Bab Tujuh Puluh Tujuh: Bajak Laut Muda yang Biasa
“Apa ini?” Roger menampakkan ekspresi penasaran. Ini pertama kalinya ia melihat benda seaneh itu. “Apakah ini siput telepon?”
“Bukan, ini adalah makhluk yang hanya bisa memancarkan sinyal. Ia selalu mengirimkan gelombang listrik yang bisa diterima oleh siput telepon. Di kapal kita, yang satu ini adalah jenis khusus. Gelombang yang dipancarkan hanya bisa diterima oleh siput telepon tertentu. Zaki berniat menggunakannya untuk melacak posisi kita. Jika kita tidak mengurus benda ini, setelah misi selesai, apa pun yang ingin Zaki lakukan terhadap kita, semuanya mungkin terjadi.”
Mendengar itu, Roger mengangguk, menampakkan wajah tak senang. “Orang itu benar-benar keterlaluan. Tapi aku tak mengira ada makhluk seajaib ini. Jalur Besar memang menyimpan banyak keunikan.”
“Benar, sebenarnya makhluk ini biasanya dipakai untuk menandai wilayah. Banyak orang memeliharanya di laut teritorial mereka, dan makhluk itu akan memancarkan gelombang yang bisa diterima oleh semua siput telepon. Begitu ada kapal mendekat, siput telepon di kapal itu akan memperingatkan, menandakan bahwa wilayah itu milik orang lain, sehingga bisa menghindari masalah yang tak perlu,” jelas Duhang.
“Begitu rupanya, memang sangat praktis. Bahkan kelompok bajak laut kecil pun bisa terhindar dari masalah karena tak sengaja memasuki wilayah orang lain, lalu dihabisi,” Roger tak bisa menahan kekagumannya.
Di samping kapal besar mereka, masih tersambung sebuah kapal pengawal kecil. Sebenarnya itu hanya perahu meriam kecil sepanjang tiga meter lebih, dengan sebuah meriam di atasnya—semacam tambahan saja.
Memanfaatkan gelapnya malam, mereka berdua mengembangkan layar, mengangkat jangkar dan mengarahkan kapal ke sebuah teluk kecil tak jauh dari sana. Setidaknya, sebelum perang Irium usai, tempat itu harusnya cukup aman.
Setelah semua beres, mereka kembali ke penginapan, dengan cekatan memanjat jendela dan masuk kamar. Rayleigh dan Aisara, yang bertugas melindungi Milori, sedikit lega melihat mereka kembali.
“Rayleigh, Aisara, Misga, aku ingin bilang, kapal yang diberikan Zaki itu benar-benar luar biasa!” Begitu masuk, Roger langsung tak bisa menahan diri menceritakan kapal itu. Mendengar ucapannya, Aisara tersenyum geli. “Kurasa dia ketakutan pada kalian, makanya memberikan sesuatu yang bagus agar tak dicurigai.”
“Jangan meremehkan paman itu. Kalau dia benar-benar marah, kekuatannya mungkin tak kalah dari Roger. Dengan kemampuanmu itu, dia bisa memotongmu jadi bakso gurita hanya dengan tiga tebasan,” Duhang tertawa lepas.
Mendengar itu, Aisara mendadak merinding. Hanya mendengar kata 'bakso gurita' saja sudah membuatnya ngeri... Mengapa ada makanan sejahat itu di dunia ini?
Rayleigh sendiri tak bereaksi banyak pada ucapan Roger. Setelah sekian lama, ia pun tak terlalu terikat pada perahu kecilnya seperti dulu. Realita sudah jelas: jika Bajak Laut Roger ingin bebas menjelajah Jalur Besar, kapal yang lebih besar mutlak diperlukan. Selama perjalanan di Jalur Besar, bahkan ia sering berpikir, andai saja punya kapal lebih besar.
Lagi pula, kapal kecilnya tidak akan dibuang atau dibakar, hanya disimpan di dalam kapal besar sebagai sekoci. Kapan saja ingin, masih bisa dipakai untuk bersenang-senang.
Dibanding urusan kapal, ia justru lebih penasaran pada Duhang.
“Duhang, sekarang kau sudah punya kapal dan persediaan, apa lagi yang harus disiapkan?”
