Bab 17: Sang Tuan Tua
Begitu Tuan Xie selesai berbicara, pintu besar vila itu berderit terbuka. Gu Qingyue masuk sambil membawa setumpuk kue kecil di tangannya, lalu dengan santai memanggil Xie Jingxi yang sedang berada di dalam rumah.
"Mau makan kudapan musim panas?"
Suasana di dalam vila sangat sunyi, Gu Qingyue melepas sepatu di pintu. Karena tak kunjung mendapat jawaban dari Xie Jingxi, ia menoleh dan tak sengaja bertatapan dengan Tuan Xie yang menatapnya dengan penuh kepuasan.
Ia sempat tertegun, lalu mengalihkan pandangan pada Xie Jingxi. Gadis itu tersenyum kaku, tatapannya pada Gu Qingyue menyiratkan sedikit rasa kesal. Gu Qingyue memilih mengabaikan tatapan tajam itu dan berjalan ke ruang tamu, meletakkan kue di atas meja teh di hadapan Tuan Xie.
"Kakek, kenapa tiba-tiba datang?"
Sambil tersenyum, ia membuka kotak kue. Ia mengambil sepotong cupcake rasa matcha dan menyerahkannya pada Xie Jingxi. "Nih, ini yang selalu kamu ingin coba, matcha Songqing."
Gerak-geriknya luwes, nada bicaranya tenang, seolah mereka adalah pasangan yang sudah lama hidup bersama. Xie Jingxi menerima kue itu, bibirnya sedikit mengerucut.
Dia menoleh menatap Gu Qingyue, terkejut pria itu tahu selera dirinya.
Gu Qingyue melihat Xie Jingxi menatapnya tanpa berkedip, ia tersenyum lembut dan menggelengkan kepala, seperti memanjakan anak kecil. "Ayo, makanlah. Ini potongan terakhir."
Baru saat itu Xie Jingxi sadar dirinya melamun menatap pria di depannya. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, lalu mengambil sedikit kue dengan garpu.
Tekstur kue yang lembut berpadu dengan rasa matcha yang kuat segera memenuhi seluruh lidahnya. Mata Xie Jingxi memancarkan keterkejutan. Meski sering makan kue ini, setiap kali mencicipi, rasanya selalu membawa kejutan yang menyenangkan.
Sudut bibirnya terangkat karena manisnya kue, membuat dirinya terlihat lebih ramah.
Tuan Xie memperhatikan interaksi mereka, lalu menggelengkan kepala dengan pasrah, "Hanya sepotong kue saja, sudah begitu mudah memuaskanmu?"
Xie Jingxi tak menjawab, menelan kue di mulutnya sebelum berkata santai, "Memang enak, kok."
Sambil bicara, dia mengedipkan mata pada Gu Qingyue. Pria itu segera mengerti, mengambil sepotong kue kecil lainnya dari kotak.
"Kakek, yang ini rasa talas, tidak terlalu manis. Mau coba?"
Kue ungu muda itu tampak cantik dan anggun. Tuan Xie melirik kue di depannya, lalu mendengus, "Kamu ini, jangan bantu gadis ini mengalihkan perhatianku."
"Kue ini bisa dimakan kapan saja, kenapa harus sekarang?"
Tuan Xie membuang muka dengan gaya angkuh, lalu mengetukkan tongkat kayu cendana di lantai dua kali. Ia menatap Xie Jingxi, bertanya tegas, "Coba kamu jawab, kalau hari ini aku tidak datang, sampai kapan kamu mau menyembunyikan kabar kepulanganmu dariku?"
Xie Jingxi meletakkan kue di tangannya, tersenyum malu pada Tuan Xie, "Aku nggak berniat menyembunyikan, kok…"
Saat berkata begitu, matanya melirik ke sana-sini, suaranya lemah, jelas ia merasa bersalah.
"Lalu, kapan sebenarnya kamu mau bilang pada kakekmu ini?"
"Aku tadinya mau…" Xie Jingxi mengusap hidung, lalu melirik Gu Qingyue meminta bantuan.
Pria itu berdehem, lalu bicara, "Xiaoxi tadinya berniat menunggu sampai semuanya stabil di tanah air, baru memberitahu Kakek. Tapi belakangan ini memang sedikit sibuk, jadi tertunda…"
"Kamu tak usah membelanya."
