Bab 31 Meminjam Buku
Hanya dalam sekejap, roh pedang itu pun menjadi patuh.
Rubah itu berubah wujud menjadi seorang pria tampan. Ia mengulurkan tangan mengambil belati tersebut dan mengamatinya dengan saksama. Gagang pedang itu diukir dengan pola naga yang tampak hidup. Meski ribuan tahun telah berlalu dan bilahnya penuh dengan karat, ketajamannya tetap tak tertandingi.
"Chaochao, bagaimana jika kau titipkan benda ini padaku? Aura benda ini sangat kuat, aku menyukainya."
Belati itu seolah baru menyadari ada makhluk spiritual lain di sana. Saat melihat Bai Yexi, ia merasakan tekanan yang mengerikan, seolah-olah ada beban ribuan kati yang menindih tubuhnya. Itu adalah wibawa milik dewa yang seketika menghancurkannya hingga tak berdaya.
Bilah belati itu mulai gemetar, lapisan karatnya perlahan rontok, memperlihatkan rupa asli belati perunggu tersebut. Ukiran naga pada gagangnya tampak hidup, bilahnya bersih dan berkilau, tajam seolah mampu memotong besi dengan mudah.
Jin Chaochao langsung mengiyakan, "Kalau begitu, ambil saja!"
Belati perunggu itu gemetar ketakutan, membiarkan Bai Yexi menggenggamnya. Sang Nenek yang melihat sikap pengecut roh pedang itu tertawa, "Punya nyali sekecil itu saja sudah berani sombong! ... Ah, membosankan sekali, aku mau kembali tidur!"
Roh pedang itu menciut ketakutan. Ia menyadari bahwa tidak ada satu pun orang di ruangan ini yang bisa ia lawan. Ia menyesal, ia ingin kembali ke museum.
***
Keesokan harinya, Jin Chaochao pergi bersama Fu Tingyuan. Saat mereka berjalan menuju mobil, Jin Chaochao tiba-tiba teringat sesuatu dan menoleh untuk berbicara. Namun, sebelum ia sempat bersuara, ia menabrak dada Fu Tingyuan.
Hidungnya terasa nyeri, dan darah segar langsung mengalir keluar. Fu Tingyuan belum pernah mengalami situasi seperti ini. Setelah sempat panik sejenak, ia segera mengeluarkan sapu tangan untuk menutupi hidung Jin Chaochao, "Kau tidak apa-apa?"
Jin Chaochao berpegangan pada mobil, membungkuk dan menjauhkan sapu tangan agar darahnya mengalir keluar. Matanya berkaca-kaca karena sakit. Dada Fu Tingyuan ini hampir sekeras batu. Untungnya, darahnya segera berhenti.
Setelah membersihkan diri, Jin Chaochao tidak terburu-buru pergi. Ia kembali ke kamar dan melakukan ramalan di depan lukisan sang Nenek. Sepuluh menit kemudian, keningnya berkerut dalam.
"Hari ini tidak baik untuk keluar rumah, sepertinya akan ada bencana pertumpahan darah, dan bencana ini berkaitan dengan Fu Tingyuan."
Sang Nenek muncul dari lukisan, lalu berkata dengan sungguh-sungguh, "Karena kau sudah meramalkannya, maka berhati-hatilah saat keluar. Seperti kata pepatah, jika itu rezeki tidak akan menjadi musibah, jika itu musibah tidak akan bisa dihindari. Apa yang seharusnya datang akan tetap datang. Kau hanya perlu bertindak dengan hati-hati."
Jin Chaochao memilih untuk berganti pakaian sebelum pergi. Ia mengenakan cheongsam putih bersulam bunga begonia, di lehernya tergantung kalung emas berhiaskan giok, dan rambut panjangnya disanggul santai dengan tusuk konde perak biru. Saat ia muncul kembali di hadapan Fu Tingyuan, ia telah berubah dari wanita cantik yang seksi dan mencolok menjadi gadis bangsawan yang lembut dan anggun.
Fu Tingyuan menatap perhiasannya dengan kagum. "Kalung dan tusuk konde ini sangat indah!" gumamnya tulus.
Jin Chaochao mengulurkan tangan sambil tersenyum, "Tuan Fu, tolong bantu aku, supaya nanti tidak menabrak hidung lagi."
Fu Tingyuan tanpa sadar mengulurkan tangan, membantu Jin Chaochao masuk ke dalam mobil. Setelah wanita itu duduk, ia baru tersadar, mengapa dirinya terasa seperti pelayan? Dan anehnya, ia merasa hal itu wajar-wajar saja. Ia bahkan tidak merasa keberatan sedikit pun. Sungguh luar biasa. Ini adalah kediamannya, di wilayahnya sendiri, namun ia justru menjadi orang yang diperintah olehnya.
"Jin Chaochao..." Fu Tingyuan menatapnya.
Jin Chaochao menoleh, matanya yang hitam pekat tampak polos. Sinar matahari pagi menyinari pipinya yang merona, membuatnya tampak seperti bunga yang mekar menyambut mentari, sangat memikat.
