Bab Seratus Tiga Puluh Lima
Sebuah tayangan muncul tepat di depan aula.
Dua wanita cantik berpenampilan mewah terbaring tenang di ranjang yang sama. Sekilas, Lin Yan langsung mengenali mereka sebagai Leng Qing dan Leng San.
"Mereka hanya pingsan, tidak terjadi apa-apa, kau tidak perlu khawatir."
Mendengar ucapan Cheng Sen, Lin Yan berbalik seketika. Tatapannya yang tajam menghujam tepat ke arah Cheng Sen. "Apa yang kau inginkan? Aku akan ikut denganmu?"
Cheng Sen menatap pandangan Lin Yan yang tertahan. Tiba-tiba, ia tidak lagi ingin terus bermain-main dengannya; ia hanya menginginkan sebuah hasil.
"Mengulur waktu?"
Pertanyaan Cheng Sen membuat hati Lin Yan gelisah.
Benar saja, Cheng Sen menoleh ke arah Han Leng di sampingnya. "Tuan Han Leng, Nona Zhai juga sedang bertamu di tempatku."
Tayangan di depan berubah, menampilkan Zhai Sheng yang tampak sedang tidak sadarkan diri di ruangan lain.
Ekspresi Han Leng tidak berubah sedikit pun, ia menjawab dengan sangat dingin, "Nona Zhai hanyalah seorang pemilik boneka di Ancheng. Sungguh suatu kehormatan baginya karena Direktur Cheng bersedia menghabiskan tenaga untuk mengundangnya."
Tidak memedulikan ketenangan yang dipaksakan oleh Han Leng, Cheng Sen beralih menatap Huo Tingfeng yang berdiri di tengah kerumunan. "Direktur Huo, istrimu sedang bertamu di tempatku, tidakkah kau berniat menyapaku?"
Huo Tingfeng melangkah maju. "Kau sedang melakukan tindak kriminal, Cheng Sen."
"Lalu kenapa? Direktur Huo, jangan lupa, selain istrimu, masih ada anakmu."
Aula itu jatuh ke dalam keheningan yang mencekam. Lama kemudian, Lin Yan berkata dengan suara rendah, "Biarkan para tamu pergi, kita diskusikan ini."
"Apa kau pikir aku sebodoh itu? Di antara mereka ada berapa banyak orangmu yang menyamar?"
Tatapan Lin Yan menjadi gelap, namun Cheng Sen tidak peduli.
"Hari ini, pilihannya hanya satu: kau ikut denganku, atau tidak ada seorang pun di sini yang bisa pergi."
Begitu kata-katanya usai, seseorang di dalam aula tiba-tiba mengeluarkan senjata dan berdiri. Belasan orang lainnya masuk dari luar, lalu mengepung semua orang dengan senjata terhunus. Pada saat yang sama, semua pelayan bergerak cepat berkumpul di sekitar Lin Yan, melindungi Lin Yan dan orang-orang di dekatnya dalam posisi bertahan.
Serangkaian perubahan ini membuat para wanita yang penakut mulai menjerit. Chang Qing berdiri di belakang Cheng Sen dan melepaskan tembakan ke lantai tanpa ragu sedikit pun. "Siapa pun yang tidak berkepentingan dan bersuara, mati."
"Cheng Sen."
Su Weichen, yang sedari tadi diam, melangkah maju. "Apa yang kau lakukan ini sama saja dengan mencari mati."
Hampir tanpa jeda, Cheng Sen mengeluarkan senjata dan mengarahkannya ke arah Su Weichen, lalu menarik pelatuknya. Berbekal kewaspadaan selama bertahun-tahun sebagai detektif kriminal, Huo Tingfeng segera menarik Su Weichen menjauh. Namun, karena jarak yang terlalu dekat, peluru tetap tak terelakkan mengenai bahu Su Weichen.
Sebuah erangan tertahan terdengar. Su Weichen menekan bahunya yang berdarah. Perubahan situasi terjadi begitu cepat hingga Lin Yan dengan panik menopang tubuh Su Weichen. Suara Cheng Sen terdengar dari belakang, sementara tangannya yang memegang senjata belum juga turun. "Lepaskan dia, Lin Yan. Lepaskan dia, atau aku tidak menjamin apa yang akan kulakukan."
Setelah keraguan singkat, Huo Tingfeng mengambil alih Su Weichen dari tangan Lin Yan.
"Cheng Sen, lepaskan mereka dan pergilah. Aku menjamin semua orang di sini tidak akan menuntut tanggung jawab apa pun darimu."
Cheng Sen sama sekali tidak goyah. "Yan Yan, begitu aku melepaskan mereka, meskipun aku berhasil keluar dari aula ini, aku tidak akan pernah bisa keluar dari Ancheng, bukan?"
Lin Yan dan Han Leng saling bertukar pandang.
"Yan Yan..."
Sebelum Cheng Sen sempat melanjutkan kata-katanya, terdengar suara langkah kaki yang berlari. Dalam sekejap, sekelompok pria berpakaian hitam mengepung anak buah Cheng Sen dan semua orang di sana dengan senjata terarah.
Pemimpinnya adalah seorang wanita bertubuh ramping yang langsung berlari ke sisi Lin Yan dan mengarahkan senjatanya ke arah Cheng Sen. Orang-orang yang jeli mengenali wanita itu sebagai Lin Sining, manajer cabang Grup Yan di Negara Z.
