, malah mencelakakan dirinya sendiri."
"Kenapa kalau aku bilang ‘hidup’, ia bisa menambah umur enam puluh tahun?" Tanyaku lagi.
Kakek tersenyum getir, "Itu aku tak tahu. Mungkin ada kaitannya dengan pesan ‘Raja Kematian memberi anak dan hadiah keabadian’. Selama ini kupikir keabadian hanya bisa diraih para pertapa jalan suci. Siapa manusia yang bisa abadi? Tapi menambah umur enam puluh tahun, itu masih mungkin. Tapi hanya dengan mengucapkan satu kata ‘hidup’ bisa menambah umur enam puluh tahun? Kedengarannya agak mustahil."
"Kakek, penarik kuda kertas itu bilang bukan karena kakek tak mampu menebak sebab-akibat dalam diriku, tapi karena kakek terlalu hati-hati untuk menyelidiki. Benarkah itu?" tanyaku.
Kakek mengernyit, "Ia benar-benar berkata begitu?"
"Mana mungkin aku bohong sama kakek?" jawabku.
Kakek berpikir sejenak, lalu menghela napas panjang, "Dia memang benar. Aku ini murid Tuan Niu Er, meski cuma penjahit mayat, toh sudah termasuk orang dalam dunia mistis. Kalau memang ingin mencari tahu, pasti ada jalannya. Tapi aku memilih tidak menyelidiki, karena merasa jika rahasia itu bocor, belum tentu baik hasilnya."
Aku buru-buru menimpali, "Itu sama seperti yang dikatakan penarik kuda kertas itu. Katanya, semakin sedikit orang tahu tentang asalku, semakin aman diriku. Tapi aku tetap tak bisa paham maksudnya."
Kakek tersenyum, "Sudahlah, jangan pura-pura tak mengerti. Kau sungguh tak paham? Kakek Kuning saja hanya karena mengintip rahasiamu, sampai diam-diam merancang tipuan selama delapan belas tahun demi menipumu. Kalau aku menyebarkan rahasiamu, apa tak akan ada orang lain yang mengincar kata ‘hidup’ darimu? Enam puluh tahun umur bagi orang sekarat, apa kau tak tahu artinya?"
Kakek terdiam sejenak, lalu berkata, "Kakek memang tak punya kemampuan, kalau ada orang ingin merebutmu, aku pun tak kuasa mencegah. Kehilanganmu, aku juga menyinggung keluarga Wang dari Meihua dan wanita dalam peti itu. Bagaimanapun aku rugi. Maka selama delapan belas tahun ini, meski penasaran, aku hanya bisa memendamnya dalam hati."
Sampai di sini, kami berdua pun tak perlu berkata apa-apa lagi. Setidaknya malam ini tak sia-sia, aku tahu rahasia tubuhku berkaitan dengan hidup dan mati, dan mungkin aku punya kemampuan aneh: mengucapkan kata ‘hidup’ bisa memperpanjang umur seseorang enam puluh tahun.
Tapi apakah benar aku bisa memperpanjang umur orang dengan kata itu, dan apa akibatnya bagiku, kami berdua tak bisa menebak, apalagi menyelidiki. Jika sampai menarik perhatian orang yang tak seharusnya, nasibku bisa jadi lebih buruk dari Kakek Kuning.
Jawaban sudah begitu dekat, namun terasa jauh tak terjangkau. Seperti aku dan ibuku, hanya terpisahkan oleh peti mati, tapi ia enggan menemuiku. Andai bisa melihat wajahnya sekali saja, setidaknya aku punya bayangan saat rindu.
Melihat ekspresi sedihku, kakek sepertinya tahu apa yang kupikirkan. Ia berkata, "Kejadian semalam sudah membuktikan bahwa ia memang ibumu. Itu hal baik bagimu. Tak ada ibu di dunia ini yang mau menyakiti anaknya sendiri. Kalau ia tak mau menemuimu, pasti ada alasan berat. Kau harus berusaha memaklumi."