“Apa yang harus kusiapkan?” Duhang memiringkan kepala, pura-pura tidak tahu. “Bagian utama perang segera dimulai. Kita sudah banyak menyingkirkan orang-orang Gereja Dewa Badai yang menyusup ke Irium. Kekuatan mereka mulai terkikis. Meski masih ada Zaki yang membuat mereka tidak buta arah, posisi Zaki itu terlalu khusus, jadi bantuan konkret yang bisa ia berikan pun tidak banyak. Jika dugaanku benar, konflik yang lebih hebat akan segera terjadi.”
Sambil berbicara, ia menatap Roger dengan senyum penuh arti. “Saat itu tiba, giliran sang Pemimpin Agung, Kapten Roger, untuk tampil!”
Melihat ekspresi Duhang, Roger langsung merasa dingin di punggungnya.
Benar saja, perang kali ini pasti akan terjadi hal buruk...
Roger yang sudah kenyang pengalaman pahit, kali ini akhirnya sedikit belajar dari masa lalu.
Sementara itu, di lautan dekat pintu masuk Jalur Besar, sebuah kapal dagang perlahan melaju di tengah malam. Di haluan kapal, sebuah lentera minyak bergoyang mengikuti ombak, memancarkan cahaya kekuningan. Di bawah lentera itu, beberapa pelaut yang bertugas patroli menguap tanpa semangat, jelas mereka sudah sangat mengantuk.
“Haa... Sudah larut begini, bajak laut pun pasti sudah tidur. Hanya kita yang malang ini harus berjaga, entah apa yang sebenarnya perlu diwaspadai.”
“Benar, kapten kan sudah menyewa pengawal untuk ikut berlayar, katanya mereka sangat kuat, setara perwira angkatan laut. Kalau ada yang sekuat itu di kapal, apa yang perlu ditakutkan?”
Tidak jauh dari mereka, seorang pelaut tua mendengus, lalu mengingatkan, “Jangan lengah, ini Jalur Besar, apa pun bisa terjadi! Bahkan kalau tiba-tiba ada kapal bajak laut menerobos gelapnya malam, aku takkan terkejut!”
Sambil berkata, ia berdiri dan menatap keluar pagar kapal, berniat menakuti para pendatang baru itu.
Namun, saat itu juga, ekspresinya membeku.
Sebuah kapal raksasa, setidaknya selebar lima belas meter, menerobos kegelapan di kejauhan dan melaju cepat ke arah mereka!
Di saat yang sama, sebuah bendera hitam dengan lambang tengkorak perlahan naik ke puncak tiang layar. Bahkan di malam gelap, bendera itu bisa terlihat jelas!
Bendera bajak laut berkibar, bencana pun mendekat!
Wajah pelaut tua itu langsung menegang, ia berbalik dan berteriak sekuat tenaga.
“BAJA!!! K!!! LAUT!!!!”
Seluruh kapal dagang itu langsung bergerak panik. Orang-orang yang tertidur melompat bangun dan mengenakan pakaian, para penjaga buru-buru mengambil senjata, juru mudi memutar kemudi sekuat tenaga, lampu-lampu minyak dinyalakan, dan para pelaut berhamburan ke geladak!
Di kapal bajak laut, seorang pria paruh baya bertopi kapten hitam menyeringai lebar.
“Cepat juga reaksinya, tapi tetap saja tak ada gunanya. Kalian, ini mangsa gemuk yang langka! Siapkan diri, semuanya!!”
“Oi oi oi oi!!” Para bajak laut tertawa riang menyambut perintah itu.
“Kapten, kulihat kapal dagang ini cukup besar, mungkin ada pengawal yang tangguh. Kita harus tetap hati-hati,” seorang perwira memperingatkan.
Mendengar itu, sang Kapten tertawa terbahak-bahak.
“Pengawal tangguh? Lucu sekali! Sekuat apa pun mereka, aku akan mencabik-cabik mereka! Kalau kau tanya kenapa...” Ia menatap bangga ke belakang.
Di sana berdiri seorang pemuda bertubuh tinggi dengan rambut pirang keriting, dagu persegi panjang, dan mata yang tajam bersinar. Begitu melihatnya, senyum bangga sang kapten semakin lebar.
“Bukan karena apa-apa, tapi karena di kapal kita ada seorang jenius! Bukankah begitu, Newgate?”
Pemuda yang dipanggil Newgate itu tersenyum ramah.
“Aku hanyalah... seorang bajak laut biasa.”