Bab Dua Puluh Lima: Diri Sendiri Saja Tak Terjaga, Masih Ingin Menyelamatkan Semua Orang?
“Apa otakmu juga error seperti Shen Buyan yang jelas-jelas sudah tidak waras itu?”
“Kau sudah bertahun-tahun di kelompok ini, tapi masih kurang waspada?!”
“Kau bahkan tidak tahu benda apa yang ada di dalamnya! Bisa-bisanya kau bawa ke sini?!”
“Coba pakai otakmu sedikit!”
Bai Bing yang tadi sudah dibuat kesal oleh Shen Buyan, kini semakin marah. Xiao Wu pun benar-benar sial, tanpa sengaja jadi sasaran kemarahan kali ini.
...
“Apa lagi yang kau tunggu, cepat pergi!”
Di saat Bai Bing sedang bicara dengan Xiao Wu, Shen Buyan berbisik pelan di samping Lin Ji, mengingatkannya.
Lin Ji terkejut, lalu dalam sekejap dia sudah ditarik oleh Shen Buyan ke depan pintu dan langsung didorong keluar untuk melarikan diri.
Di jalan meninggalkan markas, hati Lin Ji dipenuhi kegelisahan.
“Tapi kotak itu dikirimkan untukku, kan?”
Shen Buyan berhenti melangkah, menoleh menatap Lin Ji. Sorot matanya seperti sedang menatap orang bodoh.
“Untukmu?”
“Setelah kau keluar dari rumah sakit, selain aku dan Bai Bing, apa kau kenal orang lain?”
Lin Ji terhenyak, sepertinya memang begitu. Lalu siapa yang mengirimkan paket itu kepadanya?
Tunggu dulu!
Lin Ji tiba-tiba menoleh ke belakang, memandang gerbang markas yang tampak tenang, tanpa suara apa pun.
“Jangan-jangan meledak lagi? Apa mungkin di dalamnya bom?”
Shen Buyan juga menoleh, menatap gedung markas beberapa saat, tak terdengar letupan sedikit pun.
“Sudah selama ini, seharusnya tidak mungkin itu bom.”
Benarkah?
Hati Lin Ji tak tenang, ia tak bisa menahan kecemasan terhadap orang-orang di dalam markas. Jika benar paket itu untuknya, dan ternyata bom, bisa-bisa semua orang di dalam jadi korban gara-gara dirinya.
“Apa? Kau mulai merasa kasihan pada orang lain?”
Shen Buyan kembali mengangkat alis, menatap Lin Ji. Di matanya, Lin Ji kini ibarat patung Buddha lumpur yang hendak menolong orang menyeberang sungai, padahal dirinya saja belum tentu selamat.
Sungguh terlalu polos.
“Aku bukannya ingin kasihan, aku hanya merasa... kalau semua ini gara-gara aku…”
Shen Buyan melihat Lin Ji yang tampak bingung, diam-diam tertawa. Ia sendiri tidak tahu harus menyebutnya bodoh atau berhati baik.
“Ayo pergi.”
“Mau ke mana?” Lin Ji masih dengan wajah polosnya.
Sebenarnya dia tidak bermaksud bersikap seperti itu, tapi memang dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
“Aku akan mempertemukanmu dengan seorang teman. Untuk sementara kita lupakan kasus-kasus yang tak berkaitan. Sekarang pikirkan dulu masalahmu.”
“Setidaknya sebelum Bai Bing sadar apa yang terjadi.”
Sambil bicara, Shen Buyan menepuk bahu Lin Ji, menggandengnya menuju area parkir.
Lin Ji tidak tahu mobil apa yang akan mereka tumpangi, bentuknya gepeng dan hitam, hanya saja kelihatan sangat bersih.
Shen Buyan membuka pintu dan mengisyaratkan Lin Ji untuk masuk.
Lin Ji duduk di kursi depan dengan patuh lalu mengenakan sabuk pengaman. Ingatan terakhirnya sebelum dikurung adalah ketika orang tuanya mengantarnya ke rumah sakit dengan mobil, dan kalimat terakhir yang diucapkan ibunya adalah, “Naik mobil, pakai sabuk pengaman baik-baik.”
Melihat kebiasaan Lin Ji, Shen Buyan tidak berkata apa-apa, justru malah makin tertarik dengan Lin Ji. Sepertinya masih banyak hal menarik yang bisa digali dari dirinya.
Karena Shen Buyan sendiri yang menyetir, jalan keluar dari markas pun tidak dirahasiakan lagi.
Lin Ji memandangi pemandangan di luar jendela sepanjang perjalanan. Setelah keluar dari markas, mereka melewati tiga lampu merah, lalu naik ke jalan tol.
