Bab 16 Itu Harga yang Berbeda
Halaman (1/3)
Seorang lelaki tua dengan kaus polo yang tampak kelewat bergaya kantoran berkata setengah bercanda, “Tuan Wen, membawa asisten secantik ini untuk menghalau para pengagum, ya?”
“Lihat saja, gadis-gadis yang sudah tak sabar itu jadi tak berani mendekat. Mereka semua takut kalah cantik dari Nona Jiang.”
Tinggi lelaki itu hanya sebahu Wen Ming, tetapi ia sengaja bersikap akrab dan hendak merangkul bahu Wen Ming.
Gerakannya begitu konyol hingga Jiang Zhaozhao tak kuasa menahan tawa.
Ia menunduk, pura-pura menutupi sudut bibirnya. Rambutnya meluncur jatuh, memperlihatkan ujung hidungnya yang mancung.
Alis Wen Ming mengendur, lalu berkerut. Berkerut, kemudian mengendur lagi.
Malam itu jumlah tamu sangat banyak dan kedudukan mereka pun berbeda-beda. Jiang Zhaozhao sadar diri, lalu membawa seorang staf humas untuk duduk di meja para manajer tingkat menengah.
Namun, dari meja para petinggi terdengar suara, “Tolong tambahkan satu tempat duduk. Saya tidak kuat minum. Asisten saya yang akan menggantikan saya.”
Wen Ming melambaikan tangan. “Zhaozhao, kemari.”
Mata di balik kacamatanya tampak dingin dan sepenuhnya profesional.
Jiang Zhaozhao terpaksa membungkuk kecil untuk meminta maaf sebelum meninggalkan meja.
Kepada Fang Lan, Wen Ming berkata, “Di sini sudah cukup dengan Asisten Jiang. Kalian pergi menghadapi orang-orang itu.”
Fang Lan juga bangkit dan tersenyum lembut. “Baik, Tuan Wen.”
Jiang Zhaozhao mendekatkan mulut ke telinga Fang Lan dan berpesan singkat, “Manajer dari perusahaan di sudut tenggara itu suka meraba perempuan. Hati-hati. Selain itu, kenali para pemasok perlengkapan dan bahan kemasan. Setelah ini tetap jaga hubungan dengan mereka.”
Fang Lan mengangguk.
Jiang Zhaozhao duduk, lalu dengan cekatan memindahkan cangkir arak putih dan wadah pembagi minuman di depan Wen Ming ke hadapannya sendiri.
Ia menegakkan pinggang rampingnya dan berdiri.
Cangkir arak kaca di antara jari-jarinya yang putih dan lembut seakan berubah menjadi sesuatu yang istimewa. Ia tersenyum manis. “Para pimpinan, kedudukan saya belum cukup tinggi, jadi saya akan menggantikan Tuan Wen dan minum tiga cangkir terlebih dahulu.”
Leher jenjangnya terangkat, tampak seputih salju. Wajahnya sama sekali tidak berubah, senyumnya tetap cerah.
Orang-orang di meja itu segera bersorak. Beberapa bahkan bangkit dari tempat duduk untuk menambahkan satu cangkir lagi bagi perempuan memesona yang langka seperti itu.
Jiang Zhaozhao tanpa banyak bicara menghabiskan dua cangkir berikutnya.
Ketika ia duduk, Wen Ming bahkan tidak menoleh kepadanya, tetapi tangan kanannya menyodorkan secangkir air hangat.
Ia baru saja memasuki dunia kerja. Dalam situasi seperti ini, Wen Minglah yang biasanya berbicara. Ia hanya perlu banyak mendengar, banyak mengamati, dan sedikit bicara.
Jiang Zhaozhao mendapati bahwa Wen Ming sendiri tidak banyak bicara. Ia hanya sesekali menanggapi orang lain dan menyampaikan gagasan manajemen yang hambar serta agak ketinggalan zaman.
Ketika jamuan telah berlangsung separuh, beberapa orang tidak lagi duduk di tempat masing-masing. Mereka berdiri sambil membawa cangkir, saling bersulang dan bertukar sapa.
