Bab 12 Vas Bunga Prancis
“Seperti yang Anda lihat, Nona Kristina, semangat para pemuda kami sangat tinggi. Semua ini berkat dukungan logistik kami yang memadai dan kondisi medis di medan perang yang jauh lebih baik.” Di dalam tenda darurat, Pierre yang berperut buncit mengenakan setelan lengkap, membawa seorang wanita cantik berambut pirang dan bertubuh semampai untuk berkeliling di rumah sakit lapangan.
Nona Kristina Siniel, jurnalis khusus dari Departemen Propaganda Prancis yang datang dari Paris, memiliki rambut pirang panjang yang lembut, mata biru yang indah, dan kaki jenjang. Begitu ia tiba di markas, ia langsung menarik perhatian banyak pria di sekitarnya.
Tak hanya itu, pangkat mayor di pundaknya pun menimbulkan beragam spekulasi di antara para bintara.
“Gila, perempuan secantik itu bisa-bisanya jadi mayor? Jadi apa gunanya kita mati-matian di garis depan?” bisik salah satu bintara.
“Tunangannya adalah orang kepercayaan Panglima Besar Petain. Kalau kamu juga punya tunangan seperti itu, jadi kolonel pun bisa,” sahut rekannya pelan.
“Wah, jurnalis militer dari Departemen Propaganda langsung. Kali ini kita benar-benar kedatangan orang besar,” ujar yang lain dengan nada sedikit sinis.
“Diam, jangan berisik... Mereka datang, tutup mulut!” tegur seorang staf perwira pada kedua orang itu.
Semua orang membicarakan hal itu, dan He Chi sendiri juga tidak terlalu terkesan dengan nona ini. Bagaimana tidak, di medan perang masih sempat-sempatnya pakai stoking dan membawa cermin rias, kemungkinan besar dia cuma kucing manja atau sekadar pajangan belaka.
Jelas bukan tipe jurnalis perang sejati.
“Tuan Pierre, saya dengar akhir-akhir ini di berbagai front kita selalu menang. Benarkah tentara Jerman sudah tidak mampu bertahan lagi?” Di depan maket medan perang, Nona Kristina mengeluarkan buku catatannya.
“Benar sekali. Sejak bulan April, kami melancarkan serangkaian serangan dan berhasil memukul mundur garis pertahanan Jerman sejauh tiga kilometer. Para pemuda kami sangat gagah berani dan banyak pahlawan bermunculan, seperti Kapten Henri contohnya, dia sendiri berhasil menewaskan dua puluh tentara Jerman,” Pierre membual tanpa rasa malu, bahkan menggandakan jumlah musuh yang dikalahkan dari kesepakatan sebelumnya.
“Tuan Henri, sungguh senang bertemu dengan Anda! Di Paris saya sudah sering mendengar kisah Anda dan ingin sekali mendengarnya langsung dari Anda,” kata Kristina tersenyum sambil menjabat tangan Kapten Henri.
“Ya, saya sangat terhormat!” Mendengar pujian dari jurnalis militer secantik itu, Henri langsung berdiri tegak, lalu mulai menceritakan “kisah kepahlawanannya” sesuai naskah yang sudah diberikan sebelumnya. He Chi yang mendengar di samping hanya perlu beberapa kalimat untuk menyadari bahwa Henri menceritakan pertempuran malam itu seperti drama kepahlawanan yang berlebihan.
Pierre sepertinya cocok jadi penulis novel, pikir He Chi dalam hati.
“Luar biasa, satu granat bisa menewaskan lima tentara Jerman. Benarkah semua itu Anda lakukan sendiri?” Mata besar Kristina yang bulu matanya lentik menatap Kapten Henri.
“Hmm, benar,” Henri mengangguk.
“Padahal kenyataannya, kami berdua nyaris tewas kena granat teman sendiri,” He Chi membatin.
“Memanggul rekan yang terluka dan berjalan kaki menembus dua sarang senapan mesin?” tanya si jurnalis lagi.
“Sebenarnya... eh, ya, benar,” Henri tetap mengangguk.
“Bohong, dia sama sekali tak mengangkat siapa-siapa, malah sepatunya lepas saat lari,” He Chi mencibir.
“Di hari terakhir pertempuran itu, Anda menewaskan seorang penembak mesin Jerman dari jarak lima kilometer?”