Baru saja kakek selesai bicara, pintu rumah didorong terbuka. Sebelum orangnya masuk, bau alkohol sudah semerbak. Tak lama kemudian, ayahku masuk dengan botol arak di tangan, jalannya terhuyung. Melihatku, ia berkata, "Sudah bangun, Nak? Kukira kau sudah mati."
Aku mendengus dingin, "Tenang saja, kau mati pun aku tetap hidup."
Aku benar-benar tidak sungkan padanya, bukan hanya karena ia ayahku hanya di atas kertas. Dulu, aku pernah menganggapnya keluarga, bahkan berharap ia bisa memberiku rasa aman seorang ayah.
Namun berkali-kali aku melihat ia mengarang berbagai alasan untuk menipu uang kakek yang didapat dengan susah payah. Uang kakek sangat sulit didapat, kadang hanya dari memberi saran fengshui atau menentukan hari baik, paling banter dapat dua tiga ribu rupiah, kalau orang kaya paling sepuluh ribu. Menjahit mayat sekali, kakek mematok tiga juta, tapi ia pun enggan menaikkan harga karena tahu yang datang adalah orang miskin yang tak mampu membayar mahal untuk perbaikan jenazah di rumah duka. Dalam setahun, kakek pun hanya menjahit beberapa mayat. Sisanya hanya dari sawah sepetak di rumah.
Uang hasil jerih payah seperti itu selalu saja diakali ayah. Setiap kehabisan, ia pulang lagi untuk menipu, sementara baju kakek penuh tambalan, ia pulang ke rumah dengan jas dan dasi, tampak mentereng. Yang paling membuat kesal, ia tak pernah merasa bersalah menghabiskan uang tersebut.
Akhirnya, setiap melihatnya aku jadi sebal.
Mendengar balasanku, ia tak marah, malah langsung duduk di kursi, "Aku mati? Kau belum pernah dengar, kan, orang baik cepat mati, orang jahat hidup seribu tahun? Orang sepertiku mana semudah itu mati? Ayah, penagih utang menelpon lagi hari ini. Kalau tiga hari lagi aku tak bayar, tanganku bakal dipotong mereka."
Mendengar itu, kepalaku langsung pening. Setiap kali ia pulang mencari uang, alasannya selalu berbeda: menabrak orang, membantu orang tua lalu ditipu, dapat pacar mau menikah, hampir tidak pernah sama.
Melihat kakek mengernyit, aku bertanya, "Kali ini karena apa lagi kau berutang?"
Ayah menenggak araknya, "Kalah judi, apalagi."
Kakek mengisap rokoknya, "Akhir tahun lalu kau bilang nabrak orang, ambil uang sejuta dari rumah, setengah tahun ini aku dan Dongqing tak pernah makan sayur apalagi daging, mana ada uang lagi?"
Ayahku bersikap masa bodoh, "Itu urusanmu. Tak ada uang? Ya sudah, tunggu saja tangan anakmu dipotong orang!"
Habis berkata begitu, ia pun keluar dengan santai.
Melihat kakek yang murung, aku benar-benar tak tega. Aku menghela napas, "Andai tadi malam aku ambil sebatang emas dari Kakek Kuning, tak ambil pun sayang, toh setelah itu Kakek Kuning mati, tak perlu takut sebab-akibat."
Baru saja aku berkata begitu, ayah yang sudah keluar malah balik lagi, matanya berbinar, "Emas? Anak, barusan kau bilang sebatang emas? Aku tahu pasti kalian berdua ada yang disembunyikan dariku!"
Melihatnya begitu, aku makin marah, "Di bawah Gunung Yuling ada istana Dewa Kuning, di bawahnya harta karun musang kuning. Bukan cuma emas, bisa jadi ada kekayaan luar biasa. Berani, pergilah sendiri!"
Kakek mendengarnya langsung memarahi, "Dongqing, jangan bicara sembarangan!"
Baru selesai bicara, aku langsung menyesal. Istana Dewa Kuning memang menakutkan bagi orang lain, tapi tidak bagi Li Jingqing yang mata duitan ini!