Pasal 59: Aku Adalah Anjing yang Setia
Jin Chaochao tidak menampik bahwa dirinya memiliki dugaan berbuat sengaja.
Ia menatap pria di hadapannya dengan tatapan dingin dan tenang, "Kalau aku memang sengaja, lalu kamu bisa apa?"
Sheng Ying mengepalkan tinjunya, lalu bangkit dari kursi dengan gerakan tiba-tiba.
Dari penampilannya, ia tampak seperti ingin memukul orang.
Namun, di hadapan Jin Chaochao yang begitu tenang dan santai, nyalinya ciut.
Ia langsung berlutut di lantai dengan bunyi gedebuk, lalu memohon, "Mohon lepaskan aku, Nenek, aku tidak akan pernah berani mengganggumu lagi."
Jin Chaochao bersandar di kursinya sambil tersenyum, "Apakah Tuan merasa satu sujud ini bisa menghapus segalanya?"
Sheng Ying mendongak, area di sekitar matanya masih tampak lebam kebiruan, "Nenek, lalu apa lagi yang kamu inginkan?"
Senyuman di wajah Jin Chaochao semakin terlihat manis, "Aku ingin kamu menjadi pelayanku selama sepuluh tahun untuk menebus dosa!"
"Ah...!" Sheng Ying langsung berdiri, bahkan sempat menepuk-nepuk debu yang tidak ada di lututnya.
Ia merapikan emosinya, lalu menunjuk ke arah Jin Chaochao sambil mengutuk, "Jin Chaochao, kamu benar-benar jauh lebih kejam daripada tuan tanah di zaman kuno. Aku hanya ingin mencuri barangmu, bukan merenggut nyawamu, lalu kenapa kamu menyuruhku menjadi pelayanmu selama sepuluh tahun? Ini sudah abad ke-21, Dinasti Qing sudah lama runtuh."
Melihat Sheng Ying tampak seperti seekor kucing liar berbulu belang yang sedang marah besar, Jin Chaochao dengan anggun mengangkat cangkir tehnya dan menyesapnya.
Setelah pria itu selesai memaki, barulah ia membuka suara, "Kebetulan sekali, aku juga hanya ingin kamu menjadi pelayanku selama sepuluh tahun, bukan merenggut nyawamu, jadi untuk apa kamu begitu bersemangat?"
Ia meletakkan cangkir tehnya, lalu melanjutkan dengan senyuman, "Dinasti Qing memang sudah runtuh, tetapi di wilayahku berlaku aturanku sendiri. Jika kamu tidak mau, pergilah sana, aku juga kurang menyukai anjing yang tidak patuh."
"Sial!"
Sheng Ying langsung melontarkan umpatan kasar, merasakan ketidakberdayaan seolah lehernya sedang dicekik seseorang.
Pergi?
Mau pergi ke mana dia?
Dengan kesialan tingkat dewa ini, setiap detik ia melangkah keluar dari pintu ini, ia akan hidup dalam kecemasan.
Yang paling membuatnya kesal adalah, Jin Chaochao justru menyebutnya sebagai anjing yang tidak patuh?
Ia bahkan belum resmi menjadi anjing wanita itu, bagaimana bisa wanita tersebut tahu kalau dirinya tidak patuh?
Jin Chaochao paling tidak tahan mendengar seseorang berbicara kotor, ia pun melayangkan sebuah tatapan tajam.
Sheng Ying kembali berlutut, "Tuan, aku akan tetap tinggal. Mohon ampuni aku, biarkan kesialan ini segera pergi dariku!"
Melihat perubahan sikap yang begitu cepat, Jin Chaochao mau tidak mau menarik sudut bibirnya.
Pria ini punya sedikit harga diri, tetapi hanya sedikit.
Sebelumnya, ia pernah melihat kehidupan masa lalu Sheng Ying melalui Cermin Karma Masa Lalu. Di kehidupan lampau, pria itu adalah seorang terpelajar dari keluarga biasa. Demi masa depan dan demi bertahan hidup, ia menjilat kaum bangsawan serta bersekongkol dengan orang lain untuk menjebak para pejabat setia, yang berujung pada melayangnya lebih dari seratus nyawa.
