Bab 42 Demi Menemuimu
Wen Ming menakup bibir atasnya lalu mengisapnya perlahan.
Ia lantas menjauh perlahan, manik matanya yang jernih menatap lurus ke arahnya, seolah ingin meleburkan dirinya ke dalam pandangan matanya. Kemudian ia mendekat dan mengecup bibir bawahnya.
Hingga ia menyadari napas wanita itu mulai menghangat dan tubuhnya meleleh di dalam pelukannya bagaikan genangan air jernih.
Ia mencengkeram tengkuk wanita itu, suaranya terdengar bagaikan aliran mata air yang gemercik, "Lapar?"
Jiang Zhaozhao mengangguk. "Aku bekerja membanting tulang untukmu seharian penuh, menurutmu bagaimana?"
Wen Ming menarik sudut bibirnya, memberikannya senyuman yang begitu jelas terlihat. Dengan lembut ia mengelus rambut bercepol wanita itu yang tebal, lalu menarik tubuhnya kembali untuk duduk tegak dan mengenakan sabuk pengamannya.
Seolah masih diliputi rasa enggan berpisah, ia menarik tangan wanita itu dan mencium punggung tangannya.
Ia berkata, "Aku akan mengajakmu makan."
Mobil itu cukup tinggi, sehingga saat turun, Jiang Zhaozhao membiarkan Wen Ming menggenggam pinggangnya, lalu ia melompat ringan dan mendarat dengan mantap di dalam pelukan pria itu.
Ia berkata ingin makan makanan laut.
Dibandingkan dengan wilayah tropis, makanan laut di utara memiliki tekstur daging yang lebih padat, segar, dan kandungan lemak yang lebih tinggi. Jiang Zhaozhao merasa sangat kelaparan hingga ia begitu berselera.
Wen Ming adalah tipe pria yang begitu lapisan esnya mencair, sisi lembut dari seorang pria tangguh akan muncul, membuatnya ingin merawat wanita itu dengan perhatian yang begitu teliti.
Meskipun ia terbiasa hidup dalam kemewahan sejak kecil, di mana segala kebutuhannya selalu tersedia tanpa usaha, sehingga keterampilan hidupnya cukup canggung.
Namun ia memiliki kesabaran yang luar biasa, bahkan daging siput laut pun ia keluarkan satu per satu dan ia tumpuk di piring makan wanita itu hingga menyerupai sebuah gunung kecil.
Saat berada di dalam mobil tadi, Jiang Zhaozhao sempat melepaskan cepolan rambutnya. Kini, rambut hitamnya yang lebat dan panjang, masih menyisakan sedikit gelombang ikal dari bentuknya seharian ini, tergerai anggun di punggungnya.
Selama beberapa hari di pabrik ini, riasan wajahnya selalu tampak sangat tipis.
Bertahan seharian penuh hingga saat ini, waktu telah menunjukkan pukul delapan atau sembilan malam. Riasan terbaik sekalian pun tidak akan sanggup bertahan menghadapi berbagai macam suhu di dalam area pabrik.
Namun wajah tanpa riasannya justru terlihat semakin memesona.
Bentuk alisnya begitu indah, matanya besar dan berbinar, bulu matanya melengkung alami. Ia tampak lebih manis dari biasanya, dengan sedikit aura memukau dan menggoda yang berkurang.
Di dalam rumah makan makanan laut yang bising dan penuh sesak oleh manusia, ia bagaikan sebutir mutiara kerang yang memancarkan kilau dalam keheningan.
Meskipun terkurung di dalam cangkangnya, ia tetap sangat indah dipandang.
Wen Ming bahkan menerima seluruh cangkangnya itu.
Jari-jarinya yang jenjang menjepit sehelai tisu untuk menyeka noda minyak di sudut bibir wanita itu, sementara ujung jarinya tanpa sengaja menyapu permukaan bibirnya.
Sentuhan itu terasa dingin, dengan sedikit tekstur kasar yang memicu riak gelombang bagaikan sengatan listrik.
Kedua pipi Jiang Zhaozhao terasa panas, merona kemerahan.