Jin Chaochao bertanya dengan bingung, "Ada apa?"
Fu Tingyuan menelan kembali kata-kata yang mengganjal di hatinya, "Tidak apa-apa, ayo berangkat, nanti jalanan akan macet."
Jika teman-temannya melihat Fu Tingyuan yang seperti ini, mereka pasti akan merasa tidak percaya. Pria dingin, tidak berperasaan, dan sulit diajak berkompromi itu, sejak kapan menjadi begitu rendah hati, lembut, dan mau mengalah pada orang lain?
***
Di kafe bawah gedung perusahaan keluarga Fu. Fu Tingyuan mengantar Jin Chaochao sampai ke pintu dan berpesan, "Masuklah langsung, Tuan Chen sudah ada di dalam."
Dengan dipandu pelayan, Jin Chaochao menuju meja yang dipesan oleh Chen Jianke. Karena masih pagi, kafe tidak terlalu ramai. Chen Jianke memilih posisi di tengah dengan pemandangan terbaik.
Setelah mendekat, Jin Chaochao baru menyadari bahwa ia adalah pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih. Melihat kedatangan Jin Chaochao, Chen Jianke tertegun sejenak karena terkejut, lalu berkata, "Tak disangka Nona Jin tidak hanya muda, tapi juga sangat berbakat. Merupakan kehormatan bagi saya bisa mengundang Anda hari ini."
Jin Chaochao menjawab sambil tersenyum, "Tuan Chen terlalu memuji. Boleh saya tahu, apa tujuan Anda mengundang saya?"
Chen Jianke tidak bertele-tele dan langsung berkata, "Begini, saya sedang bersiap menangani proyek restorasi bangunan kuno. Untuk banyak teknik ukiran kayu, saya sudah mencari beberapa ahli dan membaca banyak literatur, namun masih buntu. Kemarin saya melihat desain Anda dan merasa Anda pasti paham mengenai arsitektur sejarah, jadi saya ingin menanyakan pendapat Anda."
Chen Jianke adalah arsitek paling hebat di negara ini saat ini. Ia telah meneliti arsitektur dari berbagai zaman dan negara, banyak kota film dan gedung pencakar langit ternama adalah karya besarnya. Ia bisa dianggap sebagai tokoh terkemuka di industri desain arsitektur.
Melihat ketulusan dan kerendahan hatinya, Jin Chaochao berkata dengan sopan, "Saya tidak memiliki pencapaian besar dalam bidang arsitektur, hanya saja pernah membaca beberapa buku kuno dan cukup memahami peninggalan sejarah. Jika Tuan Chen tertarik dengan apa yang pernah saya baca, saya bisa meminjamkan bukunya kepada Anda."
Chen Jianke terkejut sampai tidak tahu harus berkata apa, "Anda memiliki buku kuno tentang arsitektur?"
Jin Chaochao tersenyum anggun, "Tentu, perpustakaan keluarga saya menyimpan buku-buku kuno berusia ribuan tahun, mencakup tekstil, sulaman, berbagai teknik pembakaran keramik, ukiran kayu, hingga resep masakan dari berbagai dinasti."
Chen Jianke segera membungkuk memberi hormat, "Nona Jin, tolong pinjamkan saya buku-buku mengenai arsitektur kuno itu!"
Jin Chaochao menatap Chen Jianke. Konon, salah satu bagian wajah yang paling berharga adalah mata. Mata sering dijuluki sebagai jendela jiwa. Mata Chen Jianke hitam berkilau bagai tinta, ia adalah orang yang berbakat.
"Saya bisa meminjamkannya, tapi ada satu syarat," kata Jin Chaochao.
Wajah Chen Jianke berseri-seri. Selama bisa meminjam buku-buku berharga itu, syarat apa pun akan ia penuhi.
"Hanya boleh meminjam satu buku sekali jalan, dan harus dikembalikan dalam keadaan utuh."
Perpustakaan sekte Xuan adalah warisan keluarga, setiap bukunya adalah koleksi langka. Kehilangan atau merusak satu saja adalah kerugian besar.
Chen Jianke mengangguk berkali-kali dengan gembira, "Saya pasti bisa melakukannya!"
Jin Chaochao mengangguk, "Kalau begitu, datanglah ke kediaman keluarga Fu besok untuk mengambil bukunya!"
Chen Jianke sangat bersemangat hingga wajahnya memerah. Nyonya Fu ini benar-benar orang yang sangat baik. Tidak hanya cantik bak bidadari, ia juga sangat lugas dan tegas dalam bertindak. Ia meminjamkan bukunya tanpa meminta imbalan apa pun, hanya meminta agar ia menjaga buku-buku itu dengan baik.
Jin Chaochao pun tidak menyangka, bahwa dengan meminjamkan beberapa buku kepada Chen Jianke, pria itu justru menciptakan legenda arsitektur bagi Tiongkok.