Bab Seratus Tiga Puluh Satu: Mungkinkah Semua Ini Hanya Palsu
Ekspresi keduanya benar-benar sama, dan mereka pun terdiam kaku selama beberapa detik.
Lin Ji mencari sebuah kursi lalu duduk, kemudian mendongak mengamati seluruh ruangan.
Gadis yang tadi entah sejak kapan sudah meninggalkan tempat itu.
Ia menduga gadis tersebut pergi mengikuti Xu Shiqi.
Lin Ji mengingat-ingat dengan saksama semua kejadian sejak penglihatannya pulih hingga sekarang. Selama itu, ia terus mengalami hal-hal yang sungguh sulit dipercaya.
Jika ditarik kesimpulan berdasarkan perkataan Shen Buyan, mungkin ia memang bukan manusia normal.
Pertama-tama, insiden ledakan di sekolah tiga belas tahun lalu jelas bukan ulahnya.
Dalam ingatannya, ia sama sekali tidak pernah melakukan sesuatu yang merugikan atau mencelakakan orang lain.
Karena itu, ia benar-benar tidak mungkin mengakui perbuatan tersebut.
Namun, kemudian ia menemukan foto-foto kasus hari itu di rumah Shen Buyan. Di dalam foto tersebut, dirinya ternyata berada di lokasi kejadian bersama sosok dirinya yang telah dewasa.
Ini hanya menjelaskan satu hal: di tempat ledakan itu ada dua sosok “dirinya”.
Namun, tidak satu pun dari kedua orang itu adalah dirinya.
Lin Ji menundukkan kepala, menatap luka di tangannya, lalu tanpa sadar menyunggingkan senyum getir.
“Jadi, sejak saat itu kau sudah menyadari ada yang tidak beres.”
Shen Buyan tetap terdiam. Baru sekarang Lin Ji menyadari alasan Shen Buyan sengaja melukainya tadi.
Dalam hati, Lin Ji bertanya:
“Kalau begitu, sebenarnya aku ini apa?”
Shen Buyan melangkah maju dan menepuk bahu Lin Ji.
“Jangan dipikirkan.”
Lin Ji menepis tangan Shen Buyan. Sorot matanya pun berubah.
Itu pertama kalinya Shen Buyan melihat ekspresi seberat itu di wajah Lin Ji.
“Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya?”
“Setelah semua yang terjadi, sejak aku keluar dari rumah sakit, aku telah mengalami begitu banyak hal aneh dan sulit diterima.”
“Pada akhirnya, ternyata aku bukan manusia?”
Sambil berkata demikian, Lin Ji membuka telapak tangannya dan menatap luka di sana.
Bagian yang tergores itu memang tidak mengeluarkan darah, tetapi sepertinya matanya telah dimodifikasi oleh sistem.
Kini, dari sudut pandangnya, luka tersebut tampak menganga dengan daging yang tercabik.
Bagian yang rusak memperlihatkan warna merah dan putih bercampur, sementara serpihan kayu kecil masih tersangkut di sela-sela luka.
“Aku jelas bisa merasakan sakit.”
“Beberapa kali sebelumnya, aku juga melihat diriku sendiri berdarah.”
Mendengar ucapan Lin Ji, Shen Buyan tak kuasa mengingat kembali berbagai hal yang telah mereka alami.
Harus diakui, ketika mengingat semua itu sekarang, banyak bagian dari ingatannya yang tampak kabur.
Shen Buyan mendongak menatap langit-langit, lalu mengamati segala sesuatu di dalam ruangan.
Sekilas semuanya tampak nyata, tetapi jika dipikirkan baik-baik, ternyata tidak sepenuhnya nyata.
Tanpa sadar, ia mulai menarik kesimpulan yang lebih mendalam.
Saat Shen Buyan hendak menghibur Lin Ji, pandangan mereka kembali bertemu.
Ketika menatap Shen Buyan, mata Lin Ji sama sekali tidak menunjukkan emosi. Ia hanya memandangnya dengan tatapan kosong.
“Apa yang ingin kau katakan?”
Shen Buyan menggeleng, lalu mencari tempat untuk duduk.
“Aku tidak memikirkan apa-apa. Aku hanya merasa bahwa sejak mengenalmu, semuanya berubah menjadi terlalu tidak nyata.”
“Satu demi satu kejadian fantastis terus menghantam tanpa jeda, seolah tersambung sempurna. Aku sampai sulit bernapas, bahkan tidak punya waktu untuk berpikir.”
Setelah berkata demikian, Shen Buyan menarik napas sejenak lalu mengangkat tangan untuk mengusap rambutnya.
“Tidak ada waktu untuk memikirkan apakah semua yang kita alami ini nyata atau palsu.”
Lin Ji tersenyum getir.
“Jangan-jangan pada akhirnya semua ini hanya mimpi. Sebenarnya aku masih berada di rumah sakit.”
Mendengar itu, Shen Buyan tertegun.
Ia memalingkan wajah, dan ekspresinya berubah menjadi penuh ketidakpercayaan.
Melihat ekspresi tersebut, Lin Ji pun menunjukkan sedikit rasa takut.
“Jangan bilang begitu! Jangan memasang wajah seperti itu! Aku benar-benar bisa ketakutan!”
