Bab 54: Seakan Ada Seribu Kata, Namun Tak Satu Pun Mampu Terucap
Jin Chaozhao mengetuk kepala gadis itu pelan. "Masuk ke kamarku, akan kusediakan teh untukmu."
Fu Xiao'an melirik botol air mineral yang dingin, lalu tanpa ragu mengikuti Jin Chaozhao naik ke lantai atas.
Di dalam kamar Jin Chaozhao.
Kepulan tipis uap membubung dari teko kecil di atas meja kecil. Suara air yang mendidih bergemuruh bagaikan alunan musik yang bersemangat dan hangat.
Jin Chaozhao mengeluarkan sekaleng teh penenang racikannya sendiri, memasukkannya ke dalam teko, merebusnya selama sepuluh menit, lalu mematikan api.
"Ini adalah teh untuk merawat kesehatan hati, menenangkan emosi, serta menyegarkan pikiran dan meredakan panas. Kamu bisa minum lebih banyak. Melihat semangatmu yang begitu menggebu-gebu akhir-akhir ini, apakah kamu hanya tidur beberapa jam setiap hari?" Jin Chaozhao meraih cangkir teh dan menuangkannya untuk Fu Xiao'an.
Fu Xiao'an merasa sangat tersentuh. "Kakak Ipar, kamu benar-benar sangat baik, bahkan bisa mengamatinya dengan begitu teliti. Saat usiaku dua belas tahun, orang tua kami meninggal karena kecelakaan. Kakek dan kakak laki-lakiku adalah kaum pria, dan perhatian mereka selalu tertuju pada hal-hal besar, sehingga emosi kecilku sama sekali tidak pernah mereka perhatikan."
Namun, Jin Chaozhao hanya perlu melirik sekilas untuk mengetahui bahwa ia sedang jatuh cinta.
Bahkan menyadari bahwa ia tidak beristirahat dengan baik.
Jin Chaozhao menyerahkan teh yang sudah dituangkan kepada Fu Xiao'an, meliriknya sekilas, lalu berkata sambil tersenyum, "Sudahlah, ini hanya segelas teh. Cepat minum lalu pergi tidur, dijamin malam ini kamu bisa tidur pulas sampai pagi dan bangun dengan tubuh yang bugar."
Fu Xiao'an merasakan kehangatan di dadanya, memegang cangkir teh, dan menyesapnya sedikit.
Detik berikutnya, ia meringis dan hampir menangis. "Kakak Ipar, apa saja yang kamu masukkan ke dalam teh ini? Kenapa rasanya tidak enak sekali?"
Rasanya bukan sekadar pahit, melainkan jauh lebih sulit untuk ditelan daripada rasa pahit biasa.
Jin Chaozhao menuangkan satu cangkir untuk dirinya sendiri. "Ramuan herbal Tiongkok dipadukan dengan ginseng berusia lima ratus tahun, teh semacam ini juga bukan sesuatu yang bisa diminum oleh sembarang orang."
Fu Xiao'an membuka matanya lebar-lebar karena terkejut, lalu mengecap rasa aneh di lidahnya. "Ginseng berusia lima ratus tahun dipakai untuk menyeduh teh? Kakak Ipar, sebenarnya seberapa kaya dirimu?"
Keluarga Fu mereka sangat kaya, bahkan masuk dalam jajaran sepuluh besar di dalam negeri, dan merupakan salah satu keluarga terpandang yang sangat kuat di kalangan kaum elit.
Keluarga mereka bahkan tidak memiliki ginseng berusia lima ratus tahun.
Bahan obat berharga itu sudah lama punah, dan seiring dengan perkembangan zaman, hampir mustahil untuk menemukan benda pusaka alam semacam itu di bumi.
Jin Chaozhao tersenyum tipis. "Lihatlah ekspresimu yang seperti orang belum pernah melihat dunia luar... Mumpung kamu ada di sini, kebetulan aku punya hadiah untuk diberikan kepadamu."
Jin Chaozhao bangkit dan mengambil sebuah kotak brokat dengan sulaman pola biru tua dari laci. Ketika kotak itu dibuka, tampak seuntai kalung mutiara di dalamnya.