Di masa tuanya, setelah meraih kekayaan dan kedudukan, ia mulai gemar berderma serta menolong banyak rakyat miskin yang menderita, sehingga ia berhasil mengumpulkan cukup banyak kebajikan tersembunyi.
Di kehidupan ini, nasibnya yang merosot menjadi seorang pencuri merupakan hukuman atas perbuatannya menjebak orang-orang setia di masa lalu, sementara tumpukan kebajikan masa lalunya melindunginya agar tetap selamat tanpa halangan berarti.
Pemikiran Jin Chaochao sangat sederhana: daripada membiarkannya berkeliaran dan membawa malapetaka di mana-mana, lebih baik ia ditahan di sini untuk dijadikan bawahan yang bisa disuruh-suruh.
Pria ini terlihat cukup cerdik, dan ia tidak membenci orang yang cerdik.
Jin Chaochao tersenyum tipis, "Karena kamu begitu tulus, kalau begitu aku akan membiarkanmu tinggal. Katakan dulu padaku, siapa namamu!"
"Sheng Ying!"
Jin Chaochao mengangguk puas, lalu melanjutkan, "Kalau begitu kamu harus mengingatnya, mulai sekarang karena kamu adalah anjingku, kamu harus setia kepadaku. Setiap pagi, kamu cukup mengucapkan sepuluh kali kalimat 'Aku adalah anjing yang setia', maka kesialan tidak akan mengikuti dirimu lagi."
Sheng Ying mencemooh dalam hati.
Wanita ini benar-benar memperlakukannya seperti anjing untuk dilatih?
Amarah ini akan ditelannya untuk sementara waktu, karena cepat atau lambat, ia akan membalas dendam.
"Baik, Tuan, apakah masih ada perintah lain?" tanya Sheng Ying.
Jin Chaochao melambaikan tangannya dengan ekspresi jijik, "Sudah tidak ada, pergilah sana. Jika tidak ingin ketiban sial, ingat-ingat perkataanku."
Sheng Ying bangkit dari lantai, lalu berbalik dan melangkah keluar dengan perasaan geram.
Sambil berjalan, ia bergumam mengutuk dengan suara pelan, "Perempuan keparat, cepat atau lambat aku akan..."
Ia mengira Jin Chaochao tidak akan bisa mendengarnya, namun ia tidak tahu bahwa pendengaran wanita itu sangat tajam di luar batas normal.
Wajah Jin Chaochao langsung mendingin, ia berkata dengan nada tegas dan galak, "Sheng Ying, mulai sekarang, setiap kali kamu mengucapkan satu kata kotor, tampar mulutmu sendiri."
Pada saat yang sama, ia membakar sebuah jimat mantra ucap laksana titah.
Sheng Ying berbalik dengan wajah gelap, dan mendapati seberkas cahaya keemasan merasuk ke dalam tubuhnya.
Ia sempat tertegun sesaat karena kebingungan, sebelum akhirnya memasang ekspresi patuh di hadapan Jin Chaochao, "Tuan, aku mengerti!"
Melihat ekspresi yang tidak sejalan dengan isi hatinya itu, Jin Chaochao seketika tersenym.
Ia berharap pria itu bisa menikmati kejutan kecil yang ia berikan.
Baru saja Sheng Ying melangkah keluar pintu toko, ia langsung terjatuh dengan posisi tubuh menghantam tanah secara rata.
Tepatnya dengan posisi keempat anggota badan menghadap ke langit.
Melihat langit cerah tanpa awan di atas sana, ia hampir menangis.
Berdiri di tengah kerumunan orang, ia mulai merapal kalimat itu secara berulang-ulang:
"Aku adalah anjing yang setia!"
"Aku adalah anjing yang setia!" +8
"Aku adalah anjing yang setia!" +10
Ia benar-benar sudah merasa ketakutan!
