15 Janji
Halaman (1/3)
Kau tinggal di Huawang selama beberapa hari. Ketika seorang gadis asing tiba-tiba muncul di tepi lapangan, tentu saja semua orang menyadarinya—belum lagi suara helikopter hari itu yang begitu menggemparkan.
Didorong oleh suasana yang tak dapat dijelaskan, para remaja yang masih belum sepenuhnya tumbuh dewasa itu mulai dengan kikuk berusaha menampilkan kemampuan terbaik mereka, mati-matian demi meraih masa depan yang cerah.
Mereka suka mengerumunimu saat istirahat dan menanyakan berbagai hal tentang lima liga top Eropa. Kau tak pernah menolak menjawab, tetapi semua orang tahu bahwa perhatianmu hanya tertuju pada Aiku.
“Asagiri, apakah kau akan membawa Aiku pergi?”
Suasana di sekeliling perlahan menjadi hening. Kau memandang anak laki-laki yang mengajukan pertanyaan itu. Ia tampak sangat gugup, jadi kau tersenyum menenangkannya.
“Kenapa? Kalian tidak rela berpisah dengannya?”
“Bukan begitu...” Seolah telah mengambil keputusan besar, ia berkata, “Bawalah dia pergi. Dia tidak bahagia bermain sepak bola di sini. Kami ingin dia bahagia.”
Yang lain pun ikut menyahut.
“Benar, Asagiri. Kau datang demi Aiku, kan? Bawalah dia pergi.”
“Bawalah dia pergi. Dia pantas bermain di panggung yang lebih besar.”
“Tolong, bawalah dia pergi.”
Kau tidak menjawab, melainkan menatap Aiku yang berjalan menghampiri dari belakang mereka.
Aiku menepuk belakang kepala salah seorang anak laki-laki itu.
“Dasar bodoh... Kalau sudah beristirahat, segera kembali untuk membentuk barisan.”
“Aiku...” Anak laki-laki yang pertama kali bertanya kepadamu menatap ban kapten di lengan Aiku. Tiba-tiba ia maju, meraih ban itu, lalu menariknya hingga terlepas.
“Jangan biarkan masa lalu membelenggumu. Mulai sekarang, bermainlah dengan cara yang kau inginkan, Kapten!”
“Benar! Teruslah melangkah dan jadilah kebanggaan kami, Kapten!”
“Kau sudah melakukan lebih dari cukup untuk kami!”
Mereka berlari pergi sambil membawa ban kapten itu, meninggalkan rangkaian kata-kata penuh doa dan harapan.
Aiku tampak tak berdaya sekaligus geli. Namun pada akhirnya, ia hanya diam-diam menutupi matanya dengan telapak tangan.
Setelah terlalu sering menyaksikan sisi manusia yang penuh tipu daya, sulit bagimu untuk tidak tersentuh oleh ikatan yang tulus dan murni seperti ini. Harus diakui, Aiku memang sangat cocok menjadi kapten.
Meski berita tentang kisah cintanya memang agak terlalu banyak, kau samar-samar ingat bahwa ia pernah mengucapkan sebuah kalimat yang cukup terkenal.
“Jika suatu hari muncul seorang penyerang dari Jepang yang berjuang untuk mekar, aku bersumpah tidak akan memetik kuncup bunga itu. Aku ingin menjadi... orang yang mengulurkan tangan untuk membantunya.”*
Namun, sebelum hari itu tiba...
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Kau berdiri di hadapan Aiku, berjinjit, lalu menggenggam pergelangan tangannya dan perlahan menurunkan tangannya. Kau menatap sepasang mata heterokromia yang tampak semakin jernih karena digenangi kabut air mata.
“Aiku, mekarlah demi dirimu sendiri.”
Ia tampak bimbang. Suaranya lebih lirih daripada biasanya.
“Aku... masih bisa melakukannya?”
“Tapi, aku sudah tidak ingin menjadi penyerang nomor satu dunia lagi. Aku...”
Pandanganmu turun, tertuju pada seragam bernomor 9 yang dikenakannya. Ia mengikuti arah pandanganmu dan melihat seragamnya sendiri. Kemudian ia melihatmu menggambarkan angka 9 secara samar di udara, lalu mencoretnya dengan tanda silang besar.
“Kalau begitu, jangan menjadi penyerang. Menurutku, seragam nomor 3 juga sangat bagus. Bagaimana menurutmu, Aiku?”
Belakangan ini, Aiku memang samar-samar mulai berniat beralih menjadi bek. Namun, ia tidak menyangka bahwa kau ternyata memiliki pemikiran yang sama. Selama ini ia bermain sebagai penyerang, sehingga ia mengira kau tertarik padanya karena kemampuannya sebagai penyerang.
“Kalau aku menjadi bek, apakah kau masih akan membawaku ke PXG?”
“Tidak.” Kau menyangkalnya tanpa ragu. “Aku akan mengirimmu ke Italia, tempat dengan seni bertahan paling gemilang di seluruh dunia.”