Di seberang jalan tol, terdapat sebuah jembatan besar yang melintasi laut.
Saat melintasi jembatan itu, tubuh Lin Ji mendadak bergetar, bulu kuduknya merinding.
“Ada apa denganmu?”
Mereka berdua nyaris tak berbicara selama perjalanan, tapi dari sudut mata, Shen Buyan melihat Lin Ji menggigil.
“Kau kedinginan?”
Lin Ji menggosok lengannya yang merinding, menggeleng. “Tempat ini terasa sangat familiar.”
Shen Buyan kembali menatap ke depan, suaranya tenang, “Tentu saja terasa akrab. Di sinilah ibumu dulu meledakkan jembatan.”
“Ledakannya benar-benar bersih dan rapi.”
“Aku sempat membaca berita waktu itu. Katanya, butuh waktu hampir setengah tahun untuk memperbaiki jembatan ini.”
Kening Lin Ji mengerut. Ia sama sekali tak mengingat kejadian itu, bahkan seingatnya, ia tidak pernah datang ke jembatan ini. Dan, kenapa pula ibunya sampai meledakkan jembatan?
Pertanyaan itu hanya bertahan sebentar di benaknya.
Seolah bisa membaca pikirannya, Shen Buyan berkata, “Alasannya belum jelas. Tapi ibumu sangat cerdas, sampai-sampai polisi dan tim khusus pun menaruh hormat. Selama bertahun-tahun, tak ada kabar sedikit pun tentang dirinya, seperti lenyap ditelan bumi.”
Shen Buyan terdiam sejenak, melirik Lin Ji. “Ada juga yang bilang dia ikut terkena ledakan, jatuh ke laut di bawah jembatan, dan tenggelam.”
Lin Ji terdiam.
Bukan karena sedih mendengar kabar itu, melainkan karena ia benar-benar tidak mengerti.
“Aku akan membawamu ke seorang teman, mungkin dia tahu tentang orang tuamu.”
“Tapi sebelumnya, aku ingin tahu, bagaimana bisa setelah beberapa kali ledakan kau tiba-tiba menjadi sangat cerdas?”
Lin Ji menengadah, menatap kosong ke luar jendela, matanya dalam.
Sistem memperingatkannya agar tidak membiarkan orang lain tahu tentang keberadaannya, kalau tidak, ia akan kehilangan rekan ini. Peringatan itu harus ia patuhi.
Setelah berpikir, akhirnya Lin Ji memberanikan diri berkata, “Jika ada sesuatu yang sama sekali tak bisa aku katakan padamu, tapi sungguh tak ada kaitannya dengan kasus lama-ku.”
“Dan aku tidak akan menggunakannya untuk menyakiti siapa pun, bahkan bisa mencegah banyak orang tak bersalah tewas.”
Shen Buyan terdiam, suasana hening membuat Lin Ji menahan napas. Ini satu-satunya orang yang bisa ia percaya saat ini. Jika Shen Buyan memaksa, maka…
“Baiklah.”
Lin Ji tertegun dua detik, lalu tersenyum lega.
Mobil terus melaju mulus.
Kematian dan kebangkitan yang berulang telah membuat Lin Ji tak pernah bisa beristirahat dengan baik. Ia mulai mengantuk, menguap perlahan.
Shen Buyan memang bukan orang yang banyak bicara. Jika Lin Ji tidak memulai pembicaraan, ia pun diam saja.
Mereka berdua tetap diam sampai keluar dari jembatan.
“Tidur saja, nanti kalau sudah sampai akan aku bangunkan.”
Suara Shen Buyan yang sejak awal memang berat, terdengar seperti hipnotis di telinga Lin Ji yang mengantuk.
Entah sudah berapa lama ia tertidur, saat membuka mata lagi, tercium aroma aneh yang sulit dijelaskan—wangi rerumputan bercampur bau kotoran sapi.
Lin Ji setengah mengantuk, melirik ke sekitar, dan terperangah.
Ternyata di ujung jembatan ini pedesaan?
Sungguh di luar dugaan.
Baru saja ia hendak bersuara, ia sadar Shen Buyan yang seharusnya duduk di kursi pengemudi ternyata sudah tidak ada.
“Shen Buyan!”
“Shen Buyan!”
Lin Ji mulai panik, buru-buru keluar mobil mencari Shen Buyan.
“Tak perlu berteriak, mobilnya mogok.”
Tiba-tiba suara Shen Buyan terdengar dari bawah kakinya, membuat Lin Ji terlonjak kaget dan tersandung kaki Shen Buyan hingga jatuh ke tanah.