Yang luar biasa adalah, setelah ia selesai mengucapkannya, ia merasakan tubuhnya seketika menjadi jauh lebih ringan.
Sensasi aneh yang menyesakkan dada itu telah lenyap.
Terlebih lagi, setelah berjalan cukup jauh, ia sama sekali tidak lagi mengalami kejadian sial.
Sheng Ying merasa sangat kesal hingga ia mengutuk dengan marah, "Perempuan sialan itu—"
"Plak..."
Kalimatnya bahkan belum selesai diucapkan, tangannya bergerak sendiri di luar kendali dan langsung menampar wajahnya dengan keras.
Ia merasa dunia ini sudah menjadi begitu tidak masuk akal.
Karena merasa tidak terima, ia terus melanjutkan makiannya!
"Pelacur kecil! ... Plak plak..."
"Sialan... Plak plak plak..."
"Jin Chaochao, kamu benar-benar bajingan!"
"Plak plak plak plak..."
Sepuluh menit kemudian.
Sheng Ying memegangi pipinya yang membengkak serta telapak tangannya yang terasa kebas, membuat seluruh kewarasannya nyaris runtuh.
Apakah di dunia ini benar-benar ada obat penyesalan?
Sebenarnya dosa apa yang telah diperbuatnya hingga harus berurusan dengan nenek sihir satu ini?
Sheng Ying tiba-tiba teringat pada orang yang telah menjual informasi tersebut kepadanya.
Sialan, orang itu benar-benar berniat buruk!
Karena tidak mampu menghadapi wanita itu sendiri, ia justru menjadikannya sebagai umpan?
Setelah Sheng Ying pergi, Jin Chaochao mengeluarkan sehelai rambut milik rubah tua.
Makhluk itu sudah pergi selama beberapa hari tanpa membawa kabar apapun.
Entah bagaimana perkembangan penyelidikan yang dilakukannya di sana.
Suasana kediaman keluarga Fu pada malam hari tampak begitu meriah.
Sang kakek telah memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan hidangan makan malam yang sangat mewah, di mana Fu Tingyuan dan Fu Xiao'an turut hadir di sana.
Melihat Jin Chaochao kembali, Kakek Fu menyambutnya dengan senyuman, "Chaochao sudah pulang, cepat kemari dan duduk di samping Kakek."
Jin Chaochao melangkah maju dan menyapa dengan sopan, "Kakek!"
"Anak ini, dari semua cucu, hanya kamu yang paling tahu sopan santun. Kakek sedang gembira hari ini, jadi Kakek meminta kalian semua untuk kembali dan berkumpul, tidak ada maksud lain."
Jin Chaochao mengangguk, "Kakek, kalau begitu aku pergi mencuci tangan dulu, perutku sudah terasa lapar."
Fu Xiao'an langsung mengekor di belakangnya, "Kakak Ipar, besok aku libur kerja, apakah kamu punya rencana? Aku ingin pergi bermain denganmu!"
Jin Chaochao memutar keran air, lalu melirik ke arahnya, "Sudah tidak pacaran lagi?"
Fu Xiao'an mengerucutkan bibirnya sambil tersenyum, "Meskipun sedang pacaran, kita kan tidak mungkin terus-terusan menempel setiap saat! Aku juga butuh ruang pribadi!"
Jin Chaochao tidak langsung mempercayainya, "Pasti Tuan Ji milikmu itu sedang sibuk dan tidak punya waktu untuk menemanimu, kan."
Fu Xiao'an menyenggol lengan Jin Chaochao pelan, "Kakak Ipar, tidak perlu membongkar rahasia di depan umum!"
Selesai mencuci tangan, Jin Chaochao mengambil handuk yang diserahkan oleh pengurus rumah tangga untuk mengeringkan tangannya.
Ia berkata, "Besok aku harus pergi ke Kuil Jingtan, jika kamu ingin ikut, silakan saja."
Fu Xiao'an mengangkat alisnya, "Mau apa pergi ke Kuil Jingtan?"