Aiku menggeleng. Ia tidak begitu mengerti apa yang membuat dirinya layak menerima semua ini darimu.
“Kenapa? Maksudku, bukankah ini sudah terlalu berlebihan? Apa yang bisa kuberikan sebagai balasannya?”
Tentu saja kau memiliki kepentingan pribadi. Dengan keuntungan sebagai seseorang yang mengetahui masa depan, kau berusaha merekrut para bintang masa depan lebih awal.
Namun, kau juga sungguh-sungguh ingin membuat perjalanan mereka sedikit lebih mudah, mengurangi rintangan yang tidak perlu, dan memberi mereka titik awal yang lebih tinggi—agar dunia dapat lebih cepat menyambut seorang bek super yang tak kalah cemerlang, bahkan di zaman ketika para penyerang bersinar terang.
“Karena kau pantas mendapatkannya.”
“Kau tahu bek legendaris nomor 3 milik AC Milan?”
Aiku bergumam, “Paolo Maldini, bek kiri nomor satu dunia.”
Kau tersenyum tipis.
“Kalau begitu, maukah kau menjadi bek nomor 3 legendarisku?”
Kau melihat Aiku tertegun, tetapi tidak memaksanya untuk menjawab.
“Itulah keegoisanku. Namun, aku tidak pernah memaksa orang melakukan transaksi yang tidak mereka inginkan.”
Hanya saja, sesekali kau memang melakukan transaksi yang merugikan diri sendiri. Kau menghela napas dalam hati.
“Namun, meski kau menolak, sepertinya aku tetap akan mengirimmu ke Italia.”
“Bagaimanapun, aku juga menantikan hari ketika hanya kau yang mampu mekar, Aiku.”
*
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Pada hari keberangkatanmu, kau melihat Aiku datang bersama keluarganya.
Saat itu juga, kau mengubah rencana perjalananmu kembali ke Kagoshima dan meminta kepala pelayan yang ikut bersamamu memesan penerbangan ke Roma untuk kalian.
Di dalam pesawat, Aiku akhirnya memberikan jawaban pertamanya kepadamu.
“Aku tidak akan mengecewakanmu.”
Ia tidak mengatakan sesuatu seperti, “Aku pasti akan menjadi bek nomor 3 legendarismu.” Hanya setelah karier profesionalnya berakhir, ia akan tahu apakah dirinya benar-benar pantas mengucapkan kata-kata semacam itu.
Kau menyerahkan kontrak yang telah lama kau siapkan—kontrak pembinaan selama tiga tahun yang kau dapatkan dari PXG.
“Kalau begitu, tanda tangani.”
Kau melihat ayah Aiku membubuhkan tanda tangan atas namanya. Perasaanmu bahagia, tetapi juga sedikit kesal.
Kalau saja kau sudah memiliki klub sendiri... Sudahlah. Toh, kontraknya hanya berlangsung selama tiga tahun. Setelah itu, sekalipun PXG ingin menahan Aiku untuk diri mereka sendiri, masa kontraknya sudah berakhir.
Sebelum pesawat kalian mendarat, satu kontrak peminjaman lainnya juga telah selesai ditandatangani atas perintahmu.
Kau meminjamkan Aiku kepada tim U16 Lazio. Lazio wajib memastikan Aiku mendapatkan jumlah penampilan tertentu dalam pertandingan-pertandingan junior. Tidak ada opsi pembelian permanen, tetapi jika kelak ada niat untuk menjualnya, Lazio memiliki hak prioritas. Selama masa peminjaman, seluruh biaya pembinaannya akan kautanggung.
Orang tua Aiku sangat berterima kasih atas dukunganmu terhadap perkembangan putra mereka. Kau pun cukup mengagumi keberanian mereka yang dengan tegas mendampingi sang anak pergi ke luar negeri untuk bermain sepak bola.
Namun, dengan begitu semuanya juga menjadi lebih mudah. Kau tidak perlu mencarikan keluarga asuh untuk Aiku. Dengan bantuanmu, keluarga Aiku segera berhasil menyewa sebuah rumah.
Kau tidak tinggal terlalu lama. Sepertinya kabar dari Turin sudah datang.
Sebelum pergi, kau memandang Aiku yang datang untuk mengantarmu. Pada akhirnya, kau memeluknya.
“Negeri asing, bahasa yang tidak kau pahami, kemungkinan mengalami perundungan... Jalan di depan masih panjang, jadi jagalah dirimu baik-baik.”
Kau merasakan sepasang lengan memelukmu erat. Suara remaja itu terdengar sungguh-sungguh di dekat telingamu.
“Tenang saja, aku akan menjaga diri. Namun kau juga—ingatlah untuk datang ke Lazio dan menjemputku pulang.”
Perasaan mendapatkan hati seorang anak manis kecil ternyata benar-benar menyenangkan. Kau tak kuasa menahan diri untuk melompat, mengacak-acak rambut Aiku, lalu tertawa terbahak-bahak.
“Tentu saja. Kau adalah bek nomor 3 milikku.”
Halaman (3/3)