Shen Buyan mengernyitkan dahi dalam-dalam. Untuk sesaat, ia juga tidak mampu memberikan jawaban.
…
Rumah Sakit Rakyat Pertama Kota Tianhai
Ruang Pengawasan Kasus Khusus Nomor Tiga
Perawat yang membawa kartu rekam medis baru saja membantu pasien di ranjang nomor satu mengganti celana ketika tiba-tiba mendengar bunyi peringatan dari mesin.
Ia segera berlari ke ranjang nomor enam dan delapan. Ia mendapati kedua pemuda yang terbaring di sana ternyata menggerakkan bola mata di balik kelopak mereka.
Ketika menoleh ke monitor detak jantung, ia melihat bahwa detak jantung keduanya juga mengalami perubahan besar dan naik turun secara drastis.
Setiap kali hal semacam ini terjadi, biasanya itu menandakan pasien di ranjang sedang berada di ambang kematian.
Perawat itu ketakutan. Ia buru-buru berlari ke pintu, meraih telepon panggilan, lalu berteriak ke luar.
“Detak jantung kedua pasien ini berubah!”
“Cepat! Panggil Profesor Liu!”
Profesor Liu membawa Bai Bing masuk ke ruang perawatan.
Bai Bing memandang Shen Buyan dan Lin Ji yang terbaring di ranjang dengan ekspresi serius.
Keduanya kini bertahan hidup dengan bantuan ventilator dan makanan cair yang dialirkan langsung ke lambung.
Sebulan sebelumnya, Bai Bing berhasil menangkap penjahat yang mengoleksi organ tubuh manusia.
Namun, tak lama kemudian, muncul kasus baru.
Berbeda dari kasus pembunuhan biasa, dalam kasus ini semua korban tiba-tiba pingsan di berbagai tempat tanpa alasan yang jelas.
Sebagian di antaranya adalah mahasiswa yang sedang bepergian. Mereka ditemukan tergeletak di tepi jalan, dan jumlahnya bukan hanya satu atau dua orang, melainkan sekelompok mahasiswa sekaligus.
Setelah diperiksa di rumah sakit, tidak ditemukan faktor seperti keracunan makanan.
Mereka benar-benar pingsan secara tiba-tiba, tanpa sebab apa pun.
Bukan hanya para mahasiswa yang sedang bepergian itu.
Di pusat perbelanjaan, di luar rumah sakit, di jalan raya, di pinggir jalan, di dalam rumah makan, di sekolah, bahkan di rumah masing-masing, orang-orang mendadak jatuh pingsan.
Jumlah korbannya mencapai lebih dari lima ratus orang.
Mereka semua jatuh dalam keadaan tidak sadar pada hari yang sama, sehingga menimbulkan kepanikan besar.
Karena sama sekali tidak memiliki petunjuk mengenai kasus tersebut, Bai Bing segera menghubungi Shen Buyan.
Namun, telepon Shen Buyan tidak dapat tersambung.
Bai Bing langsung menyadari bahwa sesuatu yang buruk mungkin telah terjadi.
Ia mencari Shen Buyan di berbagai tempat yang biasa didatanginya, tetapi tidak menemukan jejaknya sama sekali.
Shen Buyan dan Lin Ji menghilang begitu saja.
Hal itu sungguh terlalu tidak masuk akal.
Ketika Bai Bing sedang diliputi kecemasan, seseorang memberitahunya bahwa Shen Buyan dan Lin Ji telah dibawa ke sebuah rumah sakit kecil di daerah setempat.
Dokter yang menampung mereka juga telah menerima cukup banyak korban dari kasus tersebut.
Karena jumlah ranjang terbatas dan sudah tidak mampu menampung pasien lagi, dokter itu terpaksa meminta bantuan pihak kepolisian.
Untungnya, Shen Buyan dan Lin Ji jauh lebih beruntung dibandingkan banyak korban lainnya.
Pada hari kedua setelah kejadian, mereka ditemukan pingsan di dalam mobil.
Karena hanya sedikit orang yang melintas di daerah pedesaan, warga setempat baru menyadari bahwa sebuah mobil terparkir di tepi jalan selama dua hari tanpa berpindah tempat.
Bai Bing tersadar dari lamunannya dan memandang kedua pemuda itu dengan ekspresi rumit.
“Apa sebenarnya yang telah kalian alami…”
“Dari lebih dari lima ratus orang yang pingsan, lebih dari seratus di antaranya sudah meninggal.”
“Aku benar-benar takut kalian juga tidak akan mampu bertahan!”
Saat mengucapkan kalimat itu, hidung Bai Bing terasa perih. Ia berbalik dan menyeka air mata di wajahnya.
“Kapten Bai, mereka berdua hanya mengalami gejolak emosi. Otak mereka tidak mengalami gangguan. Jangan terlalu mengkhawatirkan mereka.”
Bai Bing menyeka air matanya, lalu kembali memasang ekspresi dingin dan tegar.
“Saya mengerti. Kalau begitu, saya titip mereka kepada Anda.”
Profesor Liu menghela napas dan membetulkan kacamatanya.
“Satu ruang perawatan hanya bisa menampung lima orang. Dengan jumlah pasien sebanyak ini, apa yang harus kita lakukan?”
“Semakin banyak yang tidak mampu bertahan. Kita bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya telah mereka alami.”