Ucapan Gu Qingyue belum selesai, sudah dipotong oleh Tuan Xie.
Tuan Xie menatap Xie Jingxi dengan raut kecewa, "Aku ini tidak kenal dia? Pasti dari awal memang tidak berniat memberitahuku. Kalau tidak, selama kamu di sini, kenapa aku tak dapat kabar sedikit pun?"
Xie Jingxi menjulurkan lidah, "Kakek tak dapat kabar, bukan berarti aku bisa sembunyi terus, kan?"
"Hmm?"
Tuan Xie sedikit mengernyit, Xie Jingxi buru-buru mengganti jawabannya, "Aku salah, aku takut kakek khawatir, jadi ingin menunggu sampai aku mantap di sini baru bilang."
"Tapi—"
Xie Jingxi tersenyum malu, "Tapi sekarang kan kakek sudah tahu, jadi aku tak perlu pusing lagi cari cara menjelaskan."
Ia mendekat ke sisi Tuan Xie, manja seperti anak kecil.
"Xiaoxi paling sayang kakek."
Xie Jingxi dengan hati-hati membujuk Tuan Xie. Tuan Xie mendengus pelan, tapi tetap saja tak tega memarahi cucu satu-satunya itu.
Ia menepuk kepala Xie Jingxi dengan lembut, nada suaranya penuh pasrah, "Kamu ini, pasti takut aku akan menyeretmu pulang untuk mewarisi usaha keluarga, makanya sembunyi."
Xie Jingxi tak membantah, diam-diam mengiyakan.
Ayahnya menikah masuk ke keluarga ibunya, jadi Xie Jingxi mengikuti nama keluarga sang ibu. Di generasi ini, hanya Xie Jingxi satu-satunya pewaris keluarga Xie. Usaha keluarga yang begitu besar tak ada penerusnya, itulah sebab ibunya sangat menentang keinginan Xie Jingxi mengejar mimpinya.
Mungkin memahami kekhawatiran cucunya, Tuan Xie menepuk punggung tangannya dengan lembut.
"Selama kakek masih ada, ibumu tak akan memaksamu pulang untuk mewarisi usaha keluarga," Tuan Xie menenangkan dengan suara lembut, matanya yang renta tampak sedikit basah. "Sekarang kakek akan menjaga dari luar, tetapi pada akhirnya semua usaha keluarga Xie tetap akan menjadi tanggung jawabmu..."
"Kalau suatu hari nanti, kakek sudah tida—"
Kata terakhir itu belum selesai keluar dari mulut Tuan Xie, sudah dipotong Xie Jingxi.
Ia tersenyum ceria, serius berkata, "Kakek, jangan bicara hal yang tidak baik, kakek harus panjang umur."
Xie Jingxi bersandar di pundak Tuan Xie, sang kakek memandangnya dengan penuh kasih sayang, hatinya terasa hangat.
Lalu pandangannya beralih ke Gu Qingyue, ia bertanya pada waktu yang tepat, "Akhir-akhir ini, kalian rukun-rukun saja?"
Gu Qingyue mengangguk sambil tersenyum, "Ya, sangat baik."
Ekspresi pria itu lembut, matanya menatap Xie Jingxi. Mereka sempat saling menatap sejenak, lalu Gu Qingyue cepat-cepat mengalihkan pandangan dan berjanji pada Tuan Xie, "Saya akan selalu melindunginya."
Melihat keduanya tak banyak berselisih, Tuan Xie tersenyum puas.
"Dulu, keluarga Xie memang bersalah padamu. Ke depannya, semoga kalian baik-baik saja."
Gu Qingyue tersentak, lalu menyadari Tuan Xie membicarakan soal keberangkatan Xie Jingxi ke luar negeri.
Ia hanya tersenyum, "Tak ada yang perlu disalahkan. Aku mendukung semua pilihannya."
Senyumnya ramah dan sopan, kepribadiannya yang hangat membuat Tuan Xie semakin menyukainya. Ia mengangguk puas, lalu menegur Xie Jingxi dengan lembut, "Kamu ini, sudah menikah sekian lama, seharusnya sifatmu juga mulai berubah."
"Sifatku memangnya jelek?" Ia menatap Gu Qingyue, meminta bantuan lewat sorot matanya.
Gu Qingyue menangkap tatapan itu, menggelengkan kepala, namun tetap bekerja sama, "Sangat baik, aku sangat suka sifat Jingxi."