Sudah bertahun-tahun lamanya ia tidak terbiasa diurus oleh seseorang di tempat umum.
Ia mengulurkan tangan kecilnya, menempelkan punggung tangannya ke pipi, berniat meredakan suhu panas menggunakan rasa dingin dari punggung tangannya.
Wen Ming tiba-tiba meriah pergelangan tangannya. Dengan tubuhnya yang mencondong melewati jajaran piring di atas meja makan, ia mendekat dan menempelkan dahinya ke dahi wanita itu.
Kulit putih pucat pria itu terpampang jelas di hadapannya, alis hitamnya yang lebat bersentuhan dengan kulit lembut wanita itu, sementara batang hidung dan ujung hidung mereka saling bergesekan.
Aroma segarnya, berpadu dengan sisa aroma losion cukur yang telah memudar seharian, serta deru napas yang tergesa-gesa, menerpa wajahnya secara langsung.
Jiang Zhaozhao mengepalkan kedua tangannya di tepi meja.
Jantungnya berdegup kencang seolah hendak melompat keluar.
Wen Ming perlahan menjauhkan diri, keningnya mengernyit bingung. Ia berkata, "Tidak panas." Sambil menunduk, ia mengambil semangkuk bubur makanan laut.
Tenggorokannya mendadak terasa kering. Detik berikutnya, reaksi bawah sadarnya justru langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari apakah ada sosok Zhou Shulan di sekitar sini.
Pria itu menunduk mengambil semangkuk bubur makanan laut, lalu perlahan mengaduknya dengan sendok.
Kerumunan orang yang berdesakan, suara bising yang riuh, mengisi kedai kecil yang sarat dengan kehangatan duniawi.
Untuk pertama kalinya, Jiang Zhaozhao menyadari bahwa Zhou Shulan telah menjadi bayangan ketakutan di dalam hatinya.
Karena bayangan ketakutan inilah, ia telah menerima kenyataan bahwa dirinya tidak layak menikmati kebahagiaan dan kegembiraan.
Wen Ming meletakkan mangkuk bubur makanan laut di dekat tangan wanita itu, lalu mengangkat tangannya dan menyuapkan sesapsuap ke bibir wanita itu.
Jiang Zhaozhao menyesapnya perlahan, sisa serat daging kepiting masih tertinggal di sudut bibirnya. "Xiangxiang."
Jantung Wen Ming mendadak berdegup kencang hingga terasa sesak, bahkan tangannya nyaris bergetar.
Ia menjawab dengan suara rendah, "Aku di sini."
Tatapan mata Jiang Zhaozhao yang berkaca-kaca menatapnya. "Menurutmu, apakah ada cara bagiku untuk berbicara dengan Zhou Shulan?"
Khawatir pria itu tidak mengerti, ia buru-buru menambahkan penjelasan, "Maksudku orang yang hari itu... yang kamu lihat di Xihuali."
"Aku tahu."
Wen Ming juga pernah melihat Zhou Shulan saat berada di Mingcheng.
Saat itu, Jiang Zhaozhao yang biasanya tenang dan dingin, harus menghadapi cobaan pertama dalam hidupnya di mana harga dirinya dirobek-robek, diinjak-injak hingga hancur berkeping-keping beserta darah dan dagingnya.
Wen Ming berdiri di balik kerumunan, sekujur tubuhnya gemetar dan kepalanya berdenging.
Aliran darahnya mendesak naik ke kepalanya, dipenuhi amarah, kekecewaan, dan perasaan seolah jatuh ke dalam jurang yang dalam.
Namun setelah diendapkan oleh waktu, hingga malam ini, yang tersisa di dalam diri Wen Ming hanyalah rasa sakit yang mendalam.
Ia merenung sejenak, lalu mengangkat pandangannya dengan tatapan penuh tekad. "Aku akan menemanimu."
Jiang Zhaozhao secara refleks melambaikan tangan menolak. Ia tidak mau, pertemuan dengan Zhou Shulan pasti akan dipenuhi dengan kehinaan. Ia berkata, "Aku bisa sendiri..."
