Bab 39 Jangan Menikah dengan Orang Lain
Jiang Zhaozhao: "Wen Ming, kupikir kita bisa berhubungan secara normal."
Wajah kaku Wen Ming, yang semula terkejut, berubah menjadi kecewa: "Bisa."
Ia berpura-pura tidak melihat dan kembali ke sofa. Ia mendengar langkah kaki pria itu yang gontai menuju kamar mandi. Hatinya terasa seperti dicakar oleh cakar anak kucing yang tajam; sensasi awal yang terasa gatal dan menggelitik berubah menjadi nyeri yang datang menyusul.
Kemudian, suara air yang mengalir di kamar mandi terdengar deras, membuat suasana hati Jiang Zhaozhao kian merosot.
Jiang Zhaozhao mengerti keinginan pria itu untuk mendekatinya, meskipun jarak yang tercipta di masa muda masih membekas. Tidakkah ia sendiri ingin mengulangi malam itu, memeluknya, dan mencium bibirnya?
Orang bilang, mereka yang tidak punya apa-apa tidak perlu takut kehilangan. Namun, Jiang Zhaozhao tidak memiliki apa-apa lagi selain harga diri yang rapuh bak kaca. Meski posisi pria itu sulit, ia tetaplah seorang Wen.
Dulu, saat ayahnya bermarga Gao, hubungan mereka saja sudah harus diperjuangkan dengan susah payah. Kini, memancing perhatiannya hanya akan membuatnya jatuh lebih dalam saat segalanya terungkap, dan membuatnya semakin hina saat hubungan itu berakhir.
Karena itulah, ia menghindar.
Ketika Wen Ming melangkah ke ruang tamu dengan rambut yang masih setengah basah, Jiang Zhaozhao tampak meringkuk di sofa, wajah mungilnya hampir terkubur sepenuhnya, sementara selimut tipis menonjolkan punggungnya yang ramping. Lengkungan pinggangnya yang cekung tampak begitu indah, bagaikan pohon dedalu di tepi mata air yang jernih.
Wen Ming membanting handuk pengering rambut ke atas meja dapur dengan kasar, lalu melangkah lebar dan mengangkat tubuh wanita itu dari sofa. Begitu tubuh lembut itu berada dalam pelukannya, rasa kesal yang tak menentu di hatinya pun sirna.