Mutiara-mutiara tersebut disusun rapi dari ukuran kecil hingga besar, terangkai menjadi kalung yang sangat indah.
Ia melangkah maju dan menyerahkan kotak brokat itu kepada Fu Xiao'an. "Kalung mutiara ini adalah warisan dari Dinasti Song, perhiasan yang hanya boleh dikenakan oleh kalangan istiadat kerajaan, dan ini adalah mutiara murni alami. Khususnya mutiara terbesar di bagian bawah, mutiara ini adalah satu-satunya di dunia."
Selera Bai Yexi benar-benar luar biasa.
Permata-permata yang dikoleksinya tanpa terkecuali merupakan barang berharga yang tiada duanya di dunia.
Ia masih memiliki empat kalung mutiara lagi di tempatnya, yang salah satunya berwarna merah muda, dengan kualitas yang tentu saja beberapa kali lipat lebih baik dari kalung ini.
Fu Xiao'an mendekap kotak brokat itu di dadanya, terperanjat hingga tidak mampu berkata-kata untuk waktu yang lama. "Kakak Ipar, barang berharga seperti ini mau kamu berikan kepadaku?"
Ia adalah seorang putri dari keluarga Fu, yang sejak kecil terbiasa hidup dalam lingkungan kaum elit, sehingga tentu saja sangat memahami pasaran perhiasan saat ini.
Hanya kalung mutiara ini, dengan mutiara alami yang begitu sempurna, jika diletakkan di toko perhiasan mana pun, pasti akan menjadi barang pusaka andalan toko tersebut.
Bahkan merek fesyen terkenal internasional pun tidak memiliki benda berharga semacam ini.
Jin Chaozhao mengangkat cangkirnya dan meminum teh dengan anggun. "Kamu tidak salah dengar, ini untukmu!"
Fu Xiao'an meletakkan kotak brokat itu, melangkah maju, dan memeluk Jin Chaozhao dengan erat. "Kakak Ipar, aku mencintaimu! Kamu adalah dewiku, aku benar-benar terharu sekali."
Mulai sekarang, jika Fu Tingyuan berani memperlakukan Kakak Ipar dengan buruk, orang pertama yang tidak akan setuju adalah dirinya.
Jin Chaozhao tersenyum sambil menepuk pundak Fu Xiao'an. "Jika kamu mencintaiku, habiskannya teh ini. Jatuh cinta boleh saja, tapi jangan merusak kesehatan tubuhmu sendiri."
Fu Xiao'an mengangkat cangkir tehnya, meniupnya hingga sedikit mendingin, lalu meminumnya dalam sekali teguk.
Memiliki kakak ipar yang begitu menyayanginya, teh seburuk apa pun rasanya, akan terasa manis saat diminum.
Ia meminum beberapa cangkir berturut-turut sebelum akhirnya diusir oleh Jin Chaozhao untuk pergi tidur.
Baru saja keluar dari kamar Jin Chaozhao, ia melihat pintu kamar di sebelah terbuka.
Fu Tingyuan mengenakan piyama, berdiri di ambang pintu sambil menatapnya. "Sudah larut malam begini kenapa masih belum tidur?"
Fu Xiao'an menghentikan langkahnya, menatap sang kakak, lalu berkata dengan nada agak jengkel, "Kak, pagi tadi kamu pergi bersama Kakak Ipar, lalu sore harinya kamu pulang sendirian. Apa kamu tidak khawatir Kakak Ipar mengalami bahaya di luar? Atau kalau dia belum pulang, apa kamu tidak tahu sekadar menanyakannya?"
Fu Tingyuan mengerutkan kening mendengar tuduhan yang terasa membingungkan itu, lalu mengangkat sebelah alisnya dengan dingin. "Bagaimana kamu tahu kalau aku tidak khawatir atau tidak menanyakannya?"
Fu Xiao'an menangkap poin penting dari ucapan itu. "Kamu khawatir? Kamu menanyakannya?"
