Bab 14: Mabuk!
“Mau makan bersama, Xiao Hui?”
“Kalian duluan saja, aku masih belum menyelesaikan jatah hari ini!” Zhao Xiaohui memasang wajah muram, mengeluh pada rekan kerjanya, “Sepertinya harus lembur lagi!”
Melihat punggung rekan-rekannya yang meninggalkan ruangan, ia menghela napas panjang, lalu menggosok-gosok telinganya yang mati rasa karena terlalu lama terjepit headphone, mengumpat pelan, “Semuanya sampah!”
“Tak satu pun yang layak didengar!”
“Ke mana perginya suara-suara indah itu?”
Ia berdiri, meregangkan tubuh, lalu pergi mengambil segelas air panas. Tak ada pilihan lain, pekerjaan sebagai editor di Himalaya memang seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
Entah apa yang dipikirkan pimpinan,
Harus repot-repot membuat gerakan Membaca untuk Semua?
Katanya mencari suara-suara bagus dari masyarakat?
Omong kosong!
Isinya cuma orang-orang aneh tak jelas!
Memikirkannya saja sudah membuatnya putus asa, tiap hari telinganya dibombardir berbagai dialek, jangan bicara soal membaca, sembilan puluh persen bahkan bicara pun tidak jelas!
Mau jadi penyiar sih tak masalah,
Tapi setidaknya, bisakah latihan pengucapan dulu dengan baik?
“Kasihan telingaku,” gumamnya getir sembari kembali mengenakan headphone. Hanya tersisa dua jam sebelum pulang kerja, dan sudah pasti hari ini ia harus lembur untuk menemukan talenta baru.
Tangan memegang mouse, bergerak tanpa arah, seolah sedang mencari barang daur ulang bernilai di antara tumpukan sampah…
Tiba-tiba muncul suara terbaru, iseng diklik, ternyata judulnya “Tidurlah, Tidurlah”?
Karena penasaran, ia memutar. Biasanya, konten semacam ini diiringi musik piano lembut, bukan suara yang menidurkan, melainkan musik yang membuat orang tertidur.
Sama seperti banyak orang mendengarkan lawakan Guo Degang untuk tidur, yang dicari hanya rasa familiar dan rileks.
“Eh, ternyata tidak ada musik?” Xiao Hui mendengar suasana hening di headphone, melihat progres bar sudah berjalan lima-enam detik, ini apa lagi?
“Sekarang, aturlah tubuhmu ke posisi paling nyaman…
Tutuplah matamu, begitu mata terpejam, kamu mulai merasa rileks…
Perhatikan perasaanmu, biarkan hatimu seperti alat pemindai, perlahan-lahan, dari kepala hingga kaki, pindailah seluruh tubuhmu, di mana hatimu memindai, di situ tubuhmu menjadi rileks…”
Sekarang, kamu merasakan kedamaian di dalam diri, seolah-olah memasuki dunia lain yang menakjubkan, jauh dari keramaian dunia, kamu hanya akan mendengar suaraku dan suara musik latar, suara bising dari luar tidak akan mengganggumu.
Kalau pun terdengar suara berisik mendadak, bukan saja tidak mengganggumu, justru akan membawamu ke kondisi hipnosis yang lebih dalam, lebih nyaman…
“Sekarang… perhatikan napasmu…”
“Napas yang dalam… teratur dan dalam…”
“Perlahan hirup udara… ya… lalu perlahan keluarkan…”
Terdengar sebuah suara hangat di telinga, seperti seberkas cahaya di tengah kegelapan, lembut menyapu wajah Xiao Hui.
Tanpa sadar, ia mengikuti irama suara itu, bernapas semakin dalam, saraf-saraf yang tegang pun mulai mengendur, layaknya karet gelang yang selama ini tertarik oleh tekanan, akhirnya bisa rileks dan terlepas…
“Bagus… pejamkan mata… bayangkan kamu menghirup oksigen dari udara…”
“Fokuskan perhatian di ujung hidung… rasakan udara masuk ke tubuhmu… perlahan mengalir lewat rongga hidung…”
“Lalu ke tenggorokan… masuk ke paru-paru dengan lembut… lalu meresap ke dalam darah…”
Xiao Hui tak tahan memejamkan mata, bersandar lembut di sandaran kursi, ujung hidungnya bergetar pelan, seolah-olah kawanan peri kecil berlarian masuk.