Jiang Zhaozhao masih harus memperhatikan Li Shuang dan Fang Lan di sisi lain.
Ada yang ingin mendekati pimpinan, ada yang ingin membangun jaringan, dan tentu saja ada pula yang berniat buruk setelah melihat kecantikan, lalu datang menghampirinya.
Tangan seorang lelaki yang berminyak menempel di punggung Jiang Zhaozhao, sementara di permukaan ia berpura-pura sedang berbincang dengan Wen Ming.
“Tuan Wen, masih muda tetapi sudah menjadi pemimpin perusahaan. Sungguh mengagumkan.”
Jiang Zhaozhao tetap tenang. Ia sedikit membungkukkan tubuh ke arah meja untuk menjauh dari lelaki itu.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Namun, sesaat kemudian tangan itu kembali menempel padanya.
Wen Ming merendah. “Tuan Ma, saya masih junior.”
“Anda memang punya kemampuan. Kalau tidak, mana mungkin asisten secantik ini mau mengikuti Anda dengan setia?”
Jiang Zhaozhao menggeser bahunya, memiringkan tubuh ke kanan, lalu kembali menghindar. Wajahnya tetap menawan. “Saya juga baru mulai bekerja.”
Di balik kacamatanya, kelopak mata Wen Ming terangkat.
“Urusan apa saja yang ditangani Asisten Jiang di perusahaan Anda?” arah pembicaraan Tuan Ma langsung beralih kepada Jiang Zhaozhao. Wajahnya yang berminyak ikut mendekat.
Jiang Zhaozhao tetap mampu menghadapinya dengan tenang, meski senyumnya tak urung menegang. “Saya membantu Tuan Wen dalam segala hal.”
“Oh? Kalau Tuan Wen sedang terlalu sibuk, bolehkah urusan bisnis langsung dibicarakan dengan Asisten Jiang?”
Tuan Ma mengeluarkan ponselnya. “Nona cantik, boleh minta nomor kontak?”
Kelopak mata Wen Ming berkedut.
Jiang Zhaozhao mengangkat lengan dengan lembut, menggunakan sikunya untuk menjaga jarak aman. Suaranya selalu selembut itu, manja dan merdu. “Tuan Ma, tolong jauhkan ponselnya.”
Ia mulai memiringkan tubuh, menunduk, lalu mengutak-atik tas kecilnya.
Gaun yang dikenakannya sebenarnya tidak terlalu terbuka. Garis lehernya hanya turun sekitar satu inci di bawah tulang selangka, dengan desain lipit bertumpuk.
Namun, lekuk tubuhnya yang indah justru tampak semakin menggoda, seolah semakin ditutupi semakin menarik perhatian. Tatapan Tuan Ma pun terpaku.
Wen Ming mengulurkan tangan dan mengambil tas kecil Jiang Zhaozhao. “Bukankah tadi kau bilang baterainya habis?”
Ia melirik ponselnya. “Ada urusan mendesak di pabrik. Zhaozhao, ikut aku sebentar.”
Tubuhnya ramping dan kuat, ruas-ruas jarinya tegas. Telapak tangannya yang sedikit dingin menyusuri garis pinggang Jiang Zhaozhao, lalu menarik pinggang ramping itu dari tangan Tuan Ma.
“Harap maklum.”
Begitu keluar dari ruang jamuan, Jiang Zhaozhao merasakan tangan Wen Ming segera menjauh darinya.
Langkah lelaki itu cepat dan lebar. Jiang Zhaozhao harus berlari kecil agar dapat mengikutinya.
Sesampainya di depan mobil, barulah ia melihat wajah Wen Ming menegang seperti gunung es. Meskipun Wen Ming memang selalu sedikit bicara, Jiang Zhaozhao tetap dapat menyimpulkan dari kebisuannya kali ini bahwa ia sedang marah.
Wen Ming sedang pusing memikirkan urusan keuangan. Entah kekacauan apa lagi yang terjadi di bagian produksi.