Fu Tingyuan menatap Fu Xiao'an dengan pandangan dingin. "Tengah malam tidak tidur, apa kamu sedang mencari mati?"
Fu Xiao'an mengeluarkan hadiah yang baru saja diterimanya seraya menyombongkan diri, "Diberikan oleh Kakak Ipar. Kamu bahkan tidak pernah memberiku hadiah seberharga ini, Kak. Sadarlah, di dunia ini tidak ada gadis yang lebih baik daripada Kakak Ipar. Dia mau menikah denganmu, itu pasti karena di kehidupan sebelumnya kamu telah menyelamatkan galaksi."
Cantik, cerdas, sekaligus sangat kaya dan dermawan.
Ginseng berusia lima ratus tahun dipakai begitu saja untuk menyeduh teh.
Kakak iparnya itu benar-benar menyimpan kemampuan yang luar biasa.
Fu Xiao'an berlari kecil meninggalkan tempat itu.
Fu Tingyuan keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar Jin Chaozhao.
Jin Chaozhao membuka pintu dan melihat Fu Tingyuan berdiri di ambang pintu mengenakan piyama, dengan rambut hitam legam bagaikan benang sutra serta alis dan mata yang tampan, dilihat dari sudut mana pun tetap terlihat sempurna.
"Ada urusan apa kamu mencariku?" tanya Jin Chaozhao dengan rasa ingin tahu.
Lampu koridor yang temaram membuat sosok Fu Tingyuan yang memang tinggi besar tampak semakin memanjang. Suaranya terdengar sedikit serak, "Sore tadi kamu bilang ada urusan dan pergi bersama Tua-tua Ji, apakah semuanya sudah beres?"
"Semuanya sudah beres. Tuan Fu, terima kasih atas perhatiannya." Jin Chaozhao tersenyum ramah dan berbicara dengan sangat sopan.
Meskipun ia sedang tersenyum, Fu Tingyuan tetap bisa merasakan jarak yang begitu jauh di antara mereka berdua.
Perasaan di hatinya terasa sangat tidak keruan. "Syukurlah kalau begitu. Sudah sangat larut, tidurlah lebih awal!"
Jin Chaozhao menjawab dengan manis, "Baiklah, selamat malam, Tuan Fu!"
"Selamat malam!"
Pintu kamar tertutup. Fu Tingyuan menatap pintu yang tertutup rapat itu, terdiam cukup lama sebelum akhirnya menghela napas berat.
Rasanya ada ribuan kata yang ingin diucapkan, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.
*
Keesokan harinya, Jin Chaozhao berpakaian rapi dan bersiap menghadiri jamuan makan yang diadakan oleh Shen Yulan.
Jamuan makan itu diadakan di Hotel Shengshi yang terkenal di ibu kota.
Semua yang hadir adalah para wanita terpandang. Mobil-mobil mewah datang silih berganti, menurunkan sekelompok wanita berpenampilan sangat memukau.
Begitu turun dari mobil, Jin Chaozhao berpapasan dengan Liu Yiwan.
Pandangan kedua orang itu saling beradu. Liu Yiwan memalingkan wajahnya dengan sikap angkat hidung, mengangkat gaunnya yang lebar, berjalan bagaikan seekor merak warna-warni, dan melangkah mendahului Jin Chaozhao menuju tempat perjamuan.
Jin Chaozhao merapikan gaunnya dengan lembut, tersenyum tipis tanpa memedulikannya, lalu berjalan menyusul ke dalam tempat perjamuan.
Hari ini Shen Yulan mengundang banyak putri dari keluarga terpandang, dengan rentang usia antara delapan belas hingga empat puluh delapan tahun.
Ia telah mempersiapkan berbagai acara seperti pertunjukan musik, degustasi anggur, mencicipi teh, serta menikmati wewangian, dan menyediakan berbagai hadiah menarik di setiap sesinya.
Melihat Jin Chaozhao berjalan mendekat, Shen Yulan tersenyum menyambutnya. "Nona Jin, aku sangat senang kamu bisa datang menghadiri jamuan makanku."