Mereka bernyanyi riang… menari gembira… melayang ringan seolah menghadiri pesta paling meriah…
Oksigen yang biasanya begitu murah kini terasa seperti barang mewah terindah di dunia, mengalir lewat sirkulasi darah, perlahan menyatu dengan tubuhnya yang sudah lama kering, seperti hujan musim semi yang menyejukkan…
Dalam sekejap, setiap bagian tubuh… setiap sel… setiap detak…
Dipenuhi energi segar!
“Teruslah rileks… saat membuang napas, bayangkan seluruh karbon dioksida dikeluarkan dari tubuh…”
“Ya, buang semuanya tanpa sisa!”
Suara di telinga terdengar semakin mantap, seperti sepasang tangan kuat yang terus menenangkan otot-otot yang terasa berkarat, diam-diam mengusir semua letih, resah, gelisah, minder, dan tegang keluar dari tubuh…
Ya, seperti memeras spons, perlahan diperas sampai benar-benar bersih!
Xiao Hui pun tampak benar-benar lega, tubuhnya sepenuhnya rileks, wajahnya tanpa sadar menampilkan senyum manis, segala ketidaknyamanan dan hal-hal yang mengganggunya seolah menjauh…
Setiap kali menarik napas dalam, suara ajaib itu membawanya masuk ke kondisi yang semakin dalam, semakin rileks, semakin nyaman…
Di hadapannya muncul cahaya putih lembut, menuntunnya ke sebuah taman surga, di sana tak ada pertikaian… tak ada intrik… tak ada tipu daya…
Hanya ada kicau burung dan harum bunga… sederhana dan murni… penuh tawa dan canda…
Tiba-tiba, benaknya terlintas sebuah pikiran:
Apakah ini yang disebut surga?
Suara itu perlahan menjadi rendah, seperti perantau yang akhirnya menemukan tempat pulang, penuh sukacita dan harapan, “Kamu kembali ke asal-muasal kehidupan… inilah tempatmu dilahirkan… bukit-bukit hijau membentang, penuh rerumputan segar… dan banyak bunga langka…”
“Sudahkah kau rasakan? Di sini penuh keheningan yang manis… segala hal duniawi menjauh darimu…”
“Lihatlah dirimu, tidakkah tubuhmu terasa bening dan transparan?”
“Tidakkah kau merasa ringan, seolah tanpa bobot?”
“Ya, itulah rasanya, jangan ragu dengan semua yang sedang kau alami!”
Xiao Hui merasa dirinya berubah jadi sehelai bulu, terbang bersama angin ke langit, lalu berubah jadi awan putih, melayang ringan, bebas ke mana pun ia mau…
Naik ke atas… ke kiri… ke kanan… ke depan…
Ke mana pun keinginan membawanya!
Semua pengalaman masa lalu terlupakan, keluhan lenyap… komentar sirna… penghakiman pun tak ada lagi.
“Setiap sinar matahari menembus hatimu… mengusir semua awan gelap…”
“Setiap hembusan angin meniupkan bebanmu, membawa pergi segala ketegangan dan kecemasan…”
“Ketika kamu fokus pada napas, udara mengalir dalam tubuh, oksigen masuk ke setiap sel, dan tubuhmu pun otomatis mengisi energi…”
“Benar, kamu sedang mengisi ulang tenaga!”
“Mulai sekarang… lanjutkan napas dalam… dengarkan bimbingan alam… alami saja… dengan santai…”
“Tak perlu memikirkan apa pun… lupakan segalanya…
“Kini kamu bahkan tak ingat siapa dirimu… lupa dari mana asalmu… tak ingat hendak ke mana…”
“Kehidupan memang seharusnya semudah ini!”