Jiang Zhaozhao mengembuskan napas. Ia memutuskan untuk tidak mengusiknya ketika sedang marah dan menjaga jarak darinya.
Ia diam-diam membuka pintu belakang sebelah kanan, lalu duduk di dalam.
Wen Ming melirik kaca spion tengah.
Saat bertatapan dengannya, Jiang Zhaozhao langsung menciut seperti burung puyuh.
Dengan wajah seolah tak terjadi apa-apa, ia mengeluarkan cermin kecil untuk memeriksa apakah wajahnya memerah karena minuman keras.
Di kursi depan, Wen Ming tiba-tiba turun dari mobil dengan amarah yang meledak-ledak. Tiga detik kemudian, pintu mobil yang sedang disandari Jiang Zhaozhao mendadak dibuka.
Ia masih duduk, tetapi seluruh tubuhnya ikut terhuyung.
Bahkan ujung pakaian Wen Ming seakan membawa amarah yang segera meledak. Jiang Zhaozhao mengangkat pandangan. Mata Wen Ming yang pucat tampak membeku.
“Benar-benar menganggapku sopir? Tadi kenapa kau tidak menjauh sejauh itu?”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Jiang Zhaozhao membuka mulut, tetapi tidak tahu harus mengatakan apa.
Ia mendongak. Wajahnya yang memesona dan menggoda kini dihiasi sedikit rasa tersinggung.
Seharusnya sejak awal Wen Ming sudah tahu bahwa perempuan ini memang terlalu mudah menarik perhatian.
Riasannya sedikit luntur. Di bawah lampu plafon mobil yang terang, tampak sebuah tahi lalat kecil berwarna cokelat di ujung hidungnya.
Pesonanya kini bercampur dengan kepolosan yang menggemaskan.
Api kemarahan di dada Wen Ming padam lebih dari separuh. Ia masih menopangkan lengannya pada pintu.
“Turun.”
Jiang Zhaozhao menurut. Pinggang rampingnya melengkung ketika ia membungkuk keluar.
Namun, Wen Ming tidak banyak mundur. Ia membuat Jiang Zhaozhao terkurung di antara kedua lengannya.
Suhu tubuh yang dingin, aroma tubuh yang dingin, tatapan yang dingin.
Bahan celana panjang Wen Ming bergesekan dengan ujung gaunnya. Mereka begitu dekat, hanya berjarak sejengkal.
Jiang Zhaozhao menarik napas dalam-dalam.
Wen Ming menundukkan kepala dan menatapnya dari sudut mata, lalu dengan tangan kiri membuka pintu kursi penumpang depan.
“Duduk.”
Mobil melaju menyusuri jalan di tepi sungai. Suasana tegang di dalam kabin akhirnya sedikit mereda.
Jiang Zhaozhao bertanya, “Apa yang terjadi di pabrik? Apakah ada bagian yang perlu saya koordinasikan sekarang?”
Saat ia berbicara, Wen Ming mencium aroma persik khas tubuhnya yang bercampur dengan wangi arak.
Lampu lalu lintas berubah merah. Wen Ming menoleh kepadanya. “Ma Zhanteng itu sangat kurang ajar. Dia pernah membuat beberapa perempuan celaka. Kau tahu?”
Jiang Zhaozhao seketika mengerti.
Lalu ia meninggikan suara. “Aku baru pertama kali bertemu dengannya. Bagaimana mungkin aku tahu?!”
“Sekarang kau sudah tahu. Jauhi dia.”
Jiang Zhaozhao juga menoleh dan menatapnya. “Jangan lampiaskan amarahmu kepadaku!”
Wen Ming kembali menatap ke depan. Mobil pun mulai melaju.
Perempuan di kursi penumpang masih terus berbicara. “Tuan Wen membayarku untuk bekerja, bukan untuk menjadi tempat melampiaskan rasa kesal. Kalau aku harus menanggung perubahan suasana hatimu yang secepat kilat, itu tarifnya berbeda!”
Ia memang tahu betul cara menusuk titik paling sensitif Wen Ming.
Halaman (3/3)