Unduh aplikasi untuk melihat deskripsi lengkap karya ini.
Kakekku, Li Yutang, adalah seorang tukang jahit mayat. Ia berguru pada Niu Er, seorang ahli dari Ka Yuan Kou di Kota Beiping, dan merupakan pewaris sah salah satu dari Empat Pintu Kecil Yin. Empat Pintu Kecil Yin ini meliputi algojo, pembuat figur kertas, pemeriksa mayat, dan tukang jahit mayat. Dahulu, tukang jahit mayat dikenal sebagai "tukang kulit kedua". Istilah "pintu yin" sendiri merujuk pada profesi yang mengandalkan kematian sebagai sumber penghidupan.
Kini di rumah duka pun masih ada yang bertugas menjahit mayat, hanya saja istilah profesionalnya berubah menjadi perbaikan jenazah, dan biayanya sangat mahal. Namun, setelah kakekku mengetahui teknik mereka, ia hanya berkomentar pendek, “Sungguh sembarangan.” Menurut kakek, profesi ini berhubungan erat dengan kematian, dan ilmu Empat Pintu Kecil Yin telah diwariskan selama ribuan tahun, penuh dengan aturan dan pantangan.
Dari mana harus memulai jahitan, bagaimana jalannya benang, hingga cara mengisi dan memperbaiki bagian tubuh yang hilang—semuanya punya aturannya sendiri. Namun, yang terpenting, mengapa seseorang membutuhkan tukang jahit mayat? Semata-mata karena kepercayaan bahwa jenazah harus tetap utuh setelah meninggal. Tapi, keutuhan jasad itu, apakah hanya sebatas fisik yang lengkap? Tidak! Di sinilah letak perbedaan terbesar antara tukang kulit kedua warisan dan ahli perbaikan jenazah biasa: tukang kulit kedua tak hanya menjahit mayat, tapi juga memanggil kembali jiwa yang telah pergi.
Tubuh yang utuh secara lahir dan jiwa yang kembali ke tempatnya, barulah disebut utu