"Zhaozhao, aku bisa ikut." Wen Ming mengulurkan tangan, jemarinya terentang longsor di atas meja, hanya sedikit melengkung, menunggu Jiang Zhaozhao meletakkan tangannya ke dalam telapak tangannya.
Ia berkata, "Percayalah padaku."
Pencahayaan di kedai makanan laut itu berwarna putih terang, menyinari udang dan kepiting hingga tampak merah menggugah selera, sekaligus memperlihatkan tempat bagi hati manusia untuk tidak bisa bersembunyi.
Dari sorot mata Wen Ming, Jiang Zhaozhao melihat ketulusan dan rasa bersalah.
Ia meletakkan tangannya di atas sana. Saat pria itu menggenggam tangannya, sekujur tubuhnya bergetar hebat.
Wen Ming berkata, "Tunggu sampai urusanku di Pingdu selesai beberapa hari ini, aku akan menghubunginya, ya?"
Meskipun status Wen Ming terasa canggung, ia tetap bermarga Wen. Untuk urusan seperti ini, ia tentu mampu melakukannya.
Ia mengemudikan mobilnya, membuka kaca jendela mobil.
Angin laut yang membawa aroma garam menerpa masuk ke dalam kabin, turut meniup helai-helai rambut wanita itu yang berhamburan.
Bibirnya tampak bengkak kemerahan, telah dicium dengan mesra oleh pria itu sebelum turun dari mobil, lalu semakin merona pekat karena tersengat makanan laut yang pedas.
Di atas wajahnya yang putih, bibir merah, pipi kemerahan, serta sepasang mata bagai bintang yang hitam pekat.
Wanita berwajah lembut itu bagaikan tanaman rambat yang memiliki vitalitas sangat kuat di dalam hidup, berjuang bertahan hidup seorang diri di dunia ini, sekaligus menancapkan akarnya dengan sangat dalam di lubuk hati Wen Ming.
Jiang Zhaozhao berjalan mendahului Wen Ming dengan santai untuk membuka kunci sidik jari, lalu ia melangkah masuk dan mengganti sepatunya. Saat pinggang rampingnya membungkuk, ia mendapati bayangan Wen Ming di belakangnya tidak bergerak.
Ia mengerjap dan bertanya, "Ada apa?"
Wen Ming mengulurkan tangan, dengan lembut mengelus rambut panjang wanita itu, menekan pinggang belakangnya, lalu menarik tubuhnya ke dalam pelukan.
"Aku harus buru-buru kembali ke Pingdu."
Ia terkejut. "Kamu menempuh perjalanan jauh ke sini hanya untuk makan?"
Wen Ming memutar-mutar sehelai rambut wanita itu di jarinya dan meralat, "Untuk menemuimu."
Jiang Zhaozhao mengangkat wajahnya, menyandarkan dagunya di dada pria itu sementara tangan kecilnya dengan nakal mencolek tulang selangka pria itu dengan ringan. "Pandai sekali merayu."
Wen Ming tertawa kecil, tidak pernah menyangka suatu hari nanti kata-kata itu bisa dialamatkan pada dirinya sendiri.
Ia menjelaskan dengan serius, "Sungguh."
Maka ia berjinjit, memberikannya hadiah berupa ciuman yang manis.
Bibir Wen Ming yang terasa dingin tiba-tiba saja bersentuhan dengan kehangatan, kelembutan, kebasahan, dan rasa manis dari bibir wanita itu.
Ia bahkan mulai berpikir, cinta benar-benar mampu membuat seseorang kehilangan akal sehat.
Ia berniat memperdalam ciuman itu.
Namun sosok di dalam pelukannya tiba-tiba saja meliukkan pinggang rampingnya ke belakang, bagaikan seekor ikan kecil yang lolos dari jangkauannya.
Jiang Zhaozhao tersenyum dengan rona bahagia, sementara kelicikan yang tak bisa disembunyikan terpancar jelas dari matanya. "Hati-hati di jalan ya, Direktur Wen."