Tak lama kemudian, Leng Si dan Han Ze muncul dan berjalan menuju sisi Lin Yan.
Melihat perubahan situasi yang mendadak itu, Cheng Sen tidak tampak terkejut. Lin Yan mengernyit dengan bingung. "Cheng Sen, kau lepaskan mereka, maka aku akan melepaskanmu. Jika tidak, kita hanya akan terus menemui jalan buntu seperti ini."
"Jalan buntu? Tidak, Yan Yan-ku sayang. Sepertinya kau belum menyadari situasi di depan matamu. Tujuan utamaku datang hari ini hanyalah membawamu pergi, dengan segala cara."
Akhirnya, Lin Yan sadar dari mana kegelisahan yang mendalam itu berasal.
"Aku sangat paham. Jika benar-benar harus bertarung, aku tentu bukan lawanmu. Saat aku datang ke sini, aku sudah tahu seberapa besar kekuatan yang tersimpan di tempat ini."
Orang lain mungkin tidak mengerti apa maksud perkataan itu, tetapi Lin Yan, Han Leng, dan yang lainnya sadar bahwa Cheng Sen telah mengetahui bahwa Ancheng adalah markas besar Lin Yan, hanya saja ia mengatakannya secara samar agar orang lain tidak tahu.
Lin Yan sangat bingung. "Jika kau sudah tahu, mengapa kau tetap melakukan ini?"
Cheng Sen tiba-tiba kehilangan kendali. Matanya memerah seperti binatang yang terpojok. Dengan suara parau, ia menatap tajam ke arah Lin Yan. "Lin Yan, sebelum kau kembali ke negara ini, aku sudah bilang aku tidak akan ikut denganmu, tapi aku akan datang mencarimu sendiri."
"Masih ingat apa yang kukatakan? Aku bilang tidak ada seorang pun yang lebih mencintaimu daripada aku."
"Asalkan bisa mendapatkanmu, aku rela melakukan apa pun."
"Hari ini, jika kau ikut denganku, semuanya akan baik-baik saja. Jika kau tidak ikut, maka kita akan hancur bersama. Aku akan membunuh ibumu, Leng San beserta anak yang dikandungnya, dan Zhai Sheng. Setelah itu, semua senjata di sini akan diarahkan ke Su Weichen."
"Dengan begitu, kau pun tidak akan bisa hidup," celetuk Han Ze dengan tenang.
Cheng Sen menunjukkan senyum kejam. "Oh ya, orang tua Si Ze secara tidak sengaja juga kutemukan. Mungkin aku juga akan membunuh mereka."
"Jadi kau benar-benar sudah tahu," ucap Han Ze dengan tatapan sinis.
"Membiarkanmu meninggalkan Raja Sen hanyalah untuk memastikannya. Tuan Han Ze, Si Ze sudah mati karenamu. Kau telah mengenakan topengnya selama bertahun-tahun, kini setelah melepas topeng itu, apakah kau akan diam saja melihat orang tua Si Ze mati?"
Ia mengalihkan pandangannya kembali ke Lin Yan. "Jika kau tidak ikut denganku, aku memang tidak berniat untuk hidup. Membunuh Su Weichen, membunuh orang-orang itu—bahkan jika aku mati pun, tidak akan ada orang lain yang bisa memilikimu. Kau akan menghabiskan sisa hidupmu dalam penyesalan, dan selamanya kau tidak akan bisa lepas dariku, Cheng Sen."
Mata Leng Si menajam. Ia melirik anak buah Cheng Sen dan berkata dengan nada menghasut, "Jadi, apakah kalian akan membiarkan anak buahmu mati sia-sia?"
Segera disusul oleh kata-kata tegas dari Chang Qing, "Bersumpah setia sampai mati kepada Raja Sen."
Para anak buah yang memegang senjata itu, meskipun tidak mengucapkan sepatah kata pun, sikap dan tubuh mereka yang sama sekali tidak goyah telah mewakili jawabannya.
Situasi berbalik seketika akibat kenekatan Cheng Sen. Tidak ada yang sanggup menghadapi lawan yang tidak takut mati.
"Bagaimana aku bisa percaya padamu?"
"Aku tidak akan membohongimu."
Leng Si seketika menggenggam pergelangan tangan Lin Yan. "Kakak."
Lin Yan berbalik menatap orang-orang di sekitarnya, memunggungi Cheng Sen, dan berkata dengan suara parau, "Tidak ada cara lain lagi, bukan? Seberapa kuat pun kita, lalu apa? Bisakah aku merelakan nyawa Ibu dan A-San? Bisakah kalian? A-San sedang mengandung anak Huo Tingfeng, dan calon istri Han Leng juga ada di sana. Mana di antara mereka yang bisa kita korbankan?"
Leng Si hendak bicara lagi, namun Lin Yan membalas genggaman tangannya. "Cheng Sen tidak akan menyakitiku, dia hanya membawaku pergi. Lagi pula, kalian pasti akan menemukanku, bukan?"
"Tidak perlu banyak bicara. A-Si, segala sesuatu milikku, Leng Bingyan, kuserahkan padamu. Pastikan kau menjaganya dengan baik."