“Itu... tidak! Maaf, seharusnya 500 meter, mungkin pencatat sebelumnya yang salah tulis,” untung saja Henri cukup sigap sehingga tidak membuat kesalahan fatal.
“Tapi, menurut laporan yang saya baca, di hari terakhir itu lengan Anda luka. Bagaimana Anda bisa menarik pelatuk senapan?” Kristina membuka buku catatannya lagi dan bertanya dengan bingung.
“Eh... ini...” Henri terdiam, sama sekali tak menyangka jurnalis cantik ini bukannya mendukung cerita, malah seolah-olah sedang mengujinya.
Wawancara selanjutnya berubah drastis. Kristina, yang sebelumnya tampak ramah, tiba-tiba menjadi tajam dan terus menemukan lima atau enam kejanggalan dalam cerita Letnan Henri.
Bahkan orang paling bodoh pun akhirnya sadar, wanita cantik ini datang bukan untuk mendukung mereka.
Tapi kenapa?
Departemen Propaganda Prancis seharusnya membantu mereka membangun citra pahlawan rakyat, bukan?
Apa untungnya mengirim orang untuk membongkar kebohongan mereka?
Kenyataannya, banyak situasi rumit seringkali memiliki alasan yang sederhana. Pierre, sang politikus, sudah memperhitungkan bahwa Markas Besar dan Departemen Propaganda akan menjaga muka masing-masing dengan bekerja sama menggubah kisah kepahlawanan, tapi ia melupakan satu hal: watak pemberontak khas gadis muda.
Nona Kristina memang datang untuk mencari masalah.
Kristina Siniel lahir dari keluarga bangsawan lama, ayahnya seorang perwira tinggi. Sejak kecil ia hidup hanya bersama ayahnya, jadi wataknya bukan manja, melainkan liar.
Minimnya kehangatan keluarga membuatnya selalu ingin menentang sang ayah, dan di usia dua puluhan itu, darah mudanya masih membara.
Sebulan lalu, ia menerima laporan yang penuh pujian tentang dua prajurit yang disebut berhasil membasmi satu peleton Jerman.
Namun, tumbuh besar di lingkungan militer memberinya akses untuk melihat laporan sebenarnya tentang pertempuran itu, sehingga ia tahu sebagian kebenarannya. Setengah untuk mengganggu sang ayah, setengah karena naif ingin “mengungkap kegelapan militer dan memulihkan fakta,” ia menerima tugas wawancara ini.
Ironisnya, Pierre justru mengira ini kesempatan untuk mendekatkan diri dengan atasan, dan dengan polosnya menyambut kedatangannya.
Tapi Kristina memang masih kurang pengalaman. Ia terlalu cepat membuka niat aslinya, sehingga Pierre segera memerintahkan orang-orang di sekitarnya untuk bungkam dan melarang siapa pun berbicara sembarangan kepada Kristina. Semua mulai bicara sesuai prosedur.
Bahkan Henri yang sebelumnya sering tampil pun mendadak menghilang.
Namun, gadis muda penuh harga diri itu tak mau berhenti. Ia memutuskan mencari jalan lain.
Yaitu pada tokoh lain dalam laporan itu, seorang pria Timur yang selama ini selalu diam.
Jujur saja, Kristina sebenarnya agak gugup. Saat itu, pengetahuan orang Barat tentang bangsa Tiongkok sangat minim dan penuh kesalahpahaman. Di mata Kristina, orang Timur pun jadi tampak menakutkan.
“Katanya, orang Timur kalau lihat lengan atau kaki perempuan langsung ingin menikahi mereka. Apa benar begitu?” pikir si jurnalis sambil mengkhayal sendiri.
Setelah berulang kali memberanikan diri, Kristina akhirnya memilih jaket paling sopan yang ia punya, menutupi lengan dan betisnya rapat-rapat, lalu mendatangi He Chi yang sedang memeriksa senjata.
“Halo... apa kabar...” Kristina menyapa dengan suara bergetar, menggunakan sepotong kalimat Mandarin yang baru dipelajari.
Pria Timur itu meletakkan pekerjaannya, berbalik, dan menatapnya dengan pandangan menggoda.
Kristina makin gugup, menunjuk dirinya sendiri, “Saya Kristina, teman.”
Pria itu tertawa, lalu menjawab dengan aksen Prancis yang sempurna, “Nona Kristina, kancing baju Anda salah pasang.”